Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan

Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan
Keputusan


__ADS_3

Pak Imam mendatangi rumah pak Usman ayah Najwa untuk memberitahu tentang lamaran pak Abdurahman pada adiknya pak Usman.


Kebetulan saat itu pak Usman dan keluarga sedang berkumpul di ruang keluarga di rumah mereka.


Setelah masuk dan memberi salam pak Imam duduk dan menyampaikan amanah dari pak Abdurahman.


"Usman, tadi sore pak Abdurahman berkunjung ke rumah saya, beliau menyampaikan keinginan nya untuk melamar Najwa."


Pak usman dan istri saling melempar senyum.


'Alhamdulillah Mas. Siapa yang menolak punya menantu seperti Adam."


"Rencananya minggu depan dia akan mengadakan lamaran dan  langsung  penentuan hari. Tinggal menunggu keputusan dari kita saja."


"Alhamdulillah itu memang sudah saya tunggu Mas. Kalau bisa secepatnya mereka menikah, karena katanya Najwa juga hendak melanjutkan kuliahnya di kota."


Najwa mendengar hal itu langsung menunduk wajahnya. Pak Imam menyadari perubahan yang terjadi pada raut wajah Najwa.


"Najwa, apa kamu tidak senang mendengar berita ini?" tanya Pak Imam.


"Tidak Bi, kenapa harus mas Adam?" tanya Najwa lirih.


"Najwa, kita sendiri tahu bagaimana Adam. Ayah mengenalnya sejak Adam lahir. Kami juga tahu bagaimana pak Abdurahman mendidiknya. Untuk sementara ayah belum mendapatkan penilaian jika ada pria yang lebih baik dari nak Adam."


Bibir Najwa mengkerut.


"Tapi maa Adam kan sudah tiga kali melamar mbak Nisa. Itu berarti mas Adam benar-benar mencintai mbak Nisa."


"Astaghfirullah Najwa, kamu jangan ingat masa lalu. Jika Adam tidak berjodoh dengan Annisa. Kemungkinan jodoh Adam adalah kamu Nak."


Najwa menarik nafas panjangnya.


"Najwa, apa kamu punya calon pilihan kamu sendiri?" tanya Pak Imam.


"Bukan begitu Abi…." Najwa tak melanjutkan kata-katanya.


'Lalu bagaimana Nak?"


Najwa kembali menundukkan wajahnya.


Pak Imam dan pak Usman mendadak bingung


 Rasanya mereka tak enak jika harus menolak lamaran dari pak Abdurahman kembali. Sedangkan Adam, banyak para sahabat mereka yang menginginkan perjodohan di antara mereka.


Tapi mereka juga tak ingin mendesak Najwa.


***


Makan malam di rumah pak Imam. Setelah makan pak Imam dan keluarga berbincang-bincang sejenak.


"Nisa, tadi ayah sudah menyampaikan lamaran pak Abdurahman pada Abimu. Tapi sepertinya Najwa tidak menyetujuinya.


"Hm, apa Najwa memberikan alasannya Yah?"


"Iya, katanya dia tidak keberatan menerima Adam karena Adam pernah melamar kamu sampai tiga kali. Jadi cobalah kamu bicarakan baik-baik dengan Najwa."

__ADS_1


"Ehm, baiklah Yah. Sepertinya cuma wanita yang mengerti perasaan wanita."


"Iya Nisa, kamu bujuk Najwa sgar dia mau menerima lamaran Adam. Abimu itu berharap jika Adam adalah jodoh untuk Najwa."


"Iya Yah, besok Nisa akan bicara pada Najwa."


***


Keesokan harinya Nisa menghampiri adik sepupunya di kamar Najwa langsung.


"Assalamualaikum," sapa Annisa di depan pintu kamar Najwa kamar yang terbuka.


"Waalaikumsalam, Eh mbak, silahkan masuk."


"Duh yang baru saja dilamar," ucap Anisa sambil mendaratkan bokongnya di samping Najwa.


"Kok muka kamu sepertinya nggak senang sih?" tanya Annisa sambil mencolek dagu Najwa.


"Bukan begitu mbak," sahut Najwa lirih.


Najwa tertunduk lagi .


"Kenapa sih kamu nggak mau cerita sama mbak ya?" tanya Annisa.


"Mbak, Kalau boleh aku ingin menolak perjodohan ini."


"Loh kenapa? mas  Adam itu lelaki terbaik di kampung ini. Kita sudah mengenal Mas Adam sejak kecil, dan kita sudah tahu kan Bagaimana Mas Adam di kesehariannya."


"Iya aku juga tahu itu."


"Lalu kenapa?" tanya Anisa sambil membelai rambut Najwa setengah basah dan  tergerai.


'Apa kamu khawatir Mbak akan merebut Mas Adam dari kamu?" tanya Nisa.


Najwa hanya terdiam.


"Aku nggak khawatir sama Mbak. Aku hanya khawatir pada perasaanku sendiri."


"Loh Kok gitu ?" 


"Karena aku tahu Mas Adam mencintai Mbak Anisa. Bagaimana perasaan Mbak, seandainya menikah dengan seorang pria yang justru mencintai saudaranya sendiri."


Nisa menghela nafas panjang.


"Bagaimana kalau Mas Adam tahu, jika rumah tangga mbak Nisa dan mas Reyfan saat ini sedang ada keretakan."


Anisa tersenyum.


"Najwa, kamu nggak boleh berprasangka seperti itu. Seandainya rumah tangga Mbak dan Mas Reyfan tidak bisa diselamatkan lagi. Mbak gak tinggal di sini Najwa. Mbak Nisa juga  nggak akan pernah ganggu rumah tangga kamu. Dan mbak rasa mas Adam tahu bagaimana memperlakukan istrinya."


Najwa melirik ke arah Nisa.


"Mas Adam orang yang baik kan mbak?" Tanya Najwa.


'Iya Mas Adam orang yang baik."

__ADS_1


'Apa Mbak nggak ingin memberi kesempatan pada Mas Adam untuk bisa memiliki Mbak Nisa?"


Nisa tercengang mendengar pertanyaan Najwa.


"Apa Mbak tidak punya rasa sedikitpun terhadap Mas Adam mbak?" tanya Najwa.


'Apa yang kamu pikirkan Najwa? Bagaimana mungkin Mbak Nisa bisa mencintai Mas Adam."


"Mungkin sekarang tidak Mbak, tapi bagaimana suatu saat nanti."


"Hm, Najwa. Jujur saja Mbak tahu apa yang kamu rasakan. Setiap Seorang Istri pasti inginkan suaminya hanya untuk dirinya, hanya mencintai nya.  Namun ingatlah, Allah itu maha membolak-balikkan hati hambanya. Allah bisa merubah perasaan cinta menjadi benci, dan perasaan benci menjadi cinta dengan mudah. Jadi kamu jangan mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi. Itu hanya akan merusak hati kamu saja."


Najwa kembali tertunduk.


Nisa sangat memaklumi perasaan Najwa. Karena dia pun mengalami Bagaimana rasanya tidak dicintai oleh suami. Apalagi jika sang suami meminta untuk menikahi wanita lain.


Anisa mengusap kepala Najwa kemudian diletakkan ke pundaknya.


"Maafkan Najwa ya Mbak telah berprasangka buruk terhadap Mbak."


"Tidak apa-apa Najwa. Mbak pernah mengalami di posisi kamu."


"Tapi mbak yakin, Insya Allah Mas Adam bukanlah pria yang seperti kamu pikirkan. Mbak yakin dia akan menjaga dan melindungi kamu dengan baik."


Najwa kembali terdiam sambil melamun.


Sepertinya Najwa bingung untuk menentukan langkahnya. Dia merasa khawatir jika suatu saat Anisa berpisah dengan Reyfan, Adam akan memintanya untuk menikahi Anisa.


Tentu saja perasaan itu membuat Najwa berpikir seribu kali. 


Jika saja wanita itu bukan Anisa, mungkin Najwa masih bisa menerima Adam. Tapi wanita itu adalah Nisa, dan Najwa merasa jika Nisa lebih baik dari dirinya dan lebih pantas untuk bersama Adam.


Nisa berusaha untuk membujuk Najwa agar dia berpikiran positif. Mereka pun banyak bercerita dan Berbagi pengalaman.


***


Keesokan harinya.


Pak imam datang kembali untuk menemui pak Usman dan pak Imam di situ mereka sekeluarga berunding menanyakan keputusan Najwa.


"Bagaimana Najwa, apa kamu mau menerima lamaran Adam?" tanya pak Imam.


Najwa dan Anisa saling memandang.


"Bismillah Bi, Najwa menerima nya,"  ucap Najwa.


"Alhamdulillah," seru mereka semua.


"Alhamdulillah." Nisa langsung memeluk Najwa.


"Semoga kamu berbahagia dengan keputusan kamu ini Najwa, doa terbaik selalu untuk kamu."


"Iya mbak, setelah mendengar nasehat mbak di Nisa, saya melakukan sholat istikharah dan hati saya cenderung untuk menerima mas Adam."


"Alhamdulillah, segala yang baik-baik itu datangnya dari Allah SWT. Dam yang buruk datang dari diri kita sendiri. Karena itulah libatkan Allah dalam mengambil keputusan," nasehat Nisa lagi.

__ADS_1


"Iya mbak."


Setelah mendengar keputusan Najwa, keluarga Pak Usman pun memberikan keputusan kepada keluarga pak Abdurrahman tentang lamaran mereka.


__ADS_2