Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan

Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan
Keputusan Reyfan


__ADS_3

"Hiks,Jika hanya untuk meninggalkan ku disini, kenapa kau harus  mengajakku. Kau memikirkan perasaan ayah mu, tapi kau tak memikirkannya perasaan ku, hiks."


Anisa berkali-kali menghapus air matanya agar tak merasa sedih ditinggalkan sendiri di tempat yang sepi seperti ini.


. Namun seperti apapun dia menahan kesedihannya, tetap saja hatinya terasa sakit. Padahal sudah sekitar satu jam lamanya Reyfan pergi dan belum juga kembali meninggalkan dia seorang diri.


Bukannya cengeng, hanya saja, Anisa benar-benar merasa tidak dihargai, apalagi mendengar Reyfan yang malu untuk membawanya karena alasan dirinya sudah menjanda dan mengenakan pakaian seperti yang di gunakan saat ini.


Reyfan selalu mengungkit statusnya itu dan itulah yang membuat Anisa merasa sedih.


Tok.. tok ..ketukan pintu mengagetkan Anisa.


Anisa menghapus air matanya kemudian membuka kaca jendela sedikit.


Seorang pria muda  tersenyum kearah Anisa.


Anisa menundukan wajahnya agar pria itu tak menatap wajahnya


"Ada apa mas?" tanya Anisa.


Pria muda itu  mengira telah terjadi sesuatu pada Anisa karena dia sejak tadi memperhatikan Anisa yang menangis.


"Mbak kenapa anda di sini sendirian bahaya loh?" tanya pria itu .


"Tidak apa-apa, saya sedang menunggu seseorang."


"Ayo Mbak, menunggu di gedung saja, ini sangat berbahaya gedung ini baru dan tingkat pengaman nya belum memadai."


"Tidak apa-apa Mas, saya menunggu suami saya di sini saja? Mungkin sebentar lagi dia akan kembali."


"Suami mbak? Kenapa gak ikut suaminya saja?."


Pria itu memperhatikan cadar Anisa yang basah.


Anisa diam, dengan wajah yang tertunduk.


"Ya sudah demi keamanan anda saya akan berjaga di sini sampai suami anda tiba, karena baru-baru ini terjadi kasus perampok di basement Mbak. Apalagi mbak perempuan dan basement ini selalu sepi karena jam kerja sudah selesai."


Anisa mengangguk. "Iya mas terima kasih kalau begitu saya tutup kembali kaca jendelanya."

__ADS_1


"Iya mbak."


Ketika Anisa dan pria itu mengobrol Reyfan tak sengaja melihat ke arah mereka.


"Wah wah berani sekali dia mengambil kesempatan berduaan dengan pria itu," guman Reyfan dalam hati.


Dia pun menghampiri Anisa


Reyfan masuk ke dalam mobil dengan wajah yang cemberut. Tak mempedulikan pria itu yang tersenyum ke arahnya.


Reyfan membawa mobilnya keluar dari basement itu.


Sementara Anisa menakup kedua tangannya sambil mengangguk sebagai ungkapan terima kasihnya pada pria itu.


"Siapa dia?" tanya Reyfan.


Anisa bergeming.


"Pacar kamu ya?" Reyfan mengulangi ketika melihat Anisa hanya diam.


"Pacar? Aku tak pernah pacaran Pria tadi hanya kasihan melihatku yang menunggu sendiri, dia takut terjadi sesuatu padaku karena basement itu begitu sepi."


Reyfan tersenyum sinis.


"Tentu saja  sangat sulit mempercayai omongan orang asing. Tapi  orang asing ternyata lebih peduli terhadap ku."


Reyfan menarik nafas panjang Anisa seperti telah menyindirnya.


"Maaf Anisa, aku meninggalkanmu di basement."


"Iya tidak apa-apa, tapi kupikir lebih baik kita jujur saja pada Ayah. Apa yang kita lakukan saat ini hanya membuang-buang waktu. Toh nyatanya ujung-ujungnya kita juga akan berpisah."


"Maksudmu?" 


"Antarkan saja aku pada orang tuaku sekarang."


"Apa kau menyerah Anisa?" tanya Reyfan.


Anisa menggeleng kepalanya seraya meneteskan air matanya lagi.

__ADS_1


" Bukannya aku menyerah, hanya saja aku gak kuat mendengar hinaan seperti itu.Apa aku terlalu kotor,atau status ku terlalu hina di matamu. Bagaimana bisa manusia menghina manusia lainnya sedang Tuhan saja tak menilai manusia dari status sosialnya." 


Anisa kembali menangis. Rasanya dia tak lagi kuat menahan derai air matanya.


Reyfan tertegun mendengar penuturan Nisa, perasaan bersalah menyelimuti hatinya kini.


"Anisa aku minta maaf," ucap Reyfan sambil menggenggam tangan Anisa untuk pertama kalinya.


Anisa menepis tangan Reyfan seraya membuang wajahnya ke arah luar jendela.


"Aku sudah memaafkan mu."


"Hanya saja aku tak bisa terus-terusan hidup denganmu seperti ini. Aku butuh kepastian, kau harus tegas, menerima ku atau menjatuhkan talak pada ku di hadapan orang tua ku.


"Anisa, aku janji ini terakhir kalinya aku mengatakan hal buruk tentang mu, tapi jika aku harus jujur, aku memang tak bisa menerimamu, dan aku akui aku telah memanfaat kamu, dan terima kasih karena sudah bersedia membantuku."


Annisa menarik napas panjang..


"Berarti aku sudah tahu jawabannya," jawab Annisa.


"Maaf Annisa, cinta tak bisa di paksakan."


"Iya kau benar Mas, tapi ada juga yang bilang cinta bisa tumbuh seiring jalannya waktu. Sejak dari awal kau memang tak menginginkan ku, jadi kau sendiri yang menutup-nutup pintu cinta, agar tak tumbuh diantara kita. Saat ini kita sama-sama butuh waktu untuk berpikir dan melangkah. Kau masih punya waktu beberapa hari sebelum mengantar ku dan membuat keputusan di hadapan kedua orang tua ku."


"Kalau kau ingin belajar agama, masih banyak metode lainnya. Dengan mendengar ceramah, membaca buku, apalagi ayah banyak mengenal para ustadz, lebih baik aku pulang kerumah orang tua ku di sana aku bisa mengajar di taman pendidikan Al-Qur'an milik ayah ku. Daripada kita harus hidup serumah dengan status suami istri tapi kita tak bisa menjalani dengan baik."


Hiks, Anisa kembali menarik tisu dan membersihkan air mata. Akhir-akhir ini perasaan Annisa memang mudah tersentuh tak seperti sebelum-sebelumnya.


"Pernikahan itu penyempurna ibadah. Tapi kita telah gagal menjalaninya."


Reyfan sesekali masih menoleh ke arah Nisa yang menangis.


"Nisa setelah kau pergi, Apa kau masih berniat menjodohkan ku dengan saudara sepupu yang katanya cantik itu?"


"Insyaallah, asal kamu berubah dan memperbaiki dirimu, pasti akan banyak wanita Sholehah yang bisa menerimamu, tak mesti dari keluargaku jugakan?"


"Iya aku akan berusaha berubah jadi lebih baik karena Allah."


"Bagus Mas, jika kau menyadari itu. Berubahlah untuk dirimu sendiri bukan karena orang lain. Karena setiap perbuatan yang kita lakukan, kitalah yang akan mempertanggungjawabkannya kepada Tuhan. Bersyukurlah jika kau masih bisa bertobat sebelum terlambat, Karena pada dasarnya  kita hidup di dunia ini untuk mengumpulkan amal dan bekal untuk kehidupan yang lebih abadi di akhirat. Jangan sampai kesenangan dunia yang sesaat membuatmu terpana dan melupakan kehidupan akhirat yang abadi."

__ADS_1


"Iya Nisa, terima kasih telah mengingatkan ku. Terima kasih juga karena kau sudah berniat mencarikan calon istri untuk ku," ucap Reyfan.


"Sama-sama Mas," jawab Anisa.


__ADS_2