Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan

Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan
Mengemis Cinta


__ADS_3

Untuk meyakinkan Anisa Jika dia sudah berubah menjadi suami yang sholeh dan baik Revan membeli sesuatu untuk Anisa.


Gue harus berbuat baik nih sama Nisa biar dia rekomendasikan sama temannya itu jika gue laki-laki yang baik dan soleh.


Reyfan singgah ke toko kue dia membeli cake coklat premium. Setelah membeli coklat baik pun singgah ke toko perhiasan membelikan Anisa perhiasan.


Kemudian Revan juga ke toko pakaian membelikan Anisa beberapa baju gamis dengan kerudung yang panjang seperti yang biasa Anisa pakai.


"Apalagi ya yang disukain perempuan. Makanan enak sudah perhiasan sudah baju-baju bagus juga sudah. Semoga aja aku bisa lulus training jadi suami yang baik."


Setelah berbelanja Reyfan pulang ke rumahnya dan langsung menghampiri pintu kamar Anisa.


Tok tok pintu kamar Annisa di ketuk.


Annisa yang sedang mengaji buru-buru keluar dari kamarnya.


Kreak pintu terbuka.


Senyum terkembang di wajah Reyfan.


"Annisa aku bawa sesuatu untuk kamu nih."


Reyfan membawa cake coklat yang terlihat begitu lezat.


"Ini untuk aku Mas?" tanya Annisa, dia tersanjung dengan kebaikan Reyfan tersebut.


"Iya dong. Tapi nggak hanya itu, aku juga belikan perhiasan untuk kamu."


Reyfan menyodorkan tote bagnya kepada Annisa.


Anisa melihat sebuah perhiasan dalam tote bag itu.


"Terima kasih Mas," Annisa semakin tersanjung dengan perlakuan Reyfan itu.


"Aku juga belikan pakain yang bagus untuk kamu Annisa."


"Iya Mas terima kasih, " ucap Annisa sambil tersenyum bahagia, bahkan wajahnya sampai memerah di balik cadarnya.


"Jadi apa aku sudah memenuhi kriteria suami yang baik dan Sholeh untuk wanita yang Sholeh dan cantik itu ?" tanya Reyfan sambil menyilangkan kedua tangannya ke dada.


'Oh jadi karena itu, dia memberikan ku ini semua,' batin Annisa. Dia pun kecewa.


"Iya Mas, kamu sudah hampir kriteria mendekati suami yang baik dan sempurna. Hanya saja seperti kamu kurang paham bagaimana sosok laki-laki yang baik dan sempurna itu."


"Suami yang baik itu tidak menyakiti istrinya dengan mengharap wanita lain hadir di rumah tangga mereka. Suami yang baik tak hanya bisa memberikan nafkah lahir tapi juga nafkah batin. Membuat rumah tangganya sakinah mawadah dan warohmah. Bukan hanya memberikannya hadiah saja dengan mengharapkan imbalan saja" ucap Annisa.


"Hah, bukannya kita sudah sepakat untuk tak berhubungan suami istri. Apa ini salah satu caramu agar aku mau menyentuh mu?!"

__ADS_1


Anisa menyingkirkan senyum tipisnya.


"Nafkah batin itu gak cuma berhubungan suami istri Mas, tapi ketenangan dan juga kenyaman. Lagi pula kita tak pernah sepakat untuk melakukan hubungan suami istri kau saja yang tidak mau menyentuhku kan."


'Sepertinya ini akal-akalan Nisa saja untuk menjebak ku, aku tidak boleh terbujuk oleh rayuannya,'batin Reyfan.


"Iya Nisa, itu karena aku menjaga diri ku, dari pada nantinya kita melakukan hubungan suami istri dan kau sampai hamil bagaimana? Kau tidak mau kan aku ceraikan dalam keadaan hamil."


Nisa menghela nafas panjang karena merasakan sesak.


"Iya Mas, lebih baik kita tak pernah saling menyentuh. Akan ku jaga diriku sampai kau benar-benar melepaskan aku," ucap Annisa dengan bibir yang gemetar.


"Ehm, akhirnya kau paham juga. Baiklah aku masuk ke kamar dulu semoga kau senang dengan hadiah dari ku."


Reyfan pun berlalu dari kamar Annisa.


Annisa pun menutup pintunya kembali. Kemudian dia bersandar pada pintu kamarnya 


"Hiks, ya Allah,apa aku salah tak lagi mengharap cinta suami ku sendiri, Karena kata-kata selalu saja membuat ku terluka."


Kring dering telepon terdengar di atas nakasnya.


Nisa buru-buru menghampiri nakasnya dang mengangkat sambungan video call dari ibunya.


Nisa langsung mengangkat telpon tersebut.


"Assalamu'alaikum Nisa," sapa bu Halimah.


"Nisa kamu dimana Nak?"


"Nisa lagi di kamar Bu."


"Kamu mau pergi?"


"Ngak kok bu. Memangnya kenapa?"


"Di dalam kamar kamu masih bercadar?" tanya bu Halimah.


'Eh iya aku lupa melepaskan cadar ku,' batin Nisa.


"Oh iya bu. Tadi Nisa pikir ada tamu."


"Ehm. Nisa kamu baik-baik saja kan Nak?"


"Insyaallah bu, Nisa baik-baik saja. Emangnya kenapa Bu."


"Tidak apa-apa, mungkin ibu kangen saja sama kamu."

__ADS_1


"Iya bu. Insya Allah bulan depan Nisa akan pulang."


"Ah tidak usah, kalau suami kamu sibuk jangan dipaksakan Nak. Kamu sering-sering telpon ibu saja, karena ibu sering mengkhawatirkan kamu Nisa. Entahlah kenapa ibu seperti ini,baru kali ini ibu khawatir sekali sama kamu."


Anisa tertunduk lesu.


Bu Halimah melihat ada guratan kesedihan di wajah Anisa.


"Nisa kamu gak bahagia ya dengan pernikahan kalian?"


Hah, Annisa kaget mendengar pertanyaan itu.


Rasanya tak tega berbohong dengan ibunya sendiri. Tapi kedua orang tuanya pasti kecewa jika tahu apa sebenarnya yang terjadi dalam rumah tangganya.


"Gak kok bu. Mas Reyfan baik kok sama Annisa. Baru saja Anisa di bawakan kue coklat,dibelikan perhiasan dan pakaian baru." Anisa menunjukkan pakaian, perhiasan dan makan yang diberikan Reyfan padanya.


"Oh syukurlah Nak. Itu berarti kekhawatiran ibu tak beralasan."


Annisa menyunggingkan senyum tipis.


"Nisa, apa sudah ada tanda-tanda kamu akan hamil?"


"Ehm belum Bu."


"Ya sudah sabar saja ya Nisa, semoga kamu Segera punya anak. Ibu sudah gak sabar untuk gendong cucu."


"Amiin, doakan saja ya Bu."


"Iya Nak. Insyaallah."


Bu Halimah menutup sambungan teleponnya.


Nisa meneteskannya air matanya kembali sambil mengusap dadanya..


Nisa bersimpuh duduk menghadap kiblat kemudian berdoa.


"Ya Allah,ibu pasti kecewa sekali jika tahu bagaimana sesungguhnya keadaan rumah tangga kami. Apalagi jika ibu tahu jika mas Reyfan sudah berniat untuk menceraikan ku."


"Hiks hati orang tua ku pasti hancur, apa yang harus aku lakukan. Rasanya begitu sulit untuk bertahan lebih lama lagi, karena ini menyangkut harga diri hamba sebagai seorang wanita. Tapi jika memikirkan perasaan kedua orang tua hamba rasanya hamba juga tak sanggup untuk berkata jujur. Hamba  juga tidak mau mengemis cinta yang akan membuat hamba semakin terhina di mata suami hamba. Berikan jalan keluarnya ya Allah."


Nisa mengadukan semua kekecewaannya rasa sedih dan marahnya kepada Rabbnya. Setelah menangis-nangis sendiri di kamar Anisa kembali tenang dia pun mempersiapkan diri untuk sholat magrib bersama suaminya.


Demi kebaikan semua Nisa tak boleh menyerah, dia yakin hati Reyfan tak sejeras batu, sedang baru saja ada celah untuk air menggalir.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2