
Waktu mendekati subuh Anisa membentangkan sajadah di kamarnya.
Karena sebentar lagi mendekati sholat subuh.Setelah semuanya rapi, dia bermaksud untuk membangunkan Reyfan
Tok tok tiba-tiba pintu di kamar Annisa diketuk dari arah luar.
Anisa berjalan menghampiri pintu dan membukanya.
Senyuman manis dari seorang pria berwajah tampan berdiri di hadapannya dengan menggunakan baju koko putih dan peci hitam.
Wajah Reyfan begitu segar dan cerah. Membuat jantung Nisa berdetak kencang ketika melihatnya.
"Baru saja aku mau membangunkan kamu untuk salat subuh berjamaah."
"Ah tidak perlu."
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Adzan terdengar di handphone Anisa.
Anisa sebelumnya memang sudah berwudhu. Mereka langsung melanjutkan shalat subuh berjamaah untuk pertama kali.
Setelah shalat sunnah dan salat wajib selesai. Anisa tak buru-buru melipat sajadahnya. Sementara Reyfan sudah bergegas ingin pergi dari kamar itu.
"Mas, kita ngaji dulu yuk, kamu harus punya setoran surat-surat pendek sama aku setiap subuh. Karena itulah setiap hari Kamu harus ada satu surah pendek untuk kamu setor di subuh hari setelah salat subuh."
"Ehm Memangnya kenapa harus hafal surat-surat pendek segala? Cukup surat an-nas dan Al Falaq saja kan boleh."
"Eh, kalau kamu ingin punya istri yang sholehah, kamu harus menghafal surah-surah pendek, karena kamu akan jadi imam shalat bagi istri kamu. Kamu nggak mau kan hanya membaca surah-surah pendek itu itu saja. Apalagi kalau mertua kamu meminta kamu jadi imam salat bersama keluarganya. Minimal juz amma kamu harus hapal."
"Aduh ribet banget sih."
"Ya gitu kalau mau dapat yang terbaik kamu juga harus lakukan yang terbaik. Lagi pula nggak susah kok menghapal surat-surat pendek. Kamu tinggal muter murottal Quran satu hari satu surah. Kamu putar terus menerus, nanti juga akan hafal sendiri. Daripada kamu dengar lagu-lagu mending kamu biasakan mendengar murottal Quran."
"Iya baiklah. Tapi mulai besok ya."
__ADS_1
"Iya boleh. Kalau begitu mulai besok ya."
"Iya." Reyfan pun keluar dari kamarnya.
Reyfan kembali ke kamar untuk berolahraga. Setelah bangun pagi dan sholat subuh, tubuhnya semakin segar.
Setelah itu dia segera turun untuk sarapan. Selama menikah dengan Annisa dia memang tak pernah makan bersama istrinya. Baik itu makn malam, siang maupun sarapan.
Setelah Reyfan pergi ke kantor, barulah Annisa turun untuk sarapan.
Annisa membuat makanan sendiri.
Para ART jarang sekali melihat Anisa keluar dari kamarnya. Karena Anisa memang tak pernah keluar dari kamar selain untuk mengambil makanan dan minumannya, kemudian dia membawa makanan tersebut kedalam kamarnya dan makan di kamar itu.
Semakin Reyfan menghinanya. Annisa semakin malu untuk menunjukkan wajah aslinya. Dia juga tak ingin Reyfan menerimanya hanya karena paras wajahnya. Lagi pula ini satu-satunya kesempatan untuk Anisa merubah sifat buruk sang suami.
"Eh mbak Annisa betah sekali di kamar ya. Selama menikah, saya gak pernah lihat mbak Nisa dan mas Reyfan berduaan. Mereka juga gak pernah pergi bersama dan makan bersama," ucap salah satu ART.
"Ah mungkin mereka memang gak suka pamer kemesraan."
"Ya jelas betahlah, punya istri secantik itu."
"Iya Yah. Duh jadi gak sabar lihat kalau mereka punya anak, pasti cantik atau ganteng tuh. Orang tuanya saja ganteng dan cantik gitu."
*"*
Seperti yang di perintahkan oleh Annisa. Reyfan memutar murottal Al-Quran di ruangan nya sambil dia bekerja memeriksa berkas.
Surah Al-Alaq diputar berulang kali ruangan tersebut agar bisa di setor kepada Annisa esok harinya.
Kreak pintu ruang Reyfan di buka.
Sony sang sahabat, tersenyum mendengar suara lantunan ayat suci yang terdengar merdu.
__ADS_1
"Ada yang bucin rupanya. Katanya gak suka sama istrinya. Tapi sekarang sepertinya Reyfan sudah bayak berubah," gumam Sony.
"Eh Rey, fokus banget loh," ucap Soni sambil menarik kursi di hadapan Rey.
"Eh loh Son. Ada perlu apa nih? Kok tiba-tiba datang kemari."
"Gue datang dengan membawa undangan Men."
"Loh mau nikah? Kok mendadak?"
" Biasalah Men, gua sudah curi star duluan, hehe.
"Ehm, gitu ya."
"Loh sendiri bagaimana. Katanya loh gak suka sama istri loh bro. Tapi kok sepertinya nurut banget sama istri loh Sekarang sudah jarang banget kumpul-kumpul sana kita. Janda memang lebih menggoda ya Rey. Gue jadi pengen lihat deh, wajah wanita yang bisa menaklukkan hati sobat gue yang songongnya selangit ini."
"Gue saja gak pernah lihat wajahnya," Sahut Reyfan.
"Hah, serius loh Bro. Gak pernah lihat wajahnya? Terus kalau kalian berhubungan suami istri wajahnya ditutup kali ya, saking jeleknya istri mu kau tak mau melihat wajahnya haha," ledek Sony.
"Mana gue tahu wajahnya jelek apa gak. Gak pernah berhubungan suami istri juga."
"Ah bego banget loh Rey. Punya bini tapi di anggurin. Kalau gue sih hajar saja, justru janda itu lebih bohay, banyak pengalamannya."
"Ah gak lah. Nanti kalau dia hamil, ribet lagi menceraikan. Harus mikir anaklah, apalah. Nanti gue gak bisa kawinin cewek cantik yang seperti bidadari itu," ucap Reyfan.
"Hah, loh punya gebetan baru Rey? Siapa?"
"Ada deh. Dia itu temannya Nisa. Nisa bersedia menjodohkan gue dan temanya itu, asal gue mau berubah jadi pria yang sholeh."
"Ehm jadi lo berubah bukan karena istri loh Rey, tapi karena wanita lain. Yaelah miris banget jadi istrimu Rey. Kalau lo gak mau sama bini gue loh, gue nikahin saja Rey, jarang banget ada wanita yang mau membuat suaminya jadi lebih baik hanya untuk menjodohkan dengan wanita lain. Tulus banget bini loh Rey. Gak sayang loh melepaskannya?"
"Ngak dong. Kan gue mau dikenalkan dengan gadis yang lebih cantik. Ntar ya klau udah gue ceraikan. Loh boleh nikahin dia kok. Tenang saja gak pernah gue sentuh kok."
__ADS_1
"Cantik fisik kan gak menjamin cantik akhlak bro. belum tentu gadis yang loh sebut sebagai bidadari itu lebih baik dari istri loh. Namanya manusia ntar kalau tua juga kulitnya mengeriput. Sama saja kan. Tapi terserah loh lah bro. Ntar klau dia dah janda lagi bilang gue aja ya Bro."
Ehm, Reyfan hanya mengguman.