Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan

Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan
Hari Pertama Di Rumah Mertua


__ADS_3

Keluar dari kamar, Reyfan merogoh saku celananya untuk mengambil handphonenya yang sejak tadi bergetar.


"Halo, Sayang kau di mana?" tanya seseorang pada sambungan teleponnya.


"Masih di rumah, kenapa?"


"Bisa temui aku di tempat biasa?"


"Nanti saja, hari ini aku baru saja menikah dan aku harus tetap berada di rumah demi menjaga perasaan ayah ku."


"Tapi sayang…"


Blep, sambungan teleponnya terputus.


Reyfan masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


Reyfan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Hari yang melelahkan, semoga saja wanita itu tak merepotkan ku nantinya."


***


Annisa bangkit setelah menangis beberapa saat.


Hatinya hancur tak terkira ketika dihina seperti barang bekas oleh suaminya sendiri.


Kring…. dering telepon terdengar dari tas selempang Anisa.


Anisa meraih handphonenya yang ternyata sambungan telepon dari sang Ibunda.


'Gawat, Ibu mengajak Video call. Aku harus bagaimana meski memakai cadar tetap saja mataku terlihat sembab.'


Annisa melepaskan cadarnya.


"Assalamualaikum," ucap Annisa.


"Waalaikumsalam Nisa, kamu sudah sampai Nak? Ibu mau video call kenapa tak kamu angkat?"


"Waalaikumsalam Bu. Maaf ya Nisa berada di kamar bersama suami Nisa, dan gak enak kalau video call Bu."


" Oh begitu ya, tapi kenapa suara kamu serak dan parau seperti itu Nak?"


"Oh, gak apa-apa Bu. Mungkin karena Anisa lelah habis dari perjalan jauh. Nisa kan gak terbiasa bepergian ke luar kota."


"Oh ya sudah, ibu hanya memastikan saja, jika keadaanmu baik-baik saja."

__ADS_1


"Iya Bu, Nisa baik-baik saja."


'Ya Allah, ampuni dosa hamba yang telah membohongi ibunda hamba,' batin Annisa.


Ini adalah kebohongan Anisa untuk pertama kalinya.


Dia tak ingin kedua orang tuanya merasa terluka jika kedua orang tuanya tahu apa yang dilakukan Reyfan terhadapnya.


***


Keesokan harinya.


Tok tok tok.


Pintu kamar Anisa di gedor keras.


Annisa segera memakai cadarnya kembali karena dia takut jika yang menggedor pintu itu Reyfan.


Kreak.. Annisa membuka pintu kamarnya sambil menundukkan wajahnya.


"Nisa, kamu masih pakai cadar di rumah, bahkan di kamar mu?" tanya pak Wisman.


Ehm, Nisa sudah terbiasa Yah."


"Iya Yah."


"Ya sudah, ayah tunggu di meja makan."


"Baik Yah."


Pak Wisman kembali ke lantai bawah.


"Dimana dia tidur? Bagaimana caranya agar aku bisa membangunkannya?" Nisa mengedar-mengedarkan pandangan sambil bermonolog


Kreak… tiba-tiba pintu kamar yang ada di depan kamar Anisa terbuka, sosok tampan Reyfan sudah rapi dengan setelan kemeja dan jasnya.


Nisa mengakui jika suaminya memang memiliki wajah yang tampan dengan tubuh yang profosional.


Reyfan menghampiri Nisa yang berdiri mematung di depan pintu kamarnya.


"Aku sudah dengar apa yang dikatakan oleh ayah. Tapi sebaiknya kau jangan ikut di acara pelantikan itu karena nantinya ayah pasti akan memperkenalkanmu pada rekan-rekannya sebagai istri ku. Dan aku bisa malu memiliki istri dengan pakaian seperti mu! Norak gak modern banget!"


Lagi-lagi Nisa tertunduk dan terdiam.


"Ayo cepat kita ke bawah, dan katakan pada ayah jika kamu yang tak ingin ikut!"

__ADS_1


Nisa hanya bisa patuh terhadap Reyfan.


Mereka berdua pun turun menemui Pak Wisman di meja makan kemudian Reyfan dan Anisa duduk bersebelahan di meja makan.


Reyfan menarik roti dan memoles selai kacang.


Pak Wisman mengamati mata Nisa yang terlihat bengkak.


"Nisa kamu tidak apa-apa kan?" tanya pak Wisman.


"Tidak Yah," jawab Nisa sambil tersenyum di balik cadarnya.


"Saat makan apa kamu masih menggunakan cadar mu? Bukannya cadar itu tidak wajib, apalagi tak ada orang lain di rumah kita, selain ayah dan suami kamu. Paling asisten rumah tangga kita yang semuanya perempuan. Ayo buka cadar kamu."


Nisa kaget mendengar perintah dari ayah mertua.


'Bagaimana bisa aku membuka cadarku, sedangkan suamiku memintaku untuk selalu menutup wajahku saat bersamanya,' batin Annisa.


"Nisa kamu melamun?" tanya pak Wisman. Kecurigaan mulai timbul di hati pak Wisman.


"Nisa gak sarapan Yah, nanti saja. Nisa hanya mengantar Mas Rey saja sarapan dan ke kantor."


Nisa menjawab dengan gugup.


"Loh kamu gak ikut ke kantor? Padahal ayah mau melantik Reyfan sebagai presiden direktur di perusahaan ayah."


"Gak Yah. Lain kali saja ya. Nisa merasa sedikit lelah."


"Oh iya tidak apa-apa Nak."


Pak Wisman tersenyum. Dia mengira jika kelelahan Nisa karena habis berhubung suami istri dengan Reyfan semalam, karena mereka adalah pasangan pengantin baru.


Reyfan tersenyum karena Nisa ternyata mau menuruti permintaan.


'Bagus, sepertinya dia mudah untuk dikendalikan,' batin Reyfan.


Pak Wisman dan Reyfan masuk ke dalam mobil masing-masing. Setelah dipastikan keduanya berangkat. Nissa menghampiri meja makan dan makan dengan membuka cadarnya. Sebenarnya dia sudah begitu lapar. Karena dari semalam siang Nisa tak makan.


"Masya Allah cantiknya, istri tuan muda Rey," ucap salah seorang asisten rumah tangga yang tak sengaja melihat wajah Nisa.


"Iya cantik banget, aku baru kali ini melihat wanita cantik secara langsung, biasanya hanya di televisi," timpal asisten rumah tangga yang lainnya.


"Sudah cantik, sholehah lagi. Sangat kontras dengan tuan muda Rey. Semoga mbak Nisa bisa merubah sifat tuan muda Rey."


"Iya semoga saja."

__ADS_1


__ADS_2