
Reyfan sedang memeriksa berkas di ruangan kerja nya. Dering telepon mengagetkannya.
Reyfan meraih handphonenya kemudian menjawab telepon tersebut.
"Halo Assalamualaikum," sapa seseorang di sambung teleponnya.
"Waalaikumsalam ayah. Ayah dimana?"
"Ayah lagi dalam perjalanan menuju bandara Rey, sebentar lagi rombongan kami berangkat dari bandara Jakarta menuju bandara yang ada di Jeddah."
"Oh, hati-hati ya Yah, semoga selamat sampai di tujuan. "
" Iya Rey, kamu titip doa apa Rey, jika ayah sudah sampai disana."
Reyfan tersenyum simpul.
"Aku titip doa agar ayah pulang dengan selamat saja Yah."
"Ayah juga begitu Rey, Ayah masih ingin kembali ke tanah air dan bisa di berikan kesempatan menggendong cucu dari kamu. Semoga sajalah Allah masih memanjangkan umur Ayah."
"Tentu saja Yah, selama ini ayahkan sehat-sehat saja. Sudah pasti ayah akan bisa menggendong cucu dari Rey."
"Rey, sehat bukan berarti jaminan untuk hidup panjang. Ayah menjodohkan mu itu, karena ayah begitu ingin menggendong cucu dari kamu Rey. Ayah tak minta banyak,cukup melihat kamu hidup bahagia bersamanya keluargamu. Ayah harap setelah kepulangan ayah nanti ayah bisa mendapatkan kabar baik tentang kehamilan istrimu. Dan di tanah suci nanti ayah akan berdoa semoga kamu cepat diberi momongan Rey."
Bukan tanpa sebab Pak Wisman mengatakan hal itu pada Reyfan. Dia tahu putranya akan berbuat semena-mena setelah kepergiannya, karena tak ingin sang putra semakin terjerumus dalam dosa maksiat pak Wisman pun mengatakan hal yang demikian.
Reyfan tertegun mendengar permintaan ayahnya.
"Sudah dulu ya Rey, jaga diri kamu baik-baik. Sebentar lagi ayah akan berangkat."
"Iya Yah."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Reyfan menutup teleponnya sambil menghela nafas panjang.
Suara langkah kaki terdengar menghampiri ruangan Reyfan.
Kreak …pintu dibuka oleh seorang wanita cantik dengan mengenakan rok span pendek serta kemeja tanpa lengan berwarna kuning.
Diana adalah kekasih yang baru dipacari oleh Reyfan selama sebulan ini, dia datang menghampiri kantor Reyfan, karena mengetahui Reyfan kini menjadi presiden direktur di perusahaan ayahnya.
__ADS_1
Diana adalah seorang gadis yang memiliki wajah cantik dan bentuk tubuh proporsional. Sangat idealis untuk pria tampan seperti Reyfan.
Diana masuk ke dalam ruangan kerja Reyfan kemudian duduk di kursi berhadapan dengan Reyfan.
"Selamat siang sayang," ucap Diana sambil mencium pipi Reyfan.
"Kenapa kamu datang kemari?" tanya Reyfan ketus.
"Ah tidak ada apa-apa, aku hanya kangen sama kamu. Selain itu, aku juga khawatir istrimu itu akan mengganggu hubungan kita hingga kau batal menikahi ku."
"Aku tak pernah janji menikahimu. Aku hanya bilang kita jalani saja, jika cocok maka hubungan kita akan berlanjut ke jenjang yang lebih serius dan tentunya kau sudah memenuhi persyaratan untuk jadi istriku."
"Hah syarat? Kenapa harus ada syarat? Bukannya kita saling mencintai Rey?"
"Diana, jujur aku tak pernah mencintai wanita manapun di dunia ini, tapi mungkin saja suatu saat akan ku berikan cinta sejatiku untuk seorang wanita yang akan menjadi istri ku."
" Iya aku tahu itu, kau sendiri pernah bilang padaku tentang hal itu pada ku."
"Yah sudah baguslah jika kau tahu."
Reyfan kembali menyibukkan dirinya dengan memeriksa beberapa berkas.
"Lalu bagaimana dengan ku, apa kita akan tetap menjalani hubungan seperti ini terus tanpa kepastian? "
"Aku memang ingin mencari seorang istri sesuai dengan kriteriaku, tapi entah kenapa aku tak pernah merasa jatuh cinta pada seorang wanita pun. "
Sebenarnya aku bergonta-ganti pacar bukan ingin di cap sebagai playboy atau apapun itu. Aku hanya ingin mencari kenyamanan dari seorang wanita dan itu belum pernah ku dapatkan."
"Karena itulah aku berniat jika seorang wanita memiliki kriteria idaman ku, aku akan segera membawanya ke pelaminan. Aku akan mencintainya dan memberikan seluruh waktu ku untuknya."
Diana tersenyum sambil berjalan menghampiri kursi Reyfan.
"Bagaimana kau bisa menemukan kenyamanan, jika kau belum pernah merasakan servis dari ku Rey," bisik Diana.
Reyfan tersenyum.
"Berapa harga yang kau tawarkan?" tanya Reyfan.
"Aku tidak menjual diri Rey, aku lakukan ini karena aku mencintaimu," ucap Diana sambil duduk di pangkuan Reyfan.
Diana menatap wajah Reyfan sambil membuka simpulan kemeja Reyfan.
Reyfan menatap tangan lentik Diana yang perlahan membuka kancing kemejanya.
__ADS_1
"Kalau begitu, kau lebih murahan dari seorang pelacur," ucap Reyfan sambil tersenyum.
Diana seketika melotot bola matanya. Dia pun bangkit karena tersinggung ucap Reyfan.
"Rey,apa maksudmu?!"
'Sudah berapa banyak pria yang kau cintai? Dan sudah berada nanyak pria yang tidur dengan mu? Apa karena hanya cinta kau menyerah kan tubuh mu?"
Diana melorotkan bola matanya.
"Maaf Diana kau bukan kriteria ku. Wanita seperti mu sudah sering datang dan pergi di hidupku tak pernah singgah sedikitpun di hati ku. Silakan keluar!"
Diana mendekati Reyfan, kemudian mencoba mendarat tamparan di wajah Reyfan. Namun Reyfan bisa menangkis dengan mudah.
"Jangan coba-coba menamparku!" seru Reyfan sambil menatap Diana dengan tatapan tajam.
"Lihat saja kau Rey, suatu saat kau akan bertekuk lutut di hadapan ku!"
Diana Menatap Reyfan dengan tajam kemudian pergi meninggalkan Reyfan yang mengamati kepergiannya.
"Dasar laki-laki bajingan! Dia pikir dia siapa!" dengus Diana dengan kesal.
Setelah memastikan Diana keluar dari ruangannya, Reyfan duduk bersandar di kursi kebesarannya.
Reyfan memijat pelipisnya.
'Sejujurnya aku lelah hidup seperti ini. Aku bosan mengencani banyak wanita, semua itu bukannya membuat hidup bahagia tapi justru gelisah karena terus dibayangi dengan perasan dosa dan bersalah.'
Reyfan menarik nafas panjang. Dia teringat akan pesan ayahnya barusan. Ayahnya menginginkan dirinya untuk hidup bahagia dengan keluarga kecilnya.
"Rasanya aku tak tega harus membohongi ayah setelah apa yang dia berikan padaku selama ini. Bahkan dia mempercayai ku mengurus perusahaan sendiri," gumam Reyfan.
Reyfan terus memijit pelipisnya coba merenungi permintaan sang ayah.
"Apa aku jujur saja pada ayah, jika aku tak mencintai Nisa."
"Seharusnya ayah tanya dulu pada ku, kenapa dia harus menjodohkan ku dengan wanita yang sudah berstatus janda dua kali. Aku kan malu dengan teman-teman ku. Rata-rata mereka menikahi wanita yang memiliki prestasi dan terkenal seperti artis, model dan publik Figur. Sementara aku hanya menikahi wanita yang sudah dua kali menjanda, tak ada prestasi apa pun yang bisa di banggakan," dengus Reyfan.
Reyfan terus menyalah keadaan yang telah memaksanya menikahi Annisa. Wanita yang sama sekali tak diharapkan di dalam hidupnya.
'Lalu dimana akan kutemui wanita yang seperti ku inginkan, yang bisa menjadi ibu bagi anak-anak ku,' batin Reyfan.
Reyfan memijat pelipisnya.
__ADS_1
"Oh iya aku tahu. Jawabannya ada pada Nisa."