
Nisa berada di kamarnya tengah membaca buku-buku yang bertema islami demi menambah ilmu dan ke imannya.
Maklum saja, ke iman seseorang kadang berkurang dan bertambah tergantung situasi dan kondisi. Dan hal itu membuat Anisa merasa harus sering-sering meng upgrade nya dengan membaca ataupun mendengar tausiyah.
Baginya saat ini menaklukkan Reyfan sang suami adalah tantangan terbesar. Dia harus menambah ilmu agar bisa menasehati Reyfan meskipun sulit untuk mengubahnya.
Setidaknya Nisa merasa ilmu agama yang ia pelajari selama ini, dapat dia praktek secara langsung pada kehidupan rumah tangganya.
Tok tok tok
Pintu diketuk dari arah luar.
Nisa kembali memakai cadarnya.
Karena dia tahu sang suamilah yang mengetuk pintu kamarnya.
Kreak.. pintu kamar terbuka.
"Aku ingin bicara padamu," cetus Reyfan.
"Bicara apa?"
Reyfan masuk kemudian duduk di sofa yang ada di kamar Nisa.
"Mau bicara apa?" tanya Nisa mengingatkan.
"Aku ingin menikah lagi."
Deg.. Ser…tiba-tiba jantung Anisa. berdetak kencang. Entah kenapa hatinya terasa sakit ketika mendengar sang suami ingin menikah lagi, padahal baru beberapa hari yang lalu mereka menikah.
"Iya Mas, silahkan saja."
Meski sakit dan kecewa Anisa bisa apa? Nyatanya Reyfan memang tak menginginkannya.
"Tapi aku ingin kau yang memilih kan istri untuk ku."
Nisa kembali tersentak kaget.
"Aku? Kenapa harus aku?"tanya Nisa bernada protes.
__ADS_1
"Aku tahu kau dari pesantren, pasti kau memiliki kenalan seorang gadis pesantren kan ?"
"Kenapa harus gadis pesantren?" tanya Annisa semakin bingung.
"Karena aku ingin memiliki istri yang suci belum pernah terjamah laki-laki manapun.Katanya gadis pesantren memiliki akhlak yang baik, Sholehah dan terutama dia bisa menjaga kesuciannya."
"Hanya itu?" tanya Annisa.
"Iya, aku ingin yang seperti kamu, menutup tubuhmu, tapi bukan kamu, karena aku tahu kau pasti tidak suci lagi."
Seketika bola mata Anisa memerah.
'Ya Allah, apa harus aku memberitahumu jika aku masih perawan dan belum pernah terjamah siapapun, meski aku sudah dua kali menjanda,' batin Nisa.
Reyfan menatap wajah Anisa yang tampak sedih.
"Aku akui kamu memiliki sifat yang baik, tapi sekali lagi kau bukan tipeku Nisa, jadi untuk apa kita buang-buang waktu. Aku janji akan menceraikanmu setelah aku mendapatkan seorang istri sesuai dengan kriteriaku."
Lagi-lagi Nisa seperti terhina dengan ucapan dari Reyfan, Anisa menggenggam gamis ya untuk menahan amarah dan perasaan sedihnya, sebisa mungkin dia berusaha menahan air matanya.
"Aku tidak mau," ucap Anisa.
"Kenapa? Apa kau takut aku menceraikanmu?" tanya Reyfan.
Nisa bergeming ia semakin menundukkan wajahnya agar Reyfan tak melihat kesedihannya.
"Kalau kamu tidak mau aku ceraikan, kau harus terima di poligami. Tapi aku tidak akan janji bisa bersikap adil, karena aku tak akan mau menyentuhmu," ucap Reyfan dengan lembut tapi terasa menusuk ke jantung Anisa.
Nisa mengatur napasnya agar lebih tenang.
"Bukan itu Mas."
"Kalau bukan itu, lalu apa?"
"Kalau kau tidak merubah sikapmu, aku tidak akan mau menjodohkan kau dengan kenalan ku, karena aku akan kasihan melihat teman ku jika memiliki suami seperti mu."
"Apa? memiliki suami seperti ku? Memangnya aku kenapa?"
"Kata ayah kau suka minum-minuman alkohol dan Gonta ganti pasangan. Selain itu kau selalu bertutur kata kasar kan? Bagaimana kau ingin ounya istri yang baik, jika dirimu saja bukan orang baik. Jodoh adalah cerminan diri kita. Jadi, jika kau ingin dapat jodoh yang baik, berbuatlah yang baik dan tinggal maksiat ,insya Allah jodoh yang terbaik akan menghampiri mu," ucap Nisa.
__ADS_1
Reyfan menghela nafas panjang dan berat
"Jadi, jika aku berubah menjadi laki-laki yang lebih baik dan Sholeh, kau mau membantuku mencari jodoh untuk ku?"
Nisa bergeming sejenak, kemudian menganggukan kepalanya.
"Berapa bulan aku harus membuktikan kepada mu, jika aku sudah berubah?"
"Empat bulan saja."
'Empat bulan?" tanya Reyfan.
"Kenapa harus empat bulan? lama sekali?" tanya Reyfan lagi.
"Sebenarnya untuk merubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang baik membutuhkan waktu yang lama, bahkan mungkin bisa bertahun-tahun tergantung tekad dan keseriusan seseorang. Namun karena kau pernah menjatuhkan Ila' dengan bersumpah tidak menyentuhku, aku hanya bisa menunggu selama empat bulan. Setelah itu kau wajib membuat keputusan menceraikan ku atau menggauli ku sebagai istrimu. Dan selama empat bula,n aku bersedia membantumu berproses untuk jadi suami yang baik untuk jodoh pilihanmu nanti."
"Jadi kau harus menjadi suami yang baik untuk ku, selama empat bulan ini," tambah Annisa.
"Hah, kenapa harus dengan mu?"
"Ya Karena aku memang istrimu. Jika kau bisa bersikap baik padaku, maka aku yakin kau akan bersikap baik terhadap siapapun nantinya termasuk istrimu yang baru."
Reyfan menggaruk-garukkan kepalanya yang tak gatal. Sepertinya dia ragu.
Nisa tersenyum di balik cadarnya.
"Kau tenang saja, kita tak akan sampai melakukan hubungan suami istri." Nisa kembali menegaskan.
Barulah Reyfan tersenyum.
"Baiklah kalau begitu aku setuju."
"Deal!"
"Deal!"
Keduanya pun sepakat.
Annisa tersenyum dibalik cadarnya.
__ADS_1
'Jodoh itu rahasia Allah, dan jika Reyfan bukanlah jodohku, aku yakin suatu saat Allah akan mempersiapkan jodoh yang terbaik untukku, tapi setidaknya aku bisa membuatnya berubah dan kembali ke jalan yang benar,' batin Annisa