Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan

Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan
Ditinggal Sendiri


__ADS_3

Sore harinya Nisa sudah mengenakan rapi, dia mengenakan pakaian gamis yang dibelikan oleh ayah mertuanya.


Nisa memoles wajah dengan bedak tipis kemudian kembali menutupi wajahnya dengan cadar.


Tok tok tok..


Nisa membuka pintu kamarnya.


"Sudah siap?" tanya Reyfan. 


Nisa tampak anggun dengan busana syar'i tersebut, ya meski kini yang terlihat hanya bagian matanya saja.


"Sudah."


"Kalau begitu ayo kita pergi."


Reyfan melangkah terlebih dahulu kemudian diikuti oleh Nisa.


Pak Wisman menghampiri keduanya.


"Sudah mau berangkat?"


"Sudah Yah," jawab Reyfan.


"Pergi dulu ya Yah," ucap Nisa sambil mencium punggung tangan pak Wisman.


Setelah itu Nisa melangkah mengikuti suaminya menuju mobil.


Mereka pun duduk bersama di dalam mobil.


Sebelum menyetir Reyfan menghubungi seseorang.


"Halo," sapa seseorang di sambungan teleponnya.


"Halo Sinta, kamu sudah siap?"


"Sudah pak."


"Baiklah kamu tunggu saja saya di tempat parkir."


"Iya Pak."


Setelah memutuskan sambungan teleponnya Reyfan membawa mobilnya menuju gedung baru perusahaan CIPTA Holding company.


Tak ada pembicaraan di antara mereka di dalam mobil.


Mobil Reyfan masuk perlahan ke dalam basement kemudian dia memarkirkan mobilnya.


Anisa melepaskan seal beat nya kemudian hendak keluar dari mobil.


"Tunggu Nisa!"


Nisa pun menghentikan gerakannya.


"Ada apa?" tanya Nisa.


"Nisa, kau jangan ikut ke acara ini ya, aku malu membawamu ikut bersama ku."


Hah, seketika bola mata Anisa membelak.


''Maaf Nisa, di acara itu banyak banget teman-teman ku sesama pengusaha. Aku malu karena mereka pasti akan mengejekku jika membawamu. Maklum saja, pasangan mereka itu rata-rata Artis dan selebriti, sementara kau …"


'Iya aku mengerti, sementara aku hanya seorang wanita yang sudah dua kali menjanda, tak ada kebanggaan jika kau membawaku, justru kau akan dipermalukan, bukan begitu?" tanya Anisa dengan suara yang serak karena menahan tangisannya.


"Syukurlah kalau kau paham,aku rasa kau bisa mengerti keadaan ku," ucap Reyfan.

__ADS_1


"Iya,aku akan selalu mengerti keadaanmu, pergilah aku tunggu disini," ucap Anisa dengan suara yang gemetar menahan rasa sesak di dadanya.


"Baiklah tunggu saja di sini.Aku tak akan lama kok."


Reyfan turun dari mobil kemudian menutup pintu mobil tersebut.


Seorang wanita cantik dengan pakaian formal menghampiri Reyfan.


"Ayo pak kita sudah terlambat."


Reyfan dan wanita itu berlalu dari hadapan Annisa.


Hiks hiks Anisa mengusap dadanya.


"Ya Allah berilah hamba kesabaran untuk menjalani semua ini," batin Anisa.


Di dalam mobil, Nisa hanya bisa menangis sedih sambil beristighfar menunggu selesainya acara.


Reyfan berjalan memasuki sebuah  aula dimana acara berlangsung.


Sambil berjalan, Sinta  mencoba meraih tangan Reyfan, dia bermaksud bergandengan mesra dengan bosnya itu di depan semua orang dan membanggakannya.


'Sepertinya hubungan pak Rey dan istrinya kurang baik. Ada kesempatan nih untuk menggoda Pak Rey. Siapa tahu bisa jadi kekasih gelapnya pak Rey.,' batin Sinta.


Dengan percaya diri Sinta mengrangkul tangan Reyfan.


"Jangan macam-macam Sinta,  aku hanya memintamu untuk menemaniku bukan mendampingiku!" ucap Reyfan dengan tegas.


Seketika bibir Sinta mengerucut dengan wajah yang merona karena menahan malu..


Reyfan dan Sinta menghampiri pak Pradito yang sedang menyelenggarakan acara.


"Selamat atas peresmian gedung barunya Pak," ucap Reyfan.


"Di mana istrimu Reyfan, aku dengar kau sudah menikah dengan gadis pilihan ayah mu?"


Pak Pradito melirik ke arah Shinta, dia yakin jika Sinta bukanlah istri Reyfan, karena setahunya, Pak Wisman begitu membanggakan menantunya yang memakai cadar.


"Ada di rumah Pak."


"Oh ya Kenapa kau tidak bawa kemari?"


"Tidak apa-apa, istri saya kurang suka dengan pertemuan seperti ini."


"Iya saya mengerti, tapi sesekali bawalah Istri main kerumah saya, untuk silaturahmi."


"Iya Pak, Insya Allah."


"Kalau begitu silakan menikmati acara dan hidangannya," ucapan Pradito.


Reyfan berjalan berkeliling mencari teman-temannya.


Rata-rata teman Reyfan memang anak seorang pengusaha, jadi tak heran jika teman-temannya juga memiliki kedudukan di perusahaan orang tuanya.


Dan yang pastinya, mereka juga akan diundang di acara ini.


Salah seorang teman Reyfan menghampiri Reyfan kemudian menepuk pundaknya hingga Reyfan menoleh.


"Hai Reyfan, lama tidak bertemu, akhirnya kita bertemu di sini."


"Hai iya Riko, apa kabar kamu?" tanya Reyfan.


"Baik yuk kita reunian lagi tuh ada si Dimas dan Arya duduk di sofa."


"Istri mu ya?" tanya Riko sambil melirik ke arah  Sinta.

__ADS_1


"Bukan dia sekertaris ku."


"Wah pergi ke acara membawa sekertaris, istri dirumah ditinggal dong."


Reyfan tak menggubris pertanyaan dari Riko, dia juga sebenarnya tak ingin membicarakan perihal istrinya.


Mereka menghampiri perkumpulan teman nya.


"Hay, gengs sudah lama disini?" tanya Riko.


"Hay Riko!"


Istri Dimas dan istri Arya menghampiri Riko kemudian tanpa sungkan mereka bercipika-cipiki.


Pakaian yang dikenakan para istri temanya itu juga terbuka bagian dada dan pahanya.


Rey mengulur tangannya ke dua wanita itu untuk berkenalan.


Tanpa sungkan wanita menyentuh pipi kanan dan kiri Reyfan dengan pipinya bahkan di depan suami mereka sendiri,sementara  Arya dan Dimas terlihat santai.


"Eh Rey, lama tak bertemu," ucap Arya dan Dimas bersalaman.


Reyfan mengobrol sebentar bersama mereka, karena mereka bersahabat mungkin sahabatnya itu juga bersahabat dengan para Istri mereka.


Para istri itu bergaul dengan teman suami mereka, bercanda dan tertawa tanpa batasan sedikit pun.


"Istri kamu mana Rey?" tanya Dimas.


"Mana dia mau bawa istrinya yang seperti ninja itu," sahut Arya dengan maksud bercanda.


Rey tersenyum.


"Istri ku tidak mau bergaul dengan seorang yang bukan mahramnya, dia selalu menutup diri dan mungkin acara  seperti ini tidak layak untuk di hadiri olehnya," sahut Reyfan.


"Itu tandanya istri mu itu kurang pergaulan Rey. Dan sepertinya sejak menikah dengan nya kau juga kurang pergaulan, beberapa kali absen di acara kami."


"Entahlah sekarang aku lebih nyaman di rumah," sahut Reyfan.


"Oh begitukah Rey, sayang sekali Rey kau habiskan waktumu di rumah,kita masih muda Rey nikmati sajalah hidup ini. Senang -senang dulu, nanti setelah tua baru kita insaf," sahut Arya lagi.


"Kalau belum tua sudah mati, bagaimana?" tanya Rey.


Haha mereka justru menertawakan Reyfan 


"Wah bener-bener nih Rey, sejak dinikahkan dengan janda oleh ayahnya sudut pandang jadi berubah, jadi lebih sering ingat mati. Aduh Rey kalau ingat mati terus kapan kita senangnya, toh hidup di dunia juga cuma sebentar kok, senang-senang lah dulu " sahut Dimas dengan maksud mengejek.


 


Ucapan teman-temannya tersebut membuat Reyfan justru tersadar.


Jika istri para sahabatnya itu dibandingkan dengan istrinya, tentunya Anisa lebih berkelas,  Anisa selalu mengajar dan mengarahkan ke jalan yang benar yang selalu mendekatkan diri kepada ketakwaan.


Annisa juga bukan wanita yang mudah di sentuh dan bergaul karena selama mereka menikah tak pernah sedikitpun Anisa  dan menggoda dirinya. Bahkan sampai kini mereka tak pernah bersentuhan langsung meski status mereka suami istri.


Anisa memang menjaga aurat dan menutupi wajahnya karena permintaan Reyfan. Dan sampai detik ini, Anisa tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh Reyfan tersebut.


Perasaan bersalah pun menghampiri Reyfan, dia meninggalkan Anisa sendiri, karena dia malu akan di tertawakan karena memiliki istri yang bercadar yang biasanya di ejek sebagai ninja oleh gengnya itu.


Yang seharusnya dia bangga akan prinsip-prinsip hidup Anisa.


Karena itulah Reyfan memutuskan untuk menemui Anisa di basement.


Reyfan duduk di sebuah sofa begitupula dengan Sinta, kebetulan ada teman Reyfan yang berstatus duda yang  menggoda Sinta. Mereka pun mengobrol.


Setelah menyapa dan berbincang sebentar, Reyfan memutuskan untuk kembali menemui Anisa. Dia takut terjadi sesuatu pada Anisa di basement.

__ADS_1


__ADS_2