
Mobil mereka tiba di kantor PT Plaza The Hotel.
Hari ini pak Wisman sengaja melantik putranya sebagai presiden direktur untuk menggantikan posisinya.
Mereka turun dan memasuki ruang rapat. Beberapa pemilik saham dan pejabat eksekutif hadir di ruang rapat tersebut.
Pak Wisman pemilik 70 persen saham PT Plaza The Hotel, selain hotel, dia juga memiliki cabang restoran di beberapa kota besar di Indonesia dan dia berniat untuk menyerahkan pengelolaan Restoran miliknya itu kepada Nisa suatu saat nanti.
Reyfan adalah harapan terakhir bagi pak Sanjaya setelah istri dan anak sulungnya meninggal dua tahun yang lalu akibat kecelakaan.
Pak Wisman berdiri di antara orang-orang penting di perusahaannya.
"Assalamualaikum warahmatullahi."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatu," sahut semua orang yang hadir di ruang rapat.
"Terima kasih atas kedatangan saudara-saudara di ruang rapat ini
Maaf saya mengadakan rapat ini secara mendadak."
"Saya bermaksud untuk mengundurkan diri dari posisi saya saat ini sebagai Presiden direktur Plaza The Hotel dan menggantikan kedudukan saya dengan putra saya yang bernama Reyfan Sanjaya."
Suasana hening beberapa saat. Sebenarnya ada keraguan bagi mereka mengingat perangai Reyfan. Namun karena pak Wisman pemilik terbesar saham PT Plaza The Hotel karena itu mereka tidak bisa menolak keputusan tersebut.
"Baiklah, saya mohon kerjasamanya agar perusahaan kita ini lebih maju dimasa mendatang," ucap Pak Wisman.
Setelah acara, para peserta rapat bersalaman dan mengucapkan selamat atas pelantikan Reyfan tersebut.
Setelah acara pelantikan selesai pak Wisman mengantar sang putra menuju ruangan presiden direktur.
Mereka pun tiba di ruangan pemimpin tertinggi di perusahaannya tersebut.
Pak Wisman menarik kursi kebesarannya dan mempersilahkan Reyfan untuk duduk di kursi itu.
"Reyfan perusahaan ini ayah bangun dan rintis bersama ibu mu. Begitu banyak kenang pahit dan manis selama tiga puluh tahun ayah merintis usaha ini. Banyak pula pengorbanan dan air mata dalam mempertahankan bisnis ini. Semua yang ayah dan alm ibu kamu lakukan hanya untuk menjamin masa depan kamu dan keturunan kamu nantinya. Ayah harap kamu bisa mempertahankan perusahaan ini untuk anak cucumu kelak."
Reyfan menatap serius ke arah ayahnya.
"Tentu saja Yah. Aku akan jaga apa yang sudah ayah dan ibu perjuangan selama ini."
__ADS_1
Pak Wisman menepuk pundak putranya.
"Reyfan kamu sudah dewasa Nak. Kamu pasti tahu mana yang terbaik untuk dirimu dan masa depan mu. Ayah sudah tidak ingin memikirkan tentang dunia ini. Ayah ingin memperbanyak ibadah. Karena itulah ayah mundur dan ingin menetap di pesantren KH Abdullah."
"Di sana ayah akan banyak mengikuti pengajian, ayah juga akan ikut menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya. Jadi semuanya ayah serahkan pada kamu. Siang ini ayah akan berangkat untuk persiapan umroh bersama teman teman satu pengajian ayah. Ayah titipkan Anisa dan perusahaan ini kepada kamu Nak."
Reyfan menatap ayahnya.
"Iya Ayah, aku akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini," ucap Reyfan dengan tegas.
'Tapi tidak dengan Annisa,' batin Reyfan.
"Baiklah kalau begitu ayah pulang dulu. Mau beres-beres."
"Iya Yah hati-hati ya."
Pak Wisman keluar dari ruangan Reyfan. Hatinya kini tenang karena telah menyerahkan urusan duniawi pada anak semata wayangnya.
Setelah dari kantor pak Wisman pulang ke rumah untuk mempersiapkan keberangkatannya.
Anisa berada di kamarnya.
Tiba di rumah, pak Wisman langsung membereskan barang-barang.
Setelah siap, dia keluar dari kamar bermaksud untuk menemui sang menantu. Namun baru saja hendak memanggil Nisa, Nisa sudah turun dari lantai bawah.
"Assalamualaikum Yah, sudah pulang?" Nisa yang tanpa menggunakan cadar itu menghampiri pak Wisman kemudian mencium tangannya.
Nisa bermaksud mengadukan apa yang di lakukan Reyfan terhadapnya.
"Iya Nak."
"Nisa ada yang ingin ayah bicarakan sama kamu."
" Bicara apa Yah?"
Jantung Anisa tiba-tiba berdegup. Padahal dia nuga ingin membicarakan sesuatu tentang Reyfan.
"Ayah ingin bicara tentang Reyfan dan keberangkatan ayah."
__ADS_1
Huh, Nisa menarik nafas panjang.
"Ayah ingin pergi kemana?"tanya nya.
"Sini Nak duduk dulu." Pak Wisman menuntun Nisa untuk duduk di kursi yang berada di ruang tengah.
Mereka pun duduk bersama di sebuah sofa.
"Ada apa Yah?" tanya Nisa.
"Nisa, ayah ingin memberitahumu sifat-sifat Reyfan yang mungkin saja akan membuatmu kaget nantinya. Tapi semoga saja Reyfan sudah berubah."
'Nisa sudah tahu Yah,' batin Nisa.
"Reyfan sebelum ini sering mabuk-mabukan. Sering bergonta-ganti pacar. "
Nisa tidak begitu kaget mendengarnya. Karena dia sudah bisa menebak karakter Reyfan dari perlakuan Reyfan terhadapnya.
"Nisa, sebenarnya ayah menikahkan kamu dan Reyfan dengan harapan Reyfan bisa menjadi pria yang bertanggung jawab. Ayah mohon Nisa, bersabar dalam menghadapi Reyfan. Reyfan begitu, sejak ia kehilangan ibunya dua tahun silam."
Nisa menarik napas panjangnya kembali. Namun dia menyimak tutur kata pak Wisman dengan seksama.
"Bimbinglah Reyfan Nisa, tunjuan dia jalan yang lurus. Bujuklah Reyfan untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang hamba Allah."
Nisa kembali bergeming.
'Apa aku bisa membimbing mas Reyfan ke jalan yang benar. Sementara dia sendiri tak menginginkan kehadiran ku,' batin Nisa.
"Bagaimana Nisa, kamu mau kan membimbing Reyfan agar dia kembali ke jalan yang lurus?" tanya pak Wisman.
Lamunan Nisa buyar karena pertanyaan dari pak Wisman tersebut. Tapi dia ingat akan nasehat umi Khadijah kepadanya jika Allah maha membolak-balikkan hati hamba. Mungkin saja suatu saat Allah akan membolak-balikan hati Reyfan melalui tuntunanya . "Masya Allah." Nisa bersemangat karena mengingat pahala yang diperoleh dari kesabaran seorang istri yang bisa membimbing suaminya ke jalan yang lurus.
"Insyaallah Yah," sahut Annisa sambil tersenyum.
Pak Wisman pun tersenyum.
"Kalau begitu, ayah berharap sepulangnya ayah nanti, ayah akan bisa mendapatkan kabar baik tentang kehamilan kamu Nisa. Ayah sudah tua, semoga ayah di berikan kesempatan untuk menimang cucu" ucap pak Wisman lagi.
Kali ini raut wajah Annisa berubah dalam sekejap.
__ADS_1
'Bagaimana aku bisa hamil, jika mas Reyfan merasa jijik untuk menyentuh ku?' batin Anisa.