Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan

Bidadari Surga Yang Ku Sia-siakan
Seperti Bidadari


__ADS_3

Setelah shalat maghrib dan membaca doa, Reyfan buru-buru bangkit hendak pergi.


Namun tangannya ditarik keras oleh Nisa, hingga Reyfan tak sengaja jatuh dan menimpa tubuh Anisa.


"Akh sakit!" Keluh Anisa ketika kakinya diduduki Reyfan.


Reyfan segera bangkit.


"Woi nafsu banget sih kamu!" dengus Reyfan.


"Ehm, maaf saya tadi reflek."


"Reflek apanya, bilang saja kamu mau cium aku kan?" dengus Reyfan.


"Gak, saya hanya reflek."


"Bilang saja sudah gatal, mau merayu dan menjebak saya kan?" tanya Reyfan sambil berdiri.


"Mau kemana anda?" tanya Anisa yang tak menggubris tuduhan Reyfan.


"Mau pergi lah."


"Bukannya kita harus belajar mengaji?"


"Aku sudah bisa mengaji, jadi gak perlu belajar lagi. Sudah aku mau pergi."


"Eh tunggu, mana coba di praktekan dulu." Anisa coba menghadang Reyfan dengan tubuhnya.


Reyfan memutar bola mata malasnya.


"Kamu tuh makin lama makin suka ngatur ya."


"Ya sudah itu terserah anda, ingat untuk mencapai tujuan anda, diperlukan usaha. Kalau kamu gak mau, saya  juga gak rugi kok. Hanya saja, saya bener-bener gak mau bantu kamu lagi." 


Reyfan memutar bola mata malasnya.


'Makin cerewet nih janda, Uh bagaimana cara menyingkirkan dia secepatnya dari rumah ini, kalau aku langsung ceraikan dia , pasti ayah akan kecewa dan menarik kembali apa yang sudah diberikan untuk ku.Aku gak mau kehilangan jabatan ku, padahal aku baru saja mau menikmatinya,' batin Reyfan


"Bagaimana anda bersedia tidak?"desak Nisa ketika Reyfan hanya diam.


"Ehm, aku mau tapi aku pingin lihat foto gadis yang ingin kau jodohkan dengan ku.Aku harus tahu seperti apa wajahnya, karena percuma juga jika aku sudah usaha tapi wajahnya tak sesuai harapan, seperti membeli kucing dalam karung."


Hah, Annisa terkejut. Dia tak punya foto Najwa dan dia pun tak berani menunjukkan foto Najwa tanpa seijin adik sepupunya itu, karena Najwa juga gadis bercadar.


'Tak apalah aku perlihatkan saja foto ku, toh dia juga suami ku,' batin Nisa.


Anisa meraih handphonenya kemudian ia mengotak atik handphone tersebut.


Annisa memang memiliki beberapa foto dirinya sendiri yang tak menggunakan cadar, hanya untuk sekedar koleksi pribadi.


"Nih, fotonya." Anisa memperlihatkan foto tersebut kepada Reyfan.


Seketika bola mata Reyfan melotot melihat gadis yang begitu cantik dan anggun dengan busana syar'i berwarna peach. Tatapan gadis di foto itu begitu teduh hingga siapapun yang menatapnya akan tersihir akan pesonanya.


"Cantik sekali," gumam Reyfan.


Belum pernah dia melihat gadis secantik itu sebelumnya.


Anisa buru-buru menarik handphonenya.


"Jangan terlalu lama di lihat."


"Cantik sekali gadis itu," sanjung Reyfan.


Nisa buru-buru memasukkan handphonenya ke dalam nakas.

__ADS_1


"Bagaimana, masih mau berjuang mendapatkan gadis cantik dan sholehah?"


"Iya tentu dong." Reyfan langsung duduk bersila di atas lantai.


Nisa mengambil buku iqro yang ada di atas nakasnya. Kemudian ia menghampiri Reyfan.


Reyfan kaget ketika melihat buku iqro.


"Hah, kau sudah gila. Kau suruh aku belajar dari buku ini? Bukannya ini buku untuk anak TK dan SD," protes Reyfan.


"Sudah berapa lama anda  tidak mengaji?" tanya Annisa.


"Sudah sekitar sepuluh tahun."


"Kalau begitu ulang dari awal, karena ketika anda membaca surah pendek saat shalat,ada beberapa pengucapan dan tajwid yang kurang tepat."


Reyfan mendelik ke arah Anisa. Dengan menggunakan mukena itu hanya  mata Anisa dan keningnya saja yang tampak.


"Ayo kita mulai saja."


Anisa membuka beberapa lembar kemudian menemukan halaman pertama. 


"Bacalah," ucap Annisa.


Meski kesal, karena disuruh mengulang. Reyfan harus bersabar. Dia bisa kehilangan gadis secantik bidadari jika dia tak menuruti keinginan istrinya itu.


" A I U Ba, Bu, Bu, Ta Ti Tu Sya syi syu."


Begitulah selanjutnya. Anisa menuntun Reyfan belajar dan memperbaiki pengucapan Reyfan yang salah, seperti layaknya guru dan murid.


Tak terasa adzan Isya kembali berkumandang dan mereka melanjutkan dengan sholat Isya berjamaah.


Setelah selesai sholat isya. Reyfan langsung bergegas pergi.


"Apalagi sih?" dengus Reyfan.


"Anda mau kemana?" tanya Annisa.


"Urusanku, bukan urusanmu!"


"Iya, aku tahu, saya hanya ingin mengingatkan anda."


"Mengingat soal apa?"


"Jika anda pulang dalam keadaan mabuk,atau berzina saya akan batalkan perjodohan ini."


Reyfan membelalakkan bola matanya karena kesal.


"Iya, aku hanya pergi sebentar!"


"Aku akan menunggu anda pulang," jawab Annisa.


"Apa? Apa kau tak punya kerjaan lain selain mengawasi ku!"


"Aku harus memastikan kau tak melakukan perbuatan tercela itu,kau harus bertobat dan tidak mengulangi perbuatan mu yang terdahulu jika ingin mendapatkan gadis yang kau impikan."


"Iya bawel!"


"Eh anda tidak boleh mengatai saya bawel."


"Memangnya kenapa? Memang kau bawel kok!" 


"Anda ingat, anda masih dalam masa training untuk menjadi suami yang baik."


"Suami yang baik harus bersabar jika sang istri mengingatkannya."

__ADS_1


"Iya istriku, aku pergi dulu ya. Kau jaga diri dirumah," ucap Reyfan dengan senyum kesalnya.


"Baiklah suami ku, aku tunggu kau pulang ya."


Reyfan mengerucutkan bibirnya kemudian memutar tubuhnya.


"Ih amit-amit, punya istri seperti dia. Sudah janda, cerewet lagi," sungut Reyfan.


Reyfan melangkah kan kalinya hendak menuju mobil.


"Eh, tapi kalau aku bertemu dengan teman-teman ku, pasti mereka ngajak minum, kalau sudah minum, aku tak bisa mengendalikan syahwat ku. Sudah cukup, aku tak mau terjerumus dalam dosa dan maksiat lagi, bisa-bisa aku gagal mendapatkan gadis cantik itu yang Sholeh itu ," guman Reyfan.


Reyfan kembali membalikkan tubuhnya.


Dia pun membatalkan kepergiannya.


Annisa tersenyum karena Reyfan tak jadi pergi.


Reyfan masuk ke dalam rumah kemudian menghampiri kamarnya diikuti oleh Annisa.


'Alhamdulillah, semoga suamiku terhindar dari perbuatan maksiat,' batin Annisa.


Reyfan memberhentikan langkah kakinya ketika berada di depan pintu kamar.


"Eh Nisa!" panggilan Reyfan seketika memberhentikan langkah kaki Annisa.


"Ada apa?" tanya Anisa.


"Ehm boleh tidak kau kirimkan aku foto gadis cantik tadi? Aku ingin menatap fotonya sebelum tidur."


"Tidak boleh, foto itu tak boleh disebarkan pada siapapun. Jika anda bersabar, tak lama lagi gadis itu juga akan jadi milik anda."


Reyfan langsung menggerucut bibirnya, kemudian dia menutup pintu kamarnya.


Setelah melaksanakan salat,entah kenapa dia juga tidak bergairah lagi untuk pergi ke pesta yang diselenggarakan oleh teman-temannya di sebuah club' malam..


Reyfan menoleh kearah nakas dimana handphone berbunyi.


Segera saja dia mengusap layar handphonenya untuk menyambut telepon tersebut.


Suara hingar-bingar musik langsung terdengar mengganggu Indra pendengaran Reyfan.


"Halo, Bro," sapa seseorang di sambungan telepon.


"Ada apa, bro?"


"Eh loh gak ikut kita party, ada Mona juga loh, gebetan loh kemarin."


"Gak lah, lagi males."


"Ah loh males atau dilarang sama bini lo bro? Haha."


"Males aja, gue mau istirahat."


"Wah, wah apa mungkin lo sudah terpengaruh dengan hasutan bini lo Rey?"


"Gak juga, gua males saja Men, udah ya gua tutup dulu teleponnya," pungkas Reyfan sambil memutuskan sambungan teleponnya.


Reyfan meletakkan handphonenya di atas nakas.


Kemudian dia berbaring terlentang sambil menatap langit-langit kamarnya.


Reyfan kembali terbayang dengan foto gadis yang ditunjukkan oleh Annisa padanya.


'Dia cantik sekali, seperti bidadari. Wanita seperti itulah yang aku cari selama ini," gumam Reyfan sambil tersenyum-senyum sendiri membayangkan gadis yang di foto itu menjadi miliknya.

__ADS_1


__ADS_2