
Setelah keadaan Reyfan membaik dia dipindahkan ke ruang perawatan VIP.
Reyfan membuka matanya dan melihat istrinya sedang menunaikan sholat subuh.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Nisa berdoa sebentar kemudian dia menghampiri Reyfan.
"Mas sudah bangun?" tanya Nisa.
Reyfan tersenyum.
"Ih bukan yang menjawab tapi malah tersenyum."
"Gimana gak tersenyum, kalau setiap kali membuka mata ada bidadari bermata indah di samping ku," goda Reyfan.
Nisa mengulas senyumnya kembali.
"Sudah sholat Mas?" tanya Annisa.
"Sudah."
"Ya sudah. Kalau begitu aku mandi dulu ya Mas."
"Hm, Nisa apa kau bisa melepaskan kerudungmu supaya aku bisa melihat rambutmu?" tanya Reyfan.
"Cuma mau melihat rambut, gak mau lihat yang lain?" goda Annisa sambil mengedipkan mata indahnya.
Bola mata Reyfan berbinar.
"Hah, apa boleh?!' tanya Reyfan dengan penuh semangat.
"Boleh dong. Tapi nanti ya, takutnya mas gak kuat."
Reyfan tersenyum kecut..
'Iya benar Nisa. Jangan dulu, nanti aku gak kuat, bisa celaka. Tulang yang di operasi belum sembuh,bisa-bisa tulang yang lain juga ikut patah."
Nisa tersenyum mendengar ucapan suaminya.
"Nah makanya. " Nisa melepaskan kerudung panjangnya untuk memperlihatkan kepada Reyfan.
Seketika tergerai rambut indah milik Nisa. Rambutnya lurus panjang dan selembut sutra. Membuat kecantikan Anisa semakin bersinar.
Reyfan menatap istrinya dengan tatapan berbinar, di pun bergerak secara reflex ingin memeluk Anisa hingga menimbulkan pergerakan tiba-tiba dan membuat lehernya bergeser dari tempat semula.
"Akh!" Reyfan merasakan sakit pada bagian lehernya yang bergeser
"Eh jangan bergerak mas," cegah Nisa.
Nisa pun memperbaiki posisi Reyfan. Hembusan nafas Nisa menyentuh permukaan kulit Reyfan yang membuat Reyfan semakin berhasrat.
Reyfan mengangkat kepalanya sedikit ,hendak menyambar bibir Annisa.
Tiba-tiba leher terasa sakit lagi.
"Akh!" Teriak Reyfan tertahan.
"Mas sudah dibilang jangan bergerak, kenapa masih bergerak terus sih."
"Akh! Iya Nisa, lihat bibir kamu dari dekat rasanya pengen dikulum saja."
Nisa tersenyum.
'Kenapa gak bilang, kan mas Reyfan gak perlu bergerak.".
Nisa mencium bibir Reyfan kemudian langsung di sambar ganas oleh Reyfan.
Tangan Reyfan menahan kepala istrinya agar tak bergerak dengan buas dia menciumi Annisa.
"Mas!" Nisa karena kesulitan mencari nafas.
Reyfan pun melepaskan kepala Anisa. Wajah Anisa jadi memerah karena hampir kehabisan oksigen.
"Tuh kan dikasih hati minta jantung," Annisa berlalu meninggalkan Reyfan menuju kamar mandi..
"Hehe maaf kebablasan,"Sahut Reyfan.
"Akh!" Teriak Reyfan tiba-tiba.
Nisa pun menoleh dan menghentikan langkahnya
"Kenapa Mas?" tanya Nisa khawatir.
"Ah tidak apa-apa Nisa," sahit Reyfan sambil meringis.
"Gak ada apa-apa kok teriak?"
"Bener gak papa tadi reflek saja."
"Oh ya sudah." Nisa kembali masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Reyfan menatap Nisa yang mulai memasuki kamar mandi." Ya Allah, sampai kapan tersiksa begini, punya istri cantik ingin enak-enakan tapi gak bisa, tersiksa banget," keluh Reyfan hampir menangis karena senjata miliknya terus saja berdiri dan meminta pelampiasan membuatnya tersiksa lahir dan batin.
Selesai mandi, Anisa memakai kembali pakaian Syar'inya
Karena berada di dalam kamar yang tertutup ,Nisa membiarkan rambutnya yang basah tergerai dengan indah sambil menunggu kering. Wajahnya dia poles dengan bedak dan lipstik agar tampak lebih segar.
Nisa tak menyadari ada mata yang selalu mengekori gerak geriknya. Reyfan terus saja memang ke arah sang istri dan hanya bisa menelan salivanya. Sementara tongkat sakti mandraguna miliknya selalu berdiri tegak sejak tadi dan belum tertidur sejak subuh.
'Ya Allah, berikan lah kesembuhan untuk hamba secepatnya, rasanya tersiksa sekali seperti ini," batin Reyfan.
Anisa merapikan barang-barang.
Tok tok tok terdengar pintu digedor dari arah luar.
Nisa segera memakai kerudung langsungnya, kemudian kembali memakai cadarnya.
Nisa berjalan membukakan pintu.
Seorang suster dan seorang petugas datang membawa sarapan untuk Reyfan.
Suster memeriksa keadaan Reyfan
"Ada keluhan Pak?" tanya Suster.
"Tidak ada suster. Hanya saja saya ingin bertanya apa ada obat yang bisa menyembuhkan tulang saya dengan lebih cepat?" tanya Reyfan.
Suster mengulum senyumnya.
"Kami sudah memberikan obat-obatan dan perawatan penyembuhan yang terbaik untuk anda pak."
"Berapa lama proses penyembuhan patah tulang ya suster?" tanya suster.
"Sekitar 4-6 bulan pak."
"Hah selama itu?!" Reyfan terkejut.
"Iya pak bahkan ada yang sampai setahun."
Reyfan kembali menelan salivanya tenggorokan semakin kering wajahnya memucat seketika.
'6 bulan," gumamnya.
"Tapi gak usah khawatir Pak. Setelah dua minggu dan penyangga leher anda bisa terlepas. Anda sudah bisa melakukan aktivitas anda secara normal. Hanya saja anda harus berhati-hati agar bagian tulang yang patah tak bergerak secara berlebihan."
"Tapi kalau pinggul yang bergerak, bolehkan suster?" tanya Reyfan lagi
Suster dan Nisa sedikit kaget dengan pertanyaan Reyfan. Namun karena suster tersebut berpengalaman karena sudah menikah suster pun mengerti.
'Asek, Alhamdulillah yang sakit bukan bagian panggul. Hanya bagian betis,' batin Reyfan.
"Oke, tekanan darahnya dan detak jantung normal ya pak."
"Normal dong suster, kan saya memang Lelaki normal," sahut Reyfan.
Nisa tersenyum di balik cadarnya begitupun suster itu.
Mungkin karena terlalu lama menahan hasratnya, pikiran Reyfan jadi selalu mengarah ke arah yang mesum.
Setelah selesai memeriksa keadaan Reyfan, suster pun permisi.
"Mas makan buburnya dulu ya setelah itu minum obatnya," ucap Nisa.
"Iya Nisa." Reyfan langsung menganga membuka mulutnya. Semangat sembuh Reyfan berapi-api.
Tok tok." Assalamualaikum." Pak Wisman masuk ke dalam kamar.
"Waalaikumsalam." Reyfan dan Annisa menjawab.
"Wah sepertinya keadaanmu semakin membaik Rey."
"Alhamdulillah Yah."
"Pasti karena Anisa kan?" tanya pak Wisman.
"Iya dong Yah," Sahut Reyfan.
"Alhamdulillah Rey. Semoga kamu cepat sembuh supaya Ayah bisa Segera menggendong cucu."
"Aamiin yah. Insya Allah keinginan ayah akan segera terlaksana." sahut Reyfan.
"Iya kan Nisa?" tanya Reyfan sambil tersenyum ke arah Nisa.
"Iya Mas, yang terpenting saat ini mas Reyfan cepat sembuh saja."
"Bener Rey, yang terpenting saat ini kamu bisa sembuh dulu."
"Oh iya Ayah mau memberitahu kamu. Tiket Umroh kalian berdua ayah tunda. Dan ayah sedekahkan pada imam masjid kita Ray. Alhamdulillah dia seneng banget bisa umroh." Dia minta ayah sampaikan salam dan ucapan terimakasih kasihnya untuk kamu Rey," ucap pak Wisman.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu Yah, senang bisa membahagiakan orang lain."
__ADS_1
"Iya kalian berdua juga sudah dapat pahala umrohnya karena sudah mengumrohkan orang lain."
"'Iya Yah, insyaallah setelah sembuh aku dan Anisa akan menyusul."
"Aamiin."
***
Setelah dua Minggu berada di rumah sakit dan harus menahan siksaan batin, kini Reyfan sudah berada di rumahnya. Baru saja dia keluar dari rumah sakit. Reyfan berada di atas kursi roda di dalam kamarnya sedang menunggu sang istri yang sedang merapikan barang-barang mereka. Setelah itu dia menghampiri Reyfan yang sejak tadi memandangnya.
"Mas, sudah jam satu siang makan dulu ya?" tanya Nisa.
"Gak mau. Lagi gak selera makan," jawab Reyfan.
"Loh kenapa, Nisa masak makanan kesukaan mas Reyfan ya?" tanya Nisa sambil berlutut di hadapan Reyfan
"Gak mau," sahut Reyfan dengan tatapan sendu ke arah Nisa
"Hah terus maunya makan apa, katanya pengen cepat sembuh? Tapi makan saja hak mau?" tanya Nisa.
Reyfan tersenyum.
"Ih ditanya, kok tersenyum."
"Nisa boleh minta sesuatu gak?" tanya Reyfan sambil tersenyum mesum.
"Minta apa Mas?" Nisa masih tak mengerti.
Reyfan berbisik di telinga Anisa membuat pipi Nisa merona.
"Ih mas, gak sabaran banget sih. Baru juga pulang. Tunggu malam saja ya?"
"Udah gak sabar Nisa. Aku gak bisa makan dan gak bisa minum kalau belum terlaksana," sahud Reyfan dengan tatapan sendu karena menahan hasratnya.
"Ehm apa gak sakit mas? Nanti pengaruh sama tulang nya yang patah loh."
"Gak ngaruh, kan yang bergerak pinggul," sahut Reyfan dengan senyum mesumnya.
Nisa jadi tersipu. Seketika jantungnya berdebar kencang, karena untuk pertama kalinya melakukan hubungan suami istri.
"Dosa loh menolak suami," ucap Reyfan seakan mendesak.
"Ehm iya deh."
Mendengar jawaban Nisa Reyfan langsung melepaskan satu persatu kancing kemejanya.
Nisa masih tertunduk malu-malu.
'Nisa bantu mas naik ke atas tempat tidur ya."
Nisa pun beranjak membantu menopang tubuh Reyfan hingga duduk di atas tempat tidur.
Nisa diam beberapa saat, karena bingung harus ngapain.
"Nisa duduk sini," ucap Reyfan sambil menepuk tempat tidur yang ada di sampingnya.
Nisa duduk di samping Reyfan.
Tanpa menunggu lagi Reyfan langsung melepaskan cadar Anisa. Tampaklah wajah cantik sang istri. Reyfan pun menyambar bibir Anisa dengan penuh hasrat kemudian dia melepaskan kerudung yang menutupi kepala Annisa.
Bola mata Reyfan berbinar dengan jantung yang berdetak kencang seraya menikmati aroma lembut dari rambut Annisa.
Reyfan semakin tak sabaran untuk melihat lekuk tubuh istrinya
"Nisa, bukalah pakaianmu."
Nisa tersenyum tersipu-sipu. Dia benar-benar malu untuk membuka auratnya. Namun karena sudah menjadi kewajiban, Nisa pun membuka gaun yang dia kenakan.
Lagi-lagi Reyfan kembali menelan salivanya ketika melihat kulit tubuh istrinya yang begitu putih nyaris tanpa celah.
Reyfan langsung membaringkan Annisa sambil menikmati pemandangan indah dari tubuh istrinya.
Masya Allah indah sekali, gumamnya menatap dengan takjub. Ingin sekali dia menjelajahi setiap inci bagian tubuh istrinya namun keadaan tak memungkinkan.
Reyfan sudah tak sabar, dia pun menarik celana pendeknya kemudian memeluk Anisa dari atas.
Sedikit pemanasan, membuat Reyfan tak kuat lagi menunggu meski hanya satu detik. Dia pun hendak memasukkan senjatanya.
'Tunggu Mas!"Tahan Annisa.
"Kenapa Nisa?" tanya Reyfan.
" Berdoa dulu."
"Ya Elah lupa, habis sudah hak kuat."
Selesai berdoa mereka pun memulai penyatuan mereka untuk pertama kalinya.
maaf ya reader, kemaren author sibuk banget di tambah kondisi tubuh yang gak fit jadi gak bisa nulis . 🙏
__ADS_1