Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu

Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu
Prolog


__ADS_3

Bandung, 30 April 2018.


Pemuda itu berdiri di depan pintu kelas, memandang langit mendung yang menangis meneteskan air hujan.


Di hari Minggu yang tenang untuk para pelajar sekolahan, justru dia dihadapkan dengan kesibukan mempersiapkan acara kelulusan untuk kakak kelasnya yang akan dilaksanakan besok. Semua orang berlalu lalang melewatinya, sibuk mempersiapkan untuk acara besok. Di panggung yang sudah berhiaskan tulisan Happy Graduation dengan pelengkap balon dan pita, para siswi eskul tari sedang berlatih untuk penampilan mereka sebaik mungkin. Di depan panggung telah didirikan taruf untuk tamu undangan. Dan kini yang duduk di kursi-kursi itu adalah para guru bahkan kepala sekolah yang sedang menonton persiapan dari siswi eskul tari. Dan ada juga yang sekedar berbincang mengevaluasi persiapan untuk acara besok.


"Hah..." Dia menghela nafas kemudian membuka pintu kelas di belakang nya. Dimana ada sebagian anggota OSIS yang mempersiapkan photo both.


Ketika dia membuka pintu itu, dia terkejut. Karena apa yang pertama kali dilihatnya adalah wanita yang dia sukai sedang foto berdua dengan pria yang paling dia benci di sekolah.


Seketika amarah yang telah ditahannya selama beberapa hari ini meletus. Tanpa sadar tangan kirinya telah melayang dengan sendirinya menghantam sesuatu. Dia berteriak dan mengumpat.


"Sialan.."


"Ctrang..." suara kaca pecah terdengar. Pemuda itu terkejut.


Seingatnya apa yang akan dihantamnya adalah dinding kelas. Tapi ternyata yang dihantamnya adalah kaca jendela kelas. Dia melihat tangannya yang kini bersimbah darah.


Di panggung para siswi eskul tari menghentikan latihannya karena mendengar suara keributan. Sedangkan para guru sudah heboh dengan apa yang terjadi.


"Kenapa itu?" Terdengar suara Pak Ali yang merupakan kesiswaan di SMA itu dan terkenal sangat galak.


Namun pemuda itu mengacuhkannya. Dia justru berjalan ke wastafel yang disediakan di depan kelas untuk membasuh tangannya yang bersimbah darah. Setelah membasuh lukanya, pemuda itu sadar bahwa luka di tangannya cukup dalam. Jika pendarahannya tidak dihentikan maka ia akan kehilangan banyak darah.


Pemuda itu berjalan dengan santai menuju UKS. Namun, setiap orang yang menatap wajahnya tau bahwa dia sedang menahan amarah yang bergejolak di dalam dirinya.


"Bintang sini Bintang." Terdengar suara Pak Ali memanggilnya. Namun dia sekali lagi mengacuhkannya dan terus berjalan menuju ke UKS. Entah keberanian dari mana yang datang untuk membuatnya berani mengacuhkan Pak Ali yang dikenal sebagai kesiswaan paling galak di SMA.


Ketika diperjalanan menuju UKS, dia bertemu dengan Bu Fatma yang merupakan guru konseling sekaligus penjaga UKS.


"Bintang kenapa?"


"Tangan saya terluka, Bu."


"Kok bisa?"


"Saya mukul kaca jendela kelas, Bu."

__ADS_1


"Astaga Bintang...kamu pasti emosi ya? Sudah ayo ikut Ibu ke UKS."


Bintang hanya bisa pasrah mengikuti Bu Fatma ke UKS sembari mendengarkan omelan dari Bu Fatma.


Bintang pun duduk di kursi tepat di depan UKS. Darah terus mengalir dari tangan kirinya. Bu Fatma terus menekan lukanya agar pendarahannya berhenti. Di saat itu juga banyak guru dan siswa yang datang melihatnya, Bintang mengacuhkannya. Mereka nampak seperti menjadikan dirinya sebagai tontonan. Mungkin karena amarahnya yang masih meluap, dirinya tidak merasakan sakit. Lengan kirinya yang terluka justru mati rasa.


Dari kejauhan Pak Ali berjalan menuju ke arah UKS. Bintang hanya bisa menyiapkan mentalnya untuk mendengarkan teguran dari Pak Ali. Tapi, Bintang kaget ternyata beliau justru menanyakan keadaannya dan mengajaknya untuk diantarkan ke dokter. Tapi Bintang menolaknya. Dirinya tidak mungkin tidak tahu malu seperti itu. Karena emosinya, ia membuat dirinya sendiri terluka.


Setelah pendarahannya berhenti, Bintang disuruh masuk ke UKS untuk istirahat di atas kasur. Bintang hanya ditemani oleh Bu Fatma karena ia tidak ingin ada orang lain yang datang. Tapi Bintang tidak bisa menolak orang ini, ketua OSIS yang sekaligus sahabatnya dari SD yang bernama Mai.


Dia datang ke UKS membawakannya sebungkus nasi. Memang seingatnya seharian ini dirinya belum makan. Dan nasi bungkus ini adalah jatah miliknya dari OSIS. Mai datang dan duduk di sebelah Bintang.


"Bintang, Ibu tinggal dulu ya. Mai ini Bintangnya disuruh makan habis itu minum obat ya. Ibu mau ke panggung."


"Iya, Bu."


Mai memandang ke arah Bintang sejenak, kemudian ia memandang tangan kanan pemuda itu yang terluka. Entah apa yang ia fikirkan, tapi kemudian dia memukul lengan kanan Bintang.


"Aduh...Mai ini sakit. Jangan memukul ku, oke?" Bintang meringis kesakitan karena rasa sakit dari lukanya.


Tiba-tiba saja air mata mulai mengalir dari kedua mata Mai.


"Sudah lah, Mai. Gak usah nangis." Bintang berusaha mencoba menghibur Mai. Dirinya tidak tega melihat sahabatnya menangis seperti itu.


"Kamu kenapa sih? Coba kalau ada masalah bilang ke aku. Aku gak tau apa-apa tapi kamu tiba-tiba kayak gini. Kalau ada masalah sama aku juga bilang jangan kayak gini." Mai menundukkan kepalanya dan menangis lebih kencang.


Bintang semakin merasa tidak enak. Ini bukan salah gadis itu. Justru dirinya lah yang telah banyak melakukan kesalahan.


Bintang berusaha menggerakkan tangan kanannya. Kemudian dia mengelus kepala gadis itu.


"Sudah-sudah. Semua ini bukan salah mu, Mai. Jangan nangis lagi atau orang lain yang melihatnya akan berfikir kalau aku sudah nyakitin kamu. Kamu mau satu sekolah menghajar ku karena aku bikin ketua OSIS mereka nangis? Kamu mau aku diomelin para guru karena bikin murid kesayangan mereka nangis? Bisa-bisa babak belur aku." Bintang tertawa memikirkan jika hal itu benar terjadi.


"Apaan sih." Mai mendengus kesal. Tapi air matanya sudah berhenti mengalir.


"Berhenti menangis dan akan ku ceritakan semuanya."


Setelah Mai berhenti menangis kemudian Bintang menceritakan akar dari permasalahan ini.

__ADS_1


"Kamu tu gak jelas loh. Kamu tu sudah ngelakuin hal bodoh yang ngelukain dirimu sendiri. Sekarang kamu liat, banyak temen-temen yang jengukin kamu tapi dia gak datang juga ke sini. Berarti dia gak khawatir sama sekali dengan kondisimu."


Setelah Mai berbicara seperti itu Bintang juga sadar. Seperti nya wanita yang sudah membuatnya seperti ini tidak mempedulikannya sama sekali. Mai sadar bahwa Bintang sedang merasa tertekan. Kemudian dia menghibur mencoba menghiburnya.


"Sudah ayo makan habis itu minum obat."


"Hemmm...Mai aku tidak bisa memegang sendok dengan kondisiku yang seperti ini." Bintang tertawa kering.


"Yang sakit itu kan tangan kirimu bukan tangan kananmu. Jangan manja cepat habiskan nasi bungkusnya lalu minum obat."


"Tapi aku benaran gak bisa megang sendok. Tubuhku lemas sekali seperti mati rasa." Bintang sedang tidak mencoba membuat alasan. Tapi memang benar kalau tubuhnya lemas sekali. Nampaknya tenaganya setelah ia meluapkan emosinya.


"Astaga...mau gak mau aku juga kan yang nyuapin. Bukan dia yang sudah bikin kamu kayak gini. Cepat buka mulutmu dan makan yang banyak jangan ngerepotin aku terus."


Bintang tahu Mai hanya bercanda. Tapi itu memang benar kalau Bintang selalu membuat gadis itu kerepotan.


Malam itu Bintang beristirahat di kamarnya. Sore harinya, ketika dia pulang orangtuanya banyak melontarkan pertanyaan kepadanya. Tentu orang tua mana yang tidak khawatir melihat anaknya pulang dalam kondisi terluka.


Malam itu ada adik kelas yang bernama Diana menghubunginya menanyakan kabar. Karena Bintang dan Dina sangat dekat, Diana sudah seperti adik baginya.


"Kakak kenapa tadi? Apa yang luka?"


Kemudian Bintang menceritakan semuanya kepada gadis itu. Diana merupakan sahabat dari wanita yang Bintang suka. Dan Diana juga tahu kalau Bintang menyukai sahabatnya.


"Kakak ini bodoh banget sih. Cuma karena dia Kakak mecahin kaca jendela sekolah, di lihat banyak murid lainnya dan bahkan guru-guru. Itu sama aja kayak hancurin kharisma Kakak. Coba deh Kakak lihat storynya"


Bintang kaget dengan perkataan Diana. Ini pasti kabar buruk. Kemudian dirinya melihat story wanita yang telah membuatnya seperti ini. Bintang melihat wanita itu foto berdua dengan kakak kelasnya. Dan mereka sangat dekat sekali.


Anehnya, Bintang tidak lagi merasakan amarah dalam dirinya. Justru ia menyesali hal bodoh yang telah dilakukannya.


"Sadar kan Kakak kalau sebenar nya dia gak pernah peduli sama Kakak. Maaf Kak kalau mungkin aku ngomongnya ke Kakak kasar banget. Tapi aku mau Kakak tau siapa orang yang peduli dan gak peduli sama Kakak. Kakak lupakan saja dia. Banyak kok orang yang peduli sama Kakak. Aku juga peduli sama Kakak. Aku gak mau Kakak terluka." Di akhir suaranya, Diana semakin lirih namun Bintang dapat mendengar semuanya dengan jelas.


"Maafkan aku, Diana..."


Malam itu Bintang merasakan benci terhadap eksistensi bernama wanita. Bintang merasa bahwa wanita itu mendekati seorang pria hanya untuk memanfaatkannya saja. Mereka ada untuk menghancurkan hati seorang pria.


Aku, Bintang, membenci wanita mulai detik ini…

__ADS_1


 


 


__ADS_2