
Bintang kini duduk di kantin bersama teman-temannya. Kebetulan setelah ini mereka ada jam kosong lagi. Guru sejarah mereka hanya meninggalkan tugas. Bintang duduk dan mengecek ponselnya. Tetap tidak pernah ada pesan masuk dari Diana.
Akhirnya dia memutuskan untuk mengirim pesan kepada gadis itu.
“Din, kamu marah kah sama kakak?”
Namun tidak ada balasan dari gadis itu. Bintang menghembuskan nafas kesal. Dia benar-benar tidak mengharapkan gadis itu akan berubah menjadi begitu dingin kepadanya. Ada rasa bersalah di hatinya ketika memikirkan bagaimana perasaan kecewa gadis itu kepadanya.
Dia juga tidak terbiasa dengan sikap gadis itu yang sekarang. Mereka sudah saling mengenal dan dekat satu sama lain sejak lama. Seberapa kesal pun Diana terhadap dirinya, ini adalah kali pertamanya gadis itu bersikap dingin kepadanya.
Dia memang tidak bisa memikirkan solusi untuk masalah ini sekarang.
“Bin, ada Bulan tuh.” Hamdan menyenggol Bintang.
Benar saja, Bintang melihat Bulan memasuki kantin bersama dengan teman-temannya. Gadis itu baru sadar akan kehadiran Bintang ketika ia sudah duduk di meja kantin. Dia sedikit terkejut melihat Bintang. Namun kemudian ekspresi gadis itu berubah menjadi kesal. Dia langsung membuka ponselnya.
Tak lama ada pesan masuk dari Bulan di ponsel Bintang.
“Kakak bolos ya?”
‘Jadi itu kenapa dia terlihat kesal.’
Bintang memandang gadis itu kemudian menggelengkan kepalanya. Namun yang ia dapat adalah tatapan tak percaya dari gadis itu.
Bintang kemudian memberikan jawaban melalui ponselnya.
“Ada jam kosong lagi. Gurunya enggak masuk, cuma ngasih tugas.”
“Terus kenapa enggak kakak kerjain?”
“Nunggu jawaban dari teman. Harusnya kakak yang nanya kenapa jam pelajaran kamu ada di kantin?”
“Sama kayak kakak lagi jam kosong.”
Setelah itu Bulan menikmati makanan yang telah ia pesan bersama teman-temannya. Sedangkan Bintang kembali memperhatikan obrolan teman-temannya.
“Bin, ini entah gue nya yang kepedean atau memang iya dari tadi teman nya Bulan ngeliatin gue terus.” Hamdan setengah berbisik kepadanya.
“Naksir paling.” Candanya.
“Menurut lo gimana?”
“Apanya?”
“Itu temennya Bulan cantik enggak?”
“Lumayan lah. Tapi tetap kalah sama Bulan.”
“Itu mah wajar. Bulan kan salah satu primadona anak kelas sebelas.”
“Hei, kalian berdua dari tadi ngomongin apaan?” Tanya Rangga penasaran.
“Ini Hamdan ditaksir sama cewek.”
“Wih, yang bener?” Higo berdecak kagum.
“Coba lo pada perhatiin cewek yang duduk di sebelah Bulan. Dari tadi kayak nya dia ngeliatin gue.”
Setelah mendengar perkataan nya Hamdan, refleks kami semua menoleh ke arah gadis yang dimaksud. Dan kebetulan sekali gadis itu juga melihat kearah mereka. Gadis itu langsung buru-buru menundukan wajahnya malu.
__ADS_1
“Wihh…gila beneran ini.”
“Enggak nyangka akhirnya ada cewek yang naksir Hamdan.”
Mereka langsung heboh melihat itu. Bulan yang bingung melihat Eli yang tiba-tiba salah tingkah bertanya dengan bingung.
“Lo kenapa?”
“Enggak apa-apa. Dah cepet habisin makanannya baru kita buruan ke kelas.”
Bulan memandang aneh temannya itu.
“Boleh juga lo.” Higo memandang Hamdan.
“Gimana menurut kalian?”
“Lumayan lah.”
“Boleh juga.”
“Tapi nih ya, kalau lo bisa dapetin Atika yang juga salah satu primadona anak kelas sebelas itu baru mantap.”
“Itu punya gue.”
“Heh, sejak kapan? Enggak usah ngaku-ngaku lo.”
“Kalau di antara lo pada ada yang bisa dapetin Atika, nanti gue teraktir dah.” Komentar Bintang.
“Yang bener?” Rangga bertanya memastikan.
“Bener dah gue janji.”
“Tapi lo enggak ikutan kan?” Higo bertanya ke Bintang.
“Bagus dah. Kalau gitu gue lebih percaya diri kalau lo enggak ikut.”
“Siapa yang enggak tau sih kalau Atika pernah naksir sama Bintang waktu kita kelas sebelas.”
“Bintang nya mah malah enggak mau.”
“Padahal Atika tuh dah cantik, body nya mantep, idola para cowok lagi.”
“Gue denger kalau dia dah nyanyi langsung pada mabok yang dengerin.”
“Yang bener?”
“Bener dah. Tuh cewek pesona nya gila banget. Kalau Bintang dulu nerima tuh cewek, langsung gue sembah lu jadi guru gue.”
“Yang ada Bintang jadi sasaran semua anak cowok disekolah.”
“Dari masuk SMA gue denger dia masih jomblo. Banyak cowok nembak dia pada ditolak sama Atika. Makanya waktu denger dia naksir sama Bintang langsung pada heboh satu sekolah.”
“Ini malah yang ditaksir enggak mau. Malah naksir sama Arisa anak IPA 1. Ujung-ujungnya cuma dimanfaatin kan sama dia.”
“Makanya dengerin kita-kita. Enggak semua cewek yang keliatannya alim tuh baik. Enggak semua cewek yang keliatannya nakal tuh enggak jelas. Jangan menilai buku dari sampulnya.” Kata Higo dengan wajah orang bijak.
“Sok tau lu pada. Dah enggak usah ngungkit masa lalu. Malas gue dengerin nya.” Bintang terlihat kesal ketika teman nya itu mengusik masa lalu nya.
Tentu mereka semua tau kenapa Bintang terlihat kesal. Maka dari itu mereka langsung mengubah topik pembicaraan.
__ADS_1
Bintang kembali memandang Bulan di kejauhan. Dia melihat gadis itu sudah selesai makan. Dia berdiri berjalan menuju kearah pintu kantin. Sebelum itu dia berbalik dan melambaikan tangan nya ke arah Bintang.
Bintang tersenyum dan kemudian melambaikan tangan nya kepada gadis itu.
“Ciee…”
Teman-temannya yang melihat itu langsung heboh.
“Kapan gue bisa kayak gitu juga?”
“Makanya jangan kelamaan jomblo lo pada.” Bintang tertawa mengejek teman-teman nya itu.
Malam hari itu Bulan meneleponnya, gadis itu meminta dirinya menemani gadis itu pergi belanja. Setiap awal bulan dia akan selalu dikirim uang bulanan oleh orang tuanya di Kalimantan. Setiap awal bulan juga dia pergi belanja untuk kebutuhan pribadinya.
Bintang kini berada di depan rumah gadis itu. Tidak lama gadis itu keluar. Dia menggunakan celana jeans hitam, kaos putih dan jaket berwarna merah. Warna yang cocok untuk gadis itu. Gadis itu juga berdandan. Dia suka dandanan gadis itu. Sederhana tidak terlalu menor seperti kebanyakan gadis lainnya. Dia tidak suka dengan gadis yang berdandan terlalu menor.
Gadis itu langsung duduk di montornya. Seketika Bintang bisa mencium aroma wangi dari tubuh gadis itu.
“Wangi banget.”
“Ini farfum terakhir Bulan tau. Makannya nanti sekalian beli farfum juga.”
“Aku suka aroma farfum mu.”
“Kalau gitu nanti Bulan beli yang sama.”
“Kamu cantik banget malam ini.” Bintang tiba-tiba berbalik memandang gadis itu.
Dia memperhatikan gadis itu dengan penuh minat. Harus ia akui malam ini gadis itu benar-benar mempesona. Bintang mengangkat dagu gadis itu hingga mata mereka saling bertatapan.
Bulan yang diperlakukan seperti itu langsung menjadi salah tingkah. Wajahnya langsung tersipu memerah.
“Makasih.” Hanya itu yang bisa diucapkan gadis itu.
Namun sebenarnya di dalam hatinya gadis itu sangat panik.
‘Kak Bintang mau ngapain? Wajah nya deket banget. Apa jangan-jangan ini kayak di film-film?’
Bulan langsung teringat film drakor yang pernah ditonton nya. Momen yang dialaminya sama persis seperti di film.
‘Jangan-jangan kak Bintang mau…’
Bulan langsung memejamkan kedua matanya. Bintang yang melihat itu sedikit mengerutkan kening. Namun kemudian dia berusaha menahan tawanya. Bintang mengelus rambut gadis itu.
“Mata mu kelilipan?” Bintang tertawa.
“Hah?” Bulan langsung membuka matanya bingung.
Momen yang diharapkan gadis itu ternyata hanyalah khayalan nya saja. Dia langsung terlihat kesal seolah telah dipermainkan oleh Bintang. Dia langsung memalingkan wajahnya kesal.
“Enggak usah pegang-pegang rambut Bulan. Nanti berantakan lagi. Bulan dah susah-susah dandan.”
Bintang tertawa melihat Bulan yang mengembungkan pipinya terlihat kesal.
“Yasudah ayok kita berangkat. Biar pulang nya nanti enggak kemalaman.”
“Emm..”
Mereka berdua pun pergi berdua di malam itu. Melewati jalanan kota Bandung yang ramai.
__ADS_1