Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu

Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu
Membuat Kehebohan Lagi Disekolah


__ADS_3

Bandung, 11 Agustus 2018.


Pagi itu sesuai janjinya semalam dengan Diana, ia menjemput gadis itu untuk berangkat sekolah bersama.


Kini dia duduk di atas montor ninja miliknya yang telah terparkir di depan rumah Diana sembari menunggu gadis itu keluar. Sudah cukup lama dia menunggu.


“Seingat gue waktu gue bilang mau berangkat ke rumahnya Diana bilang sudah siap. Tapi kenapa gue jadi harus nunggu lama disini. Bisa-bisa telat nanti.”


Bintang mendengus kesal. Cewek kalau dandan memang lama sekali. Dia memang sering menjemput Diana. Dan dia juga sering mengalami kejadian ini. Yaitu menunggu gadis itu keluar dari kamarnya untuk berdandan. Tapi hari ini lebih lama dari biasanya.


“Diana cepetan keluar… Kak Bintang udah lama nungguin.” Ibu Diana yang menyapu halaman rumah memanggil anaknya karena dirasa gadis itu juga cukup lama tak kunjung keluar.


“Iya, Bu, bentar….Bilangin Kak Bintang Diananya jangan ditinggal. Nanti Diana ngambek kalau ditinggal.”


“…”


“Maaf ya Mas Bintang kalau Diana suka ngerepotin.”


“Ah enggak apa-apa kok, Bu.” Bintang hanya bisa tersenyum pahit.


Pintu rumah terbuka, dan Diana berjalan ke luar dengan tas gendongnya dan bungkusan kotak bekal yang dibawa di kedua tangannya.


“…”


“Kak jangan dilihatin terus. Diananya mah malu kalau diliatin terus.” Wajah Diana terlihat memerah karena tatapan Bintang tak pernah lepas darinya.


“Tumben Diana hari ini cantik banget.” Komentar Bintang setelah tersadar.


“Hemm…jadi maksud Kakak selama ini Diana enggak cantik gitu.”


“Eh enggak kok. Diana cantik. Tapi hari ini lebih cantik dari biasanya.”


“Iya tumben Diana dandan cantik kayak gini. Memangnya ada acara apa disekolah?” Kini ibunya pun ikut berkomentar.


“Hehehe…Diana sengaja dandan cantik-cantik biar Kak Bintang enggak ngelirik cewek lain selain Diana.”


“…”


Ibu Diana hanya bisa tersenyum menggelengkan kepala melihat sikap anaknya. Sedangkan Bintang hanya membalas dengan senyuman.


“Ya udah, Bu, kita berangkat dulu ya.” Bintang turun dari motor lalu berpamitan dengan ibu Diana.


“Diana berangkat ya, Bu.”


“Iya hati-hati di jalan.”


Bintang segera menggunakan kecepatan tercepat yang menurutnya aman.


“Kak, jangan laju-laju, nanti dandanan Diana berantakan.”


“Ini salahmu sendiri lama sekali.”


“Aku lama karena bikin bekal dua. Satu buat Kakak, satunya lagi buat Diana.”


“Iya tetap aja sebaiknya kamu lihat waktu. Kalau nanti kita telat gimana?”

__ADS_1


“Iya enggak apa-apa kita bolos aja. Yang penting mah Diana bolosnya sama Kakak.”


“Dapat ide dari mana kamu?”


“Dari film bergenre romantis yang pernah Diana tonton.”


“…”


“Film nya bagus loh, Kak.”


“Berhenti menonton film seperti itu. Kamu ini terlalu mudah terpengaruh oleh orang lain.”


Sebenarnya selain manja, Diana ini terlalu polos.


Untung saja mereka tidak terlambat masuk sekolah. Gerbang masih terbuka. Bintang segera memarkirkan motornya.


Semua murid yang melihat Bintang langsung heboh, apalagi para murid baru. Dan Bintang tahu apa yang menyebabkan kehebohan itu. Itu semua karena Diana.


“Kak, antarin Diana sampai kelas ya.” Diana memohon dengan manja.


“Iya deh.” Ucap Bintang dengan pasrah.


SMA Garuda memiliki bangunan tiga tingkat. Yang mana lantai pertama untuk kelas sepuluh. Lantai dua untuk kelas sebelas. Dan lantai tiga untuk kantor guru dan kelas dua belas.


“Hei lihat. Kak Bintang berangkat sekolah sama cewek.”


“Iya, ceweknya cantik banget lagi.”


“Kenapa bisa ada orang yang mau sama dia yang begitu menyeramkan.”


“Apa gue yang jomblo bisa dapat pasangan yang cantik kayak Kak Bintang ya?.”


“Ngimpi lo. Kalau Kak Bintang wajar dapet cewek cantik karena dia cakep dan terkenal. Lah lo muka pas-pasan mau nyamain diri kayak dia.”


Saat dilantai satu, para murid pria begitu ricuh saat melihat diri Bintang brsama Diana. Murid perempuan pun tak luput dari berbagai komentar.


“Kyaaa…Kak Bintang kerennya.”


“Kak Bintang hari ini keren banget…”


“Ceweknya Kak Bintang juga cantik banget.”


“Mereka cocok.”


“Iya mereka pasangan yang serasi.”


“Ah gue juga mau dong bisa berangkat sekolah bareng sama Kak Bintang.”


“Halu lo..” Komentar gadis lain.


Di lantai dua pun kehebohan juga terjadi. Namun tidak separah murid baru karena murid kelas sebelas sudah sering melihat dirinya dan Diana bersama. Yang membuat mereka begitu heboh adalah Diana yang berdandan begitu cantik tidak seperti biasanya.


“Kak, kenapa mereka heboh banget sih ngeliat kita?” Tanya Diana pada Bintang.


“Mungkin mereka kayak gitu karena Diana hari ini cantik banget.”

__ADS_1


“Atau mungkin juga mereka iri ya, Kak, sama kita.” Ucap Diana dengan begitu polosnya.


Bintang hanya terus melangkahkan kakinya dan dibarengi dengan dengan wajah datarnya.


“Yah udah sampai. Padahal aku pengen lebih lama lagi sama Kak Bintang.”


Mereka kini berdiri di depan kelas yang bertandakan XI IPA 1. Ini adalah kelasnya Diana.


“Kakak ke kelas ya, Din. Keburu masukkan nanti.”


“Iya, Kak. Ini, Kak, bekal buat Kakak. Dihabisin ya. Diana sudah capek-capek bangun pagi buat masak demi Kakak. Harus habis pokoknya. Dan juga harus dimakan sendiri. Jangan sampai teman kakak atau Hamdan yang malah habisin bekalnya.”


"Iya-iya. Makasih loh dah mau bikinin Kakak bekal."


Diana melambaikan tangannya dan melihat Bintang pergi menuju lantai tiga.


Tanpa mereka sadari ada seorang gadis yang selalu memperhatikan mereka semenjak mereka membuat kehebohan di lantai dua.


Gadis itu adalah Bulan yang kini berdiri mematung di depan kelasnya.


“Siapa gadis itu?”


“Kenapa dia bisa bareng sama Kak Bintang?”


“Apa status mereka?”


Tanpa sadar air mata mulai mengalir dari kedua mata Bulan.


Bintang yang kini berjalan di koridor lantai tiga tidak mengetahui sama sekali tentang apa yang terjadi kepada Bulan. Karena kehebohan di lantai satu dan dua begitu keras, murid yang berada di lantai tiga pun juga tertarik karena penasaran. Semua murid di lantai tiga langsung menyapanya.


Dia memasuki kelas dan langsung duduk di kursinya. Tanpa peduli dengan semua tatapan anak sekelasnya yang begitu fokus ke dirinya.


“Ngerik juga pergerakan lo. Tahu-tahu sudah berangkat sekolah sama cewek cantik aja. Kenalin dong siapa namanya?” Hamdan bertanya menggoda Bintang.


“Lo dah kenal dia. Ngapain harus gue kenalin lagi. Dia Diana.”


“Eh?” Hamdan langsung terkejut. Ia memang mengenal Diana karena sahabatnya ini yang memperkenalkannya. Namun Diana yang dilihatnya pagi ini begitu berbeda dari biasanya.


“Kenapa dia bisa jadi secantik itu.”


“Entah lah gue juga enggak tau.” Jawab Bintang dengan nada malas. Lalu Bintang merebahkan wajahnya di meja.


“Jadi sebenarnya lo tu maunya sama Diana atau sama Bulan?”


“Heh, gue lupa. Kira-kira Bulan ngeliat gak ya? Astaga gue baru sadar eh.” Bintang langsung teringat dengan obrolannya semalam dengan gadis itu.


“Nah kan. Jangan bilang lo mau jadi playboy yang suka mainin cewek.”


“Enak aja asal ngomong. Gue enggak kayak cewek-cewek yang suka mainin perasaan. Lo sendiri juga tau kalau gue sama Diana itu cuma sekedar adik kakak.”


“Walau pun lo bilang kayak gitu, tapi lo pasti sadar sama perasaannya Diana. Gue juga yakin Diana dandan kayak gitu buat lo.”


Sontak Bintang teringat dengan perkataan Diana pagi ini sebelum mereka berangkat sekolah.


“Hehehe…Diana sengaja dandan cantik-cantik biar kak Bintang enggak ngelirik cewek lain selain Diana.”

__ADS_1


__ADS_2