Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu

Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu
Karnaval


__ADS_3

Bandung, 18 Agustus 2018


Pagi ini Bintang menepati janjinya untuk menjemput Diana menuju sekolah. Bintang sudah mengantisipasi segala kemungkinan terburuk untuk hari ini. Dari menyediakan jas hujan, mengecek mesin montornya, mengecek isi dompetnya dan mental yang kuat. Dia selalu merasa perlu melakukan persiapan dalam melakukan segala sesuatu. Baginya ini perlu demi aktifitas kehidupannya lancar tanpa sebuah kesalahan.


Bintang kini duduk diruang tamu rumah Diana dengan ditemani secangkir teh hangat yang telah dibuatkan oleh ibu Diana. Dirumah ini Diana memang hanya tinggal berdua dengan ibunya. Ayah Diana harus berkerja diluar kota sehingga jarang pulang kerumah. Dan Diana hanya memiliki seorang kakak perempuan yang kini telah tinggal bersama suaminya.


Untuk itu dirumah ini Diana sangat dimanja oleh ibunya. Segala sesuatu yang diinginkan Diana pasti terpenuhi. Untungnya Diana bukan anak yang hanya bisa meminta kepada orang tua. Dia selalu rajin membantu ibunya menyelesaikan pekerjaan rumah. Dan dia selalu rajin menabung untuk membeli barang yang ia inginkan.


Awalnya Bintang kaget karena menurutnya Diana adalah seorang gadis yang manja. Namun akhirnya Bintang tahu bahwa Diana hanya selalu bersikap manja kepada dirinya. Di depan ibunya Diana berperilaku seperti kebanyakan gadis remaja lainnya. Tapi didepannya dia selalu bertingkah seperti gadis kecil yang manja. Memang Bintang tidak keberatan dengan semua itu.


Bintang memandang foto keluarga yang terpajang di dinding. Foto itu diambil ketika Diana masih SMP. Ada juga foto Diana ketika masih memakai seragam SD. Dan bahkan ada foto ketika Diana masih seorang bayi kecil yang mungil.


"Hemm...lagi ngeliatin foto Diana waktu kecil ya?"


Bintang berbalik melihat ke arah asal suara. Dia melihat Diana kini sudah mengenakan seragam drumbandnya.


"Diana waktu kecilnya pasti mucil."


"Enggak ya. Diana waktu kecil loh imut banget. Orangnya kalem terus banyak direbutin sama anak cowok."


"Bangga direbutin sama bocah?" Bintang tertawa.


"Hemm...Jelas Diana tolak semua mereka. Kalau dulu waktu kecil kakak ketemu Diana, pasti juga ngerebutin Diana."


"Berarti lebih mempesona Diana waktu kecil ya daripada dah besar?"


"Eh ya enggak lah. Tetap cantik Diana yang sekarang."


"Dah ayo berangkat nanti kamu ketinggalan bus lagi."


"Enggak masalah. Kan Diana berangkatnya sama kakak."


"Tetap aja nanti kalau kamu telat dikirainya kamu enggak ikut karnaval."


"Ya udah hayuk. Ibu...Diana mau berangkat."


"Iya hati-hati." Terdengar balasan dari dalam rumah.


"Ibu enggak keluar?"


"Ibu sibuk di dapur."


Bintang dan Diana memulai perjalanan mereka menuju sekolah. Di sekolah sudah ramai murid dan guru yang akan ikut serta dalam kegiatan karnaval. Bintang meminta ijin untuk membawa Diana menggunakan montor dengan alasan Diana gampang mual jika naik bus. Guru mengijinkan itu.


"Gimana kak?" Tanya Diana.


"Aman dah."


"Yeeyy...Kalau gitu ayo kita berangkat terakhiran aja kak."


"Enggak bisa."


"Hemm...Kenapa memangnya?"


"Mending kita berangkat duluan biar enggak terkena macet dijalan."


"Diana nurut kakak aja dah."


"Kalau gitu ayo berangkat."

__ADS_1


"Hayuk..."


Bintang dan Diana pun berangkat lebih dahulu. Kalau mereka menunggu pihak lain pasti mereka akan menunggu lama. Terlebih jalanan akan menjadi lebih padat semakin matahari naik. Untuk menghindari kemacetan Bintang memutuskan berangkat awal. Jadi nanti mereka dilokasi start hanya perlu menunggu pihak sekolah.


"Din.."


"Iya kak."


"Kamu keliatan tambah gemuk makai seragam itu."


"Ihh...kok Diana dibilangin gemuk sih."


"Hahaha...tapi memang kenyataanya seperti itu."


"Kalau gitu Diana enggak mau lagi makai seragam ini. Sebenarnya Diana juga risih makainya. Bikin gerah."


"Selama kamu masih anggota drumband pasti kamu bakalan tetap makai seragam itu."


"Diana loh mau keluar dari eskul drumband selesai karnaval ini."


"Jangan bilang cuma karena seragam ini kamu mau keluar?"


"Enggak kok. Diana memang sudah mau keluar aja. Sering kecapean Diana tiap pulang latihan. Kakak tau sendiri kalau Diana kayak gini bisa-bisa nanti Diana malah sakit."


"Kalau gitu kakak dukung banget kamu keluar dari eskul drumband."


Karnaval hari itu  berlangsung di bawah teriknya sinar matahari. Ditengah perjalanan Bintang memutuskan langsung pergi menuju garis finish. Lebih baik menunggu di garis finish daripada menjadi tontonan masyarakat di siang hari yang panas seperti ini. Begitulah menurutnya.


Dia melihat ponselnya. Ada pesan masuk dari Bulan sekitar 2 jam yang lalu. Dia buka pesan itu.


"Kakak ikut karnaval kah?"


"Iya ikut sebagai perwakilan OSIS. Bulan nonton kah?"


Selang 5 menit bunyi notif pesan masuk.


"Enggak. Bulan mah dirumah aja. Orang rumah juga enggak ada yang nonton."


"Iya dirumah aja. Ini panas sekali. Nanti kamu jadi cokelat manis."


"Kalau gitu Bulan mau berjemur lah biar bisa jadi manis kayak cokelat."


"..."


"Tapi aku mau kamu jadi seputih susu."


"Eh, kalau gitu Bulan berubah fikiran. Hehehe..."


"Kalau tau kayak gini tadi kakak lebih milih dirumah aja. Atau jalan sama kamu."


"Enggak boleh ngeluh. Tanggung jawab itu harus dilakukan."


"Siap bos. Oke nanti kakak kabari lagi kalau sudah sampai rumah."


"Iya. Jangan godain cewek disana. Sampai Bulan tau awas aja."


"Enggak bakal berani."


Tak lama Bintang melihat rombongan SMA nya telah sampai di garis finish. Murid yang berpartisipasi diperbolehkan untuk istirahat sejenak.

__ADS_1


"Pantas dicariin dari tadi gak ketemu. Ternyata dah di garis finish aja." Mai menghampiri Bintang.


"Tadi nyari toilet enggak ketemu. Tau-tau dah sampai digaris finish aja."


"Halah alasan."


Bintang tertawa kecil berusaha mengelak.


"Kamu bawa montor kan?" Tanya Mai.


"Iya, kenapa memang nya?"


"Aku pulangnya ikut kamu ya.."


"Eem..kayanya enggak mungkin deh."


"Lo kenapa?"


"Aku dah dirental duluan sama Diana."


Diana yang duduk tak jauh dari sana ketika merasa mendengar namanya disebut langsung menoleh ke arah Bintang.


"Kenapa kak?" Tanya gadis itu.


"Ini Mai minta pulang bareng sama kakak."


"Eh...enak aja. Kak Bintang dah sama Diana. Pokoknya Diana pulang sama kak Bintang enggak mau tau."


Bintang hanya bisa tertawa kering mendengar kan itu. Sedangkan Mai memandang ke arahnya dengan heran.


Setelah merasa cukup untuk istarahat, para guru mengarahkan semua murid untuk menuju ke bus yang sudah menunggu.


"Ayo Din pulang." Bintang menghampiri Diana yang masih mengobrol dengan Rani dan Indri teman sekelasnya.


"Iya kak ayo."


"Kita duluan ya Din." Kata Rani.


"Oh iya enggak apa-apa."


"Dijaga kak Diana nya." Kata Indri memandang ke arah Bintang sembari mengedipkan matanya.


"Hei, siapa yang ngajarin kalian godain kak Bintang ku." Diana terlihat kesal dan mulai mengancam.


Rani dan Indri hanya berlari ke arah bus dan tertawa kecil.


"Berani banget mereka. Huh, awas aja besok ketemu di sekolah."


"Ahaha...mereka cuma bercanda Din."


"Jadi kakak senang digodain sama mereka?" Diana menatap Bintang tajam.


"Eh enggak kok. Mana mungkin kakak tergoda kalau disebelah kakak ada Diana yang manis."


"Awas aja kalau berani macam-macam." Diana mengancam.


Bintang hanya bisa tersenyum pahit melihat Diana seperti itu.


Setelah mampir untuk membeli minuman dingin mereka melanjutkan perjalanan pulang. Entah kenapa perjalanan pulang itu terasa begitu lama. Ditambah dengan panasnya matahari dan padatnya jalanan disertai Diana yang terus mengeluh membuat Bintang ingin segera merasakan rumah.

__ADS_1


'Huh, hari yang melelahkan...'


__ADS_2