
Bintang dan Bulan pergi menuju salah satu mall di Bandung. Mereka pergi menuju distrik pakaian. Bulan langsung terlihat antusias memilih pakaian. Sedangkan Bintang hanya mengikuti kemana pun gadis itu pergi.
“Wah…ini model baru.”
“Ini barang bagus lagi promo.”
“Yang ini bagus. Yang ini juga bagus. Aku bingung mau pilih yang mana. Atau sebaiknya aku pilih dua-duanya aja.”
“…”
Bintang baru tau jika Bulan memiliki sifat seperti itu. Memang barang yang dipilihnya bagus. Namun untuk seorang wanita yang tinggal jauh dari orang tuanya bukan kah seharusnya dia lebih berhemat.
“Emm..Bulan yakin mau beli semuanya?” Bintang bertanya mencoba memastikan. Kini gadis itu sudah membawa lima setel pakaian.
“Bulan mau coba dulu kak. Ayo temeni Bulan ke ruang ganti.”
Gadis itu pun masuk keruang ganti untuk mencoba pakaian yang telah dipilihnya. Sedangkan Bintang berdiri menunggu diluar.
‘Bulan lama banget.’ Bintang mengerutkan keningnya ketika ia merasa Bulan begitu lama diruang ganti.
“Sudah selesai belum?”
“…”
Tidak ada respons. Kemudian pintu terbuka. Gadis itu keluar dengan wajah lesu.
“Kenapa?”
“Bajunya kebesaran semua. Bulan jadi keliatan kayak layangan.”
Bintang tidak bisa menahan tawa mendengarnya. Memang Bulan tidak terlalu berisi seperti gadis lainnya. Tapi dia juga bisa dibilang tidak terlalu kurus.
Setelah meminta ukuran yang lebih kecil kepada petugas, Bulan membeli 5 setel pakaian itu.
“Enggak kebanyakan Bulan belinya?” Bintang bertanya ketika mereka telah meninggalkan kasir.
“Enggak juga kok. Baju Bulan loh dah lama semua. Karena kedepannya kita bakalan sering jalan berdua, jadi Bulan cari pakaian juga. Biar nanti Bulan enggak kebingungan milih baju.”
“Tapi kan itu uang jajan mu bulan ini.”
“Sebagian pakai uang tabungan Bulan juga kok.”
Gadis itu kemudian menggenggam tangan Bintang. Dia terlihat sangat riang. Karena dia terlihat begitu menyukainya maka Bintang tidak terlalu mempermasalahkannya.
Langkah kaki Bulan terhenti secara tiba-tiba.
“Kenapa?” Bintang memandang gadis disebelahnya.
“Liat.” Bulan menunjuk ke kejauhan.
Bintang bisa melihat ada pasangan yang menggunakan baju yang sama. Mereka sengaja menggunakan baju couple.
“Liat itu lagi.” Bulan menunjuk ke arah lain. Dimana juga ada pasangan yang menggunakan baju couple.
“Itu juga ada lagi.”
Bintang mulai secara diam-diam paham apa yang diinginkan gadis itu.
Bulan memandang ke arah Bintang.
“Mau.”
“Mau apa?”
“Mau kayak gitu juga.”
__ADS_1
“Tapi bukannya kamu dah beli baju banyak.”
“Ahh….pokoknya Bulan mau kayak gitu juga.” Bulan mulai merengek seperti anak kecil yang minta dibelikan permen oleh ibunya.
“Tapi…”
“Ayolah kak..” Bulan langsung memeluk lengan pria itu. Kemudian mulai memohon.
“Hah..oke ayo kita cari juga baju couple kita.” Bintang akhirnya hanya bisa pasrah mengikuti keinginan gadis itu.
“Yeyy…” Bulan langsung terlihat senang.
Kemudian mereka berdua berkeliling mencari pakaian couple.
“Bulan mau yang kayak mana?”
“Bulan mau jaket aja kak.”
“Oke.”
Mereka berkeliling keluar masuk toko. Namun tidak ada yang sesuai dengan selera mereka berdua. Dan ketika mereka berdua mulai berfikir untuk menyerah, secara kebetulan mereka melihat dua patung yang menggunakan jaket couple berwarna putih dengan list hitam.
“Bulan mau yang ini kak bagus.” Bulan langsung terlihat riang.
“Memang bagus sih.” Bintang melihat model jaketnya.
Yang pria memiliki lambang matahari sedangkan yang wanita memiliki lambang bulan di dadanya.
“Kenapa harus matahari?”
“Memangnya kenapa kak?”
“Ini enggak cocok. Kalau yang cewek lambangnya bulan, yang cowok harusnya bintang. Aku enggak mau kayak matahari yang hanya bisa menahan rindu. Dia ditakdirkan untuk tidak pernah bisa bertemu dengan bulan.”
“Tidak perlu khawatir. Kakak adalah bintang bukan matahari. Sama halnya dengan bintang yang akan selalu menemani bulan di gelapnya malam.”
Bintang membalas tersenyum.
“Kalau gitu kita ambil yang ini.”
“Emm…”
Setelah membayar di kasir mereka memutuskan untuk pergi ke beberapa toko yang berbeda. Bintang merasa seperti Bulan mengajaknya berkeliling kota Bandung malam itu.
“Mau kemana lagi kita?” Bintang bertanya kepada gadis yang kini duduk di jok belakang montornya itu.
“Bulan lapar.”
“Mau makan apa?”
“Emm…Bulan mau makan makanan kesukaan kakak.”
“Mau makan sate?”
“Mau. Ayo buruan Bulan dah lapar. Kalau telat makan nanti Bulan gagal jadi gemuk.”
“Kalau gitu kita pergi ke tukang sate langganan kakak aja.”
Mereka berhenti di salah satu tukang sate yang berada di pinggir jalan.
“Disini tempatnya. Enggak apa-apa kan kalau kakak ajak makan ditempat beginian?”
“Ngomong apaan sih? Kemana aja kakak pergi Bulan tetap ikut.” Bulan tertawa kecil.
“Kakak jamin deh makanan disini rasanya enak.”
__ADS_1
Kemudian mereka berdua duduk di kursi yang telah disediakan.
“Mang sate nya dua porsi pakai lontong.” Bintang memesan.
“Kamu mau pakai tambahan lontong enggak?” Bintang memandang Bulan.
“Emm…enggak aja deh. Takutnya enggak habis.”
Setelah menunggu lama akhirnya pesanan mereka datang.
“Hemm…ini enak banget.” Bulan memuji sate itu.
“Kan apa kakak bilang. Kakak jamin makanan disini rasanya enak.”
Bulan makan dengan sangat lahap. Bahkan gadis itu merebut lontong yang berada di piring Bintang. Bintang yang melihat nafsu makan Bulan hanya bisa melongo melihat gadis itu juga menghabiskan makanannya.
“Fuah…kenyang banget.” Bulan mengelap mulutnya menggunakan tisu.
“Makan mu banyak betul tapi enggak gemuk-gemuk.”
“Ini namanya anugerah dari Tuhan.” Bulan membanggakan dirinya.
“Baguslah kalau gitu makan yang banyak. Nanti kalau kamu terlalu kurus, pas kakak bawa montor laju enggak sadar kamu terbang kebawa angin.”
“Kakak kira aku apaan? Layangan?”
Bintang hanya tertawa mendengarkan keluhan gadis itu. Setelah membayar makanan yang telah dimakan, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar mengelilingi kota Bandung.
“Kita mau kemana lagi ini?” Bulan bertanya.
“Ya pulang kerumah lah.” Bintang mengecek jam tangan nya yang menunjukan pukul 11 malam.
“Jalan-jalan sebentar lagi lah kak.”
“Jangan ini udah malam. Nanti kamu dicariin sama keluarga mu.”
“Nanti Bulan bilang aja dijalan kehabisan bensin.”
“Tetap enggak baik bawa anak orang pulang malam kayak gini. Aku juga enggak mau kesan ku jadi jelek sama keluarga mu.”
“Yaudah deh kalau gitu Bulan nurut aja.”
Akhirrnya mereka memutuskan untuk pulang. Disepanjang perjalanan mereka saling berbagi canda dan tawa.
“Kak dingin…”
“Kamu boleh peluk kalau mau.”
“Emm…”
Setelah ragu sejenak, akhirnya Bulan memutuskan untuk memeluk pinggang pemuda itu. Kemudian dia menyandarkan kepalanya di punggung pria itu.
“Bulan takut gelap kak..”
“Tenang ada kakak disini.”
“Kalau gitu jangan pernah tinggalin Bulan.”
“Aku enggak akan pernah ninggalin kamu sendirian.”
“Janji?”
“Iya aku janji.”
Setelah memastikan Bulan masuk ke dalam rumahnya, Bintang langsung pergi pulang menuju rumahnya.
__ADS_1