
Bandung, 15 September 2018
Hari ini setelah pulang sekolah Bintang memiliki kegiatan untuk mempersiapkan upacara pelantikan anggota OSIS baru. Akhirnya dirinya bisa juga lepas dari jabatannya.
Namun, bukan itu sekarang yang ada di fikirannya.
Dia dan Bulan sekarang sudah cukup lama dekat. Namun status hubungan di antara mereka masih belum jelas. Sudah beberapa kali Bintang berusaha untuk mengungkapkan perasaannya kepada gadis itu tapi momen selalu datang disaat yang tidak tepat. Walaupun mereka sudah tahu bahwa mereka saling mencintai, sebuah status yang jelas masih dibutuhkan.
Bintang juga takut bahwa gadis itu akan mengira dirinya selama ini hanyalah memberi sebuah harapan palsu kepadanya.
Pulang sekolah ini dia akan pulang bersama dengan Bulan. Kini Bintang sedang melangkahkan kakinya dikoridor kelas lantai 2 menuju kelas Bulan. Bel pulang sekolah sudah lama berbunyi. Biasanya Bulan akan menunggu dirinya di dalam kelas.
Dan benar saja. Dia melihat gadis itu di kelas nya berdua dengan Eli teman sekelasnya. Eli langsung buru-buru pamit kepada Bulan ketika melihat Bintang memasuki kelas.
“Gue pulang duluan ya.”
“Hati-hati dijalan.”
Eli langsung berlari meninggalkan kelas.
“Teman mu keliatannya buru-buru banget.”
“Dia takut sama kakak.” Bulan tertawa kecil.
“Kenapa takut sama aku? Memangnya aku pernah gigit dia?”
Bintang duduk di kursi tepat disebelah Bulan.
“Dia pernah cerita ke Bulan katanya dulu dia pernah enggak sengaja numpahin minuman ke baju kakak pas di kantin. Terus katanya dia kakak marahin habis-habisan. Ya udah habis itu dia jadi parno kalau ketemu kakak.”
“Apa iya dulu pernah ada kejadian kayak gitu?”
Bintang mengerutkan keningnya mencoba memilah ingatan di jutaan memorinya.
“Ah iya kakak ingat sekarang. Kalau enggak salah waktu itu kakak jengkel marahin dia gara-gara bikin catatan yang dah kakak tulis semalaman basah di kantong baju kakak.”
“Kakak marahin dia cuma karena itu? Kasian tau dia kak. Dia lo langsung enggak mau masuk sekolah selama dua hari karena takut ketemu kakak disekolah. Terus dia jadi enggak berani pergi ke kantin selama sebulan.”
“Hahaha…kok jadi keliatan gue serem banget sih?”
“Kok malah ketawa sih?”
“Tapi catatan itu benar-benar penting. Makanya kakak marah. Mana sudah capek-capek ku tulis semalaman.”
“Lain kali kakak harus baik-baik sama dia.”
“Tapi kayaknya dia sudah enggak terlalu takut sama kakak. Dia juga kayaknya suka sama si Hamdan.”
“Hah, yang benar?”
“Iya beneran. Kemarin waktu kita ketemu di kantin dia diam-diam ngelirik Hamdan terus.”
“Ternyata dia diam-diam.”
“Ayok kita pulang.”
“Ayok. Bulan dah ngantuk banget ini. Butuh tidur siang.”
__ADS_1
Bintang dan Bulan pun berjalan menuju ke parkiran montor.
“Kamu tunggu diparkiran bentar. Kakak mau ke lapangan bentar.”
“Jangan lama-lama.”
Bintang berjalan menuju ke lapangan yang kini sudah ramai dengan anggota OSIS.
“Gue mau keluar bentar. Lo pada urusin dulu persiapannya.”
Setelah itu Bintang pergi keluar sekolah bersama Bulan menaiki montornya. Disepanjang perjalanan Bulan hanya terus mengeluh bagaimana membosankannya hari ini menurutnya.
“Pelajaran matematika tadi bikin kesel banget sumpah. Masak gurunya masuk kelas ngasih tugas yang belum pernah dipelajarin. Terus minta dikumpul hari ini. Kan jadinya Bulan enggak bisa ke kantin. Giamana enggak kesel coba.”
“Pelajaran sejarah tadi bikin ngantuk banget. Mana perut Bulan kelaparan lagi.”
“Bulan lapar…Bulan ngantuk juga…”
“Iya iya bentar lagi sampai rumah.”
“Bulan enggak mau cepet-cepet sampai rumah. Temenin Bulan makan dulu…”
“Tadi katanya ngantuk.”
“Sekarang Bulan maunya makan ditemanin kak Bintang.”
Untuk urusan manja memang Bulan tidak semanja Diana. Tapi sifat manjanya ini mengingatkan Bintang kepada Diana.
Akhirnya Bintang menuruti keinginan gadis itu. Ia membawanya ke salah satu rumah makan.
“Makan yang banyak. Dihabisin makanannya.”
“Jangan ngomong kalau lagi makan. Telan dulu makanan di mulut mu.” Bintang langsung menegur gadis itu.
“Uhuk..uhuk..”
“Minum ini.”
Bintang langsung menyerahkan segelas minuman ketika gadis itu tersedak makanannya.
“Fuah…hampir aja.”
“Pelan-pelan makannya. Jangan makan sambil ngomong.”
“Hehe..siap bos.”
Setelah selesai makan Bintang mengantarkan Bulan pulang kerumahnya.
“Nanti malam mau ikut kakak?”
“Kemana?”
“Malam mingguan pertama kita lah.” Bintang tertawa kecil.
“Mau ngapelin Bulan nih?” Bulan tersenyum mengoda.
Seketika Bintang langsung teringat momen pertamanya berkunjung ke rumah gadis itu. Sebuah pengalaman yang sangat membekas.
__ADS_1
“Enggak mau jalan di malam minggu sama kakak?”
“Mau lah. Mana mungkin Bulan nolak.”
Bintang sudah bisa menebak pasti jawaban gadis itu.
“Kalau gitu nanti malam kakak jemput jam 7.”
“Oke. Kakak jangan bikin Bulan nunggu lama lo ya.”
Setelah memastikan Bintang pergi, Bulan langsung buru-buru masuk kerumah menuju kamarnya. Gadis itu langsung mengunci pintu kamar dan membenamkan dirinya dikasur.
“Hehehe..”
Gadis itu tertawa sendiri membantingkan kakinya berulang kali ke kasur. Dia sangat senang sampai begitu kehilangan dirinya. Kemudian dia bangun duduk di kasur seolah mengingat sesuatu.
“Aku harus siap-siap buat nanti malam.”
Bulan berjalan menuju lemari pakaiannya.
“Yang mana yang mau ku pakai buat nanti malam yah.”
“Ini enggak cocok.”
“Yang ini warnanya terlalu gelap.”
“Ini terlalu dingin dipakai di malam hari.”
“Yang ini enggak cocok juga.”
Butuh waktu setengah jam untuk Bulan menghambur isi lemari pakaiannya. Dia bingung baju yang mana yang cocok di pakainya. Dia bahkan sampai menelepon temannya untuk meminta pendapat.
“Hemm..sepertinya yang ini lebih cocok.”
Bulan melihat baju berwarna kuning di tangannya. Baju yang juga baru dibelinya belum lama ini bersama Bintang.
Setelah memastikan baju yang akan dipakainya. Bulan langsung perawatan menggunakan masker wajah. Dia ingin terlihat cantik malam ini untuk pria yang ia cintai nya. Terlebih lagi ini adalah malam minggu pertama mereka. Tentu dia ingin terlihat sempurna.
“Masih ada waktu buat tidur. Aku harus tidur siang biar nanti malam keliatan lebih segar.”
Bulan merebahkan dirinya di kasur. Dan memutar lagu favorit nya sebagai lagu penghantar tidur. Awalnya sangat susah bagi Bulan untuk tidur karena dirinya begitu gugup. Namun tak lama akhirnya dia bisa memejamkan matanya dan tertidur pulas.
Waktu terus berlalu. Tidak terasa matahari sudah mulai terbenam di penghujung hari.
“Kak Bulan..Bangun ini dah sore.”
Evelin mengetuk pintu kamar Bulan. Dan Bulan yang berada di kamar lagsung terbangun karena terkejut.
“Jam berapa ini?”
Bulan memandang kearah jam dinding.
“Gawat dah jam segini.”
Bulan langsung panik keluar dari kamarnya.
“Kakak dicariin mama di dapur.”
__ADS_1
“Kenapa kamu enggak bangunin dari tadi sih.”
Bulan langsung pergi menuju ke dapur.