Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu

Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu
Angin Di Kala Senja


__ADS_3

Hari ini adalah hari penutupan kegiatan. Kami sudah membereskan barang-barang kami semenjak pagi. Jadi selesai upacara penutupan kami bisa langsung pergi pulang ke Bandung.


"Semuanya kita kumpul dulu. Ada yang mau saya bahas."


Kami berkumpul mengikuti instruksi dari pembimbing kami.


"Baiklah jadi gini, tadi malam saya sudah sempat bahas sama anak perempuan. Gimana kalau pulang ini kita mampir ke pantai pangandaran dan menginap disana semalam?"


"Wah setuju banget."


"Jarang-jarang kan kita bisa jalan kayak gini."


"Mumpung lagi diluar kota juga."


"Karena semua setuju jadi kita mampir ke pantai pangandaran untuk kemah semalam."


Bintang yang mendengarnya merasa kecewa. Dia sudah benar-benar berharap agar bisa lekas pulang. Semalam dia sudah memikirkan untuk dapat bertemu dengan Bulan dan menghabiskan waktu bersama. Kali ini dia akan jujur dengan perasaannya.


Dia akan mengungkap kan nya kepada gadis itu.


Diana yang menyadari bahwa Bintang tidak terlihat senang sedikit pun merasa khawatir.


"Kakak enggak suka kita mampir dulu?"


"Yah begitulah. Kakak capek, rasanya pengen cepat pulang dan beristirahat."


"Diana mau ke pantai. Kakak harus temanin Diana."


"Iya. Aku pasti juga akan ikut. Tidak mungkin aku pulang ke Bandung sendirian tanpa mu."


"Kalau gitu Diana akan bikin kakak ceria lagi disana."


Mereka pun melanjutkan perjalanan ke pantai pangandaran. Diperjalanan anggota yang lain sibuk membahas tentang pengalaman kegiatan ini. Sedangkan Bintang hanya menatap keluar jendela sepanjang perjalanan. Dan Diana yang duduk disebelah nya telah lama tertidur di pundak nya. Mereka sampai di pangandaran sekitar pukul 3 sore.


"Din bangun. Kita sudah sampai ini."


Bintang membangunkan Diana.


"Diana kayaknya mual deh kak." Diana tiba-tiba terlihat pucat.


"Kalau gitu ayo kita keluar dulu cari tempat yang udara nya segar."


Bintang dan Diana pergi keluar dari kendaraan dan duduk di salah satu gazebo yang ada disana. Sedangkan anggota yang lain sudah lebih dahulu mengganti pakaian dan bermain di pantai.


"Gimana Din? Sudah mendingan belum?" Bintang memandang gadis disebelahnya.


"Belum kak." Diana masih terlihat begitu pucat.


"Sudah istirahat aja dulu."


"Kakak kalau mau pergi ke pantai enggak apa-apa kok. Tinggalin aja Diana disini sendirian." Diana memaksakan senyum nya.


"Ngomong apaan kamu ini. Enggak mungkin aku ninggalin kamu sendirian disini."

__ADS_1


"Tapi kakak enggak bisa main di pantai sama yang lainnya nanti."


"Biar kan saja. Aku tidak begitu peduli. Nanti aku bisa pergi bersama Diana."


"Tapi kayaknya kita baru bisa pergi sore nanti. Diana mungkin sudah mendingan nanti sore."


"Enggak apa-apa."


"Kak, Diana mau istirahat tidur bentar enggak apa-apa kan?"


"Istirahat lah."


Diana pun tertidur di samping dirinya. Bintang hanya duduk memandang ke arah laut. Menikmati hembusan angin yang menerpa dirinya. Tenang, dia menyukai ketenangan ini.


Di pinggir pantai dirinya bisa melihat teman-temannya sedang bermain saling mengejar dan berenang bersama. Dirinya tidak terlalu memikirkan itu. Dia bukan orang yang begitu riang dan bisa menikmati waktu bersama seperti itu. Dia adalah orang yang begitu pendiam dan tidak terlalu banyak bergaul dengan teman nya.


Dari awal dia memang seorang penyendiri. Merasakan rasa kesepian hidup di bumi di antara milyaran ribu banyak nya manusia. Menghabiskan waktu nya dengan tenang tanpa banyak memikirkan hal yang merepotkan.


Walaupun dirinya telah sedikit berubah tidak seperti dulu namun tidak mengubah fakta apapun baginya. Dia memang memiliki teman dari eskul dan organisasi yang telah diikutinya. Dia juga punya orang yang bisa disebut teman karena sebuah keegoisan dirinya. Dan sekarang dia juga memiliki beberapa orang yang berharga di dalam hidup nya seperti gadis disamping nya ini.


Takdir.


Memang takdir lah yang telah mempertemukannya dengan Diana. Mereka dulunya bukan lah orang yang saling mengenal. Beberapa banyak pun mereka berpapasan dijalan mereka tidak pernah saling menegur. Semua memang berubah semenjak dirinya mencalonkan diri sebagai ketua OSIS. Semua berubah semenjak tragedi di bulan september sekitar 2 tahun lalu.


Mungkin dia memang harus bersyukur kepada dirinya karena memiliki keberanian untuk melakukan nya. Telah berani dalam mengambil keputusan ini. Keputusan yang membuatnya mengambil pilihan yang tidak akan pernah ia sesali seumur hidup nya.


"Emm..."


"Hoam...jam berapa ini kak?"


"Sekarang jam 5." Bintang melihat jam tangannya.


"Diana pasti sudah tidur lama betul."


"Dasar tukang tidur."


"Diana rasa itu bukan lah sebuah pujian sama sekali."


"Sudah mendingan?"


"Diana rasa sudah mendingan kok. Diana sudah kuat lagi." Diana tersenyum menjawab.


"Syukurlah kalau gitu." Bintang membalas senyuman itu. "Mau jalan-jalan?"


"Emm, Diana mau."


Mereka pun berjalan menyisiri pantai di sore hari itu.


"Diana enggak kedinginan kan?"


"Enggak kok kak."


Diana memandang pria di depan nya itu. Dia ingin meraih tangan pria itu dan menggandengnya. Hanya saja dia tidak memiliki keberanian itu.

__ADS_1


Bintang melirik gadis di belakang nya itu. Dia berbalik dan menatap gadis itu.


"Mau kakak gandeng?"


Diana mengangkat wajahnya melihat ke pemuda di depan nya. Dia takut salah mendengarkan dan memastikan.


"Kakak tadi bilang apa?"


"Kamu mau kakak gandeng? Kalau enggak mau ya enggak ap-..."


"Diana mau." Diana langsung menyela takut pemuda di depan nya itu berubah fikiran.


"Jika seperti itu kemarilah." Bintang mengulurkan tangan nya kepada Diana.


"Emm..." Diana tersenyum dan menyambut uluran tangan itu.


Mereka saling bergandengan tangan dan menyusuri pantai pangandaran. Diana hanya terdiam membiarkan Bintang membawa nya kemana pum pergi. Dia hanya terus memandang pria itu. Dia memang senang bisa menikmati waktu berdua dengan pria itu. Dia tak peduli kemanapun dirinya di bawa oleh nya, dia akan selalu mengikuti nya.


"Ikut aku.."


Bintang menuntun Diana ke arah pantai. Mereka berhenti melangkah ketika ketinggian air telah menenggelamkan kedua lutut mereka.


"Lihat.."


Diana memandang ke arah yang sama. Dia bisa melihat senja yang akan menghilang. Warna jingga memenuhi langit pandaran. Setiap cahaya terakhir dari matahari untuk hari ini menyinari kedua wajah mereka. Angin laut menerpa menerbangkan setiap helai rambut mereka.


"Indahnya.." Diana merasa takjub akan pemandangan di depannya.


"Jarang-jarang kita bisa menikmati sunset di pangandaran."


"Kita nya yang enggak pernah kesini. Lain kali ayo kita pergi kesini lagi kak."


"Tentu, jika ada waktu kedepannya."


"Diana mau main air tapi sudah sore."


"Jangan nanti kamu masuk angin karena kedinginan."


"Kalau gitu kakak harus nemanin Diana besok pagi."


"Jangan terlalu berharap sama kakak. Karena aku enggak bisa berenang."


"Aku baru tau kalau kakak enggak bisa berenang." Diana tiba-tiba tersenyum.


"Jangan ngerencanain yang aneh-aneh. Dan jangan main terlalu jauh ke laut. Nanti kalau kamu kenapa-kenapa kakak enggak bisa nolongin."


"Tapi kakak pasti akan tetap nolongin Diana kan?"


"Pasti."


"Kalau gitu..."


Diana tiba-tiba mendorong Bintang hingga terjatuh terendam air laut.

__ADS_1


__ADS_2