
Ketika hari semakin sore semakin banyak pula peserta yang berdatangan. Kini lapangan itu dipenuhi dengan berbagai tenda dan orang yang berlalu lalang. Lapangan itu kini dipenuhi dengan keramaian.
Ketika hari semakin sore semakin banyak pula peserta yang berdatangan. Kini lapangan itu dipenuhi dengan berbagai tenda dan orang yang berlalu lalang. Lapangan itu kini dipenuhi dengan keramaian.
"Ramai juga ya.."
"Gue gak nyangka kalau seramai ini."
"Liat cewek yang disana itu cantik."
"Yang disana juga cantik."
"Yang disitu lebih cantik."
"Hah..." Bintang menghembuskan napas kesal melihat sikap teman-temannya itu.
Bintang lebih memilih rebahan di dalam tenda tidak seperti mereka yang berkumpul di depan pintu tenda mengintip gadis dari kejauhan.
Bintang melihat ponselnya. Ada pesan masuk dari Bulan sekitar 5 jam yang lalu.
"Hati-hati dijalan kak. Bulan akan selalu nunggu kakak pulang."
'Gue harap gadis ini tidak akan menangis saat tengah malam cuma karena rindu.'
Bintang tersenyum memikirkan kejadian malam itu. Bisa dibilang itu adalah malam ketika Bulan telah meluluhkan hatinya.
Dia menepati janji nya. Tiap malam dia akan selalu menelepon Bulan sekedar untuk memberi kabar. Harus ia akui bahwa saat ini dia merindukan gadis itu.
Rindu akan tawa mu...
Rindu akan senyum mu...
Rindu akan saat kau memanggil nama ku...
Rindu berada disamping mu...
Tanpa Bintang sadari, dia merasa kurang semangat mengikuti kegiatan yang ia lakukan selama diperkemahan. Yang ada di fikiran nya hanyalah ingin segera pulang.
Entah kenapa didalam fikiran nya selalu terbayang akan wajah Bulan...
Dalam benaknya selalu terbesit akan nama gadis itu...
Segala perkataan gadis itu terus menerus muncul terdengar di dalam fikiran nya.
Bahkan ia merasa seperti berhalusinasi ketika dirinya melihat seorang gadis yang sangat mirip dengan Bulan..
Dan seakan yang ada di dalam fikiran nya selalu tentang gadis itu. Hanya ada satu nama saja..
Bulan...
Semakin lama mengikuti kegiatan ini ia semakin merasa lesu. Ketika malam ia tidak bisa tidur. Makan pun tak selera.
Teman satu kelompoknya yang menyadari perubahan pada dirinya pun merasa khawatir.
"Lo enggak apa-apa kah?"
"Ada apa sebenarnya?"
"Kalau ada masalah cerita aja ke kita-kita."
"Bener daripada dipendem sendiri."
"Gue enggak apa-apa kok. Biarin aja gue ditenda sendiri dulu" Kata Bintang memaksakan senyum.
Kemudian mereka meninggalkan Bintang ditenda sendirian.
"Mending kita panggil Diana aja."
"Kalau Diana pasti bisa bikin dia semangat lagi. Gue sama Bondan manggil Diana dulu, kalian jagain dia jangan sampai kemana-kemana." Riky dan Bondan pun pergi menuju ke barisan tenda wanita.
"Pasti mereka mau curi kesempatan ngeliatin cewek."
"Sudah keliatan banget modusnya."
Diana sedang duduk ditepi tenda mamandang langir-langit. Walaupun sekilas terlihat tenang, namun sebenarnya fikiran Diana sedang kacau. Dia telah memperhatikan bahwa akhir-akhir ini senior kesayangannya itu seperti terlihat berbeda.
Dari mata yang redup itu Diana tau bahwa sesuatu telah terjadi kepada seniornya.
Tak lama kemudian dia melihat Bondan dan Riky yang ternyata mencarinya. Mereka meminta nya ikut ke tenda mereka untuk melihat kondisi seniornya. Diana yang sudah diliputi rasa khawatir langsung pergi dengan tergesa-gesa.
Sesampainya di tenda cowok dia bisa melihat mereka satu anggota telah berkumpul di depan tenda kecuali seniornya.
"Din, lo tanya tuh Bintang kenapa. Sudah beberapa hari ini dia keliatan kayak orang enggak semangat."
"Makan aja kayak enggak selera dia."
"Diana juga penasaran kok kak Bintang keliatan lesu terus." Terlihat raut khawatir dari wajah Diana.
"Yasudah lo hibur dulu dia. Kita-kita nunggu di depan tenda aja enggak mau ganggu."
"Kalau ada apa-apa tinggal panggil aja kita Din."
"Oke kak."
Diana pun masuk ke dalam tenda. Dilihatnya Bintang sedang duduk melamun. Didepannya masih ada sepiring nasi dengan sayur dan lauk pauk yang sepertinya bahakan belum ada tersentuh sedikit pun.
Diana berjalan mendekati seniornya itu. Dia duduk tepat disebelahnya.
"Kak.." Diana menyentuh tangan seniornya itu.
"Ah, Diana? Sejak kapan kamu disini?" Bintang yang sudah mendapatkan kembali kesadaran nya terkejut dengan kehadiran Diana.
"Baru aja. Kakak enggak sadar kalau ada Diana disini?"
"Maaf, kakak enggak sadar." Bintang memaksakan senyumnya.
"Kakak kenapa?" Diana menggenggam tangan seniornya itu.
"Kakak enggak apa-apa k-..."
"Bohong." Diana langsung menyela.
"Eh..kok Diana enggak percaya?"
"Diana memang selalu percaya sama kakak. Tapi untuk kali ini Diana enggak bisa percaya karena jelas kakak bohong."
__ADS_1
"Tapi kakak enggak kenapa-kenapa."
"Jujur aja sama Diana."
"Sudah ku bilang enggak ada apa-apa. Kamu nya aja yang terlalu khawatir. Aku sehat kok. Enggak ada masalah ju-..."
"Kak Bintang..." Diana berteriak menyela.
Bintang terkejut tiba-tiba Diana berteriak menyela nya.
"Apa Diana ini enggak bisa dipercaya? Apa Diana ini bukan salah satu orang yang bisa kakak percaya?" Air mata tumpah membasahi wajah Diana.
Diana memandang kantung mata pemuda di depannya. Kemudian dia melihat tangan yang sedang ia genggam. Rasanya begitu rapuh. Tidak ada sedikitpun tenaga.
Melihat kondisi pria yang dicintainya seperti ini Diana merasakan sakit di dadanya. Dia merasa tidak kuat lagi menahan khawatir nya selama beberapa hari ini. Dia langsung memeluk pria itu dan membenamkan diri nya di dada nya.
Bintang merasa linglung sejenak karena Diana tiba-tiba menangis dan memeluknya. Dirinya sadar telah membuat khawatir gadis itu.
"Maaf kan aku Diana."
Diana terus menangis tak merespons. Setelah beberapa saat berlalu gadis itu mulai melepaskan dirinya. Bintang mengangkat wajah gadis itu. Ditatapnya dalam- dalam mata gadis itu. Masih ada air mata yang mengalir turun membasahi pipi nya. Dia mengusap air mata gadis itu.
"Maaf telah membuat mu khawatir Diana."
"Emm..."
"Tapi yakinlah sekarang aku tidak apa-apa."
"Emm.."
"Sudah berhentilah menangis. Kau ini sudah besar."
Bintang mengusap kepala gadis itu. Diana hanya menundukan kepala nya terdiam tanpa suara. Tidak ada lagi senyum yang selalu menghiasi wajah gadis itu. Dia seperti bukan Diana yang biasanya.
"Kamu kenapa Din?"
"Apa kakak nyesal ikut kemah ini karena aku?"
"Ngomong apaan sih? Ya jelas enggak lah. Buat apa aku nyesal. Memang sudah keinginan ku sendiri ikut kegiatan ini."
"Tapi kakak ikut kegiatan ini cuma gara-gara Diana kan?"
"Kalau iya memang nya kenapa? Apa aku salah ingin menjaga mu? Apa aku salah ingin melindungi mu?"
"..."
"Aku tidak akan pernah menyesal jika itu untuk mu."
"Apa Diana ini enggak benar-benar nyusahin kakak?"
"Enggak kok tenang aja." Bintang tersenyum.
"Tapi.."
"Angkat kepala mu. Liat mata ku."
Diana mengangkat wajahnya dan menatap mata pria di depan nya itu. Dia bisa melihat pandangan tegas yang selalu dia liat. Tidak ada keraguan dan kebohongan.
"Terima kasih kak..."
"Ramai juga ya.."
"Aku gak nyangka kalau seramai ini."
"Liat cewek yang disana itu cantik."
"Yang disana juga cantik."
"Yang disitu lebih cantik."
"Hah..." Aku menghembuskan napas kesal melihat sikap teman-teman ku itu.
Aku lebih memilih rebahan di dalam tenda tidak seperti mereka yang berkumpul di depan pintu tenda mengintip gadis dari kejauhan.
Aku melihat ponsel ku. Ada pesan masuk dari Bulan sekitar 5 jam yang lalu.
"Hati-hati dijalan kak. Bulan akan selalu nunggu kakak pulang."
'Aku harap gadis ini tidak akan menangis saat tengah malam cuma karena rindu.'
Aku tersenyum memikirkan kejadian malam itu. Bisa dibilang itu adalah malam ketika Bulan telah meluluhkan hati nya.
Dia menepati janji nya. Tiap malam dia akan selalu menelepon Bulan sekedar untuk memberi kabar. Harus ia akui bahwa saat ini dia merindukan gadis itu.
Rindu akan tawa mu...
Rindu akan senyum mu...
Rindu akan saat kau memanggil nama ku...
Rindu berada disamping mu...
Tanpa dia sadari, dia merasa kurang semangat mengikuti kegiatan yang ia lakukan selama diperkemahan. Yang ada di fikiran nya hanyalah ingin segera pulang.
Entah kenapa didalam fikiran nya selalu terbayang akan wajah Bulan...
Dalam benak nya selalu terbesit akan nama gadis itu...
Segala perkataan gadis itu terus menerus muncul terdengar di dalam fikiran nya.
Bahkan ia merasa seperti berhalusinasi ketika dirinya melihat seorang gadis yang sangat mirip dengan Bulan..
Dan seakan yang ada di dalam fikiran nya selalu tentang gadis itu. Hanya ada satu nama saja..
Bulan...
Semakin lama mengikuti kegiatan ini ia semakin merasa lesu. Ketika malam ia tidak bisa tidur. Makan pun tak selera.
Teman satu kelompok nya yang menyadari perubahan pada dirinya pun merasa khawatir.
"Kamu enggak apa-apa kah?"
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya?"
"Kalau ada masalah cerita aja ke kita-kita."
"Bener daripada dipendem sendiri."
"Aku enggak apa-apa kok. Biarin aja aku ditenda sendiri dulu" Kata ku memaksakan senyum.
Kemudian mereka meninggalkan ku ditenda sendirian.
"Mending kita panggil Diana aja."
"Kalau Diana pasti bisa bikin dia semangat lagi. Aku sama Bondan manggil Diana dulu, kalian jagain dia jangan sampai kemana-kemana." Riky dan Bondan pun pergi menuju ke barisan tenda wanita.
"Pasti mereka mau curi kesempatan ngeliatin cewek."
"Sudah keliatan banget modusnya."
Diana sedang duduk ditepi tenda mamandang langir-langit. Walaupun sekilas terlihat tenang, namun sebenarnya fikiran Diana sedang kacau. Dia telah memperhatikan bahwa akhir-akhir ini senior kesayangan nya itu seperti terlihat berbeda.
Dari mata yang redup itu Diana tau bahwa sesuatu telah terjadi kepada seniornya.
Tak lama kemudian dia melihat Bondan dan Riky yang ternyata mencarinya. Mereka meminta nya ikut ke tenda mereka untuk melihat kondisi seniornya. Diana yang sudah diliputi rasa khawatir langsung pergi dengan tergesa-gesa.
Sesampainya di tenda cowok dia bisa melihat mereka satu anggota telah berkumpul di depan tenda kecuali seniornya.
"Din, kamu tanya tuh Bintang kenapa. Sudah beberapa hari ini dia keliatan kayak orang enggak semangat."
"Makan aja kayak enggak selera dia."
"Diana juga penasaran kok kak Bintang keliatan lesu terus." Terlihat raut khawatir dari wajah Diana.
"Yasudah kamu hibur dulu dia. Kita-kita nunggu di depan tenda aja enggak mau ganggu."
"Kalau ada apa-apa tinggal panggil aja kita Din."
"Oke kak."
Diana pun masuk ke dalam tenda. Dilihat nya Bintang sedang duduk melamun. Didepan nya masih ada sepiring nasi dengan sayur dan lauk pauk yang sepertinya bahakan belum ada tersentuh sedikit pun.
Diana berjalan mendekati seniornya itu. Dia duduk tepat disebelah nya.
"Kak.." Diana menyentuh tangan seniornya itu.
"Ah, Diana? Sejak kapan kamu disini?" Bintang yang sudah mendapatkan kembali kesadaran nya terkejut dengan kehadiran Diana.
"Baru aja. Kakak enggak sadar kalau ada Diana disini?"
"Maaf, kakak enggak sadar." Bintang memaksakan senyum nya.
"Kakak kenapa?" Diana menggenggam tangan seniornya itu.
"Kakak enggak apa-apa k-..."
"Bohong." Diana langsung menyela.
"Eh..kok Diana enggak percaya?"
"Diana memang selalu percaya sama kakak. Tapi untuk kali ini Diana enggak bisa percaya karena jelas kakak bohong."
"Tapi kakak enggak kenapa-kenapa."
"Jujur aja sama Diana."
"Sudah ku bilang enggak ada apa-apa. Kamu nya aja yang terlalu khawatir. Aku sehat kok. Enggak ada masalah ju-..."
"Kak Bintang..." Diana berteriak menyela.
Bintang terkejut tiba-tiba Diana berteriak menyela nya.
"Apa Diana ini enggak bisa dipercaya? Apa Diana ini bukan salah satu orang yang bisa kakak percaya?" Air mata tumpah membasahi wajah Diana.
Diana memandang kantung mata pemuda di depan nya. Kemudian dia melihat tangan yang sedang ia genggam. Rasanya begitu rapuh. Tidak ada sedikitpun tenaga.
Melihat kondisi pria yang dicintai nya seperti ini Diana merasakan sakit di dada nya. Dia merasa tidak kuat lagi menahan khawatir nya selama beberapa hari ini. Dia langsung memeluk pria itu dan membenamkan diri nya di dada nya.
Bintang merasa linglung sejenak karena Diana tiba-tiba menangis dan memeluk nya. Dirinya sadar telah membuat khawatir gadis itu.
"Maaf kan aku Diana."
Diana terus menangis tak merespons. Setelah beberapa saat berlalu gadis itu mulai melepaskan dirinya. Bintang mengangkat wajah gadis itu. Ditatap nya dalam- dalam mata gadis itu. Masih ada air mata yang mengalir turun membasahi pipi nya. Dia mengusap air mata gadis itu.
"Maaf telah membuat mu khawatir Diana."
"Emm..."
"Tapi yakinlah sekarang aku tidak apa-apa."
"Emm.."
"Sudah berhentilah menangis. Kau ini sudah besar."
Bintang mengusap kepala gadis itu. Diana hanya menundukan kepala nya terdiam tanpa suara. Tidak ada lagi senyum yang selalu menghiasi wajah gadis itu. Dia seperti bukan Diana yang biasanya.
"Kamu kenapa Din?"
"Apa kakak nyesal ikut kemah ini karena aku?"
"Ngomong apaan sih? Ya jelas enggak lah. Buat apa aku nyesal. Memang sudah keinginan ku sendiri ikut kegiatan ini."
"Tapi kakak ikut kegiatan ini cuma gara-gara Diana kan?"
"Kalau iya memang nya kenapa? Apa aku salah ingin menjaga mu? Apa aku salah ingin melindungi mu?"
"..."
"Aku tidak akan pernah menyesal jika itu untuk mu."
"Apa Diana ini enggak benar-benar nyusahin kakak?"
"Enggak kok tenang aja." Bintang tersenyum.
"Tapi.."
"Angkat kepala mu. Liat mata ku."
__ADS_1
Diana mengangkat wajah nya dan menatap mata pria di depan nya itu. Dia bisa melihat pandangan tegas yang selalu dia liat. Tidak ada keraguan dan kebohongan.
"Terima kasih kak..."