Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu

Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu
Makan Bersama Diana


__ADS_3

Bel pulang sekolah berbunyi, menandakan jam pelajaran telah selesai. Sepulang sekolah itu dirinya tidak langsung pulang. Dia melangkahkan kakinya menuju ke UKS. Bukan karena dirinya merasa tidak enak badan. Justru hari ini adalah waktunya untuk ekstrakurikuler PMR. Dan bertepatan dengan penerimaan anggota baru, juga menandakan dia sebagai anggota senior akan segera dibebas tugas kan.


Dan sebagai anggota senior, dia memiliki kewajiban untuk datang hari ini sekedar melihat kondisi.


Saat Bintang sedang berjalan menyusuri koridor kelas di lantai 1, ia kebetulan sekali melihat sosok yang dikenalnya.


Dia adalah Diana. Seorang gadis yang kini duduk di kelas sebelas. Karena mereka sudah begitu akrab, Bintang menganggapnya sebagai adik kandungnya sendiri. Dan Diana juga tidak keberatan menganggap Bintang sebagai kakak.


Bisa dibilang Diana justru memanfaatkan statusnya. Dia bersikap layaknya seorang gadis kecil yang manja. Ketika mereka kebetulan bertemu di kantin sekolah, dia pasti minta ditraktir. Atau kadang dia meminta untuk berangkat dan pulang sekolah bersama. Bintang tidak keberatan dengan semua itu. Itu karena dia tahu betul gadis seperti apakah Diana.


Diana memiliki tinggi badan sebahu Bintang. Wajah Diana menimbulkan kesan seperti anak kecil, polos dan begitu lugu. Bintang paling menyukai matanya. Menurutnya mata gadis itu sangat khas sekali. Diana juga bisa dibilang merupakan siswi berprestasi di angkatannya. Di SMA Garuda ia hanya mengikuti ekstrakurikuler DrumBand dan Pramuka.


”Nunggu siapa, Din?” Tanya Bintang.


“Ah, Kak Bintang. Enggak nunggu siapa-siapa sih, Kak. Cuma bosan aja kalau pulang ke rumah sekarang. Teman-temanku pada daftar ekstrakurikuler PMR. Jadi aku cuma sendirian.”


“Yaudah ayo ikut Kakak.”


“Ke mana, Kak?”


“Udah ayo ikut aja.”


“Iya deh.”


“Pakai motormu tapi ya, Din. Nanti antarin lagi Kakak ke SMA.”


Dengan menaiki motor, Bintan dan Diana pun pergi meninggalkan sekolah.


“Loh aku baru ingat bukannya Kakak ekstrakurikuler PMR ya?”


“Enggak apa-apa mah telat sebentar. Lagian siapa juga yang berani protes.”


Diana justru tertawa mendengar itu.


“Kenapa kamu malah ketawa?”


“Enggak. Mau berapa kali pun aku dengar Kakak ngomong kayak gitu, rasanya tetap lucu. Ya Kakak juga sih coba jangan galak-galak. Semua murid di SMA ini pada bilang kalau Kakak itu serem.”


“Heh…kayak keberadaanku ini seperti mahluk halus aja. Lagian kan aku enggak gigit atau makan orang.”


“Tapi ekspresi Kakak tu yang bikin orang takut.”


“Kamu tu juga lucu tau, Din.”


“Loh kenapa memangnya aku?”


“Iya lagian dah tau kalau Kakak tu nyeremin tapi masih aja berani deket-deket sama Kakak.”


“Heh…buat Diana mah Kakak enggak ada serem nya sama sekali. Kakak tu senior yang baik. Sering traktirin Diana makan di kantin, sering nemanin Diana, sering ngantarin Diana juga kalau pulang malam.” Diana mulai bersikap manja dengan menyandarkan kepalanya di punggung Bintang.


“Hei…kalau kamu bertingkah manja terus nanti Kakak gigit beneran loh.”


“Sebelum Kakak berani gigit, Diana duluan yang bakalan gigit Kakak.” Setelah mengatakan itu, Diana benar-benar menggigit lengan kiri Bintang


“Aduh duh…ampun ampun, Din, sakit.” Bintang berteriak kesakitan karena Diana menggigit lengan Bintang dengan cukup keras. Sontak itu membuat orang-orang di sepanjang jalan memperhatikan mereka berdua.


“Masih berani ngancam Diana?”


“Enggak deh enggak lagi.”


“Janji?”


“Iya Kakak janji.”


“Nah gitu dong. Jadi kakak yang baik buat Diana.” Bintang melihat Diana dari kaca spion tersenyum manis sambil menjulurkan lidahnya pada Bintang.


“Itu tadi sakit tau. Mungkin cuma Diana aja yang berani kayak gini sama wakil ketua OSIS galak di SMA.” Ucap Bintang mengeluh sambil mengusap lengan yang telah digigit oleh Diana.

__ADS_1


“Yosh. Kita dah sampai.” Bintang memarkirkan motor dan kemudian turun lalu diikuti oleh Diana.


“Kok kita malah datang ke SD, Kak?”


“Kamu dah makan belum, Din?”


“Belum kalau makan siang.”


“Kalau gitu ayo kita makan. Kakak yang teraktir.”


“Tapi kenapa kita harus ke SD?” Tanya Diana dengan wajah terlihat bingung.


“Karena cireng di sini enak banget. Langganan Kakak ini mah. Terus di kantin SD-nya jual nasi goreng juga. Kan kesukaannya Diana banget tuh nasi goreng.”


“Kalau dah ngomongin nasi goreng mah Diana enggak bisa nolak.” Diana tersenyum bahagia. Kapan lagi dia bisa makan nasi goreng yang merupakan makanan favoritnya ditraktir oleh seniornya ini.


Mereka berdua berjalan menuju kantin. SD ini memang memiliki sistem sekolah pagi dan siang dikarenakan banyaknya murid yang bersekolah di sana. Kebetulan sekali mereka datang ketika jam pelajaran masih berlangsung. Jadi kantin cukup sepi.


“Bu, nasi gorengnya dua ya.” Ucap Bintang memesan.


“Oke. Minumnya apa, Mas?” Ibu kantin itu bertanya.


“Kamu mau minum apa, Din?”


“Emmm…apa aja deh samain kayak Kakak.” Jawabnya tersenyum pada Bintang.


“Kalau gitu es jeruknya dua, Buk.”


“Oke.”


“Din, kamu tunggu disini ya. Kakak mau beli cireng dulu disana.” Bintang menunjuk ke arah orang yang sedang menjual cireng.


“Ah kok Diana ditinggalin sih.” Diana mengeluh tak senang.


“Kan sebentar aja. Dekat juga kan cuma beli ke situ bentar.”


“Iya-iya deh.” Bintang hanya bisa tersenyum pahit dengan tingkah laku Diana yang manja kepadanya.


Ibu kantin yang melihat mereka pun hanya tertawa sembari menggelengkan kepala.


Setelah membeli cireng dan pesanan datang. Mereka mulai menikmati makanan kami.


“Diana boleh pesan apa aja kok. Tinggal ngomong nanti Kakak yang bayarin.” Kata Bintang disela-sela menikmati makanannya.


“Hehehe….kalau gitu Diana gak akan sungkan sama sekali.” Diana tersenyum licik.


“Hei…dimana kamu belajar kayak gitu.” Ini pertama kalinya Bintang melihat Diana tersenyum licik seperti itu.


“Pokoknya Diana mau makan sepuasnya sampai kenyang.” Ucap Diana yang kini terus menikmati makanannya dan tidak memperhatikan Bintang sama sekali yang kini sudah pucat pasi.


Sebenarnya ada alasan kenapa Bintang ingin mentraktir Diana. Ini karena waktu upacara senin yang lalu dia mendapatkan hadiah berupa uang karena telah memenangkan lomba ceramah yang diadakan oleh pihak sekolah bulan puasa kemarin.


“Hah kenyangnya…” Ucap Diana yang tersenyum senang.


“Udah gak mau nambah lagi?” Bintang bertanya memastikan. Karena ini sudah piring kedua Diana.


“Enggak. Diana udah kenyang. Nanti kalau Diana makan banyak-banyak jadinya gendut. Diana mah gak mau dikatain gendut sama Kakak.”


“Enggak kok.”


“Beneran?”


“Iya. Cuma palingan enggak Kakak bolehin lagi naik motor Kakak. Takutnya ban montor Kakak langsung meledak kelebihan tekanan.”


“Itu sama aja. Ihh Kakak mah jahat.”


Bintang langsung tidak bisa menahan tawanya.

__ADS_1


“Ihh… malah ketawa lagi. Sengaja ya berarti buat Diana jengkel. Diana gigit lagi ini.” Diana langsung meraih lengan Bintang bersiap untuk mengigitnya kembali.


“Eh eh…ampun, Din. Jangan gigit Kakak lagi. Gigitanmu itu sakit, oke?”


“Udah terlambat. Enggak ada kata ampun pokoknya.” Diana tidak berfikir dua kali langsung menggigit lengan Bintang. Bahkan ini terasa lebih menyakitkan dari yang sebelumnya.


“Aaahhh…” Bintang berteriak kesakitan.


Ibu penjaga kantin hanya tersenyum dan berkomentar.


“Dasar anak muda. Lagi seneng-senengnya.”


“Sudah-sudah enggak usah ngambek lagi. Nanti Kakak belikan ice cream deh.” Bintang melihat ke arah Diana yang kini masih terlihat kesal.


“Janji mau beliin Diana ice cream?”


“Iya Kakak janji.”


“Asikk…kalau gitu ayo langsung beli.”


Bintang terpana melihat Diana yang kini langsung terlihat kembali riang. Sungguh perubahan situasi yang cepat sekali.


Setelah membayar makanan di kantin, mereka segera pergi ke toko untuk membeli ice cream.


“Gimana rasanya? Enak?” Pandangan Bintang tak lepas dari Diana yang kini sedang asik sendiri menikmati ice cream di tangannya.


“Emmhh…ini enak banget, Kak. Apalagi kalau Kakak rajin-rajin beliin Diana ice cream tiap hari.”


“…”


Bintang tidak mau berkomentar apa-apa untuk itu.


Mereka kembali menuju ke sekolah karena Bintang masih ada urusan disana.


Setelah memastikan Diana benar-benar pulang, Bintang melangkahkan kakinya menuju ke UKS.


Bintang melihat banyak murid baru yang mendaftarkan diri untuk bergabung menjadi anggota PMR. Iya memang seperti itu. Maklum mau bagaimana lagi. Biasanya ekstrakurikuler ini hanya dijadikan sebagai pelarian.


Ketika mereka melihat Bintang datang, mereka langsung membuka jalan untuknya. Setidaknya ini mempermudah Bintang untuk masuk ke ruang UKS. Di dalam ruangan, anggota PMR sudah berkumpul semua kecuali diri Bintang. Tentu tidak ada yang berani protes.


Bintang melihat Mai yang sudah mulai membaca berkas formulir pendaftaran. Bintang dan Mai memang mengikuti ekstrakurikuler ini bersama sedari dari kelas sepuluh.


“Dari mana aja sih kok lama betul?” Tanya Mai ketika melihat Bintang baru memasuki ruangan.


“Biasa ada urusan sebentar.”


“Bantuin aku nih buat ngurusin anak baru.”


“Diky, suruh aja nih anak baru yang mau daftar kumpul di lapangan dari pada menuhin jalan. Nanti kita nyusul. Lo arahin aja mereka.” Kata Bintang melihat ke arah Diky yang merupakan ketua dari eskul PMR.


“Oke siap, Bos.”


Bintang menyandarkan punggungnya ke kursi. Melihat di ponselnya bahwa ada pesan masuk sekitar setengah jam yang lalu.


‘Maaf ya, Kak, Bulan gak bisa ikut gabung lagi ke PMR.’


Ternyata itu adalah pesan dari Bulan. Dia memang dulunya juga anggota PMR. Tapi dia sudah jarang hadir. Maka dari itu tadi malam Bintang mengajak Bulan untuk ikut kembali ekstrakurikuler PMR.


‘Iya enggak apa-apa, Dek.’ Balas Bintang singkat.


Dia melihat story di ponselnya. Dia membuka story si Bulan. Dia kaget karena screenshoot yang dia kirim kepada Bulan dijadikan story.


‘Gadis berponi, nama yang indah…’


 


 

__ADS_1


__ADS_2