
Sesuai janji mereka Bintang menjemput Bulan dirumahnya pukul 7 malam. Setelah sampai dirumah gadis itu dia langsung turun dari montornya dan mengetuk pintu rumah gadis itu.
“Permisi..”
Tok..tok…
“Iya sebentar…” Terdengar balasan dari dalam rumah.
Kemudian pintu terbuka dan Bintang bisa melihat sosok tante Lina.
“Eh ternyata Bintang..”
“Iya tante.” Bintang langsung menjabat tangan tante Lina dengan sopan.
“Ayo masuk dulu.”
Bintang masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
“Bulan..ini kak Bintang nya dah datang.” Tante Lina memanggil.
Namun justru yang keluar adalah Evelin.
“Kak Bulan nya masih siap-siap dikamar mah.” Kata Evelin.
“Ya sudah kamu siapkan minuman dulu sama temani kak Bintang. Mama mau bikin susu buat adek mu.”
“Iya mah.”
“Enggak usah repot-repot tante.”
“Enggak apa-apa. Tante tinggal dulu ya. Nanti biar Evelin yang nemenin.”
Kemudian Tante Lina dan Evelin pergi ke dapur.
“Buatkan minuman yang enak loh. Temenin kak Bintang ngobrol ya. Calon kakak ipar mu itu.” Tante Lina tersenyum.
“Iya mah Evelin tau.” Evelin justru terlihat murung.
Tidak lama Evelin kembali ke ruang tamu membawa minuman untuk Bintang.
“Di minum dulu kak.”
Evelin meletakan minuman di meja. Kemudian gadis itu duduk di sofa.
“Makasih loh ya.” Bintang tersenyum dan meminumnya.
“Iya sama-sama kak.”
Setelah itu suasana menjadi hening. Menyebabkan mereka menjadi lebih canggung. Dan akhirnya Bintang mencoba membuka obrolan.
“Kakak mu lagi ngapain kok lama betul?”
“Ah maaf ya kak kalau lama. Kak Bulan lo baru bangun tidur tadi jam setengah 6. Habis itu kakak datang kesini tadi dia baru selesai mandi.”
“Baru selesai mandi?” Bintang mengerutkan keningnya.
“Kak Bulan kebiasaan suka mandi jam segini.”
“Padahal tadi dia bilang minta dijemput jam 7.”
“Hahaha…”Evelin yang mendengar nya langsung tertawa.
“Kok kamu malah ketawa?”
“Iya lucu aja gitu. Sekarang lo dah jam 7:30. Terus kak Bulan tu kalau dandan lama betul.”
“Astaga…” Bintang mendesah pahit. “Apa semua cewek kayak gitu?”
“Gitu gimana kak?”
“Tiap mau jalan dandan nya lama betul.”
“Hahaha…” Evelin tertawa lagi mendengarnya. “Enggak semuanya kok kak. Buktinya Evelin gak kayak gitu kok.” Evelin tersenyum.
__ADS_1
Bintang yang melihat senyum di wajah Evelin nampak linglung. Dan gadis itu yang menyadarinya menjadi tersipu malu.
“K-kenapa kak?”
“Apa kita pernah ketemu sebelumnya?”
‘Jadi dia enggak ingat?’ Batin Evelin.
“Sebenarny-…” Belum sempat Evelin selesai bicara Bulan muncul dari ruang tengah dengan terburu-buru.
“Maaf Bulan lama kak. Pasti dah lama nungguin ya?”
Bulan berdiri menatap Bintang. Namun dia bisa melihat wajah kesal dari pria itu.
“Huh…” Bintang memandang kearah jam dinding yang berada di ruangan.
Ketika Bulan memandang kearah jam dinding yang berada di ruangan tamu akhirnya dia tahu alasan pemuda itu sangat kesal. Mereka akan pergi jam 7. Tapi sekarang waktu sudah menunjukan pukul 8 malam.
“Hehehe…maaf kak.”
“Sudah selesai belum?”
“Sudak kok.”
“Kalau gitu ayok. Keburu malam nanti.”
“Ayok.”
Setelah berpamitan dengan tante Lina mereka langsung keluar dari rumah. Sedangkan Evelin yang melihat kepergian mereka hanya bisa menunjukan ekspresi wajah yang rumit.
“Kita mau kemana kak?”
“Ayo kita ke Dago.” Kata Bintang sembari memasangkan helm dikepala Bulan.
“Yey..jalan-jalan ke Dago.”
“Bulan belum pernah ke Dago?”
“Berapa lama kamu sudah tinggal di Bandung?”
“Hemm…Sekitar 1 tahun.”
“Pantas saja. Nanti kamu bakalan liat salah satu tempat terkenal di Bandung.”
Kemudian mereka berkendara menuju Dago. Salah satu daerah wisata di Bandung. Bintang sengaja mengajak Bulan ke tempat ini. Karena menurutnya tempat ini adalah tempat yang sangat bagus di malam hari. Terlebih lagi dengan lampu-lampu yang menyinari kota Bandung menambah kesan menakjubakan nya. Bintang membawa Bulan ke The Valley Bistro Café.
“Wah…keren banget.” Bulan memandang takjub sekelilingnya.
‘Syukur malam ini enggak banyak orang yang datang.’ Bintang menghela nafas lega.
Sebelumnya dirinya merasa takut mereka tidak akan mendapatkan tempat untuk duduk. Karena daya tarik dari Dago membuat tempat itu selalu dikunjungi oleh banyak orang. Terlebih mereka baru sampai di Dago sekitar jam 9 malam.
Bintang membawa Bulan duduk di salah satu meja makan yang dekat dengan pagar pembatas. Dia sengaja memilih tempat ini agar bisa melihat pemandangan malam kota Bandung dengan jelas.
“Mau pesan apa mas?” Salah satu pelayan mendatangi meja kami.
“Bulan mau pesan apa?”
“Bentar Bulan liat dulu.” Bulan mengecek menu makanan.
Namun baru sekilas gadis itu melihat daftar menu, keterkejutan bisa terlihat di wajahnya. Dia memandang pria di depan nya. Kemudian berbisik di telinga pria itu.
“Kakak yakin kita mau makan disini?”
“Kenapa?” Bintang balas berbisik.
“Daftar harga di menu nya selangit kak. Bulan enggak kuat bayar nya. Bisa-bisa uang jajan buat bulan ini habis cuma kepakai buat makan malam ini. Kita makan ditempat lain aja yok.”
Bintang yang mendengar keluhan gadis itu langsung tertawa.
“Kok kakak malah ketawa sih?” Tanya Bulan dengan jengkel.
“Kamu pesan aja apa yang kamu mau. Nanti kakak yang bayarin.”
__ADS_1
“Beneran?”
“Iya beneran.”
“Bulan enggak bakalan ragu lo ini.”
Walaupun Bulan berkata seperti itu tetap saja dia memilih menu paling murah di daftar menu.
“Saya samakan aja kayak dia.” Kata Bintang.
“Kakak yakin enggak mau pindah makan di tempat lain?”
“Enggak apa-apa disini aja.”
“Tapi harga makananya…”
“Udah enggak apa-apa. Lagian kalau kakak enggak bisa bayar mana mungkin ngajak Bulan makan disini.
“Yaudah deh Bulan nurut kakak aja.”
Tak lama pesanan mereka datang. Sebenarnya Bulan tak punya cukup banyak nafsu makan mengingat harga makanan yang dimakan nya ini begitu menguras isi dompet pria yang dicintainya. Namun jujur dia juga sangat lapar.
Satu suapan.
“Hemm…ini enak.”
Seketika nafsu makan Bulan langsung naik. Dia langsung makan dengan sangat lahap tanpa peduli lagi dengan yang lain.
Bintang yang melihat itu hanya tersenyum kecil. Dia senang setidaknya Bulan bisa makan selahap biasanya. Menurut nya sangat jarang sekali ada gadis yang tidak peduli dengan porsi makan nya seperti Bulan. Dan dapat makan begitu lahap nya di depan seorang pria. Bintang menyukai hal seperti itu. Karena menurutnya seorang wanita yang seperti itu adalah tipe wanita yang jujur.
Dia tidak takut dengan berat badan yang bertambah selama dia kenyang. Tidak takut juga akan memiliki kesan yang buruk di hadapan pria yang dicintainya. Seolah dia menunjukan dirinya yang apa adanya tanpa menyembunyikan sesuau sedikit pun.
“Fuah..kenyang nya.” Perut yang kenyang membuat Bulan menjadi bahagia.
“Enggak mau nambah?”
“Enggak ah.”
“Kenapa?”
“Lain kali jangan ajak Bulan makan ditempat mahal kayak gini kak. Kalau kayak gini kan Bulan enggak enak hati mau nambah.”
“Hahaha…”Bintang tidak dapat menahan tawa mendengar keluhan gadis itu.
“Kalau gitu lain kali kamu ku bawa kerumah kakak aja.”
“Hah ngapain?”
“Kenalan lah sama calon mertua nya.” Bintang tersenyum menggoda.
“Ah i-itu…” Bulan tersipu malu. Dia menjadi gugup tidak tahu harus mengatakan apa.
“Kenapa?”
“Umm..Enggak apa-apa. Tapi…Bulan takut nanti kalau orang tuanya kakak enggak suka sama Bulan kayak gimana? Kita kan beda aga-..”
“Ssst…” Bintang langsung memotong perkataan gadis itu.
Bintang meraih tangan gadis itu dan menggengam nya.
“Kamu enggak usah takut. Enggak akan ada yang nolak kamu. Percaya sama kakak.” Bintang tersenyum sembari mengusap punggung tangan gadis itu.
“Tapi…”
“Jangan terus mencari alasan. Jika ku bilang aku mencintai mu maka jadilah itu. Bahkan walaupun seluruh dunia ini menentang nya aku akan membuat jalan ku sendiri untuk menjadikan mu milik ku selamanya.”
Bulan langsung merasakan masam dihidung nya. Air mata mengalir membasahi pipinnya.
“Hei jangan nangis. Kalau kamu nangis nanti dandanan mu rusak. Kan sayang kamu dah dandan cantik-cantik.” Bintang tersenyum mengusap air mata gadis itu.
“Ummm…” Bulan tersenyum mendengarkan nya.
Dia merasa bahagia bisa jatuh cinta dengan pria di depan nya ini.
__ADS_1