
Bandung, 27 Juni 2018
Suasana pagi itu, Bandung begitu damai. Udaranya yang segar dengan segala aktivitas penduduknya di pagi hari membawa semacam perasaan menyegarkan. Dinginnya embun di pagi hari tidak melemahkan tekadnya untuk berangkat menuju ke sekolah. Pemuda itu bersekolah di salah satu SMA favorite Bandung. Dengan ditemani motornya, ia melaju di jalanan menuju ke sekolahnya.
Pemuda itu tak lain adalah Bintang Kusuma. Seorang pemuda berumur 16 tahun yang semester ini duduk di bangku kelas 3 SMA. Dia hanyalah pemuda biasa-biasa saja. Sama halnya dengan manusia lain yang ada di bumi ini. Dia makan nasi dan juga minum air. Dia juga menangis ketika baru dilahirkan. Dan dia juga suka permen.
Setelah sampai di SMA. Dia memarkirkan motornya dan berjalan melewati koridor yang digunakan untuk berjalan menuju kelas. Di mana di depan koridor itu sudah berbaris tiga orang guru dan empat orang anggota OSIS.
Ini merupakan kebudayaan dari SMA-nya. Yaitu berjabat tangan dengan guru sebelum memasuki kelas. Dan anak OSIS hanya ikut serta membantu agar budaya itu terus berjalan.
Dia berjalan menuju koridor. Setiap murid yang ditemuinya akan menyapanya dengan sopan atau bahkan ada yang menghindari untuk tidak bertemu dengannya.
Dia menyalami gurunya dengan sopan. Dan kemudian melanjutkan ke anggota OSIS lainnya. Anggota OSIS terlihat sangat menghormatinya. Mereka tersenyum dan menyapanya. Bintang membalas sapaan mereka dengan tersenyum tipis.
Kemudian dia melanjutkan untuk menuju aula. Hari ini adalah hari pertama murid baru masuk SMA. Dan sebelum mereka bisa mengikuti kegiatan belajar, mereka harus terlebih dahulu mengikuti Masa Orientasi Sekolah (MOS). Sebagai anggota OSIS, tentu dia harus ikut serta dalam kegiatan ini.
Dia memasuki aula yang kini telah ramai dengan murid-murid baru. Dia langsung menuju ke meja yang telah disiapkan di depan untuk narasumber. Disana sudah hadir tujuh orang anggota OSIS lainnya. Salah satunya adalah Mai. Ketua OSIS sekaligus sahabatnya. Disebelahnya ada Feby yang merupakan bendahara OSIS. Erni, sekretaris. Rama, koordinator perlengkapan. Dan tiga orang lainnya adalah mereka yang dijuluki sebagai trio gembul, mereka adalah Riky, Bondan, dan Hamam. Masing-masing menjabat sebagai koordinator. Mereka semua adalah pengurus inti OSIS SMA Garuda.
Bintang meletakkan tasnya di kursi lalu ia pun duduk. Pemuda dingin itu, Bintang Kusuma, menjabat sebagai wakil ketua OSIS di SMA Garuda.
"Jadi bagaimana persiapan kita?" Tanya Bintang memulai pembicaraan.
"Semua aman. Kita jalankan aja sesuai jadwal." Jawab Mai.
"Oke..."
Bintang menatap ratusan murid yang kini ramai saling berbicara satu sama lain. Entah apa yang mereka katakan hingga bisa membuat suasana menjadi begitu ramai. Dia menahan tawanya ketika melihat para murid baru ini. Ketentuan dari pihak OSIS adalah murid laki-laki harus botak dan murid perempuan rambutnya harus diikat dua.
"Oh..astaga banyak sekali tuyul-tuyul disini." Kata Bintang dengan nada bercanda.
Kemudian perkataan Bintang dibalas dengan tertawaan dari teman-temannya..
"Dulu kita juga kayak gitu kan? Pertama kali masuk SMA ini rambut kita botak semua." Riky memberikan komentar.
"Hei, tapi kalau mereka tuyul, maka lo yang gemuk ini kalau botak mau dipanggil apa? Genderuwo?" Bondan berbicara sembari tertawa.
Teman-temannya langsung tertawa terbahak-bahak.
"Jadi keingat masa lalu." Erni nampak mengenang masa lalu.
__ADS_1
"Sudah dua tahun ya.."
"Benar, Feb. Gak kerasa sudah mau 3 tahun aja kita." Rama yang berada di sebelahnya ikut ambil suara.
"Hemm..tinggal nunggu beberapa bulan lagi lalu perpisahan." Mai menghembuskan nafas kecil.
Bintang yang melihat itu tau bahwa sebenarnya gadis itu menyukai masa-masa SMA-nya. Apalagi semenjak dia menjadi ketua OSIS.
Bintang pun ikut mengenang masa lalu. Awal ia masuk SMA ini ia bukanlah siapa-siapa. Tidak banyak murid yang mengenalnya. Memang berkebalikan dengan para guru yang lebih banyak mengenalnya. Semua ini dikarenakan beberapa prestasi yang pernah Bintang capai. Sedangkan teman sekelasnya hanya mengenal ku sebagai kutu buku karena mendapatkan juara kelas. Dan bahkan ada yang mengatakan bahwa ia sangat pendiam.
Tunggu, sepertinya ada yang salah di sini. Selama ini buku-buku yang Bintang baca adalah buku novel bukan buku pelajaran. Sama seperti kebanyakan murid lainnya; tidak akan membuka buku pelajaran jika bukan karena ada tugas dan mau ulangan.
Pendiam?...
Memang dia lebih memilih diam daripada banyak bicara hal yang tidak penting. Tapi seingatnya ketika dia sering presentasi di depan kelas itu membuatnya banyak bicara.
Dan dia sebenarnya juga ikut dua ekstrakurikuler di sekolahnya; Pramuka dan PMR. Awalnya dia ikut sebagai anggota PMR di sekolahnya hanya untuk menjadikannya pelarian ketika upacara, agar bisa berdiri santai di barisan paling belakang. Dan juga pelarian ketika hari-hari besar seperti karnaval atau PBB agar dia tidak repot-repot mencari baju adat dan latihan panas-panasan.
Dia adalah orang yang lebih menyukai kedamaian dan menjauhi segala hal yang merepotkan baginya.
Namun, semua itu berubah ketika dia sudah duduk di kelas dua SMA. Waktu itu dia mendengar rumor bahwa tidak aka nada yang mencalonkan diri sebagai ketua OSIS. Lalu apa yang akan terjadi?.
Dengan memberanikan diri dia pun mencalonkan diri sebagai ketua OSIS.
Dan ternyata tidak hanya dirinya yang mencalonkan diri sebagai ketua OSIS. Mai, sahabatnya, juga mencalonkan diri. Namun berbeda dengan dirinya yang sukarela. Mai justru mencalonkan diri karena terpaksa.
Mai sudah menjabat sebagai anggota OSIS sedari kelas satu SMA. Karena desakan dari senior-seniornya di OSIS, ia pun mencalonkan diri. Dia sudah merangkai visi dan misinya sebaik mungkin. Bahkan dia sudah menghafalnya.
Kampanye pun dimulai.
Dalam kampanye ini mereka, sebagai calon ketua OSIS, diharuskan berkampanye menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Kampanye pun dilewatinya. Dia sudah mengelilingi SMA untuk mencari dukungan sebanyak mungkin.
Hari pemilihan pun tiba.
Pemilihan dilakukan dengan vote hasil pencoblosan. Bintang dan Mai duduk di panggung bersebelahan. Mereka berbicara dengan riang seolah tidak memikirkan hasil pemilihan sama sekali. Mereka saling bertukar ide program kerja apa saja yang akan mereka jalankan ketika sudah menjadi anggota OSIS. Tidak, lebih tepatnya ketua dan wakil kerua OSIS.
Dan di hari pemiihan itu menghasilkan Mai sebagai ketua OSIS dan Bintang sebagai wakil ketua OSIS. Dan semenjak itulah kehidupan seorang Bintang berubah total. Dan semenjak itu jugalah bagaimana dua orang sahabat saling bekerja sama sebagai ketua dan wakil ketua OSIS.
Iya. Kalau difikir-fikir jika bukan karena Bintang mencalonkan diri tidak mungkin ia bisa duduk di tempatnya saat ini.
__ADS_1
Bintang melihat ke arah jam tangannya. Dilihatnya waktu sudah menunjukan bahwa kegiatan ini harus dimulai.
"Baiklah, waktunya kita mulai kegiatan ini."
"Iya benar." Jawab Mai.
Dia berdiri memandang ke arah ratusan murid baru yang kini makin ricuh. Dia mengambil nafas dalam-dalam kemudian berteriak.
"Wooyyyy........."
Seketika aula menjadi tenang.
Bintang mengambil mikrofon dan mulai berbicara.
"Jangan berisik. Berhenti ngomongin hal-hal yang gak penting. Kalau ada yang berani ribut, kita bakal nendang dia keluar dari ruangan ini. Harus kalian tau bahwa kegiatan ini menjadi syarat wajib agar kalian bisa keterima sebagai siswa-siswi di SMA Garuda."
Para murid baru hanya menundukan kepala dengan rasa was-was yang jelas terlihat di wajah mereka.
"Oiya, dan kalian harus tahu, camkan ini. Disini, selama kegiatan ini. Senior selalu benar dan junior selalu salah."
Bintang menutup perkataannya sembari tersenyum tipis. Namun mereka murid baru yang melihat senyum ku justru merasakan bahwa mereka akan merasakan hal-hal yang tidak menyenangkan selama masa orientasi sekolah.
#Noveliniditulisketikawabahcoronamenyerang
__ADS_1