Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu

Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu
Bulan Yang Redup


__ADS_3

Bandung, 13 Agustus 2018.


Sudah dua hari semenjak kejadian sekolah yang begitu heboh disebabkan oleh Bintang dan Diana. Dan semenjak itu juga Bintang tidak pernah mendapatkan kabar dari Bulan lagi.


Awalnya dia bersikap biasa saja. Karena baginya dia tidak terlalu memikirkan perasaan seorang wanita. Keesokan harinya dia mendapat kabar jika Bulan tidak masuk sekolah karena sakit.


Dan pagi hari ini ketika mereka berdua bertemu secara tidak sengaja di koridor kelas, diri nya bisa melihat bahwa mata Bulan bengkak dan menghitam. Serta terlihat jelas sorot mata sedih dan kosong dari kedua matanya. Ketika mereka berpapasan, Bulan hanya melirik Bintang sejenak sebelum melanjutkan langkah kakinya.


Bintang tidak cukup bodoh untuk tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.


Dari mata yang redup itu, Bintang tahu bahwa dalam dua hari ini gadis itu pasti menangis. Tidak masuk sekolah karena sakit hanyalah alasan dari gadis itu. Dan dirinya juga tidak cukup bodoh untuk tidak mengetahui bahwa dialah yang membuat gadis itu menjadi seperti ini.


"Bulan.." Bintang hanya bisa mendesah melihat punggung Bulan yang kini semakin menjauh.


Bintang melanjutkan perjalanannya menuju kelas sambil terus berfikir jalan apa yang harus ia ambil untuk menebus kesalahannya.


Tunggu...


Apakah semua ini adalah kesalahannya?


Bukankah ini karena ulah Diana yang meminta berangkat sekolah bersama? Tapi Bintang juga menyetujui keinginan gadis itu.


'Apakah ini salah Bulan karena dirinya terlalu berharap kepada ku? Tidak, dari awal seperti nya aku sudah terlalu memberikan harapan ke gadis itu.' Bintang mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi.


Walaupun dirinya sadar kalau dia adalah orang yang tidak peka. Tapi dia masih paham beberapa hal tentang wanita.


Dia harus segera menyelesaikan masalah ini. Dia tidak ingin ada wanita yang menangis karena dirinya.


Untuk itu Bintang membuat keputusan untuk bertemu dengan Bulan sepulang sekolah untuk berbicara. Lagi pula besok dia akan berangkat lomba dan tidak akan bertemu dengan gadis itu selama dua hari kedepan. Baginya menunda masalah itu malah akan membuat masalah jadi semakin buruk.


Setelah bel sekolah berbunyi. Bintang langsung keluar dari kelasnya dan menuju lantai dua. Dia menuju ke kelas Bulan. Dia berdiri diam di depan kelas menunggu gadis itu ke luar. Semua murid yang baru saja ke luar terkejut melihat kehadirannya. Namun mereka langsung mempercepat langkah kaki mereka untuk segera pulang. Tidak ingin mendapatkan masalah karena ikut campur masalah orang lain. Dia sudah menunggu hingga tidak ada lagi murid yang keluar dari kelas itu. Namun dirinya tidak melihat gadis itu sama sekali. Setelah keadaan sepi, dia melihat ke dalam ruangan kelas.


Dan benar saja, gadis itu masih berada di dalam kelas, duduk di kursinya. Terlihat melamun dengan fikiran kosong dan mata yang begitu bengkak.


Bintang langsung menghampiri gadis itu.


"Bulan..."


Ada rasa terkejut yang terlihat jelas dari wajah Bulan ketika menyadari kedatangan Bintang. Namun dia langsung kembali memperlihatkan wajah murungnya. Dia menundukkan kepalanya dan tidak mau melihat wajah Bintang


Bintang hanya bisa menghela nafas panjang melihat ini. Kemudian Bintang duduk di kursi tepat di sebelahnya.


"Hei..." Bintang berusaha membuatnya untuk memperhatikan Bintang.


Namun gadis itu tidak bergeming sedikit pun.


"Bulan...maafkan aku. Aku tahu kau pasti sangat membenciku."


"..."


"Tapi kau juga harus tahu, gadis yang bersamaku kemarin adalah adikku. Tolong jangan salah faham. Aku gak mau kamu terus-terusan sedih kayak gini. Apalagi cuma karena salah paham."

__ADS_1


Air mata mulai mengalir dari mata Bulan.


Bintang mengulurkan tangannya dan meraih tangan Bulan.


"Jangan menangis. Aku tidak kuat melihatmu terus-terusan menangis."


Bintang mengusap air mata yang terus membasahi kedua pipi Bulan.


"Padahal Kakak udah janji loh.." Akhirnya Bulan mulai berbicara walaupun di tengah isak tangisnya.


Tentu Bintang tahu janji apa yang dimaksud oleh Bulan.


"Maafkan aku. Aku tahu sudah bikin kamu nangis lagi."


Bulan mengangkat wajahnya lalu menatap wajah Bintang. Mata itu sudah cukup bengkak karena terus mengeluarkan air mata.


"Berhenti menangis. Aku mohon..."


Bukannya berhenti menangis, justru tangis gadis itu semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba dia langsung memeluk tubuh Bintang. Membenamkan wajahnya dalam pelukan Bintang. Membasahi seragam sekolah Bintang dengan air matanya.


Bintang sudah cukup merasakan sakit melihat mata gadis itu yang membengkak. Jadi dia tidak ingin berkomentar apapun sekarang.


Dia hanya mengulurkan tangannya dan mengusap rambut Bulan agar gadis itu lekas menenangkan dirinya.


Cukup lama waktu berlalu hingga dia pun juga tak sadar kalau hari semakin sore. Isak tangis Bulan sudah lama terhenti. Namun gadis itu terus membenamkan diri tidak bergeming sedikit pun.


Dia sepertinya tertidur karena lelah terus-menerus menangis. Bintang sungguh tidak tega membuat gadis ini menangis.


Bintang mengusap kepala gadis itu. Tanpa sadar akhirnya gadis itu terbangun. Tapi dia tetap tidak mau melepaskan dirinya dari Bintang.


Setelah hening sejenak, akhirnya gadis itu buka suara.


"Kak..."


"Iyaa.."


"Sudah berapa lama Bulan tidur?"


"Seharusnya sudah sejam." Jawab Bintang mengingat waktu.


"Maaf jadi bikin Kakak harus nemanin Bulan di sini."


"Sudah enggak apa-apa kok. Yang penting mah Bulan senang dan gak nangis lagi."


"..."


Bulan tutup suara kembali. Bintang yang melihat itu hanya bisa menghela nafas di dalam hati. Tapi jika difikir-fikir, mau sampai kapan mereka terus seperti ini?


Waktu terus berlalu. Hari semakin sore. Dia takut orang tua Bulan khawatir mencari anak perempuannya ini. Dia juga takut ada seseorang yang memergoki mereka. Dia takut itu akan menjadi gosip nantinya.


"Kakak beneran cuma adik kakak sama dia?" Bulan buka suara lagi.

__ADS_1


Dia yang dimaksud oleh Bulan tentu saja adalah Diana. Memang hubungan mereka hanyalah adik dan kakak. Ada alasan tertentu juga kenapa dia tidak ingin hubungannya dengan Diana lebih dari itu. Walaupun jika dirinya harus jujur dia memang memiliki perasaan dengan Diana. Karena Diana adalah satu-satu nya gadis yang selalu menemaninya selama ini. Dia juga yang membuatnya bangkit kembali ketika jatuh. Dia juga yang telah mengobati luka di hatinya.


"Iya, aku dan Diana hanyalah memiliki status adik dan kakak."


"Syukurlah kalau gitu..."


"Eh? Kenapa?" Tanya Bintang bingung.


"Aku bersyukur karena ternyata enggak ada orang yang mau rebut Kak Bintang dari aku." Bulan memeluk tubuh Bintang semakin erat.


"..."


Dia terlihat seperti tidak ingin melepaskan dirinya dari Bintang.


"Bulan suka sama Kak Bintang." Ucapnya lirih.


Bintang terkejut dengan perkataan dan tindakan gadis ini. Jika sudah sampai seperti ini, mau tidak mau dia yakin kalau Bulan begitu tulus mencintai dirinya.


"Terima kasih udah mau suka sama aku." Bintang membalas pelukan gadis itu.


Waktu terasa terhenti di antara mereka. Ada semacam perasaan yang membuat jantung keduanya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ada rasa manis yang entah datang dari mana. Ada berjuta kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan hanya melalui kata-kata. Dan Bintang menyukai perasaan ini. Perasaan yang sudah lama dilupakannya.


"Bulan.."


"Iya, Kak."


"Mau sampai kapan kamu meluk Kakak terus? Ini dah sore. Nanti orang tuamu nyariin."


"Biarin aja. Aku suka kayak gini terus. Aku betah terus-terusan meluk Kakak."


"Jangan kayak gitu. Ayo pulang udah sore ini."


"Emm...padahal aku mau lebih lama lagi."


"Enggak boleh. Ayo pulang ini udah sore." Kata Bintang dengan tegas.


"Iya dah." Akhirnya Bula melepaskan dirinya dari Bintang. Dia bisa melihat bahwa kini kondisi Bulan lebih baik dari sebelumnya.


"Tapi Bulan enggak bawa motor. Tadi pagi diantarin ke sekolahnya sama tante."


"Hemm, tante?"


"Kakak belum tau ya kalau aku tinggal di Bandung itu sama om tante ku?"


"Baru tau."


"Jadi kampung halaman Bulan tu sebenarnya di daerah Kalimantan. Di Bandung Bulan dititipkan ke om sama tante."


"Oh gitu. Ya udah kalau gitu ayo Kakak antar."


"Yee...akhirnya Bulan bisa ngerasain naik motornya Kak Bintang." Bulan bersorak senang.

__ADS_1


Bintang hanya tersenyum melihatnya. Mereka pun pulang bersama di sore hari itu.


__ADS_2