Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu

Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu
Malam Di Pantai Pangandaran


__ADS_3

Bintang merasa terkejut dengan perkembangan yang terjadi. Dia tidak menduga bahwa Diana akan tiba-tiba mendorong tubuhnya. Kini gadis itu berada tepat di atas tubuhnya. Dan sebagian dari tubuhnya telah tenggelam dengan air laut.


Pandangan mereka saling bertemu.


"Din.."


"Diam sebentar buat Diana."


"Hemm, maksudnya?"


Diana tiba-tiba memeluk tubuhnya. Dia memeluk tubuhnya begitu erat. Di pantai pangandaran itu, terendam sebagian air laut mereka saling berpelukan.


Bintang hanya terdiam tidak dapat merespons apapun.


"Peluk Diana juga.."


Terdengar suara gadis itu meminta.


"A-aku...aku enggak bisa Din."


"Kenapa?"


"Aku enggak bisa."


"Apakah selama ini di mata kakak Diana hanyalah seorang anak kecil?"


"Tidak bukan seperti itu."


"Apakah selama ini dimata kakak Diana cuma seorang adik kecil yang manja?"


"Bukan seperti itu.."


"Jika bukan seperti itu balas pelukan Diana. Atau Diana tidak akan melepaskan kakak."


Bintang merasa berada di pilihan yang sulit. Tentu dia tau Diana pasti akan melakukannya. Dia tidak akan melepaskannya jika dia tidak membalas pelukan gadis itu.


Matahari sudah mulai tenggelam di penghujung hari dan digantikan dengan cahaya Bulan. Air laut juga mulai terasa dingin. Dia takut Diana justru akan sakit.


Tapi sisi lain dirinya mengatakan tidak seharusnya dia membalas pelukan gadis ini. Mereka hanya memiliki hubungan adik kakak. Walaupun dirinya tau jika Diana mencintainya namun dia tidak ingin hubungan mereka berubah. Dan juga dia memiliki seorang gadis yang menunggunya di Bandung.


Tiba-tiba terdengar suara isak tangis dari gadis itu.


"Din?"


Bintang terkejut mengetahui gadis itu menangis.


“Kakak bodoh..” Terdengar suara lirih gadis itu bercampur isak tangisnya.


“…”


“Kakak bodoh…”


Bintang hanya bisa kembali terdiam. Namun kini tubuhnya bergetar setiap dia mendengar suara gadis itu.


Akhirnya Bintang membalas pelukan gadis itu. Dia membalas pelukan gadis itu dengan erat. Tidak membiarkan sedikit pun ruang lepas.


“Apakah begitu susah hanya untuk memeluk ku?” Tanya gadis itu.


“Bukan seperti itu. Aku punya alasan khusus.”


“Diana enggak suka liat kakak terus murung kayak gitu…”


“…”


“Padahal Diana selalu ada didekat kakak. Tapi Diana enggak bisa melakukan apapun buat kakak bisa kembali ceria.”

__ADS_1


“Jangan ngomong kayak gitu. Kamu selalu ada dan dukung kakak aja dah bikin kakak senang.”


“Sepertinya cuma itu yang bisa Diana lakukan untuk kakak.”


“Tidak apa-apa. Itu lebih dari cukup.”


“Kalau gitu biarkan Diana peluk kakak lebih lama.” Diana makin erat memeluk Bintang.


Sedangkan matahari telah sepenuhnya menghilang digantikan gelapnya malam. Langit yang cerah digantikan dengan langit gelap yang dihiasi oleh bulan dan bintang yang bertaburan di langit. Bintang memandang langit itu dengan sedikit rasa melankolis. Tanpa sadar dia juga semakin erat memeluk tubuh Diana.


Waktu terus berlalu. Entah sudah berapa lama mereka saling berpelukan. Namun tidak ada sedikit pun niat mereka untuk melepaskan pelukan masing-masing. Jika bisa mereka ingin terus seperti ini untuk waktu yang lebih lama.


Namun sepertinya itu tidak bisa bertahan lama seperti yang mereka harapkan.


Hachi…


Diana nampaknya mulai merasakan dinginnya air laut.


“Ayo kita sudahi. Aku tidak ingin kamu sakit.”


“Bisakah sedikit lebih lama lagi?”


“Tidak bisa. Aku enggak mau kamu masuk angin. Setelah ini kamu harus segera mandi dan gunakan jaket. Nanti kakak carikan minuman hangat.”


“Diana enggak bawa jaket.”


“Pakai jaket kakak.”


“Diana tetap enggak mau ngelepasin kakak. Jadi gendong Diana sampai pantai.”


“…”


“Apa kamu enggak merasa malu nanti diliatin sama anak-anak? Lagian kamu juga dah besar.”


“Diana mah enggak peduli. Ayo gendong Diana atau kita akan semalaman berendam di pantai pangandaran.”


“Yang penting kan Diana enggak pernah ngelepasin kakak.” Gadis itu tersenyum polosnya.


“Entah kali ini film drama seperti apa lagi yang kamu tonton.” Bintang menggelengkan kepala nya.


Kemudian Bintang membawa gadis itu dalam pelukannya menuju ke pantai.


Tentu teman-temannya yang melihat mereka berdua baru keluar dari laut melongo begitu terkejut.


Jam berapa sekarang? Dan mereka berdua baru saja berenang dari pantai. Apakah mereka kebal terhadap dingin nya air laut?


“Hei kalian kemana aja? Dari tadi kita nyariin.” Bondan langsung mengeluh.


Karena semenjak tadi sore mereka semua telah mencari dua orang ini. Namun mereka baru sekarang muncul.


“Dari pantai. Dah kita mau mandi. Keburu Diana masuk angin nanti.” Bintang menurunkan Diana.


Setelah mandi dia pergi untuk mencari minuman hangat untuk Diana agar tubuhnya merasa lebih hangat.


“Minum ini biar lebih hangat.” Bintang menyerahkan segelas kopi kepada Diana.


Kemudian Bintang duduk disebelah gadis itu. Mereka kini duduk berdua di sebuah gazebo. Sedangkan teman-teman mereka tidak jauh dari mereka sedang menyalakan api unggun untuk membakar ikan yang baru mereka beli.


Bintang melepaskan jaketnya dan memasang nya di tubuh gadis itu. Dia bisa melihat Diana yang terus menggigil kedinginan.


“Kan sudah ku bilangin.”


“Biarin.” Diana meminum kopinya.


“Awas kalau sampai masuk angin ya. Aku enggak mau ngurusin nanti.”

__ADS_1


“Jahat…” Diana berteriak memukul pundaknya.


Sedangkan Bintang hanya tertawa geli melihat nya.


“Apa itu pukulan terkuat mu?” Tanya Bintang disela tawanya.


“Huh, itu bukan serangan terkuat Diana. Tapi yang ini baru..” Diana mencengkeram lengan Bintng. Tanpa fikir panjang dia langsung menggigitnya.


“Aduh duh…ampun sakit Din.” Harus Bintang akui ini memang serangan Diana yang benar-benar berhasil meninggalkan rasa sakit dan bekas ditubuhnya.


“Gimana? Kerasa enggak serangan terkuat Diana?” Gadis itu tersenyum bangga seolah menyombongkan dirinya.


“Iya ampun dah. Gigitan mu itu sakit.” Bintang mengusap lengan nya yang telah digigit Diana.


“Kak..”


“Kenapa?”


“Dingin…Diana boleh peluk kakak lagi?”


“Enggak boleh.”


“Terus nanti kalau Diana mati kedinginan kakak mau tanggung jawab?”


“Heh, dapat pemikiran dari mana kamu kayak gitu?”


“Pokoknya kakak harus tanggung jawab.”


“…”


“Kamu boleh peluk kalau mau.” Bintang mengalihkan pandangnya ke teman-teman nya yang sedang sibuk di dekat api unggun.


Setelah ragu sejenak, Diana langsung memeluk tubuh pria di sampingnya. Dia menyandarkan kepalanya di pundak pria itu. Namun dia masih merasa ada yang kurang.


“Ini masih dingin kak. Peluk Diana juga.” Diana sengaja mencari alasan.


“Apa itu harus?”


“Harus.”


Akhirnya dengan pasrah Bintang juga membalas pelukan gadis itu.


“Nah gini baru hangat..” Diana tersenyum senang.


Bintang hanya bisa mendesah pahit melihat gadis ini. Harus dirinya akui bahwa serangan Diana selama perkemahan di luar kota ini telah berhasil membuat dirinya terus berpaling memandang gadis itu.


Jika bukan karena suatu hal yang rumit dia pasti sudah meminta gadis itu untuk menjadi pacar nya. Namun dia tidak bisa. Dia tidak akan pernah bisa.


Dia takut…


Dirinya takut jika dia berpacaran dengan Diana suatu hari nanti jika mereka putus dirinya tidak bisa lagi sedekat ini dengan Diana..


Dia juga takut untuk menyakiti perasaan gadis itu…


Tanpa sadar Bintang mengencangkan pelukan nya ke gadis itu. Dia merasa takut akan kehilangan gadis itu.


“Kak..”


“Hemm?”


“Itu sakit. Jangan terlalu erat.”


“’Ah maaf.” Bintang melonggarkan pelukannya.


“Emm..Enggak apa-apa. Diana suka.” Diana menutup matanya dan tersenyum menikmati kedekatannya dengan pria yang dicintainya.

__ADS_1


Jika bisa dia ingin terus seperti ini untuk selamanya…


__ADS_2