Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu

Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu
Berangkat Ke Luar Kota


__ADS_3

Bandung, 25 Agustus 2018


Hari ini Bintang akan berangkat keluar kota untuk mengikuti perkemahan yang akan diadakan diluar kota. Sejujurnya dia tidak begitu tertarik mengikuti kegiatan ini. Namun karena Diana ikut dia tentu harus menjaga gadis itu.


Semalaman Bintang berbicara dengan Bulan di telepon. Gadis itu terus mengeluh karena tidak akan bertemu dirinya selama seminggu.


"Kalau Bulan rindu nanti gimana?"


"Nanti kakak telepon."


"Kakak jangan lama-lama perginya."


"Enggak lama kok. Cuma seminggu aja. Paling cepat 5 hari."


"Itu lama kak."


"Sabar nanti kakak pasti pulang."


"Kalau kakak disana digodain sama cewek gimana?"


"Nanti kakak tinggal bilang ke dia ada hati yang harus kakak jaga."


"Terus kalau ada yang minta nomer kakak gimana?"


"Enggak kakak kasih kalau enggak penting."


"Terus kalau misalnya ngomongin yang penting itu suka sama kakak gimana?"


"Ku tolak."


"Terus nanti..."


"Terus nanti..."


"Terus nanti.."


"..."


Tiba-tiba Bintang merasa kan ngeri mengingat kejadian tadi malam. Bintang juga mulai berfikir sepertinya mereka satu keluarga adalah tim interogasi. Jika seperti ini Bintang harus mempersiapkan diri ketika pulang dari luar kota. Pastinya dia akan menjalani interogasi dari gadis itu.


"Kakak kenapa kok mukanya pucat?" Diana yang duduk disebelah Bintang bertanya.


"Enggak apa-apa kok. Kakak cuma kepikiran sesuatu aja."


"Apa itu menakutkan?"


"Sangat."


"Apa itu menggigit?"


"Iya seperti kamu."


"..."

__ADS_1


"Aduh-duh... Din sakit jangan terlalu kencang gigitnya."


"Kayaknya Diana mau makan kakak." Kata Diana dengan memasang senyum kejam di wajahnya.


Beberapa menit kemudian Bondan berjalan ke arah Bintang dan Diana yang sedang duduk dipinggir jalan. Bondan merasa bingung ketika melihat wajah temannya itu begitu pucat. Sedangkan gadis yang disebelahnya justru tersenyum begitu manis.


"Kenapa muka lo pucat banget?" Bondan bertanya pada Bintang.


"Enggak kenapa-kenapa."


"Ada apa Din?"


"Enggak apa-apa kok kak. Kak Bintang sehat dan kuat kok." Diana tersenyum.


"Hadeh, ya sudah ayo ngumpul dulu. Mau dikasih instruksi dulu baru dikasih berangkat kita."


Setelah mendengar kan instruksi yang begitu panjang bagai pidato kemerdekaan mereka akhirnya berangkat menggunakan mini bus. Bintang memilih duduk di dekat jendela. Dan tentu yang duduk disampingnya adalah Diana. Tidak ada yang berani berkomentar apa-apa untuk itu. Karena semenjak masuk ke bus Diana sudah terasa aneh. Dia senyum senyum sendiri dan tertawa kecil seolah memikirkan sesuatu yang membuatnya begitu bahagia. Tentu Bintang tahu apa yang menyebabkan gadis ini seperti itu.


Ketika kendaraan sudah mulai bergerak, Bintang mengirim pesan untuk Bulan.


"Aku berangkat. Tunggu aku pulang..."


Perjalanan ini bisa dibilang menjadi perjalanan yang panjang. Perjalanan itu diawali dengan riuh semangat mereka. Namun ketika sudah setengah perjalanan mereka semua tertidur. Diana yang ada disebelah Bintang juga tertidur. Kepala gadis itu bersandar di pundak Bintang.


"Bahkan ketika tidur kau tetap terlihat manis Diana.." Bintang tersenyum memandang wajah tenang Diana saat tertidur.


Tak lama kemudian Bintang juga ikut tertidur. Riky yang masih terbangun tidak membuang kesempatan. Dia mengambil foto aib ketika teman-temannya sedang tertidur.


Dia mengambil poto mereka berdua.


Ketika mereka hampir sampai dengan lokasi tujuan Bintang terbangun dari tidurnya. Dia melihat gadis disebelah nya itu.


'Jadi dia masih tertidur.'


Dia memandang ke jalanan yang mereka lalui.


'Seharusnya sebentar lagi sampai.'


Benar saja tak lama kemudian mereka sampai ditujuan mereka. Sebuah lapangan yang berada dekat sekali dengan pedalamannya hutan kota Bandung. Kendaraan mereka berhenti.


"Baiklah kita sudah sampai." Kata supir mini bus.


"Diana bangun...Kita sudah sampai." Bintang membangunkan Diana.


"Emmh...dah sampai ya? Diana masih ngantuk. Diana tidur bentar ya." Diana justru malah semakin merebahkan kepalanya di paha Bintang.


"Hadeh, inilah alasan kenapa aku ikut kegiatan ini. Kalau gadis ini gak dijaga bisa bahaya."


Bintang mengelus kepala Diana.


"Kalian turun aja duluan. Nanti gue nyusul." Kata Bintang kepada teman-temannya. Dirinya juga tahu kalau Diana itu gampang mual dalam perjalanan jauh. Takutnya kaget terbangun dan...


Anggota yang lain semua turun dari kendaraan untuk menghirup udara segar. Bintang hanya memandang mereka melalui jendela mini bus. Dilihat dari lapangan yang akan mereka pakai sepertinya itu baru saja dibersihkan belum lama ini. Masih ada bekas roda kendaraan alat berat di tanahnya. Sehingga membuat datarannya tidak rata. Dan tertinggal tumpukan ilalang yang mengering. Bahkan masih ada daerah yang tertutupi oleh ilalang.

__ADS_1


'Sepertinya tempat ini jarang digunakan.' Komentar Bintang.


"Emmhh.." Terdengar suara Diana.


Bintang memandang gadis itu yang kini menggosok kedua mata nya. Mengumpulkan kesadaran dan nyawanya.


Ketika Diana terbangun dari tidurnya. Apa yang pertama kali dilihatnya adalah wajah seniornya itu yang tersenyum menatapnya.


"Sudah bangun?" Tanya Bintang mengelus kepala gadis itu.


"Sudah."


"Diana tukang tidur." Ejek Bintang.


"Diana ngantuk tau. Semalaman Diana berusaha tidur. Tapi karena gugup jadi susah tidur."


"Sekarang sudah gak ngantuk lagi?"


"Sudah enggak. Tidur di pundak kakak bikin tidur Diana tambah nyenyak. Hehehe..." Diana meringis memperlihatkan gigi putihnya.


Diana meraih tangannya yang mengusap kepalanya. Lalu dia mengarahkan ke pipinya.


"Diana mau pipinya dielus juga."


Bintang tidak menolak keinginan gadis itu. Dia mengusap pipi lembut gadis itu. Dia memang menyukai sifat manja gadis itu.


Diana menutup kedua matanya dan tersenyum menikmati. Bintang juga tersenyum menikmati momen ini.


Setelah cukup lama menikmati waktu berdua, mereka pun akhirnya keluar dari mini bus menikmati udara segar.


"Fuah...segar nya udara." Diana menghembuskan napasnya.


"Diana...akhirnya lo bangun juga." Rani berlari ke arah Diana.


Rani memang juga ikut serta. Namun Indri tidak terpilih mengikuti kegiatan ini.


"Kenapa lo?"


"Para lelaki itu dari tadi godain gue dan akhirnya gue enggak bisa kabur. Untung ada lo bisa jadi pengalihan. Mereka fikir siapa mereka berani godain gue. Kalau itu kak Bintang mah Rani rela dah digodain." Rani mengedipkan matanya genit ke arah Bintang yang berada disebelah Diana.


"Cih...jangan ngimpi lo. Selama ada gue disini jangan harap lo bisa goda kak Bintang." Diana langsung berdiri dihadapan Bintang seperti melindunginya.


"Gue bercanda Diana." Rani tertawa melihat sikap sahabatnya ini.


Kemudian mereka mulai menurunkan barang bawaan mereka dari kendaraan. Dilanjut dengan mendirikan tenda. Panasnya matahari siang itu tidak menghalangi semangat mereka sedikit pun. Dengan koordinasi dan kerja sama yang baik, semua yang mereka lakukan terlaksanakan dengan cepat.


Setelah menyusun barang-barang mereka ditenda. Siang itu mereka makan bersama dengan bekal yang mereka bawa. Setidaknya hanya satu orang yang dari awal tidak membawa bekal. Karena itu memang tidak perlu.


"Kak ini Diana bawain bekalnya." Diana memberikan kotak bekal kepada Bintang.


Semalam memang Diana mengatakan dia akan memasak dan membawakan bekal untuk mereka berdua.


Anggota yang lain baik pria maupun wanita hanya bisa memandang iri untuk itu. Namun pemikiran mereka sangat berbeda. Para pria merasa iri seandainya ada wanita cantik yang juga membuatkan mereka bekal seperti Diana. Sedangkan para wanita iri karena Diana bisa begitu dekat dengan Bintang seseorang yang banyak dikagumi oleh murid perempuan di SMA. Walaupun memang selalu bersikap dingin dan menampilkan wajah datar, jika tampan tetap saja membuat murid wanita mana pun yang melihatnya tergoda.

__ADS_1


__ADS_2