Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu

Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu
Makan Malam Keluarga Kusuma


__ADS_3

Setelah selesai membantu bunda menyiapkan makan malam, Bulan ijin pamit untuk pulang.


“Bunda, Bulan ijin pamit pulang dulu.”


“Datang ya nanti malam.”


“Iya bunda pasti.”


“Bintang…Ini kau antarkan dulu Bulan pulang.” Bunda berteriak memanggil.


Namun tidak ada tanggapan sama sekali.


“Ya ampun anak itu. Dia pasti tidur dikamarnya. Kamu bangunin aja dia. Kamarnya ada di lantai dua, di pintu kamarnya ada namanya.”


“Enggak apa-apa nih bunda?”


“Enggak apa-apa kalau kamu. Kalau Bintang berani macam-macam panggil aja bunda.”


“Iya bunda.”


Kemudian Bulan naik kelantai dua. Menuju ke kamar Bintang.


“Apa ini kamarnya?” Bulan melihat pintu yang bertandakan nama Bintang dengan hiasan bintang tentunya. Serta ada tulisan no smoking.


Bulan mengetuk pintu kamar itu dan membukanya. Dia sengaja tidak menunggu balasan karena ingin melihat kamar Bintang. Setelah membuka pintu apa yang dilihat Bulan adalah kamar dengan nuansa hitam putih. Kamar itu cukup rapi. Dan kamar itu juga dipenuhi dengan buku yang tersusun rapi di rak buku.


Dia melihat ke arah ranjang kasur dimana ada seorang pemuda yang sedang tertidur. Pemuda itu tidak lain adalah pria yang dicintainya. Bulan menengok keluar pintu dan kemudian menutup pintu kamar. Gadis itu berjalan mendekati ranjang kasur. Kemudian dia duduk di tepi kasur.


Bulan memandang dengan penuh perhatian wajah Bintang yang sedang tertidur.


“Kau terlihat lebih tampan saat tidur..”


Bulan tertawa kecil membelai rambut Bintang. Dia menyentuh pipi pemuda itu. Namun Karena tindakannya itu menyebabkan Bintang terbangun dari tidurnya.


“Bulan?”


“Bukan.”


“Hemm?”


“Panggil aku sayang..” Bulan tersenyum manis.


“…”


“Kenapa?”


“Apa gue masih mimpi ya?”


“Ini bukan mimpi.” Bulan mencium bibir pemuda itu.


“Emm…”


Setelah merasa cukup Bulan melepaskan bibir pemuda itu.


“Aku rasa ini bukan mimpi. Mana mungkin di dalam mimpi aku bisa merasakan manisnya bibir mu sayang.” Bintang tertawa kecil.


“Akhirnya mau manggil Bulan sayang?”


“Enggak boleh?”


“Boleh. Bulan malah senang.”


“Jadi kenapa kamu bisa ada dikamar ku?”

__ADS_1


“Ini sudah sore. Bulan harus pulang mandi, terus dandan yang cantik buat makan malam nanti.”


“Kamu enggak usah dandan yang berlebihan kayak wanita lain. Aku enggak suka itu.”


“Kakak kira sudah berapa lama kita saling kenal? Tentu Bulan tahu apa yang kakak suka sama yang enggak kakak suka.”


“Kamu memang yang paling tahu dah tentang aku.” Bintang tersenyum.


“Ayo antarin Bulan pulang.”


“Boleh. Tapi kakak rasa kurang untuk yang tadi.”


“Untuk yang tadi?..”


Butuh waktu untuk Bulan mengerti apa yang dimaksud Bintang.


“Jangan lama-lama nanti bunda bisa curiga kalau lama-lama.” Kata Bulan dengan wajah memerah.


Bintang menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya kemudian menciumnya.


“Sudah lain kali lagi..” Bulan berusaha melepaskan diri.


Namun Bintang tidak mengijinkan gadis itu lepas dari pelukannya.


“Kamu benar. Sebaiknya kita sisakan untuk nanti malam.” Bintang tertawa melihat sikap gadis itu yang malu-malu.


Bulan hanya diam membenamkan wajahnya di dada pemuda itu dan larut akan kehangatan dari pelukannya.


“Ayo kakak antar pulang.”


“Umm..”


Setelah sekali lagi berpamitan akhirnya Bulan pulang menuju rumahnya diantarkan oleh Bintang.


“Iya kak.”


“Beneran jam 7 loh ya. Jangan sampai kelamaan dandan.”


“Hehehe…enggak lagi deh kak.”


“Ya udah kalau gitu kamu istirahat dulu, baru siap-siap buat makan nanti malam sama keluarga ku. Bulan enggak usah gugup. Mereka semua orangnya baik kok.”


“Iya kak.”


”Kalau gitu kakak pulang dulu.”


“Hati-hati dijalan kak.”


Setelah memastikan Bintang pergi cukup jauh, Bulan memasuki rumah menuju kamarnya. Bulan langsung merebahkan dirinya di atas kasur.


“Gue jadi deg-degan. Serasa kayak mimpi.”


Bulan memandang ke arah jam dinding yang kini menunjukan pukul 5 sore. Dirinya langsung bersiap-siap untuk melakukan perawatan pada dirinya. Untuk acara nanti malam, tentu dirinya harus tampil sempurna.


Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat.


Bulan yang kini berada di ruang tamu rumahnya menunggu Bintang untuk menjemputnya. Bulan memilih menggunakan one piece berwarna putih.Setelah berulang kali melihat dirinya dicermin dan memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan penampilannya, dia menenangkan dirinya dari rasa gugup.


Tak lama kemudian ada sebuah mobil yang memasuki halaman rumahnya. Bulan menengok melalui jendela, dilihatnya sosok Bintang yang keluar dari mobil itu.


“Mah, Bulan mau berangkat…”


“Iya bentar..”

__ADS_1


Bulan membukakan pintu rumah. Dilihatnya Bintang sedang dalam posisi hendak mengetuk pintu rumah. Bulan melihat Bintang mengenakan kemeja berwarna putih polos. Mereka memang sudah janjian sebelumnya. Tatapan pemuda itu tak pernah lepas memandang dirinya.


“Kak..”


“Kamu cantik banget..”


Bulan tersenyum senang. Tentu dia tahu apa yang paling disukai oleh Bintang. Dia sudah berusaha untuk menjadi wanita yang sesuai dengan seleranya.


“Sudah mau berangkat?” Tanya Tante Lina memandang ke arah Bulan dan Bintang.


“Iya tante, biar enggak kemalaman juga nanti pulangnya.”


“Ya sudah hati-hati dijalan.”


“Bulan berangkat mah.” Bulan mencium kedua pipi Tante Lina.


“Jangan bikin masalah. Jadilah gadis yang baik.” Bisik Tante Lina kepada Bulan.


“Baik mah.”


Kemudian Bulan berangkat menuju rumah Bintang menggunakan mobil yang dikendarai oleh pemuda itu. Bulan memandang wajah pemuda itu, dilihatnya tatapannya yang begitu fokus melihat jalanan.


Sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan, Bintang memandang gadis disebelahnya.


“Ada apa?”


“Umm…enggak apa-apa. Bulan cuma gugup aja.” Bulan menggelengkan kepalanya.


Bintang menggunakan tangannya yang bebas untuk menggenggam tangan gadis itu. Mencoba untuk menghiburnya agar lebih tenang.


Dan itu berhasil. Bulan merasa lebih baik dengan Bintang yang selalu berada disisinya. Dia merasakan rasa aman berada di dekat pemuda itu. Itulah yang menyebabkan dirinya begitu merasa nyaman.


Setelah sampai dirumahnya, Bintang langsung membawa Bulan memasuki rumah menuju ke meja makan.


Bulan bisa melihat bahwa dimeja makan sudah ada beberapa orang. Salah satunya adalah Bunda yang duduk dikursi kepala. Tepat disebelah kanannya adalah seorang pemuda yang terlihat akan berusia sekitar 30-an. Dan disebelah kirinya adalah seorang wanita cantik yang berusia sekitar 20-an. Dan satu orang lagi gadis yang sepertinya masih duduk di bangku SMP. Kedua gadis itu memiliki paras yang identik dengan Bunda. Tentu mereka adalah saudara Bintang.


Bintang membawa Bulan menuju meja makan. Bulan terlebih dahulu mendatangi bunda.


“Ini dia calon menantunya Bunda sudah datang.” Bunda mencium kedua pipi Bulan.


“Maaf Bunda lama dijalan.”


“Bulan, ini kakak pertamanya Bintang. Namanya Satya.” Bunda memperkenalkan pria yang duduk disebelahnya.


“Satya..” Pemuda itu mengulurkan tangannya tersenyum.


“Bulan..” Bulan tersenyum menjabat tangannya.


“Dan yang ini, anak gadis Bunda yang paling cantik. Namanya Amanda. Kakak keduanya Bintang.”


Bulan memandang Amanda yang tersenyum melihat dirinya. Namun ada sedikit makna tertentu yang bisa Bulan lihat dari pandangan itu.


“Dan yang itu anak Bunda yang paling lucu, namanya Amelia.”


Bulan memandang ke arah gadis kecil yang tersenyum riang memandang dirinya. Gadis yang sangat manis dan imut.


"Ayo duduk, kita mulai makan malamnya."


Bulan kemudian duduk tepat disebelah Bintang. Mereka bersama menikmati makan malam itu. Diselingi dengan candaan dan gurauan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2