Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu

Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu
Perasaan Bulan Yang Sesungguh nya


__ADS_3

Bandung, 10 Agustus 2018.


Malam hari ini tidak ada yang istimewa bagi Bintang. Kecuali sebuah hal yang mengejutkannya.


Karena tidak bisa melawan kehendak hati kecilnya, ia memutuskan untuk tetap membalas pesan dari Bulan. Seperti yang ia lakukan malam ini.


“Dingin ya, Kak.”


“Iya dingin malam ini. Enaknya mah minum teh hangat.”


“Aku sukanya susu.”


“Kalau Kakak mah enggak suka susu. Terlalu manis. Tapi masih suka minum susu cokelat. Kalau kamu, Dek?”


“Kalau aku sukanya Kakak.”


“…”


“Hahaha…ada-ada aja kamu nih.” Balas Bintang.


“Enggak. Aku beneran memang sukanya kakak.”


“…”


‘Gila nih cewek. Ngasih kodenya keras betul.’ Batin Bintang.


“Ah iya.” Balas Bintang singkat.


Kemudian malam itu Bintang dan Diana hanya chat sebentar saja. Dikarenakan dia terlalu lelah dengan latihan seharian jadi Diana mengabari Bintang karena ingin istirahat lebih awal. Diana menelfon sekitar jam 8 malam.


“Kak, Diana capek banget. Rasanya badan Diana mau remuk.”


“Heeh...enggak boleh ngomong gitu. Kamu itu paling cuma kecapekan aja.”


“Iya mungkin gitu. Tapi tetap aja rasanya badan Diana pegel semua. Diana kayaknya mau tidur cepat, Kak.”


“Ya sudah mendingan Diana tidur sana.”


“Kak..”


“Kenapa?”


“Diana mau Kakak datang ke rumah.”


“Hah…ngapain?”


“Enggak ada apa-apa sih. Cuma sengaja biar Kakak main kerumah Diana bawain makanan.”


‘Mulai deh manja lagi..’ Batin Bintang


“Iya nanti kapan-kapan Kakak main ke rumah.”


“Kakak mah gitu. Ngomongnya kapan-kapan mau main tapi enggak juga datang kerumah. Orang tuanya Diana lo juga nanyain kok Kak Bintang enggak pernah main ke rumah.”


“…”


Bintang memang bisa dibilang mengenal orang tua Diana semenjak kejadian waktu itu. Kejadian yang juga membuat dirinya mengenal Diana. Dan Diana juga sudah saling kenal dengan orang tua Bintang.


“Kak, kok diam aja sih. Beneran ngambek nih Diana nanti.”


“Eh jangan ngambek. Iya deh besok berangkat sekolahnya Kakak jemput. Nanti kan pulang sekolahnya bisa main bentar.”


“Nah gitu dong. Ya sudah, Kak, ya? Diana mau tidur. Capek banget soalnya.”


“Iya tidur gih sana.”


“Good night, Kak.”


“Good night too, Din.”


Panggilan pun terputus. Bintang melihat di ponsel miliknya banyak sekali notification masuk dari Bulan.


‘Ini cewek ditinggal sebentar enggak bisa ya?’ Bintang bertanya pada dirinya sendiri.


Bintang membuka pesan dari Bulan.


“Kak…”


“Kok enggak dibalas?”


“Kak Bintang..”

__ADS_1


“Kakak ke mana sih?”


“Kakak marah kah sama Bulan?”


“Kakak udah tidur kah?”


Aku hanya membalas pesan terakhir dari Bulan.


“Belum kok.”


“Dari mana kok lama betul balasnya.”


“Itu tadi ada yang nelfon.”


“Siapa? Ceweknya Kakak ya.”


“Bukan. Adek Kakak yang nelfon. Lain adek kandung tapi.”


“Oh gitu.”


“Iya”


Suasana menjadi sedikit canggung. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam lebih.


“Bulan enggak tidur?”


“Belum kak.”


“Tidur sana gih. Dah malam ini.”


“Bulan enggak bisa tidur.”


“Kenapa gitu?”


“Bulan lagi sedih. Bulan boleh nelfon kakak enggak?”


“Iya boleh kok.”


Bintang menerima panggilan masuk dari Bulan. Ini kali pertama mereka saling berbincang di telfon.


“Halo..” Terdengar suara manis gadis itu. Namun Bintang terkejut.


‘Suara ini…Bulan sedang menangis.’ Bintang kembali bertanya pada dirinya lagi.


“Ini Kak Bintang kan?”


“Iya ini Kakak. Bulan sedih kenapa? Kamu nangis ya?”


“Iya, Kak.” Terdengar suara tangis gadis itu semakin menjadi.


Dirinya khawatir. Khawatir jika orang tua si Bulan tahu dia menangis di tengah malam seperti ini. Kemudian menuduh Bintang yang sudah membuat Bulan menangis.


“Bulan kenapa nangis? Ngomong aja sama Kakak siapa yang bikin nangis. Nanti Kakak datangin dia biar Kakak hajar.”


“Beneran, Kak?”


“Iya beneran.” Jawab Bintang dengan nada tegas.


“Sebenarnya orang yang sudah bikin aku sedih sampai nangis kayak gini tuh Kakak.”


“Eh…kok aku?” Tanya Bintang yang kini kebingungan.


“Iya aku nangis karena aku lagi sedih. Aku sedih karena rindu Kak Bintang.”


“…”


Seketika fikiran Bintang hanya dipenuhi dengan seutas kalimat itu.


Seorang gadis menangis di tengah malam karena hanya sekedar rindu dengan dirinya?. Logika macam apa ini?


Tanpa sadar riak muncul di hati Bintang.


Pintu hati yang sudah lama ditutupnya pun terbuka sedikit demi sedikit.


Bahkan Diana pun tak bisa membuat pintu hatinya terbuka. Namun kini, gadis itu, sedikit demi sedikit terus mengetuk pintu hati Bintang. Dan bahkan mulai terbuka.


Bohong jika Bintang tidak luluh. Dia sedikit terharu mendengar itu.


“Bulan..”


“Iya, Kak..” Masih terdengar sedikit isak tangis dari Bulan.

__ADS_1


“Aku janji gak akan bikin kamu nangis lagi.”


“Kakak benaran janji?”


“Iya aku janji. Enggak akan pernah lagi. Baik untuk sekarang, esok mau pun masa depan yang menanti. Kakak enggak akan bikin Bulan nangis lagi.”


“Bulan senang dengarnya.”


“Kalau gitu sudah Bulan enggak usah nangis lagi ya?”


“Siap, Bos.” Akhirnya Bulan berhenti menangis.


“Aku bentar lagi berangkat kemah.” Kata Bintang berusaha mencari topik pembicaraan.


“Enggak ketemu dong kita. Nanti kalau Bulan rindu lagi gimana?”


“Sebentar aja kok. Cuma dua hari.”


“Kan biasanya hari minggu juga enggak ketemu. Masa ditinggal dua hari aja udah enggak bisa nahan rindu.” Ucap Bintang dengan nada sedikit bercanda.


“Kalau sekolah kan mending Bulan masih bisa ngeliat Kakak dari jauh. Ya hitung-hitung curi pandang ngobatin rindu. Kalau Cuma sehari gak ketemu mah Bulan masih kuat. Tapi kalau dua hari kayaknya enggak kuat deh, Kak. Hehehe..”


Bintang hanya tersenyum mendengarnya.


“Itu baru dua hari. Habis itu enggak lama Kakak mau ikut kemah selama seminggu di luar kota.”


Kini Bulan justru terdiam.


“Harus ya, Kak?”


“Apanya?” Bintang balik bertanya.


“Harus ya Kakak ikut?”


“Ini kemah terakhir Kakak, Dek.”


“Kan tadi Bulan udah bilang kalau dua hari enggak ketemu Kakak kayaknya enggak kuat. Ini kok malah mau ditinggal selama seminggu sih. Bulan enggak lama nangis lagi nanti nih.”


‘Sifat manjanya ini mengingatkan Bintang dengan Diana.’


“Nanti Kakak kasih kabar terus deh. Kakak bakalan sering nelfon Bulan juga.”


Tidak ada balasan dari Bulan.


“Kakak beliin oleh-oleh juga deh nanti.”


“Janji?”


“Iya Kakak janji pokoknya.”


“Oke deh. Bulan bakalan nahan diri.”


“Nah gitu dong.”


“Tapi Kakak beneran harus telepon Bulan tiap malam kasih kabar. Wajib pokoknya.”


“Iya pokoknya.”


“Eh tapi…”


“Kenapa lagi?”


“Nanti kalau Kakak di sana ketemu cewek yang lebih cantik dari Bulan, terus Kakak naksir sama dia gimana? Pasti nanti Bulan langsung dilupain.”


Bintang tertawa mendengarnya. Gadis ini ternyata lebih manja dari Diana.


“Enggak kok Bulan. Kakak gak akan lupain Bulan.”


“Awas aja ya nanti balik-balik kesini tau-tau dah dapat cewek dari luar kota.”


“Iya-iya deh. Bulan tidur sana gih. Dah malam ini.”


“Iya, Kak. Bulan juga dah ngantuk.”


“Besok jangan sampai kesiangan berangkat sekolah.”


“Iya Kakak juga. Good night, Kak.”


“Good night too.”


“Bulan suka Kak Bintang.” Ucap gadis itu dengan suara lirih. Kemudian dia langsung mematikan telfonnya.

__ADS_1


Bintang hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku gadis ini. Mereka baru kenal beberapa hari namun gadis itu sudah memendam rasa kepadanya. Yang lebih aneh lagi adalah dia tidak ada niatan menolak perasaan gadis itu.


Apakah ini sesuatu yang baik atau buruk?


__ADS_2