
“Tinggal dimana?”
“Pekerjaan orang tua apa?”
“Anak keberapa?”
“Tinggal berapa bersaudara?”
“Sekarang kelas berapa?”
“Lulus sekolah mau kuliah atau kerja?”
“Kalau kuliah mau ambil jurusan apa?”
“Mau kerja dimana?”
"Keahlian di bidang tertentu?"
“Prestasi yang pernah diraih?”
“Cita-cita mau jadi apa?”
“Hobynya apa?”
“Sudah berapa lama pacaran sama Bulan?”
"Apa yang disuka dari Bulan?"
“…”
Firasat buruk yang dirasakan Bintang menjadi kenyataan. Kini dia mengalami sebuah interogasi. Dihujani oleh berbagai pertanyaan yang tidak ada habis-habisnya. Dan pertanyaan ini semakin menyudutkannya. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
Menurutnya ini semua lebih sulit dari semua ujian yang pernah ia lakukan. Membuatnya lebih sulit dalam menjawab setiap pertanyaan. Membuat otaknya harus berkerja secara maksimal dalam membuat keputusan.
“Ah…sudah sudah. Bulan rasa perkenalannya dah cukup. Dan kak Bintang pasti capek habis upacara jadi mau pulang istirahat.”
"Tapi om masih mau nan-.."
"Lain kali bisa om. Nanti lagi kenalannya kalau kak Bintang main kerumah lagi." Bulan buru-buru menyela.
Bulan yang duduk disamping Bintang juga merasa ngeri melihatnya terus dihujani oleh berbagai pertanyaan. Bahkan dia secara samar melihat asap telah mengepul dari kepalanya. Mereka pun berpamitan.
Bintang yang sudah berada di atas montornya terasa seperti telah bebas dari ruang interogasi.
Bintang akan berfikir dua kali jika ingin datang kerumah ini tanpa persiapan yang matang. Dibutuhkan keberanian dan mentalnya dalam kondisi prima untuk menghadapi keluarga Bulan.
“Maaf ya kak..” Bulan merasa bersalah atas yang terjadi.
“Enggak apa-apa kok.”
“Pasti kak Bintang gak mau main kerumah Bulan lagi gara-gara keluarga Bulan…”
“Hahaha….”
“Kok malah ketawa sih..”
“Mana mungkin cuma karena hal seperti tadi aku gak mau lagi main kesini. Aku ini bukan seorang pengecut. Jika aku ingin memiliki hati mu, tentu aku juga harus bisa menarik hati keluarga mu. Dan keluarga mu orangnya menarik semua kok.” Bintang tersenyum mengelus kepala gadis itu.
Bulan yang sebelumnya terlihat murung kini kembali tersenyum ceria.
“Tapi aku gak mau dipaksa buat mampir sama Tedy. Dan kalau bisa dia dimasukan ke kandang kalau aku mau main kesini. Kalau enggak aku mana mau kesini lagi.” Bintang memasang wajah serius sembari melihat ke arah seekor anjing putih yang kini juga sedang memandangnya.
__ADS_1
Bintang sangat phobia terhadap hewan mamalia ini. Dan yang berhasil membuat Bintang untuk mampir kerumah Bulan juga karena hewan mamalia ini. Karena melihat wajah Bintang yang gugup Bulan langsung memikirkan ide jahat ini. Dia memanggil anjing putih itu dan membawanya mendekat ke arahnya. Jika Bintang tidak mau mampir, maka Bulan akan menyuruh Tedy mengejarnya. Bintang hanya bisa pasrah pada akhirnya menuruti keinginan gadis itu.
“Enggak lagi deh Bulan janji.” Bulan tersenyum nakal.
Dan tanpa mereka sadari ada seseorang yang selalu memperhatikan mereka dari balik jendela rumah.
“Jadi mereka benar-benar pacaran kah?”
Evelin yang berada di balik jendela terlihat memasang ekspresi rumit di wajahnya. Dia mengigit bibirnya dan menggenggam kedua tangan di dadanya. Dia menarik napas dalam-dalam menenangkan dirinya.
“Ya sudah kakak pamit pulang dulu ya…”
“Hati-hati kak dijalan..” Bulan melambaikan tangannya.
Bintang memacu montornya menembus jalanan yang ramai. Jujur dia masih merasa sangat gugup. Bahkan kedua kakinya masih gemetar. Namun menurutnya ini masih terlalu awal buatnya untuk berada dalam kondisi gugup seperti ini. Bintang tidak terlalu terbiasa memiliki sifat gugup. Dia selalu menjadi orang yang berani dalam mengambil tindakan.
Hanya saja hari ini dia memang belum melakukan persiapan.
Sesampainya dirumah Bintang langsung masuk ke kamarnya mengganti seragamnya dengan pakaian biasa. Dia melihat ponselnya. Ada pesan masuk dari Diana dan Bulan. Serta beberapa nomer tidak dikenalnya.
“…”
Baru saja Bintang ingin membalas pesan dari Diana, gadis itu sudah terlebih dahulu menelponnya.
“Kak Bintang….” Teriak gadis itu.
Sontak itu membuat telinga Bintang merasa berdengung.
“Hei, bisakah diri mu tidak berteriak.”
“Ini semua salah kakak.”
“…”
“Tadi kakak pulang cepat. Perut kakak sakit.”
Tentu tidak mungkin Bintang mengatakan kalau dia pulang kerumah Bulan. Bisa-bisa Diana akan murka. Menurutnya belum waktunya Diana untuk tau kedekatannya dengan Bulan.
“Terus sekarang masih sakit enggak? Diana kerumah kakak ya…”
“Eh..sudah mendingan kok.”
“Benar nih?”
“Iya benar kok.”
“Syukurlah kalau kayak gitu.”
“Ahaha…iya.”
“Kakak besok ikut karnaval?”
“Iya ikut. Kakak punya kewajiban sebagai anggota OSIS untuk mendampingi murid yang akan berangkat karnaval.”
“Diana besok ikut karnaval sebagai anggota drumband.”
“Bagus. Kalau gitu semangat.”
“Jemput Diana besok kesekolah.”
“Iya nanti kakak jemput.”
__ADS_1
“Diana disana nanti berangkatnya pakai bus. Diana maunya naik montor sama kakak aja boleh?” Tanya Diana dengan nada mengeluh.
“Kalau gurunya ngebolehin ya bisa aja.”
“Kakak dong yang ngomong. Kalau kakak yang ngomong pasti nanti dibolehin sama gurunya.”
Memang besar kemungkinan diperbolehkan kalau Bintang yang meminta. Tapi Bintang tidak ingin timbul gosip di pihak guru.
“Bisa kan kak? Nanti kalau Diana naik bus terus mual-mual gimana? Nanti pasti dikirain Diana hamil lagi. Terus nanti Diana tinggal bilang deh kalau kak Bintang yang mau tanggung jawab.”
“…”
Bintang terpana tak bisa berkata-kata mendengar perkataan Diana. Sejak kapan gadis ini memiliki pemikiran seperti ini.
‘Ini pasti karena film drama yang sering ditonton oleh Diana. Ini benar-benar membawa pengaruh buruk.’
“Nanti kakak deh yang bilang sama guru mu.” Bintang hanya bisa pasrah.
“Yeey…Nah gitu dong jadi Kak Bintang yang baik buat Diana.”
“Bagus deh kalau Diana senang.”
“Kakak ikut kah kemah yang mau diadakan diluar kota?”
“Diana ikut enggak?”
“Diana pengen ikut.”
“Memang nya dibolehin sama ibu?”
“Nanti Diana bilang aja kalau sudah dipilih buat ngewakilin sekolah.”
“Kalau Diana ikut, nanti kakak ikut juga.”
“Kok gitu?”
“Aku enggak mau adik kecil ku yang manis ini kenapa-kenapa nanti disana.”
“Emmm…senang nya dipanggil manis sama kakak.” Diana tertawa kecil. “Tapi Diana enggak mau dianggap jadi beban kakak.”
“Kapan aku bilang kalau aku merasa kamu beban buat ku?”
“Enggak ada sih..”
“Nah itu tau sendiri. Sudah jadi kewajiban seorang kakak untuk melindungi adiknya. Apalagi kalau adiknya semanis dan secantik kamu.”
“Emm…Diana malu kak dibilang manis terus.”
Bintang tertawa mendengar suara Diana yang malu-malu. Memang tujuannya adalah murni untuk menjaga Diana. Bintang tidak ingin Diana kenapa-kenapa disana. Terlebih lagi Diana mudah lelah dan jatuh sakit. Dan Bintang juga tidak ingin ada laki-laki yang berani mencoba menggoda adik kecilnya ini.
“Kalau gitu sudah dulu ya kak. Jangan lupa jemput Diana besok pagi-pagi. Jam 7 pagi Diana harus sudah ada disekolah.”
“Oke.”
Diana pun mematikan panggilannya.
Setidaknya Bintang tidak harus bangun terlalu pagi seperti yang ia lakukan hari ini. Sekitar jam 4 pagi Bulan sudah terus menelponnya. Gadis itu meminta dijemput jam 5 subuh. Bayangkan saja siapa yang ingin merasakan dinginnya dunia jam segitu. Terlebih lagi embun dipagi hari itu begitu dingin hingga menusuk tulang. Bintang memang tidak menyukai hawa dingin.
Sekarang yang lebih Bintang fikirkan apakah Bulan tidak akan marah jika melihatnya satu montor dengan Diana?
Walaupun Bintang bilang kalau mereka adalah adik kakak, namun gadis itu pasti sadar kalau hubungannya dengan Diana lebih rumit dari yang ia kira.
__ADS_1