Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu

Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu
Menikmati Bulan Yang Tertidur.


__ADS_3

Bintang kini sedang duduk di kursi UKS. Tangannya begitu menikmati waktu menari di atas selembar kertas. Sesekali dia akan memandang gadis yang kini sedang tertidur di ranjang kasur UKS tepat disebelahnya. Dia tersenyum lembut memandang wajah gadis itu yang sedang tertidur pulas.


Beberapa saat yang lalu ketika mereka sedang menikmati momen kebersamaan mereka, Bulan tiba-tiba saja mengeluh perutnya mengalami sakit. Bintang langsung menyarankan gadis itu untuk beristirahat. Awalnya Bintang mau kembali menuju kelas untuk mengikuti jam pelajaran, namun Bulan tidak memperbolehkannya pergi meninggalkannya sendirian. Alhasil Bintang menemani gadis itu dan membolos jam pelajaran.


Untuk mengisi waktu dia sekedar menulis sebuah puisi yang tiba-tiba saja tersirat dikepalanya ketika memandang wajah gadis itu yang sedang tertidur.


Bulan baru bangun dari tidurnya ketika jam pelajaran terakhir sedang berlangsung.


“Sudah bangun putri tidur?”


“Umm..kakak ngejek atau ngasih pujian?”


“Gimana sudah enakan?”


“Sudah enggak ngantuk sih. Cuma masih agak sakit perut ku.”


“Ya sudah dilanjut aja dulu istirahatnya. Bentar lagi bel pulang sekolah bunyi.”


“Maaf ya kak dah bikin kakak bolos disini.”


“Enggak apa-apa. Kakak dah nyuruh Hamdan kasih alasan ijin di kelas.”


“Enak ya jadi kakak.”


“Enak gimana?”


“Punya anak buah yang selalu siap tanggap.”


“Jangan bilang gitu. Mereka itu teman kakak.”


“Bulan minta kakak jangan sampai merokok kayak teman kakak itu.”


“Aku tidak akan berani.”


Bulan memang sempat melihat teman-teman Bintang merokok. Jadi dia khawatir jika pria yang dicintainnya ini akan mengikuti perbuatan teman-temannya dengan menyakiti diri sendiri menghisap sebatang rokok.


“Kalau sampai mulut kakak itu bau rokok, jangan harap untuk pernah dapet ciuman lagi dari Bulan.”


“Kakak janji enggak akan ngerokok. Jadi kamu tenang aja.”


“Awas sampai kakak langgar tu janji. Bulan enggak senang dekat-dekat sama cowok yang bau rokok.”


Bintang hanya bisa terus menyakinkan Bulan dengan semua janji yang ia buat. Sebenarnya bahkan tak pernah terbesit didalam fikirannya sekalipun untuk menghisap sebatang rokok. Dia tidak ingin merusak paru-parunya hanya untuk menghisap asap. Menurutnya membakar sebatang rokok itu sama saja dengan membakar uang.


Tak lama kemudian bel sekolah berbunyi. Menandakan bahwa waktu pulang sekolah telah tiba.


“Ayo pulang.”


“Kakak antar Bulan pulang kan?”


“Iya kakak antar sampai rumah.”


Biasanya Bulan akan diantar Om Reno jika berangkat sekolah. Kemudian dia akan pulang menggunakan angkot atau Om Reno akan menjemputnya bila tidak mendapatkan shift malam dalam perkerjaannya.


Karena mereka telah berpacaran, Bintang tidak ingin Bulan menghabiskan uang jajannya hanya untuk sekedar membayar angkot. Oleh karena itu Bintang akan mengantar pulang gadis itu. Tentu Bintang juga akan menjemput gadis itu di pagi hari jika dirinya tidak bangun kesiangan atau harus menunggu lama untuk mengantar adiknya menuju sekolahnya.


“Kalau gitu ayo kita kelas ambil tas.”


“Gendong..” Bulan merentangkan kedua tangannya dengan manja.


“…”

__ADS_1


‘Sejak kapan dia jadi semanja ini?’ Bintang bertanya dalam hatinya.


“Enggak mau.”


“Umm…jadi kakak tega nih nyuruh Bulan jalan sendiri dari lantai satu ke lantai dua? Padahal Bulan lagi sakit.”


Bintang tersenyum kecut mendengar perkataan gadis itu. Tentu dia akan menggendong gadis itu jika tempat dan kondisinya tidak sedang berada disekolah yang ramai dengan para murid SMA yang berlalu lalang disetiap sudutnya.


“Kakak bukannya enggak mau. Cuma kondisinya enggak memungkinkan. Kan kamu tau sendiri kita lagi ada disekolah. Dan ini masih lagi ramai-ramainnya pada pulangan.”


“Iya-iya. Lagian Bulan cuma bercanda kok.” Jawab Bulan tersenyum manis.


“Ayo.” Bintang mengulurkan tangannya kepada Bulan.


“Umm..” Bulan tersenyum manis menyambut uluran tangan itu.


Bintang menggenggam erat tangan Bulan. Kemudian dia memimpin jalan. Bulan melirik sekilas kertas yang berada diatas meja. Kemudian tanpa sepengetahuan Bintang dia mengambil kertas itu dan memasukannya ke dalam saku seragamnya.


Mereka berjalan bergandengan tangan berjalan melalui koridor lantai satu menuju tangga yang mengarah ke lantai dua. Setiap murid kelas satu yang baru saja keluar dari kelas akan menyingkir membukakan jalan tanpa berani mengangkat wajah mereka begitu melihat Bintang.


Setelah melihat punggung Bintang dan Bulan yang menghilang dikejauhan mereka baru berani membuka mulut.


“Hei, apa lo dah pada denger?”


“Apaan?”


“Lo semua tau Kak Atika?”


“Lo kira kita semua **** sampai enggak tahu Kak Atika keindahan nomer satu disekolah kita.”


“Eits, tenang dulu. Jadi berita hebohnya adalah Kak Atika siang ini di kantin telah mencium Kak Bintang di depan banyak orang.”


“…”


“Apa?”


“Gue enggak salah denger kan ini?”


“Lo enggak usah nyebar berita hoax ya.”


“Gue liat dengan mata kepala gue sendiri. Banyak juga orang yang pada ngeliat di kantin.”


“Buset dah. Cewek paling cantik disekolah kita.”


“Gue memang dah lama denger kalau Kak Atika naksir sama Kak Bintang. Tapi gue enggak nyangka kalau dia sampai berani cium Kak Bintang didepan umum.”


“Gue juga heran. Padahal kan seharusnya dia tau kalau Kak Bintang itu udah punya pacar.”


“Gue lebih heran kenapa Kak Bintang enggak milih Kak Atika keindahan nomer satu disekolah kita sebagai pacarnya. Dia justru milih Kak Bulan yang hanya berada diposisi nomer dua.”


“Siapa yang tau apa yang difikirin orang sepertinya.”


“Tapi kelihatannya mereka akur-akur aja. Atau mungkin mereka berdua habis berantem?”


“Kalau menurut gue mereka pasti habis berantem.”


Sedangkan Bintang yang kini sedang berjalan dikoridor lantai dua tidak tahu menahu sama sekali pembicaraan murid kelas satu.


“Kamu tunggu di dalam kelas. Kakak mau ke kelas dulu ambil tas. Nanti kakak kesini lagi.”


“Buruan jangan lama-lama kak. Perut Bulan rasanya enggak enak.”

__ADS_1


“Iya enggak lama-lama kok.”


Bintang langsung berlari menuju ke lantai tiga menuju kelasnya. Setiap murid kelas tiga yang ditemuinnya akan menyapa dirinya. Tentu Bintang juga akan membalas mereka dengan ramah.


Sesampainya dikelasnya Bintang bisa melihat bahwa teman-temannya belum pulang.


“Lah ini nih yang main ninggalin aja. Dah makan tapi enggak mau bayar.”


“Astaga gue lupa. Kantin masih buka enggak ya.” Bintang langsung panik ketika mengingat dirinya belum membayar makanannya.


“Udah enggak apa-apa. Dah gue bayarin kok.” Hamdan langsung buka suara ketika melihat Bintang ingin pergi menuju kantin.


“Wah lo memang sahabat gue yang paling baik dah.”


Bintang mengganti uang Hamdan dan mengambil tasnya.


“Gue cabut duluan ya.”


“Kok buru-buru amat?”


“Gue mau ngantarin Bulan pulang dulu. Perutnya sakit. Gue enggak masuk kelas gara-gara nemenin Bulan di UKS.”


“Berarti hubungan lo baik-baik aja kan?”


“Aman. Cuma marah bentar aja dia. Dah gue jelasin biar enggak salah paham.”


“Yaudah kalau gitu buruan, kasihan Bulan nungguin lo.” Hamdan menepuk pundak Bintang.


“Oke kalau gitu gue duluan.”


“Jangan lupa nanti malam kumpul ditempat biasa.”


“Aman.”


Hamdan dan yang lainnya terdiam hingga punggung Bintang menghilang di balik pintu kelas.


“Gue harap perasaan Bintang enggak bakalan dipermainkan lagi kayak dulu.” Hamdan menghela napas berat.


“Menurut gue Bulan orangnya enggak kayak gitu.” Kata Rangga memandang ke arah Hamdan.


“Bener apa yang dikatain Rangga. Jadi lo enggak usah ngerasa terlalu terbebani.” Higo menambahkan.


“Gue cuma takut aja kejadian yang dulu terulang lagi. Bintang itu rentan terluka perasaanya. Dan amarahnya susah betul dikendalikan. Gue masih ingat betul gimana dulu terpuruknya dia.”


“Untuk itu kita harus selalu ada dukung dia.”


“Gue juga enggak mau dia kayak dulu lagi. Gue bakalan dukung dia.”


Bintang berlari menuruni tangga. Dia langsung menuju ke kelas Bulan. Sesampainnya disana dia melihat gadis itu duduk dikursinya seorang diri telah menunggunya.


“Maaf lama.”


“Umm..enggak apa-apa.” Bulan menggelengkan kepalanya.


“Kalau gitu ayo kita pulang.”


“Umm…”


Bulan berdiri berjalan menuju pintu kelas kemudian menutupnya. Bintang mengangkat sebelah alisnya karena bingung dengan apa yang dilakukan gadis ini. Bulan berjalan mendekati Bintang.


“Bulan enggak mau pulang kalau belum dikasih ini..” Bulan menunjuk ke arah bibirnya.

__ADS_1


Bintang bisa melihat wajah gadis itu yang tersipu malu. Namun ada keinginan di dalam pandangan matanya.


Bintang kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Bulan.


__ADS_2