
Bandung, 17 Agustus 2018
Hari ini adalah hari upacara kemerdekaan. Dan juga hari dimana Bulan akan bertugas menjadi pengibar bendera. Dan itu juga yang menyebabkan gadis itu begitu gugup sehingga semalam tidak bisa tidur. Menyebabkan Bintang harus menemani gadis itu hingga tertidur. Dan karena itu juga Bintang harus bangun begitu pagi merasakan dinginnya air ketika mandi dan embun yang begitu dingin untuk menjemput gadis itu.
Selesai dari upacara itu, mereka berdua memutuskan untuk foto bersama mengabadikan momen. Baru kemudian Bintang mengantarkan Bulan pulang kerumahnya. Disepanjang perjalanan Bulan hanya menyandarkan kepala nya di punggung Bintang.
"Kak, Bulan capek.."
"Iya. Nanti kalau dah sampai rumah langsung istirahat aja."
"Kan Bulan dah kerja keras nih kak buat upacara hari ini, tiap hari juga dah latihan terus. Kak Bintang enggak mau ngasih Bulan hadiah nih?"
'Mulai deh manja nya.' Batin Bintang.
"Bulan mau hadiah apa?"
"Emmh...apa ya. Bulan kayak nya mau makan ice cream aja kak."
"Boleh aja sih. Tapi jangan banyak-banyak ya nanti perut mu sakit."
"Hehehe...enggak banyak kok. Bulan cuma mau makan sepuluh."
"..."
"Nanti kalau kamu sakit gimana?"
"Kalau sakit berarti Bulan enggak sekolah deh besok."
"Jangan dong. Habis itu nanti aku nya harus nahan rindu karena enggak ketemu."
"Itu mah Bulan sengaja."
"Kok gitu?"
"Iya sengaja biar kak Bintang jenguin. Hehehe..."
"Disekolah kan bisa ketemu kalau kamu masuk. Memangnya kalau kamu gak sekolah nanti enggak rindu sama kakak?"
"Iya rindu lah. Bohong kalau Bulan enggak rindu. Makanya Bulan mau di jenguin sama kakak biar bisa ketemu. Terus kalau dirumah mah enggak ada adek kelas kegatelan yang ganggu."
"Ahaha..." Bintang hanya bisa tertawa kering mendengar kan tanggapan dari gadis itu.
Bintang ingat memang ketika disekolah saat mereka pergi ke kantin berdua, banyak murid kelas sepuluh yang berusaha mencoba menggoda dirinya. Semenjak Bintang bertemu dengan Bulan tanpa sadar Bintang mulai terbiasa tersenyum. Bintang mulai mencoba bersikap ramah kepada murid lain. Hal itulah yang entah kenapa membuatnya kini selalu mendapatkan pesan masuk entah dari gadis mana yang tak dikenal nya.
Karena Bintang dan Bulan baru-baru ini terlihat dekat. Jadi belum ada yang tau kedekatan mereka. Terlebih Bintang dengan Bulan juga belum memiliki status resmi dalam hubungan mereka.
Bintang sadar bahwa semenjak dirinya bertemu dengan Bulan seluruh kehidupannya terasa berbeda.
Dulu baginya dunia ini adalah sesuatu yang monoton. Tidak ada warna lain selain hitam dan putih di matanya. Tidak ada langit yang cerah, hanya ada awan mendung dikedalaman matanya.
__ADS_1
Walaupun bisa dibilang mereka baru saling mengenal, namun ada sebuah rasa yang begitu dalam tertanam di hati.
"Bulan..."
"Iya kak."
"Saat aku bertemu dengan mu, hidupku jadi berubah. Semua yang kulihat, semua yang kudengar, juga semua yang kurasakan. Semua yang ada di sekelilingku mendadak jadi penuh warna. Dunia jadi serasa berkilau dengan indah."
"Kak Bintang..." Bulan terkejut dengan kata-kata Bintang.
"Aku ingin hidup ku terus berwarna seperti ini. Untuk itu, temani aku untuk terus melangkah dikehidupan ini Bulan."
"Iya. Bulan mau kak. Bulan mau terus ada disamping kakak. Sampai kapan pun itu. Untuk itu jangan pernah tinggalin Bulan."
"Ingat ini Bulan, aku berjanji sebagai seorang pria tidak akan pernah meninggalkan mu. Selama aku masih ada di bumi ini, aku tidak akan pernah meninggalkan mu sendirian. Aku akan selalu ada untuk mu. Ini adalah janji yang paling berharga yang pernah ku buat."
Air mata mengalir membasahi kedua pipi Bulan. Dia membenamkan dirinya di punggung pria itu.
"Aku akan selalu ingat janji itu kak." Ucap Bulan lirih. "Aku adalah wanita yang paling bahagia di muka bumi ini. Tidak, tapi aku adalah wanita yang paling bahagia di alam semesta ini."
Setelah menuruti keinginan Bulan untuk makan ice cream, Bintang mengantarkan Bulan pulang kerumahnya.
"Kak, mampir dulu yuk." Pinta gadis itu ketika mereka telah tiba di depan rumahnya.
"Lain kali aja deh.."
"Apa bedanya lain kali sama sekarang?"
"Nah, mau nyari alasan kan?"
"E-eh...enggak kok."
"Kalau gitu ayo mampir dulu."
"Iya besok-besok aja kakak mampirnya. Kakak belum siap." Bintang mulai terlihat salah tingkah karena merasa gugup.
"Hemm....aku gak nyangka kak Bintang bisa malu-malu juga." Bulan justru memasang senyum licik di wajahnya.
*****
"Hei, jangan cemberut terus kak." Bulan berbisik kepada Bintang. Gadis itu kini duduk di sebelah Bintang dengan wajah ceria.
Dan karena gadis itu sekarang Bintang berada di posisi canggung.
Kini Bintang sedang duduk di sofa ruang tamu rumah tante Bulan. Bintang ada di rumah yang kini ditinggali oleh gadis itu. Yang membuat dirinya berada dalam situasi canggung adalah seluruh keluarga gadis itu kini sedang berkumpul di ruang tamu menatapnya.
Dari ruang tengah, seorang wanita paruh baya berjalan keluar dengan membawa beberapa gelas minuman. Dia adalah tante Lina, orang yang mengasuh Bulan selama di Bandung.
"Ayo diminum ini minuman nya." Kata tante Lina menaruh segelas minuman di hadapan Bintang.
__ADS_1
"Ah iya tante terima kasih.." Jawab Bintang berusaha seramah mungkin.
"Jadi, kalau om boleh tau namanya siapa nih? Kan dari tadi belum kenalan. Jadi om mau tau namanya." Tanya om Reno yang merupakan suami dari tante Lina.
'Gawat. Gue lupa memperkenalkan diri. Orang bilang kesan pertama adalah yang selalu diingat. Dan gue sudah terlihat buruk dikesan pertama. Gue harus rileks. Anggap saja kayak ngomong sama teman.'
Bintang menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Ah iya. Saya belum memperkenalkan diri, nama saya Bintang om."
"Wah kebetulan sekali ya... Ada Bintang terus ada Bulan juga." Tante Line tersenyum memandang ke arah Bintang dan Bulan.
Seorang anak kecil yang berumur sekitar 5 tahun berlari ke arah Bintang dan bertanya.
"Apa om pacarnya kak Bulan?" Tanyanya dengan raut wajah ingin tau.
'Heh...om? Setua itu kah gue?'
"Nathan, jangan panggil om. Panggilnya kakak." Tante Lina menegur.
"Kenapa gitu mah? Kata kak Evelin kalau kak Bulan bawa pulang cowok kerumah itu pasti pacarnya. Terus Nathan disuruh manggil om."
"..."
"Evelin.." Bulan memandang seorang gadis yang sepertinya masih duduk di bangku SMP dengan wajah kesal.
"Ahaha...Nathan yang bilang kak lain aku." Jawab gadis itu mencari alasan.
"Jadi apa kakak ini pacarnya kak Bulan?" Nathan sekali lagi bertanya kepada Bintang.
Belum sempat Bintang menanggapi perkataan Nathan, Bulan sudah berbicara lebih dulu.
"Iya...kak Bintang ini pacarnya kak Bulan." Jawab gadis itu dengan wajah senang dan ada sedikit kesombongan dari sorot matanya ketika melihat Evelin. Seolah menyiratkan bahwa dirinya sangat bangga memiliki Bintang sebagai pacarnya.
Om Reno dan tante Lina hanya tersenyum mendengarnya. Sedangkan Evelin terlihat kesal karena suatu alasan tertentu.
'Heh...' Namun Bintang yang mendengarnya justru terkejut hingga tersedak napasnya sendiri.
Bintang terkejut karena dirinya dan Bulan belum memiliki status apapun. Namun kini gadis itu sudah mengklaim dirinya sebagai seorang pacar.
"Jadi seperti itu...ternyata Bintang pacarnya Bulan ya?" Tanya om Reno memandang ke arah Bintang mencoba memastikan.
Bintang ingin menjawab bukan. Namun Bulan yang duduk disampingnya sudah mencubit lengannya seolah tidak memperbolehkannya menjawab kebenaran.
Bintang pun hanya bisa pasrah mengikuti keinginan gadis itu.
"Iya om. Saya pacarnya Bulan."
Tiba-tiba saja terlihat sebuah kilatan tertentu di mata om Reno dan tante Lina. Bintang mendapatkan firasat buruk dari hal itu. Dan benar saja...
__ADS_1