
Keesokan harinya Bintang menjemput Bulan di rumahnya. Setelah berpamitan dengan om Reno dan tante Lina mereka berangkat menuju kesekolah.
“Kakak tau?”
“Kenapa?”
“Bulan jadi berharap sama kayak waktu kakak berangkat sekolah sama Diana dari kelas IPA 1.”
“Kenapa gitu?”
“Iya berharap bisa jadi sorotan satu sekolah.”
“Aku baru tau kamu ternyata suka jadi sorotan orang-orang.”
“Enggak sih sebenarnya. Cuma kalau jadi sorotan orang-orang sama kak Bintang sampai bikin heboh satu sekolah mah enggak apa-apa.”
“Sebaiknya kamu jangan terlalu berharap.”
“Kenapa?”
“Karena nanti kamu bakalan kerepotan sendiri.”
Kini mereka berjalan di koridor lantai satu. Benar saja itu menyebabkan kehebohan disepanjang jalan mereka menuju ke kelas. Bintang hanya bertindak biasa-biasa saja. Lain hal nya dengan Bulan yang terlihat malu-malu.
“Kalau tau kayak gini mah Bulan enggak berharap. Malu diliatin banyak orang.” Kata gadis itu.
“Kan sudah kakak bilang.”
“Tapi kak Bintang hebat masih bisa bersikap tenang.”
“Mungkin sudah terbiasa aja.”
Setelah mengantarkan Bulan ke kelas nya Bintang menuju ke lantai tiga tepat kearah kelas nya. Dia bisa melihat teman-temannya yang ramai sedang mengobrol di depan kelas.
“Yang habis liburan selama seminggu nih.” Komentar Hamdan ketika melihatnya.
“Kayaknya dah dapet cewek dari luar kota.” Celetuk Higo salah satu teman sekelas nya itu.
“Bagi-bagi lah nomernya.”
“Gue masih bersih ya. Enggak ada deketin cewek disana.” Balas Bintang.
“Jelas enggak berani lah kalau ada Diana.”
Mereka semua tertawa mendengarnya. Karena menurut teman-temannya Diana itu adalah gadis yang sangat overprotektif jadi tidak mungkin dia mengijinkan Bintang mendekati cewek lain.
“Tapi walaupun gitu tetep bisa berangkat sekolah sama cewek cantik.” Rangga yang baru sampai dikelas berkomentar.
“Wih yang benar?”
“Gue baru aja liat orang ini di parkiran berangkat sama anak kelas sebelas.” Rangga menunjuk ke arah Bintang.
“Bukan Diana?” Tanya Hamdan.
“Lain. Kalau gue enggak salah ingat dia salah satu primadona anak kelas sebelas. Namanya Bulan.” Ucap Rangga.
“Lo bikin gua iri sumpah.” Hamdan yang sudah lama menjomblo itu memegang dada terasa sedih.
“Sejak kapan nih?” Tanya Higo.
“Baru-baru ini kok.” Balas Bintang.
__ADS_1
“Jadi Diana mau dikemanain tuh?” Tanya Rangga.
“Kan sudah gue bilang kalau kami cuma adik kakak.”
“Tapi lo juga pasti sadar lah perasaan Diana ke lo kayak gimana? Sebaik nya lo seriusin satunya aja.”
“Bener tuh. Baru satunya lagi kasih ke gue aja.”
“Ngimpi lo kalau mereka mau sama lo.”
“Sebaiknya lo bicarakan baik-baik sama mereka.” Kata Hamdan.
“Nanti lah gue omongin baik-baik ke mereka.” Bintang tampak merenung.
Sedangkan Bulan yang baru sampai dikelasnya langsung disambut oleh berbagai pertanyaan dari teman-teman sekelasnya.
“Kok lo bisa berangkat ke sekolah bareng sama kak Bintang?”
“Kalian punya hubungan apa?”
“Sudah berapa lama dekat?”
“Gimana rasanya bisa satu montor sama kak Bintang?”
“Hei farfum apa yang dipakai sama kak Bintang?”
“…”
Bulan yang bahkan baru melangkah kan kaki nya masuk ke dalam kelas terkejut mendapatkan sambutan seperti ini. Dia juga bingung harus mulai menjelaskan dari mana.
“Minggir-minggir setidaknya biarkan Bulan duduk dikursinya dulu.” Eli yang merupakan sahabat Bulan menerobos barisan dan membawa Bulan duduk ke kursinya.
“Jangan terlalu cepat berterima kasih. Sekarang jelaskan bagaimana kalian berdua bisa berangkat bareng. Ada hubungan apa diantara kalian berdua?”
Semua murid perempuan mengelilingi kursi Bulan. Sedangkan murid pria semuanya terdiam membuka telinga mereka lebar-lebar untuk mendengarkan.
Bulan yang melihat ini semua hanya bisa tersenyum pahit. Dia tidak menyangka bahwa berangkat kesekolah bersama pria yang dicintainya akan menyebabkan kehebohan seperti ini. Walaupun begitu dirinya merasa sangat senang. Dia menjelaskan semuanya secara singkat.
“Kak Bintang tadi pagi jemput kerumah gue buat berangkat ke sekolah bareng. Dan kami belum punya hubungan apa-apa.”
Suasana menjadi hening di dalam kelas itu. Namun begitu banyak hal yang difikirkan oleh para murid dikelas itu.
“Ngeri. Pergerakan kakak kelas memang cepat.”
“Kapan gua bisa berangkat sekolah bareng cewek?”
“Gue juga pengen berangkat sekolah dijemput sama kak Bintang.”
Ketika bel istirahat berbunyi. Diana memutuskan pergi ke kantin sekolah bersama Rani dan Indri. Ketika mereka bertiga sedang menikmati bakso mereka, ada dua orang murid perempuan yang juga duduk dimeja yang sama menceritakan sebuah kejadian yang menghebohkan.
“Hei lo dah denger belum?”
“Apaan?”
“Tadi pagi banyak yang liat kak Bintang berangkat kesekolah sama anak kelas sebelas.”
“Hah, yang bener?”
“Iya beneran. Dan juga cewek itu adalah salah satu primadona anak kelas sebelas.”
“Siapa namanya?”
__ADS_1
“Kalau enggak salah namanya Bulan. Mereka berdua keliatan cocok banget kan? Fikirkan aja Bintang dan Bulan.”
“Gue jadi iri rasanya.”
Setelah secara tidak sengaja mendengar itu Indri dan Rani memandang kea rah Diana. Mereka melihat bahwa tatapan mata gadis itu berubah menjadi kosong.
“Din..” Rani menyentuh pundak Diana.
“Gue duluan ke kelas ya.”
“Loh bakso nya enggak dihabisin?”
“Dah kenyang.”
Diana langsung berdiri dan berjalan meninggalkan kantin. Rani dan Indri saling menatap satu sama lain. Mereka juga bingung bagaimana harus menghibur Diana.
Sedangkan Diana tidak pergi ke kelas. Gadis itu pergi menuju toilet sekolah. Dia masuk dan mengunci pintu. Air mata yang telah ditahan nya kini tumpah mengalir dengan deras membasahi kedua pipinya.
“Kak Bintang..”
Diana memanggil nama itu lirih.
Dia membayangkan saat ketika pemuda itu pergi bersama dengan gadis lain selain dirinya. Semakin membayangkan nya semakin membuat sakit hati nya. Inilah yang paling tidak diinginkan oleh Diana. Yaitu melihat pria yang dicintai nya itu pergi dengan wanita lain.
Bintang yang kini berada dikantin sekolah bersama teman-temanya tentu tidak menyadari kesedihan dari Diana. Dia juga tidak pernah berharap bahwa kejadian tadi pagi akan membuat Diana menangis. Kini dia hanya duduk menikmati permen melon kesuakaan nya dan melihat teman-teman nya yang terus menggodai anak kelas satu.
“Dek sini sama abang. Nanti abang beliin bakso.”
“Jangan mau dek sama dia. Kalau sama kakak nanti pulang sekolah kakak antarin.”
“Wiih…cewek cantik banget nih.”
“Minta nomer nya dong dek.”
“Follow ig abang dek.”
Bintang hanya bisa tertawa dan menggelengkan kepala nya melihat sikap teman-teman nya ini.
“Susah juga nyari cewek di SMA ini.” Hamdan justru mulai terlihat pasrah.
Dari awal masuk SMA memang pemuda itu sudah menjomblo. Semenjak putus dari mantan nya itu dia merasa kehilangan kepercayaan dirinya.
“Pasti ada aja itu nanti cewek yang datang buat lo.” Bintang berusaha menghiburnya.
“Tetap aja gue kalah sama lo. Coba bantuin carikan cewek buat gua.”
“Nanti dah gue pilihin.”
Padahal menurut Bintang, Hamdan itu adalah salah satu pria tampan dikelas nya. Dia juga cukup pintar matematika. Hanya saja dia terlalu kaku dalam urusan tentang wanita.
__ADS_1