
Bandung, 07 Agustus 2018.
Malam itu Bintang merebahkan dirinya di kasur untuk menghilangkan lelah.
Seharian ini dia begitu sibuk untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin dalam perlombaan yang akan datang. Bahkan mereka sampai mengambil waktu jam pelajaran untuk latihan. Tapi ini merupakan hal yang lumrah dari tahun ketahun. Lagi pula di bulan Agustus ini memang banyak kegiatan yang menyebabkan para murid tidak bisa mengikuti jam pelajaran dengan full. Dan para guru hanya bisa memaklumi itu semua. Bahkan ada guru yang hanya memberikan tugas.
Sekali lagi dia menghembuskan nafas lelah.
Dia teringat dengan aksi brutalnya tadi di sekolah.
Anggota pramuka yang lain melaporkan kepadanya bahwa lagu yang sudah diibaratkan sakral bagai mars bagi mereka digunakan oleh ekstrakurikuler lain. Dirinya langsung tidak terima dengan semua itu. Baginya ini sudah melanggar kode etik.
Karena kebetulan mereka latihannya berdekatan jadi mereka bisa tahu. Hanya saja kemarin dirinya sedang berada di perpustakaan ketika kehebohan itu terjadi. Untuk itu hari ini dia sengaja siap menunggu mereka.
“Liatin bentar lagi.”
“Iya, Bin, perhatikan.”
Teman-teman Bintang terus mengingatkannya.
Dan benar saja. Mereka mendengar ekstrakurikuler *** menyanyikan lagu sakral mereka. Bintang segera beranjak dari temaptnya dan menuju ke arah ekstrakurikuler *** untuk meminta penjelasan. Dia tidak peduli dengan kehebohan yang disebabkan oleh pergerakannya.
“Hei lihat.”
“Lihat itu Kak Bintang kayaknya lagi marah.”
“Wah kayaknya ada tontonan yang menarik ini.”
Bintang mendengar semua perkataan orang disekitarnya. Ketika jarak Bintang sudah semakin dekat, tiba-tiba saja trio gembul berlari dari belakang dan menahannya. Mereka membawa Bintang kembali ke panggung, tempat anggota Pramuka yang lainnya berlatih.
“Sudah, lo sabar.”
“Iya sabar dulu.”
“Jangan terlalu kebawa emosi lo.”
Ekstrakurikuler lain yang sadar akan kehebohan tersebut berhenti bernyanyi. Para senior mereka membubarkan diri dengan maksud untuk beristirahat sejenak agar mereka dapat memastikan keadaan. Kemudian dua orang yang terlihat sebagai senior mereka datang menghampiri Bintang.. Dia mengenal mereka berdua; Arya dan Aldo.
“Ada apa ya kalau boleh tahu?” Tanya Aldo dengan sopan.
“Kalian memang enggak tahu atau berpura-pura enggak tahu?” Tanya Bintang dengan nada tinggi.
Diana yang juga sedang berada di lokasi kejadian langsung berlari ke arah Bintang. Tentu dia tahu bagaimana kalau seniornya itu sudah dikuasai oleh amarah. Dia meraih lengan Bintang.
“Udah, Kak, sabar. Tenangin diri Kakak.”
“Sebenarnya kami beneran enggak tahu apa-apa. Sumpah.” Arya menjawab pertanyaan Bintang. Karena Aldo yang berada disebelahnya sudah pucat ketakutan. Walau pun sebenarnya wajah Arya juga sudah dipenuhi dengan keringat dingin yang menetes.
Tidak ada yang cukup bodoh di sekolah ini mau mencari masalah dengan orang yang berada di depannya. Apalagi sampai menyulut amarahnya.
“Gue kasih tahu sama kalian nih ya. Sebaiknya kalian enggak usah asal copy paste sesuatu yang merupakan milik orang lain. Atau kalian akan kena masalah kayak gini.” Bintang membentak mereka dengan suara keras yang langsung menjadi sorotan semua murid di sekolah.
“Sudah biar kita-kita aja yang jelasin ke mereka. Din, mendingan lo bawa kakak lo ini pergi biar bisa nenangin dirinya.” Kata Hamam pada Diana
“Iya. Ayo, Kak.” Ucap Diana sembari menarik lengan Bintang.
“Ingat ini ya. Gue gak mau denger lagi mars kami dipakai sama kalian.”
“Udah ah, Kak. Ayo.” Diana menarik Bintang dengan paksa.
Kemudian Diana membawa Bintang ke kantin sekolah.
“Mau minum apa, Kak?” Tanyanya pada Bintang.
“Samain aja kayak Diana.”
__ADS_1
“Oke.”
Diana meninggalkan Bintang sendirian untuk memesan minuman. Tak lama dia kembali dengan dua gelas es teh.
“Ini, Kak, diminum dulu.” Diana memberikan segelas minuman pada Bintang. Kemudian dia duduk di sebelah Bintang.
“Makasih ya, Din.”
“Iya, Kak, sama-sama.”
Bintang meminum minumannya, berusaha menenangkan diri.
“Udah tenang, Kak?” Tanya Diana memperhatikan gerak-gerik Bintang.
“Udah enggak apa-apa kok, Dek.” Terlihat jelas di wajah Bintang; fake smile.
“Ihh..kok manggil Diana adek sih. Kan tau Diana gak suka kalau Kakak manggil aku adek.”
Kini Diana yang justru terlihat kesal. Dia memalingkan wajahnya kesal dan menggumamkan kata yang tidak bisa dirinya dengar.
“Iya-iya deh maaf. Kenapa sekarang malah kamu yang marah.”
“Iya Kakak tuh yang bikin Diana jengkel. Lagian juga Kakak tu enggak bisa nahan diri. Diana tu gak mau sampai liat Kakak berantem. Apalagi sampai liat wajah Kakak dipenuhi luka. Diana tu gak mau, Kak. Diana gak mau…” Diana mulai menangis.
Diana tidak bisa menahan air mata yang sudah ditahannya sejak tadi. Sebenarnya dia juga takut kalau senior nya itu lepas kendali dan melukai orang-orang disekitarnya, termasuk dirinya yang paling dekat dengan posisi seniornya.
Bintang terkejut melihat Diana menangis. Dia paling tidak tega melihat seorang gadis menangis. Dia mengusap rambut Diana berusaha menenangkan dirinya.
“Udah, Din, enggak apa-apa kok.”
“Tapi Diana tu gak mau, Kak.” Air mata terus mengalir membasahi kedua pipi Diana.
Tanpa sadar Diana menangis membenamkan dirinya di pundak seniornya itu sembari terus memegang lengan seniornya. Takut kalau seniornya itu belum bisa menenangkan dirinya kemudian pergi dan mengamuk.
“Beneran? Kakak janji?” Tanya Diana yang masih membenamkan wajahnya.
“Iya Kakak janji. Kan Diana tau sendiri Kakak enggak pernah ngelanggar janji Kakak buat Diana.”
“Emm…”
“Udah jangan nangis lagi. Mau sampai kapan kamu nangis? Kalau kamu nangis terus bisa-bisa baju Kakak basah nih.”
“Hehehe…maaf.” Diana mengangkat wajahnya.
“Hah..” Bintang mengambil tisu dan mengusap air mata Diana.
Diana tidak menolak. Dia hanya tersenyum bahagia diperlakukan seperti itu oleh seniornya.
“Din..”
“Iya, Kak..”
“Mau sampai kapan kamu megang tangan Kakak terus?”
“Eh?” Wajah Diana langsung memerah malu.
Kemudian Bintang mendekatkan bibirnya di telinga Diana dan berbisik.
“Kamu gak lupa kan kalau kita lagi ada di kantin sekolah? Dari tadi banyak yang ngeliatin kita loh.”
Diana langsung memperhatikan sekelilingnya. Dan sadar kalau mereka berdua memang sedang diperhatikan oleh murid-murid lain dari tadi. Diana langsung melepas lengan seniornya dan menundukkan kepalanya dengan wajah memerah malu-malu.
Bintang tertawa melihat sikap Diana yang malu-malu.
Tapi Diana tidak khawatir. Selama dirinya berada di samping seniornya ini. Dia tidak takut, bahkan jika seluruh dunia memusuhinya. Diana sekali lagi tersenyum bahagia.
__ADS_1
Kembali ke Bintang yang kini sedang menikmati waktu rebahannya. Dia tersenyum kecil mengingat tingkah laku Diana.
“Kamu itu gadis yang lucu ya, Diana…” Bintang tertawa mengingat tingkah laku Diana selama ini.
Dia membuka ponselnya dan melihat ada pesan masuk dari Diana. Dan juga dari Bulan.
Sebenarnya dia sudah mempertimbangkan tidak ingin membalas pesan dari Bulan. Tapi entah kenapa seperti ada dorongan dari dalam dirinya yang menyuruhnya untuk membalas pesan dari Bulan.
Mereka bisa dikatakan baru saja saling mengenal. Namun dari pesan Bulan yang selalu membuatnya terhibur, Bintang menjadi akrab dengan dirinya.
“Kak, aku kepilih jadi petugas pengibar bendera buat upacara kemerdekaan nanti.”
“Bagus dong. Yang semangat ya kalau latihan.”
“Hehehe…jelas semangat dong aku latihannya kalau tiap latihan bisa ngeliat Kak Bintang.”
“Hahaha…kamu nih ada-ada aja.” Memang setiap Bintang latihan, ia juga bisa melihat Bulan yang sedang latihan.
“Tapi aku malu eh, Kak, dilihatin Kakak terus. Jadi salah tingkah aku pas latihan.”
“Kalau gitu mulai besok aku gak bakal ngeliatin Bulan lagi deh.” Ini dilakukan Bintang agar Bulan mengiyakan dan mereka bisa menjaga jarak. Sayang sekali Bintang tidak mampu menduga balasan dari si Bulan.
“Jangan, Kak. Aku senang Kakak perhatiin aku tiap latihan. Rasanya kayak Kakak ngasih aku semangat.”
“…”
“Hahaha…bagus deh kalau latihannya jadi semangat.”
Ada apa dengan gue? Dan ada apa juga dengan gadis ini?
Bintang ingin berusaha menjauhi gadis ini, namun gadis ini malah membuatnya terus-terusan berfikir dua kali.
Pesan masuk dari Diana.
“Kak, udah tidur kah?”
“Belum. Kenapa memangnya?”
“Diana gak bisa tidur. Temanin Diana sampai tidur dong, Kak. Hehehe…”
“…”
“Kak”
“Iya, Din.”
“Diana mau dengar suara Kakak. Telfon aku dong, Kak. Diana mau denger Kakak cerita. Pokoknya Diana mau denger kakak cerita sampai Diana bisa tidur.”
“Iya deh. Apa dah yang enggak buat Diana.”
“Hore…”
Kemudian malam itu Bintang menghabiskan waktunya untuk berbicara dengan Diana di telfon. Bintang beralasan kepada Bulan bahwa ia sudah mau tidur agar Bulan tidak terus menunggu balasan dari Bintang.
Bintang mematikan telefonnya setelah memastikan Diana sudah tertidur.
Dia melihat waktu sudah menunjukkan pukul 23:45 di ponselnya. Ini sudah cukup larut untuk anak sekolahan sepertinya. Dia pun tertidur mengistirahatkan diri.
__ADS_1