Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu

Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu
Perkemahan


__ADS_3

Bandung, 30 juni 2018


Hari ini adalah tahapan akhir bagi siswa baru dalam masa orientasi sekolah. Yaitu perkemahan murid baru. Bintang sebagai wakil ketua OSIS dan juga anggota Pramuka tentu turut andil dalam kegiatan ini.


Sore itu acara dimulai dengan mendirikan tenda. Karena kurangnya pengalaman para murid baru dalam mendirikan tenda, mau tidak mau anggota Pramuka turut membantu mereka mendirikan tenda.


Setiap murid baru telah dibagi menjadi beberapa kelompok.


Cuaca sore itu cukup panas untuk membuat para murid baru yang manja ini mengeluh. Bintang yang sedari tadi menahan diri tidak ingin berkomentar pun merasa terpancing. Sebab cuaca yang sangat panas ditambah mereka yang tidak mau membantu ku mendirikan tenda dan ia mendengar keluhan mereka yang tidak selesai-selesai yang pada akhirnya membuat telinganya makin panas.


"Apa kalian gak bisa diam? Kalian ada disini bukan untuk mengeluh. Cuma karena cuaca seperti ini kalian sudah terus-terusan mengeluh. Bagaimana dengan orangtua kalian yang sudah banting tulang buat sekolahin kalian. Apakah mereka pernah mengeluh seperti kalian?" Bintang menegur mereka dengan nada tinggi.


"Diri kan tenda ini sendiri gue enggak mau tahu."


Karena kesal, Bintang berjalan meninggalkan mereka. Entah tenda itu bisa mereka dirikan atau tidak. Bintang tidak mau tahu apa-apa lagi.


Pada akhirnya, Bintang hanya berkeliling melihat keadaan. Membiarkan anggota Pramuka lainnya yang kini sibuk membantu mendirikan tenda murid baru. Ketika Bintang melewati salah satu tenda, dua orang siswi baru menghampirinya.


"Kak..." mereka memanggil Bintang


"Kenapa?" tanyanya datar.


"Kak, ini kompor yang kelompok kita bawa ternyata rusak gak bisa dipakai. Jadi kami minta izin pulang ke rumah mau ambil kompor."


"Rumah kalian di daerah mana?"


Setelah mengetahui alamat rumah mereka, Bintang melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul 05:30 sore. Ini sudah sangat sore. Membiarkan mereka membawa motor sendiri tanpa didampingi bisa bahaya. Apalagi rumah mereka cukup jauh dari sekolah. Jika terjadi apa-apa di jalan dengan mereka. bisa-bisa pihak panitia yang kena imbasnya. Parahnya lagi, Bintanglah yang mengizinkan mereka.


Di saat itulah kebetulan sekali Bintang melihat Kartini, salah satu anggota perempuan dari ekstrakurikuler Pramuka. Bintang pun memanggilnya.


"Kenapa?"


"Ini mereka mau pulang ambil kompor, yang mereka bawa kompornya rusak. Lo temenin sana ambil."


"Kok gue sih? Harusnya kan lo lah cowok yang justru ngantarin."


"Mereka ini daerah rumahnya sama kayak alamat rumah lo. Udah cepat keburu maghrib nanti. Kalian ditemani sama kakak ini ya ambil kompor nya. Jadi salah satu aja di antara kalian yang bisa pulang."


"Iya, Kak.."


"Eh..tapi Bintang gue belum ada bilang setuju."


"Gue gak menerima penolakan."


Bintang segera pergi meninggalkan mereka. Ada alasan khusus kenapa Bintang tidak ingin mengantarkan murid baru itu. Alasannya adalah karena dia wanita. Dan dirinya benci wanita, terlebih lagi wanita yang tidak dikenalinya. Cukup hanya itu saja.


Walaupun sebenarnya di dalam dirinya jiwa lelakinya memberontak demi harga diri seorang pria.


Bintang kemudian duduk di kursi, di atas panggung, mengistirahatkan diri dan menikmati senja yang akan hilang ditelan oleh gelapnya malam. Dia memperhatikan lapangan yang kini telah dipenuhi dengan tenda. Dia sangat menyukai perkemahan karena dia sangat menyukai api unggun. Itu sebabnya di acara perkemahan apa yang paling dinantikannya adalah malam api unggun.


Setelah ia merasa mendapatkan ketenangan, ia mulai memejamkan mata berusaha menikmati waktu. Sayangnya dia tidak akan bisa. Karena Kartini datang menghampirinya dan mengganggunya.


"Bintang...lo aja deh yang ngantarin. Gue takut udah mau malam ini soalnya."


"Enggak mau."


"Kok gitu sih...sebagai pemimpin yang baik dan teladan buat anggotanya lo harus menolong orang yang membutuhkan. Nanti gue belikan permen deh."

__ADS_1


"Bodo amat. Gue tetap gak mau. Dah sana pergi jangan ganggu gue huss huss..."


"Ayolah Bintang. Nanti gue belikan permen 10 bungkus deh. Gue belikan yang rasa melon." Kartini mulai memohon-mohon.


"Apa iya beneran bakal dibeliin 10 bungkus permen melon?" Tanya Bintang dengan nada sedikit tidak percaya.


"Beneran deh gue janji."


"Baiklah, gue bakalan tagih nanti."


Bintang pun berjalan menuju parkiran. Dimana gadis itu, si murid baru, sudah berdiri menunggunya. Gadis dengan tinggi sebahunya dan rambut panjang sepinggang yang diikatnya.


'Astaga. Gue jadi gak enak bikin dia nunggu lama. Kartini memang kurang ajar.'


Bintang berjalan menghampiri gadis itu.


"Ayo, Dek biar Kakak aja yang antar. Tapi kamu tunjukin jalannya ya. Kakak gak tau jalan daerah tempat mu."


"Iya, Kak.." Jawab gadis itu dengan tergesa-gesa.


Bintang yang melihatnya hanya bisa tertawa di dalam hati. Itu karena ia tahu memang kebanyakan murid baru takut padanya. Terlebih dengan sikapnya kemarin ketika masa orientasi sekolah di mana ia membentak dan berbicara menggunakan nada tinggi.


Mereka pun memutuskan menggunakan motornya. Dia memakai helm. Tapi justru Bintang yang membawa motor malah tidak memakai helm. Mereka dicegat oleh anggota Pramuka yang menjaga gerbang. Iya; sekedar meminta nama dan tanda tangan untuk mengisi buku izin keluar kegiatan.


"Mau kemana, Kak?"


"Ini nemenin murid baru pulang ke rumah mau ambil kompor. Rumahnya jauh. Takut kenapa-kenapa di jalan." Kata Bintang menjelaskan.


"Ehem...gila cepat sekali pergerakan Bintang." Kata salah satu teman Bintang meledek.


"Hei hei... jangan bicara yang macam-macam." Sahut Bintang dengan tatapan sengit.


"Eh ampun enggak berani lagi deh." Jawab mereka sambil nyengir.


"Tapi setidaknya lo juga harus makai helm buat keamanan. Yang dibonceng aja makai helm, lah ini yang bawa montor malah gak pakai. Gimana sih?"


"Ya sudah kalau gitu cepet ambilin helm sana. Keburu maghrib nih." Bintang menyuruh temannya itu.


"Helm yang mana?"


"Udah yang mana aja. Yang penting kan nanti gue kembalikan."


Setelah memakai helm, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah gadis itu. Selama di jalan mereka hanya saling menutup mulut. Bintang sebagai sosok yang dingin tidak akan berbicara kecuali minta petunjuk jalan. Dan gadis itu juga tidak akan bicara jika Bintang tidak bertanya arah mana yang harus diambil.


Selama di perjalanan Bintang tidak menutup kaca helmnya. Bintang memang tidak suka jika kaca helmnya ditutup. Justru itu malah membuat pandangannya tidak jelas. Tapi karena itu lah di perjalanan matanya terkena serangga kecil yang terbang.


Setelah sampai di rumahnya, dia meminta bantuan Bintang untuk mengangkat kompor yang berada di dapur.


"Loh kok sepi rumahnya?" Bintang bertanya karena memang tidak ada orang di rumahnya.


"Ah iya, Kak. Orang tua lagi di Rumah Sakit."


"Emm..jadi seperti itu."


Saat mereka berdua keluar dari rumah, di depan rumah ada seorang nenek yang gadis itu bilang sebagai neneknya.


"Ah, Nenek."

__ADS_1


"Kapan pulang? Sudah selesai kemahnya?"


"Belum, Nek. Ini pulang cuma mau ambil kompor aja."


"Oh gitu. Ini siapa? Pacar mu ya?" Tanya nenek itu sambil memandang ke arah Bintang.


"Eh bukan, Nek." Jawab gadis itu tergesa-gesa dengan wajah yang memerah.


"Terus siapa?"


"Ah Kakaknya ini pembina. Iya guru."


"Eh?" Bintang nampak terkejut. Sejak kapan dirinya menjadi seorang guru.


"Jadi guru. Masih muda udah jadi guru hebat sekali." Nenek itu tersenyum memandang Bintang.


"Eh enggak kok, Nek." Bintang berusaha menyangkalnya. Tapi nenek itu tetap memanggilnya guru.


"Bukan, Nek. Aku masih calon guru." Bintang tertawa canggung. Mau berapa kali pun ia menjelaskan, nenek itu tetap memanggilnya guru. Dan Bintang hanya bisa mengiyakan.


Setelah berpamitan dengan nenek mereka berdua menuju ke motor. Sebelum naik Bintang mengecek matanya di kaca spion motor.


"Kenapa, Kak, matanya?" Gadis itu bertanya.


"Ah ini tadi di jalan kemasukan serangga."


"Bentar ya, Kak." Gadis itu berlari memasuki rumah. Kemudian dia keluar dengan membawa batangan kapas yang biasanya digunakan untuk membersihkan telinga.


"Sini, Kak, aku lihat."


Bintang menundukan kepalanya karena perbedaan tinggi badan mereka. Kemudian gadis itu memeriksa mata Bintang dan membantunya mengeluarkan serangga itu.


Disaat itulah tatapan mata mereka saling bertemu.


Wajah gadis itu memerah malu. Beberapa kali dia berusaha mengalihkan pandangannya agar tidak melihat Bintang.


Kenapa jadi terkesan seperti sedang berada di drama FTV. Entah serangga yang memasuki mata Bintang itu sebuah bencana atau keberunutngan.


"Ah sudah, Kak." Gadis itu langsung buru-buru mengalihkan pandangannya dari Bintang karena malu.


"Terima kasih ya."


"I-iya, Kak, sama-sama."


Kemudian mereka melanjutkan perjalanan kembali ke SMA. Sama seperti ketika mereka berangkat. Di perjalanan pulang pun mereka masih saling diam. Namun kini fikiran Bintang terganggu.


Bintang memandang bulan yang kini telah menghiasi langit yang telah gelap. Dia sadar bahwa kejadian tadi sebenarnya telah menimbulkan riak di hatinya yang telah mengeras seperti batu.


'Enggak. Gue enggak boleh. Gue harus hati-hati dengan wanita. Mereka itu sosok yang penuh dengan tipu muslihat. Terlebih lagi wanita yang baru gue kenal. Gue enggak boleh sampai jatuh untuk yang kedua kalinya lagi.' Bintang menghembuskan nafas sembari menikmati angin malam yang kini mulai terasa.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2