Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu

Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu
Hari Jadian


__ADS_3

“Tunggu disini.”


“Kakak mau kemana?”


“Mau nelepon orang bentar.”


“Jangan lama-lama.”


Bintang meninggalkan Bulan sendirian di meja makan. Dia pergi tak terlalu jauh. Kemudian dia menelepon seseorang di ponselnya.


“Halo..gimana dah beres belum?”


“Aman dah semua. Lo tinggal datang aja kesini. Dah gue bikin sama anak-anak tempat nya seromantis mungkin.”


“Yaudah gue kesana sekarang.”


Bintang mematikan ponselnya kemudian pergi kembali menghampiri Bulan.


“Sudah nelepon nya kak?”


“Sudah.”


“Nelepon siapa?”


“Biasa ngabarin anak-anak.”


“Terus gimana dong?”


“Ya gak gimana-gimana. Enggak ada yang bisa ganggu malam minggu pertama kita.”


“Emm…” Bulan menjadi salah tingkah mendengarnya.


“Kalau gitu ayo kita jalan lagi.”


Setelah membayar makanan pesanan mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.


“Kita mau kemana kak?”


“Coba tebak.”


“Ke taman?”


“Bukan.”


“Jalan-jalan keliling kota Bandung.”


“Enggak.”


“Terus kemana dong? Jangan bilang kita sudah mau pulang.”


“Haha…ya belum lah. Aku mau bikin malam minggu pertama kita berkesan. Jadi pengalaman yang enggak bakalan pernah kita lupain seumur hidup kita.”


“Bulan nurut aja deh. Yang penting enggak dibawa ke tempat aneh-aneh.”


Setelah terus berkendara, tiba-tiba saja Bintang memberhentikan montornya di jalanan yang cukup sepi.


“Kak kok berhenti disini sih?”


“Kenapa?”


“Bulan takut kak. Ayo buruan pergi.”


Bulan merasa ngeri melihat sekeliling nya yang gelap dan sepi tanpa sedikit pun tanda kehidupan.


“Oke kita bakalan jalan lagi. Cuma aku punya satu syarat.”


“Apaan buruan.”


“Aku mau kamu janji enggak bakalan buka mata kamu sampai aku suruh buka.”


“Kakak enggak bawa Bulan ke tempat yang aneh-aneh kan? Bulan beneran takut ini kak.”

__ADS_1


“Enggak kok. Kamu enggak usah takut. Selama aku ada disini siapa yang berani macam-macam sama kamu?”


“Iya deh Bulan nurut. Yang penting kita buruan pergi dari sini.”


“Kalau gitu kamu tutup mata mu pakai ini.” Bintang mengeluarkan sehelai kain berwarna hitam dari kantong jaket nya.


“Perasaan Bulan kok jadi enggak enak sih?”


Bulan semakin lama merasakan dirinya semakin takut. Kakinya sudah dari tadi gemeteran. Mata gadis itu sudah berkaca-kaca.


“Kakak janji bakalan lindungin kamu.” Bintang mengulurkan jari kelingkingnya.


“Janji ya.” Bulan menyambut jari kelingking pria itu dengan jari kelingkingnya.


“Iya aku janji.”


Bintang kemudian mengikat kan kain sebagai penutup mata gadis itu.


“Beneran loh ya jangan dibuka sampai kakak suruh buka. Kalau ketahuan langsung kakak turunin di jalan.”


“Ihh jahat loh.” Bulan memukul punggung pria itu. “Dah tau Bulan takut masih aja berani godain Bulan.”


Bintang tidak berani menggoda gadis itu lagi ketika mendengar suara gadis itu semakin serak. Dia langsung membawa montornya meninggalkan jalan sepi itu. Menuju ke daerah Punclut Dago. Dia sudah menyuruh teman-teman nya untuk membuat kejutan disana.


Dia mengendarai montornya membawa Bulan kesalah satu bukit yang berada disana. Setelah sampai dia langsung menuntun gadis itu.


“Hati-hati jalan nya.”


“Ini dimana sih kak? Bulan belum boleh buka mata nih?”


“Belum. Dah pelan-pelan aja.”


“Masih jauh kah?”


“Sudah berhenti disini.”


Bintang kemudian membuka kain yang menutup mata gadis itu.


“Beneran?” Tanya Bulan mencoba memastikan.


“Iya beneran.”


“Ini kalau Bulan buka mata enggak ditinggal kan?”


Bintang tertawa mendengar gadis itu.


“Buka aja mata mu.”


Bulan pun membuka kedua matanya.


“Ini…”


Apa yang dilihat Bulan malam ini mungkin akan menjadi salah satu kenangan yang sangat membekas di dalam ingatan nya. Ingatan yang tidak akan pernah dilupakan nya sampai kapan pun.


Dia melihat lilin yang tersusun rapi membentuk sebuah jalan lurus. Dengan di penghujungnya lilin membentuk menjadi sebuah hati yang dipenuhi dengan bunga mawar.


“Ayo.”


Bintang mengulurkan tangan nya kepada Bulan.


“Umm..” Bulan menyambut tangan hangat itu.


Mereka berdua berjalan bergandengan tangan menuju ke tegah-tengah lilin yang terbentuk menjadi hati.


Bulan masih belum bisa nerima apa yang dilihat nya. Dari segala kemungkinan dia tidak pernah membayangkan bahwa pria yang menggandeng tangan nya ini akan membawa nya ke tempat seperti ini.


Berjalan diantara cahaya lilin. Dinaungi oleh cahaya bulan di malam hari itu. Digandeng oleh pria yang dirinya cintai.


Mereka berhenti melangkah ketika sudah sampai berada di tengah-tengah lingkaran hati.


“Kamu liat. Ini yang bikin aku suka Bandung di malam hari.”

__ADS_1


Bulan mengikuti arah pandang pria itu. Disaat itu lah akhirnya dia sadar bahwa Bintang telah membawa nya ke sebuah bukit di kota Bandung. Apa yang diliat oleh matanya adalah pemandangan indah kota Bandung di malam hari.


“Bulan …”


Bintang menatap lekat-lekat kedua mata gadis itu.


“Umm…”


Bulan yang ditatap seperti itu menjadi salah tingkah. Wajah nya sudah tersipu memerah.


“Aku mencintai mu.”


“Umm…”


“Kamu mau jadi pacar ku?”


Seketika Bulan merasa seperti mendapatkan sentakan di dalam dirinya ketika mendengar kalimat itu dari pria di hadapan nya. Dia menutup sebagian wajah nya dengan tangan nya. Menatap pria di hadapan nya dengan malu-malu.


“Umm…aku mau.” Bulan menganggukan kepala nya.


Bintang tidak akan pernah bisa melupakan ekspresi gadis itu yang terlihat malu-malu. Bahkan mungkin di akhir hayatnya adalah wajah malu-malu gadis itu yang menjadi fikiran terakhirnya.


Bintang mengeluarkan sebuah kalung dari saku jaket nya. Kalung dengan lionton sebuah batu berwarna biru.


“Boleh aku pakai kan dileher kamu? Anggap aja sebagai bukti kalau kamu dah resmi jadi milik ku.”


“Umm..”


Bulan membiarkan pria itu membantu nya memakaikan kalung pemberian nya.


“Mulai sekarang kamu resmi jadi milik ku.” Bintang tersenyum memandang gadis itu.


Entah karena hal apa. Bulan langsung memeluk pria di depan nya. Dia membenamkan wajah nya di dada pria itu.


Awalnya Bintang terkejut karena gadis itu tiba-tiba memeluknya. Namun dia langsung membalas pelukan gadis itu.


“Makasih sudah mau nerima Bulan yang cuma kayak gini kak.” Ucap gadis itu lirih.


“Ngomong apa kamu? Buatku kamu sudah lebih dari cukup.”


Duar..


Mereka dikejutkan dengan suara kembang api yang meledak di langit menjadi cahaya bunga yang indah.


“Indah nya..” Kata Bulan memandang langit malam dengan takjub.


“Syukurlah kalau kamu suka.”


“Hemm..perasaan ini bukan malam tahun baru. Tapi kenapa ada orang yang nyalain kembang api?”


“Bentar lagi kamu bakalan tau.”


Disaat itu lah mereka mendengar banyak langkah kaki dari belakang mereka. Mereka berdua pun berbalik. Mereka bisa melihat Hamdan dan annggota geng Bintang yang lain.


“Yo selamat..” Hamdan mengulurkan tangan nya.


Bintang tersenyum dan menjabat tangan itu.


“Pasangan baru nih..”


“Yang lagi kasmaran..”


Rangga dan Higo melempar kan bunga mawar yang mereka bawa dikeranjang. Bulan merasa tersentuh. Ternyata semua ini telah disiapkan oleh BIntang dan teman-teman nya.


Kemudian ada dua orang lagi yang datang membawa meja yang penuh dengan makanan ringan dan minuman. Tentu itu bukan semacam minuman keras. Bintang akan menegur keras teman nya yang berani menggunakan barang terlarang seperti itu.


“Untuk memperingati hari jadian nya Bintang dan Bulan.” Hamdan mengangkat gelas minuman nya diikuti oleh yang lain. Kemudian mereka meneguk nya.


“Ayo dimakan. Ini gue yang teraktir buat memperingati hari jadian gue.” Bintang tertawa riang melihat teman-teman nya.


Akhirnya hari itu pada tanggal 15 september Bintang dan Bulan dinyatakan secara resmi berpacaran.

__ADS_1


__ADS_2