Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu

Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu
Ciuman Pertama


__ADS_3

“Jadi maksud Kakak perasaan Atika buat Kakak enggak tulus?”


“Aku enggak bilang kayak gitu. Kamu paling tahu sendiri tentang perasaan mu. Jadi jangan tanya aku.”


“Umm…walaupun kakak selalau cuekin Atika tapi kakak selalu tetap kelihatan keren.”


Atika tersenyum manis. Gadis itu kemudian semakin mendekatkan diri nya kepada Bintang. Kemudian mencium pipi pemuda tersebut. Sontak hal itu membuat seluruh pria yang berada di kantin menjerit dengan histeris.


“Kurang ajar..”


“Arrghh…Atika gue direbut.”


“Eh kampret sejak kapan Atika jadi punya lo? Atika itu punya gue.”


“Punya gue.”


“Enggak usah ngimpi lo pada. Langkahin dulu mayat gue kalau lo mau ngaku-ngaku milikin Atika.”


“Diam lo pada. Sekarang Atika kita mau direbut sama cowok itu.”


“Kalau itu gue mundur aja.”


“Sama gue juga mundur aja.”


“Bahkan kalau gue dikasih keberanian sepuluh kali lipat tetap gue enggak bakalan berani cari masalah sama dia.”


Bintang terkejut dengan aksi gadis tersebut yang tiba-tiba saja menciumnya.


“Apaan sih lo?” Bintang membentak keras dengan nada dingin.


Tanpa fikir panjang Bintang langsung berdiri dan angkat kaki meninggalkan kantin dan teman-temannya. Hamdan dan yang lainnya hanya bisa saling memandang dan tersenyum kecut.


“Biar gue yang bayar dulu makanannya Bintang.” Hamdan mengeluarkan uang dari saku dompetnya.


“Ya udah lo kumpulin duitnya biar gue yang bayar. Biar kita langsung nyusul Bintang.” Rangga sekali lagi menawarkan dirinya.


Kemudian setelah selesai membayar mereka pergi meninggalkan kantin yang masih sunyi terkesiap disebabkan oleh perbuatan Atika untuk menyusul kepergian Bintang.


Kedua teman Atika berjalan menghampiri Atika.


“Gila juga lo langsung main cium aja.”


“Lo ngomong kayak gitu enggak cemburu kan sama gue?” Atika bertanya dengan senyum tipis terpasang diwajahnya.


“Tch..” Erika hanya bisa berdecak kesal dengan pertanyaan dari Atika.


“Sudah enggak usah ribut lo berdua. Tapi lo tau kan kalau Kak Bintang itu dah punya pacar?” Tanya Dinda memandang ke arah Atika.


“Ya terus kenapa?”


“Lo enggak takut pacarnya cemburu?”


“Biarin aja dia cemburu. Siapa tau habis itu mereka putus dan gue bisa dapetin Kak Bintang.” Jawab Atika dengan tenangnya.


“Terus kalau ceweknya ngelabrak lo gimana?”


“Ya emangnya gue takut? Gue mah enggak takut sama yang begituan.”


“Enggak tau dah gue mau bilang apalagi ke lo.”


Dinda dan Erika hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap Atika yang begitu tenang.


Sedangkan Bintang berjalan begitu tergesa-gesa meninggalkan daerah sekitar kantin sejauh mungkin. Dia tentu sadar jika perbuatan Atika ini pasti akan menjadi berita yang menghebohkan disekolahnya. Untuk itu Bintang langsung pergi menuju ke kelas Bulan untuk memberitahunya kejadian yang sebenarnya agar gadis itu tidak salah paham. Terlebih Bintang takut jika ada orang yang melebih-lebihkan berita tersebut.


Sesampainya ia dikelas Bulan, Bintang langsung masuk ke kelasnya. Kelas yang awalnya ramai dengan suara candaan itu langsung berubah menjadi hening seketika. Bintang memandang seluruh ruangan kelas namun tidak dapat menemukan keberadaan Bulan sama sekali.

__ADS_1


“Dimana Bulan?”


Bintang bertanya kepada murid yang paling dekat dengannya. Rian yang merupakan murid terdekat dengan Bintang itu langsung berubah menjadi pucat ketika melihat Bintang menatapnya dengan tajam.


“I-itu…Bulan nya lagi ada di UKS. Sakit perut katanya tadi.” Jawabnya dengan terbata-bata.


Bintang langsung pergi meninggalkan kelas itu. Rian baru bisa menghembuskan napas lega ketika melihat Bintang sudah pergi cukup jauh. Hanya sekedar ditatap oleh seniornya itu saja sudah membuat punggungnya basah dengan keringat dingin.


Bintang melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke UKS. Sesampainya di UKS dia langsung membuka pintu dan memandang gadis yang sedang duduk di atas ranjang kasur. Gadis itu juga menatap dirinya karena kaget dengan kehadirannya yang tiba-tiba.


“Kenapa kakak ada disini?”


“Aku nyariin kamu.”


“Ada apa? Lagi rindu sama aku?” Tanya gadis itu dengan nada menggoda.


“Bulan aku..”


Cring..cring..


Terdengar notifikasi masuk dari ponsel Bulan. Gadis itu mengecek ponselnya. Seketika raut wajah gadis itu berubah menjadi terkejut. Dia menutup mulutnya terkejut tidak dapat menerima kenyataan memandang ke arah Bintang.


“Bulan itu sebenarnya enggak kayak yang kamu bayangkan.”


“Jadi kakak beneran ciuman sama Atika di kantin?”


“B-bukan seperti itu…Atika tiba-tiba aja mencium pipi ku tanpa sepengetahuan ku. Aku enggak sempat menghindar.”


“Bulan enggak mau dengar apa-apa lagi.”


Bulan langsung merebahkan dirinya dikasur dan menyembunyikan dirinya di balik selimut.


“Tapi…”


Bintang hanya bisa tersenyum kecut dengan sikap Bulan. Bintang melangkah masuk ke dalam UKS dan menutup pintu serta tirai ruangan. Dia berjalan kemudian duduk di tepi ranjang yang ditiduri oleh Bulan.


“…”


“Aku benar-benar tidak bermaksud apa-apa. Tidak ada makna khusus di balik tindakan Atika yang tiba-tiba saja mencium ku.”


“Umm…”


“Maafkan aku.”


“Umm...”


“Apakah Bulan maafin kakak?”


“Umm..”


“Bulan enggak marah lagi kan sama kakak?”


“Umm…”


“Apa kamu enggak bisa kasih kakak respons yang lebih bagus?”


“Umm…”


Bintang hanya bisa tersenyum kecut mendengar semua tanggapan Bulan dari balik selimut itu.


“Yaudah kalau gitu kakak tinggal ya.”


Bintang berdiri turun dari ranjang.


“Jangan..”

__ADS_1


Bulan menahan lengan Bintang.


“Hemm?”


“Jangan pergi. Tetap disini aja temani Bulan.”


“Kakak bakalan temanin kamu disini kalau kamu enggak marah lagi sama kakak.”


“Umm..”


Bintang kembali duduk di tepi ranjang kasur UKS. Sedangkan Bulan kembali merebahkan dirinya dikasur. Namun gadis itu hanya memperlihatkan punggungnya kepada Bintang. Sedangkan dia menghadap ke dinding UKS.


“Kamu sakit?”


“Umm..”


“Sakit apa?”


“Perut ku sakit.”


“Sudah minum obat?”


“Sudah.”


“Dah enggak marah lagi kan sama kakak?”


“Umm..”


“Itu semua cuma salah paham. Tapi aku enggak bakalan lagi biarkan ada orang yang berani curi kesempatan kayak tadi.”


“Ini enggak adil, kak. Padahal Bulan aja belum pernah..” Bulan mengembungkan pipinya kesal.


“Belum pernah apa?”


“Itu…belum pernah cium kakak.”


Suara Bulan terdengar semakin kecil. Namun Bintang tetap bisa mendengar suara gadis itu. Bintang tidak berharap jika gadis itu akan mengatakan sesuatu seperti itu. Namun jika difikir-fikir sudah pasti hal yang wajar untuk seorang wanita cemburu jika pacarnya dicium oleh wanita lain.


“Kamu mau?”


“A-apa?”


“Ini..” Bintang menunjuk bibirnya.


Bulan memandang sekelilingnya memastikan tidak siapapun diruangan itu selain mereka berdua. Setelah merasa yakin ia menatap Bintang kembali.


“Aku mau.”


Gadis itu menundukan wajahnya yang sudah merah padam.


“Mau apa?” Tanya Bintang menggoda.


“Umm…kakak nih. Bulan mau cium kakak.” Bulan langsung menarik wajah Bintang mendekat dikarenakan kesal Bintang terus menggodanya.


Kemudian disaat itulah kedua bibir mereka saling bertemu.


Bintang hanya diam dan menatap dalam kedua mata Bulan. Sama pula halnya dengan gadis itu. Waktu terasa seakan berhenti diantara mereka berdua.


Bintang adalah yang pertama melepaskan ciuman mereka.


“Lembut.”


“Manis.”


Mereka berdua terkejut mendengar komentar masing-masing. Kemudian tidak lama kemudian mereka berdua tertawa bersama.

__ADS_1


“Bulan mau lagi.”


“Aku akan selalu memberikannya untuk mu. Karena aku adalah milik mu. Dan kau juga adalah milik ku…”


__ADS_2