
Bandung, 28 September 2018
Bintang dan Bulan kini sedang berada di jalanan kota Bandung. Dengan mengendarai montor, mereka mengelilingi kota Bandung disiang hari yang bisa dibilang cukup panas itu.
“Kita mau kemana kak?”
“Ke pasar.”
“Hah, mau ngapain?”
“Belanja sayuran lah.”
“Setidaknya kan kalau kakak mau ngajak Bulan jalan, kasih Bulan pulang ke rumah dulu buat ganti baju.”
Mereka berdua memang baru saja pulang dari sekolah. Awalnya Bulan mengira jika Bintang akan langsung mengantarnya pulang. Bulan justru terkejut ketika pria itu malah justru mengajaknya berbelanja ke pasar dengan masih menggunakan seragam sekolah mereka.
“Kamu yang belanja ya, aku mah cuma nemanin aja sama yang bawa barangnya.” Kata Bintang sembari melihat-lihat kios yang menjual sayuran dan kebutuhan pangan lainnya.
“Kok jadi Bulan sih? Kan yang ngajak kesini kakak.”
“Sebagai calon istri yang baik, kamu harus bisa belajar buat belanja kebutuhan kita sehari-hari.”
Bulan langsung menjadi salah tingkah mendengarnya.
“I-itu..itu kan masih lama kak.”
“Belajarnya dari sekarang.”
“Tapi kan Bulan enggak tau kita mau belanja apa disini.”
“Iya nanti kakak kasih tau. Tapi tetap kamu yang belanja. Kalau soal uang nanti kakak yang bayar.”
“Oke deh.”
Setelah selesai membeli apa yang mereka cari, Bintang dan Bulan pergi meninggalkan area pasar.
“Sekarang kita mau kemana kak?”
“Pulang.”
“Tapi jalan ke rumah Bulan dah kelewatan.”
“Siapa yang bilang kalau kita mau pulang kerumah mu.” Jawab Bintang sembari tersenyum.
“Jangan bilang kakak mau bawa Bulan pulang kerumah kakak?”
“Memang.”
“Ihh..kenapa enggak kasih tahu dari tadi sih? Bulan malu kak masih pakai seragam sekolah. Lain kali aja ya kak.”
“Mau kamu pakai pakaian manapun enggak bakalan mempengaruhi kecantikan mu. Dimata aku kamu tetap cantik pakai baju model manapun.”
“Dasar gombal.” Bulan tertawa kecil mendengarnya.
“Lo memang betulan kok. Kakak dah jujur ini.”
“Tapi tetap aja Bulan enggak mau kak. Kalau gitu antarin Bulan pulang dulu deh ganti baju.”
“Enggak bisa. Soalnya nanti malah kelamaan.”
“Bentar aja kok kak.”
“Enggak mau. Kakak yakin nanti kamu bakalan lama di kamar dandan.”
Bulan hanya bisa pasrah ketika niat aslinya sudah ketahuan. Memang niat aslinya untuk pulang terlebih dahulu adalah agar bisa dandan dan berpenampilan sebaik mungkin. Wanita mana yang tidak ingin terlihat tampil sebaik mungkin ketika bertemu dengan calon mertuanya.
Tunggu.
Calon mertua?
__ADS_1
Hanya memikirnya saja sudah membuat wajah Bulan merasa panas karena rasa malu.
Mereka berhenti di depan sebuah rumah besar yang cukup megah. Satpam yang menjaga gerbang rumah pun langsung membuka gerbang ketika melihat montor Bintang. Kemudian mereka memasuki halaman rumah.
“Ini rumah kakak?” Tanya Bulan memandang sekitar rumah.
“Ayo.” Bukannya menjawab pertanyaan Bulan, Bintang justru mengulurkan tangannya membawa gadis itu sampai didepan pintu rumah itu.
“Kusuma Mansion?”
Bulan membaca tulisan yang terpampang didepan pintu rumah.
“Jadi ini benar rumah kakak?”
“Bukan.”
“Hah? Terus ini rumah siapa? Kita ngapain kesini kak?”
“Ini memang bukan rumah kakak. Tapi ini rumah orangtua kakak. Kakak mah belum punya rumah sendiri.” Bintang tertawa melihat raut wajah Bulan yang kebingungan.
“Hemm…”
Seketika Bulan merasa seperti dipermainkan oleh Bintang. Gadis itu langsung menggembungkan pipinya kesal.
Bulan kemudian mengikuti Bintang masuk ke dalam rumah. Bintang mengajak Bulan menuju ke dapur, dimana disana seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik sedang mencuci piring.
“Bunda, Bintang pulang.”
“Pesanan bunda dah dibelikan belum?”
“Sudah ini sayurannya dah dibeliin sama calon menantu.”
“Kak Bintang..” Bulan langsung terlihat gugup. Terlebih lagi kini wanita yang dipanggil Bintang itu berbalik dan menatapnya.
“Mulai sekarang bunda bakalan bisa ngeliat Bintang dan Bulan di siang hari.” Kata Bintang tertawa.
“Kenalin tante, nama saya Bulan.” Bulan memperkenalkan dirinya.
“Ah, jangan dipanggil tante. Panggil aja bunda sama kayak Bintang.”
“Iya bunda.”
“Kata Bintang kamu pintar masak ya?”
“Ah enggak juga kok bunda.”
“Enggak apa-apa kan, kalau bunda mintai tolong buat bantu bunda masak.”
“Enggak apa-apa kok bun.”
“Bulan nya bunda pinjam dulu ya.” Kata bunda menatap anak laki-lakinya itu.
“Enggak apa-apa kok bunda. Yang penting Bulan nya jangan direbut dari Bintang.”
“Kamu mah apa. Siapa juga yang berani rebut calon menantu bunda.”
“Ya udah kalau gitu Bulan disini aja ya sama bunda. Aku mau ke kamar.”
“Iya kak.”
Bintang kemudian berjalan pergi meninggalkan Bulan berdua dengan bundanya.
“Jadi kita mau masak apa nih bunda?” Tanya Bulan sembari mencuci sayuran yang telah dibelinya
“Kita mau masak yang enak dan banyak buat makan malam nanti.”
__ADS_1
“Memangnya ada acara apa?”
“Makan malam keluarga. Nanti Bulan juga datang ya. Biar si Bintang yang jemput kamu.”
“Memangnya enggak apa-apa bun?”
“Siapa yang enggak bolehin, kan kamu sekarang sudah jadi bagian dari kelurga bunda.”
Seketika Bulan merasa sangat bahagia ketika mendengar perkataan bunda. Awalnya dia sangat takut bahwa orangtua Bintang tidak akan menerimanya dikarenakan mereka memiliki hubungan beda agama. Tapi kini dia merasa senang karena perkataan bunda sama saja dengan telah menerima Bulan.
“Orang rumah pada kemana ya bun? kok kelihatannya sepi banget.”
“Rumah mah memang kayak gini sepi kalau belum pada pulang. Bunda aja juga baru pulang.”
“Baru pulang dari mana bun?”
“Pulang dari sekolah. Kan Bunda ini seorang guru.”
“Wah ternyata bunda guru. Bulan baru tahu.”
“Jadi si Bintang enggak kasih tahu kamu?”
“Enggak bun. Kak Bintang enggak ada kasih tahu apa-apa tentang keluarganya.”
“Bunda ini guru SMP. Dan Bintang itu empat bersaudara. Dia anak ketiga. Kakaknya yang pertama Satya sekarang lagi kerja di kantornya. Kakak keduanya Amanda sedang kuliah. Dan adiknya Amelia hari ini ada eskul disekolahnya. Tapi tidak perlu khawair, mereka semua pasti akan pulang nanti malam.”
“Terus ayah kemana Bunda?”
“Ayahnya Bintang sudah meninggal dua tahun yang lalu.”
“Ah maaf bunda Bulan enggak tahu..”
“Enggak apa-apa.” Bunda tersenyum. “Kenapa kamu manggil Bintang dengan sebutan kakak? Apa Bintang yang nyuruh kamu manggil dia kayak gitu?”
“Enggak kok bunda. Cuma memang Bulan setahun lebih muda dari Kak Bintang.”
“Berarti kamu masih kelas dua SMA sekarang?”
“Iya bunda.”
“Kirain bunda satu angkatan sama Bintang. Padahal bunda sudah berharap bisa menimang cucu bunda.”
“Eh..” Bulan terkejut hingga tidak dapat berkata-kata.
Bulan merasa seperti tidak mau mempercayai pendengarannya. Karena apa yang baru saja didengarnya sama saja dengan bunda telah memberikan restunya untuk menikah dengan anaknya.
Menikah?
Wajah Bulan langsung berubah menjadi merah padam.
“Tapi enggak usah buru-buru. Kalau Bulan setelah lulus SMA mau melanjutkan kuliah atau ada yang ingin diraih, bunda bakalan tetap kasih restu bunda. Dan Bintang pasti juga bakalan nunggu kamu. Lagian anak itu bilang katanya ingin kuliah seperti kakaknya.”
“Kalau boleh tahu Kak Bintang mau kuliah ambil apa bunda?”
“Dia bilang mau ambil sastrawan. Katanya dia mau jadi penulis terkenal.”
“Bulan baru tahu kalau Kak Bintang punya impian seperti itu.”
“Sesekali kamu harus ke kamarnya dan membaca buku bersampul merah diatas meja belajarnya. Dibuku itu semuanya penuh dengan puisi buatannya.”
Seketika Bulan teringat dengan sebuah kertas yang di ambilnya ketika mereka meniggalkan UKS. Di kertas itu ada tulisan tangan dari Bintang. Isinya adalah sebuah puisi yang ditulisnya sendiri.
Sebuah puisi yang cukup menyentuh hatinya…
*****
__ADS_1
Saya berterimakasih sekali kepada semua pembaca yang bersedia membaca cerita saya sampai sekarang. Jangan lupa untuk mendukung author dengan like, komen dan vote kalian.