Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu

Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu
Diana Yang Menghilang


__ADS_3

Bandung, 12 September 2018


Sudah lebih dari seminggu Bintang berangkat sekolah dengan Bulan. Dan selama itu pula dirinya tidak pernah mendapatkan kabar dari Diana. Bahkan walaupun mereka satu sekolah Bintang tidak pernah bertemu dengan Diana.


Dia tidak pernah bertemu dengan gadis itu kantin sekolah. Bahkan ketika dirinya berjalan dikoridor kelas pun tak pernah saling berpapasan.


Sejujurnya Bintang merasa khawatir dengan Diana. Namun semua memang harus seperti ini. Mereka berdua tidak bisa bersama dengan status yang lebih. Dan Bintang juga telah jatuh cinta kepada Bulan.


Cepat atau lambat Diana juga akan mengetahui kedekatannya dengan Bulan. Dan suatu saat nanti dia pasti akan mengerti.


Satu-satunya hal yang tidak ia harapkan adalah Diana tidak pernah mengabarinya lagi. Dia tidak pernah mengharapkan gadis itu akan menjadi seperti ini. Mungkin gadis itu memang butuh waktu untuk terbiasa dengan kedekatannya kepada Bulan.


Jadi karena itu lah Bintang juga tidak pernah menanyakan kabar Diana. Sehari-harinya dia hanya membalas pesan dari Bulan dan sekali-kali menelepon gadis itu.


Awalnya Bintang juga tidak terbiasa dengan semua ini. Biasanya dia akan selalu mendapatkan telepon dari Diana. Terkadang gadis itu akan memintanya menjemputnya. Dia yang selalu bersikap manja dan menggodanya.


Hari ini Bintang dan teman-temannya duduk di pinggir lapangan melihat anak kelas sebelas yang sedang berolahraga. Kebetulan pagi ini kelas mereka memiliki jam kelas kosong. Bintang sengaja mengajak teman-temannya untuk turun menonton. Karena kelas yang sedang mendapatkan jam olahraga pagi ini adalah kelas nya Bulan.


“Hoam…bosan cuma ngeliatin aja.” Hamdan yang berada disebelah Bintang menguap.


“Tantangin tanding bola aja.” Rangga memberikan saran.


“Boleh tuh.”


“Mumpung kita jam kosong juga. Gimana menurut lo?” Hamdan bertanya kepada Bintang.


“Gue sih oke aja. Lagipula kan strikernya lo.” Bintang membalas.


“Oke sudah diputuskan kita bantai mereka.”


Setelah selesai jam olahraga Bulan dan teman-temannya duduk di pinggir lapangan untuk berteduh. Mereka merasa sangat lelah. Gadis itu memejamkan matanya dan menghirup udara segar untuk menstabilkan pernapasannya.


Dia terkejut ketika merasakan sesuatu yang dingin sedang menempel di pipinya. Dia membuka matanya dan melihat sebotol air mineral dingin di pipinya. Kemudian dia melihat siapa orang yang sudah memberikan nya minuman itu.


“Kak Bintang?” Bulan merasa heran kenapa pemuda itu ada disini.


“Minum dulu nih.” Jawab pemuda itu tersenyum.


Bulan langsung meneguk air dingin itu hingga tersisa setengah.


“Hah, segernya.” Bulan menyeka keringat di wajahnya. Kemudian dia memandang kembali pria yang berdiri di depannya.


“Kok ada disini? Enggak masuk kelas? Bulan enggak suka ya kakak bolos.”


“Aku enggak bolos. Memang ada jam kosong aja. Kebetulan mereka ngajak tanding sama kelas mu.” Bintang memandang ke arah teman-temannya yang sedang bernegosasi dengan murid pria dari kelas Bulan.

__ADS_1


“Woy…ayo mereka dah setuju.”Hamdan berteriak memanggil Bintang.


“Ya sudah aku kesana. Jangan main panas-panasan.” Bintang memandang ke arah Bulan. Dan gadis itu juga sedang memandang ke arahnya.


“Semangat..” Kata gadis itu tersenyum manis.


“Kalau kayak gini langsung tambah semangat aku.” Bintang berjalan pergi sembari tertawa.


Pertandingan pun dimulai. Dari kelas Bintang pemain depan adalah dirinya dan Hamdan. Sedangkan dari kelas Bulan adalah murid yang bernama Edi dan Farhan.


Setelah Bintang pergi menjauh meninggalkan Bulan, baru setelah itulah teman-temanya berani mendekati Bulan.


“Emmm…ada yang habis dibawakan minum nih sama kak Bintang.” Eli tersenyum.


“Lo enggak sadar?”


“Apaan?”


“Dari tadi tuh kak Bintang sama teman-temannya sudah ngeliatin kita dari pinggir lapangan.”


“Kok gue baru tau.”


“Lo mah diperhatiin sama cowok ganteng malah enggak sadar.”


Sejujurnya Bulan memang benar-benar tidak sadar. Tiba-tiba saja pemuda itu telah berada di dekatnya memberikannya minuman dingin.


Ini juga pertama kalinya Bulan melihat Bintang bermain sepak bola. Harus gadis itu akui permainan dari pemuda itu begitu bagus. Karena Bintang dan Hamdan berdua telah membantai murid pria kelas nya. Hanya dalam waktu setengah jam saja mereka sudah mencetak skor menjadi 7:0.


“Kak Bintang hebat banget.” Komentar Bulan.


“Lo baru tau kalau kak Bintang bisa main bola?” Tanya Eli.


“Gue baru kali ini liat dia olahraga.”


“Wajar itu mah. Dia memang jarang keliatan kalau olahraga. Tapi jangan salah, kalau sudah kelas meeting kelasnya dia pasti yang masuk final. Apalagi kalau kak Hamdan juga main. Kak Hamdan itu pemain unggulan dari eskul disekolah kita.”


“Kak Bintang enggak ikut eskul futsal juga?”


“Dia mah enggak. Tapi waktu SMP sih dengar-dengar dia jago main sampai ikut lomba futsal antar sekolah.”


“Pantas mereka berdua hebat betul.”


Bulan kembali memandang pertandingan di lapangan. Pertandingan itu berakhir ketika bel istirahat berbunyi. Bulan langsung berdiri menghampiri Bintang.


“Nih minum dulu.” Bulan menyerahkan botol minuman yang tersisa setengah kepada Bintang.

__ADS_1


Bintang tidak menolaknya. Dia langsung meneguk habis air minuman itu.


“Makasih.”


“Harusnya Bulan yang bilang makasih dah bawain air minum.”


“Tapi kan kamu kasih lagi ke aku.” Bintang tertawa.


“Bin ayo ke kantin.”


Bintang memandang ke arah teman-temannya yang sudah siap pergi ke kantin.”


“Aku mau ke kantin. Kamu pergi sama teman mu sana ganti baju.”


“Oke. Kakak tuh bau keringat.” Bulan berpura-pura mengeluh.


“Kalau gitu jangan deket-deket nanti baunya nular ke kamu.”


“Ya udah kalau gitu Bulan duluan mau balik ke kelas.”


“Oke.”


Bintang langsung pergi bersama teman-temannya menuju kearah kantin.


“Lo liat kan, mereka enggak berkutik ngelawan kita.”


“Sudah pasti class meeting tahun ini kita yang juara.”


“Selama ada Bintang sama Hamdan mah yang kayak gitu kecil.” Higo merangkul Bintang dan Hamdan.


“Woy enggak usah deket-deket lo bau keringat.” Bintang langsung menghindar berlari menuju pintu kantin.


Disaat itu lah dia secara tidak sengaja bertemu dengan Diana dan teman-teman nya yang baru saja keluar dari kantin. Langkah mereka berdua saling terhenti. Mata mereka saling bertatapan. Namun ada yang berbeda dari Diana. Mata gadis itu sedikit dingin memandang nya.


Diana langsung berjalan kembali setelah berhenti sejenak. Ketika gadis itu ingin melewatinya, Bintang menghentikan nya.


“Din, kamu kemana aja kok baru keliatan? Kamu enggak apa-apa kan?”


“Diana mau ke kelas kak.” Diana bahkan tidak berpaling sedikit pun. Dia langsung pergi meninggalkannya.


Rani dan Indri yang melihat itu hanya bisa menghembuskan nafas yang semenejak tadi mereka tahan. Mereka tadinya takut akan terjadi perang dunia ketika dua orang ini bertemu. Mereka langsung berlari menyusul Diana.


Teman-teman Bintang yang melihat itu hanya diam dan menggelengkan kepala nya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2