
Setelah sampai di sekolah, Bintang membantu memasangkan kompor untuk gadis itu.
"Coba nyalakan kompornya."
Cteek…
"Sudah bisa nyala, Kak." Gadis itu tersenyum menatap Bintang.
"Baguslah kalau gitu sekarang cepat kalian masak. Jangan sampai kalian gak makan malam ini."
"Siap, Kak.." Anggota kelompok itu menjawab dengan serempak.
Kemudian Bintang pergi meninggalkan tenda mereka untuk mengecek kesiapan yang lain. Sebenarnya posisi Bintang cukup penting dalam kepanitian acara ini. Itu juga yang membuatnya tidak mau meninggalkan area perkemahan jika tidak mendesak.
Bintang berjalan menuju ruang sekretariat. Dimana ruangan yang dikhususkan untuk anggota panitia. Bintang langsung duduk dan memejamkan matanya di kursi, berusaha membuat dirinya nyaman.
"Jadi gimana, Bos?" Bondan bertanya pada Bintang.
Bintang membuka sebelah matanya, memandang ke arahnya.
"Hah, apa yang maksudnya gimana ini?"
"Jangan berpura-pura. Bukan nya lo sudah melakukan pergerakan sama anak baru. Gue tau lo pasti sudah bosan sendiri jadi mulai tebar pesona ke anak baru."
"Peh, kalau bukan karena Kartini gue gak akan mau ngantarin anak baru itu." Bintang langsung membantahnya.
"Ayolah. Enggak usah malu-malu sama temen sendiri. Lo sudah lama jomblo sendiri. Enggak bosan kamu sama status lo? Atau lo mau status lo naik jadi jones?"
"Ugghhh...perkataan lo itu sungguh menusuk." Jawab Bintang.
"Benar yang diomongin sama Bondan. Lo tu harusnya mulai nyari pasangan." Riky menambahkan.
"Atau jangan-jangan sebenarnya lo ini gak laku?" Tanya Hamam sambil tertawa.
"Heh...lo ngomong apa coba ulang lagi kalau berani." Bintang langsung menggulung lengan bajunya seperti bersiap memberikan pukulan. Tentu saja itu hanya sebuah candaan.
"Tapi setelah difikir-fikir apa yang diomongin Hamam itu kayaknya benar." Riky berbicara dengan wajah serius.
"Mungkin iya. Lo tu gak laku karena sikap lo yang galak dan juga dingin ke wanita." Bondan ikut memprovokasi.
"Dengan sikap lo yang seperti itu, gadis mana yang gak takut sama lo." Hamam berbicara lagi.
Bintang mengerutkan keningnya. Sebenarnya dia tidak apa-apa merasakan jomblo lebih lama lagi. Walaupun terkadang dia merasa kesepian tapi itu semua terbalaskan dengan kesibukannya di ekstrakurikuler.
Untuk apa dia menjauhi wanita?
Ini semua agar dia tidak merasakan rasa sakit yang sama lagi. Dia tidak ingin dirinya hancur kembali karena wanita. Dia tidak ingin hatinya dipermainkan lagi.
Bintang menghela nafas kesal.
"Baiklah. Mungkin gue akan memilih seorang gadis dari anak baru." Bintang tersenyum memandang teman-temannya. Tentu dia berbohong. Ini semua agar mereka tidak terus membahas topik tentang wanita.
"Nah ya gitu dong."
"Pokoknya kalau sudah ada yang masuk kriteria langsung tandai."
"Iya. Kita bantu biar lo cepat dapat pasangan. Dan kita juga cepat dapat traktiran makan." Kata Riky dengan tertawa keras.
"Peh...jadi sebenar nya itu tujuan busuk kalian." Bintang mengumpat dan memandang mereka dengan kesal.
Acara perkemahan itu berjalan dengan lancar, semua aman terkendali sesuai jadwal.
Bintang selalu berkeliling area perkemahan untuk sekedar melihat situasi. Dan setiap Bintang melewati tenda gadis itu, ia dan teman-temannya selalu menawarkan makanan dan minuman. Justru hal itu membuat Bintang terkejut
Apa mereka enggak takut sama gue?
__ADS_1
Dirinya ini bisa dibilang sebagai sosok yang tidak ingin ditemui oleh murid baru. Jangankan memanggilnya. Berpapasan di jalan saja banyak yang menundukan kepalanya atau parahnya lagi langsung putar balik memilih jalan lain agar tidak berpapasan dengannya.
Dia memang sering memasang wajah datar ketika berpergian kemana-mana. Tapi sebegitu menakutkankah dirinya?
Jika mengingat kembali ketika masa orientasi murid baru, dia memang sepertinya sedikit kejam dalam menghukum mereka. Tapi biarlah, yang sudah berlalu biarlah berlalu. Apa yang perlu difikirkannya cukup hanya masa depan yang masih terbentang jauh.
Siang itu ketika dia sedang berkeliling, dia mendapatkan kabar dari murid baru yang mengatakan kepadanya bahwa ada murid laki-laki yang sedang merokok di dekat wc sekolah. Murid itu ketakutan dan hanya bisa berlari melaporkan kejadian tersebut kepadanya. Dia tidak heran dengan itu, karena di sana memang cukup sepi. Merokok di sekolah adalah hal yang dilarang. Jika itu diluar sekolah dia tidak akan peduli. Tapi ini terjadi di sekolah ketika kegiatan sedang berada di bawah pengawasannya. Bagaimana mungkin dirinya bisa melepaskan kejadian in begitu saja.
Dia pun memutuskan menuju ke arah lokasi kejadian.
*****
Siang hari itu ketika kegiatan sedang ramai-ramainya bermain game, murid baru terlihat begitu antusias. Walaupun cuaca siang hari itu sangat panas. Terlihat mereka berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik dalam menyelesaikan game yang telah disiapkan panitia.
Namun, suara teriakan dari seseorang memecah keramaian itu.
Mereka melihat lima orang murid baru sedang berjalan jongkok ke arah panggung. Di belakang barisan itu mereka melihat sosok senior yang mereka kenal. Sosok yang juga mereka takuti. Siapa lagi jika bukan Bintang.
"Berhenti di depan pangggung." Teriaknya.
Para murid baru itu menuruti perintahnya.
"Kalian murid baru harus ingat ini. Disekolah dilarang keras untuk merokok. Saya tidak peduli bagaimana kalian di luar sekolah. Namun, selama di sekolah jangan harap kalian bisa lepas dari hukuman. Mereka adalah bukti nyata yang harus kalian lihat. Untuk kalian berlima, lari putari lapangan sepuluh kali."
Lima orang murid baru itu hanya bisa pasrah ketika harus berlari mengitari lapangan sekolah yang terbilang sangat luas.
Kegiatan pun berjalan kembali seperti semula.
Anggota pramuka yang lain berjalan menghampiri Bintang untuk memastikan kondisi.
"Kalian dengar ini. Perketat keamanan di sekolah selama kegiatan perkemahan. Gue gak mau dengar laporan kejadian ini terulang lagi. Jika sampai terulang maka koordinator keamanan harus memberikan laporan yang memuaskan buat gue."
Murid yang menjadi koordinator keamanan langsung terlihat pucat mendengar itu. Siapa yang tidak tau seperti apa senior mereka itu jika sudah marah.
Ketika mereka tau bahwa senior yang mereka bicarakan sedang melihat ke arah mereka, semua gadis itu langsung menunduk kan kepala malu-malu.
Setelah game itu selesai, kini waktunya untuk sayonara bersiap-siap untuk acara penutupan.
Para murid baru didampingi dengan para panitia mulai menjalankan operasi bersih-bersih. Bintang memang sengaja memilih kelompok gadis yang telah di bantunya itu.
Dia hanya memberikan komando bagian mana saja yang akan mereka bersihkan. Mereka terlihat begitu semangat. Setelah bersih-bersih selesai, mereka menyuruh Bintang untuk menunggu di kelas yang telah mereka bersihkan. Dan Bintang pun mengiyakannya.
Tak lama kemudian mereka kembali dengan membawa minuman dan makanan ringan.
"Kak, karena sudah mau pulang kita habisin aja makanannya. Sebagai tanda terima kasih juga buat Kakak." Ucap gadis itu.
"Ah kalian gak perlu repot-repot. Tapi gue gak akan nolak." Jawab Bintang dengan wajah datar.
Kami pun beristirahat menikmati apa yang ada di depan mata. Bintang meneguk minumannya sampai tersisa setengah gelas. Kemudian Bintang berpura-pura berkomentar.
"Hemm...rasanya kayak agak pedas."
"Masa iya, Kak?"
"Yang benar, Kak?"
Sekelompok gadis itu berebut untuk menjawab kometar Bintang.
"Coba sini, Kak, gue coba.." Gadis itu menghampiri Bintang. Kemudian dia merebut gelas yang jelas masih digenggam oleh Bintang. Dan yang mengejutkan adalah, ia meminum bekas minuman Bintang yang tinggal setengah gelas itu.
Wait, bukankah ini ciuman secara tidak langsung?
Walaupun Bintang sangat terkejut, tapi ia tetap memasang wajah datar akan hal itu. Berkebalikan dengan Bintang, teman-teman sekelompoknya langsung menyoraki tindakan gadis itu.
"Ciee..."
__ADS_1
"Hemmm.. Wah gak lama nih."
"Iya gak lama nih ada yang cinlok."
Bintang tidak bisa menahan diri untuk tersenyum melihat mereka seperti itu.
"Wah Kak Bintang senyum. Ini pertama kalinya gue liat Kak Bintang tersenyum."
"Gue juga."
'Apakah senyum gue itu sebuah barang yang langka?' Bintang bertanya di dalam hati.
"Kak dimakan juga ini biskuitnya." Gadis itu menyodorkan beberapa biskuit.
"Ah gak kayaknya, tangan Kakak kotor karena bersih-bersih tadi."
Gadis itu hanya mengangguk dan kemudian mengambil biskuit di piring.
"Kalau gitu biar ku suapin, Kak." Dia menyuapkan biskuit itu ke arah Bintang. Dan Bintang yang terkejut dengan tindakan gadis itu hanya bisa pasrah membuka mulutnya dan memakan biskuit itu.
Sontak kejadian itu membuat teman-teman kelompoknya lebih histeris.
"Gila..dia gerak cepat."
"Ngerik langsung ngincar kakak kelas."
"Enak." Kata Bintang memuji.
"Kalau gitu makan lagi nih, Kak." Dia menyuapkan lagi sepotong biskuit pada Bintang. Walaupun wajahnya sudah memerah karena menahan malu.
"Terima kasih." Ucap Bintang.
Setelah selesai melaksanakan upacara penutupan, semua murid baru dipersilahkan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Bintang hanya berdiri di dekat lorong melihat ke arah parkiran yang kini ramai dengan murid baru yang sudah tidak sabar untuk pulang. Dirinya hanya sekedar memastikan semuanya aman.
Kemudian dia melihat gadis yang ditolongnya itu duduk tidak jauh dari posisinya. Bintang berjalan menghampirinya dan kemudian duduk di dekatnya.
"Kok belum pulang?" Tanya Bintang memandang gadis itu.
"Iya, Kak. Ini nunggu kakak jemput."
"Oh gitu..."
Hening sejenak di antara mereka berdua.
"Gue rasa kita belum kenalan. Siapa nama lo?" Bintang mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan.
"Ah iya Kakak belum tahu nama ku ya? Kenalin, Kak, namaku Wulan." Ia membalas jabatan tangan Bintang
"Nama Kakak Bintang."
"Aku sudah tahu, Kak." Jawabnya sambil tertawa.
Bintang pun ikut tertawa mendengarnya. Setelah diperhatikan lagi, sebenarnya Wulan ini memiliki paras yang sangat manis. Dengan rambut panjang sepinggangnya juga menambah kesan manis pada dirinya.
Kemudian tidak lama kakak yang dimaksud Wulan itu datang. Bintang terkejut, itu karena dia kenal siapa yang dimaksud Wulan sebagai kakaknya.
Dia adalah seorang pemuda yang dikenalnya. Kalau tidak salah namanya adalah Arga. Murid kelas sebelas, yang merupakan adik kelasnya. Justru yang membuatnya bingung adalah; bagaimana mereka bisa dibilang saudara? Sedangkan mereka berdua beda agama.
Setelah semua murid baru pulang. Kini sekolah kembali damai. Menyisakan anggota panitia yang masih bertahan.
Bintang masih mengingat gadis tadi. Dia akan mengingat namanya.
Wulan...
__ADS_1