Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu

Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu
Menghabiskan Waktu Dengan Diana


__ADS_3

"Panas sekali...."


"Entah ini sudah keberapa kalinya kamu ngeluh Din."


"Lagian panas betul kak. Kalau dah sampai rumah Diana pokoknya mau berdiam diri di depan kipas sambil makan ice cream."


"Patut dicoba."


"Kalau gitu kasih laju kak biar cepat sampai. Nanti mampir aja dulu di rumah Diana. Di kulkas ada banyak ice cream."


"Pegangan jangan sampai jatuh."


Bintang menambah laju montornya.


"Hei aku menyuruh mu untuk pegangan bukan memeluk ku."


"Kalau kayak gini lebih aman." Diana membenamkan kepalanya di punggung Bintang dan tersenyum.


Bintang hanya bisa mendesah kecil.


'Semoga Bulan tidak melihatnya.'


Akhirnya mereka pun sampai dirumah Diana.


"Akhirnya sampai juga..." Diana turun dari montor dan langsung meneduh ke teras rumah.


"Kok tutupan rumahnya?"


"Tadi ibu nelepon katanya keluar ada urusan."


"Kamu ada kunci rumahnya?"


"Ada dong. Diana bawa kunci cadangannya kok." Diana menunjukan kunci di tangannya.


Diana membuka pintu rumah.


"Ayo kak masuk."


Namun Bintang tidak langsung masuk. Bintang ragu apakah ini adalah hal yang baik. Berkunjung ke rumah seorang gadis ketika rumahnya sedang kosong. Apa kata tetangga nanti?


"Kakak langsung pulang aja deh."


"Ayo kak masuk. Enggak apa-apa kok." Diana menarik Bintang masuk ke dalam rumah.


Bintang menuruti keinginan gadis itu.


'Lagipula tadi di jalan gadis itu bilang di kulkas rumahnya ada banyak ice cream.'


"Bentar dulu ya kak Diana mau ambilin minuman. Nyalain aja TV nya kalau kakak mau nonton."


Bintang duduk di sofa ruang tamu rumah Diana. Tak lama kemudian Diana muncul dari dapur membawa dua gelas minuman jeruk.


"Kak Diana mau mandi bentar. Kakak tunggu disini aja."


"Kakak pulang aja deh kalau gitu." Bintang beranjak dari sofa.


"Eh jangan kak. Tunggu Diana mandi bentar aja. Masak Diana mau nemenin kakak bau keringat kayak gini." Diana mulai memohon.


"Tapi kakak juga keringatan tuh."


"Halah...tunggu bentar aja."


Entah karena apa namun mata Diana mulai memerah dan berkaca-kaca. Bintang yang melihat itu merasa tidak tega.


"Ya udah kakak tungguin. Sana buruan mandi. Kalau lama kakak tinggal ini." Bintang duduk kembali di sofa.


"Oke. Jangan kabur lo kak."


Diana langsung terlihat semangat. Gadis itu berlari menuju ke kamarnya di lantai dua.

__ADS_1


"Hei jangan lari di tangga itu bahaya."


"Diana handal kok."


Terdengar suara Diana dari lantai dua.


"Hah, gadis ini..." Bintang mendesah pelan.


Untuk menunggu Diana Bintang menonton televisi dan meminum minuman yang telah disediakan oleh Diana. Namun setelah sekian lama menunggu Diana tak juga muncul dari lantai dua. Bahkan Bintang sudah menghabiskan dua gelas minuman yang ada di meja seorang diri.


"Diana...Jangan lama-lama." Bintang berteriak memperingatkan gadis itu.


"Iya kak. Ini dah mau turun kok." Terdengar balasan dari gadis itu.


"Maaf dah bikin nunggu lama." Diana menuruni tangga dan berjalan ke arah Bintang.


Dia duduk di sebelah Bintang dan meneguk minuman yang tinggal sedikit. Tanpa memikirkan bahwa yang telah diminumnya adalah minuman Bintang.


Gadis itu kini telah menggunakan pakaian biasa. Kulitnya terlihat lebih segar setelah mandi. Bintang bisa melihat rambut gadis itu masih basah. Dan dia bahkan juga bisa mencium aroma wangi dari tubuh gadis ini. Sejenak Bintang terlihat linglung karena pesona gadis itu.


Diana yang akhirnya menyadari jika semenjak tadi Bintang terdiam dan hanya memperhatikan dirinya tanpa berpaling sedikit pun mulai tersipu. Wajah gadis itu memerah.


"Kak..."


"Ah iya maaf ada apa.." Bintang yang akhirnya sadar bingung setelah di panggil oleh Diana.


"Dari tadi kakak cuma diam ngeliatin Diana terus.." Diana menundukan kepalanya tanpa berani memandang wajah pria disebelahnya.


Tingkah laku Diana yang malu-malu membuat pesonanya bertambah di mata Bintang.


Gulp...


Tanpa sadar Bintang meneguk air liurnya sendiri. Setelah tersadar dari keadaan linglung, dirinya mencoba mencari topik pembicaraan.


"Katanya mau ngasih kakak ice cream Din?"


"Eh iya Diana ambilin dulu ya di dapur."


"Panas kayak gini makan ice cream langsung segar lagi." Komentar Bintang.


"Ini kak.." Diana meletakan ice cream di atas meja.


Kemudian mereka menikmati memakan ice cream bersama sambil menikmati siaran televisi. Walaupun ujung-ujungnya ricuh karena Diana ingin menonton film drama sedangkan Bintang melarang karena itu tidak bagus untuk Diana.


"Kakak lapar gak?"


"Iya lapar."


"Ayo makan bareng. Tapi kitanya masak dulu."


"Oke. Bakalan kakak buktikan kemampuan masak kakak."


"Heh, memangnya kakak bisa masak?"


"Bisa dong."


"Baru tau Diana. Sepertinya tidak menyakinkan."


"Loh, Diana belum tau aja."


"Ya udah ayo ke dapur."


Mereka berdua pun menghabiskan waktu di dapur untuk makan siang mereka. Karena Bintang bilang ingin memasak, maka Diana hanya membantunya. Setelah selesai mereka berdua duduk di meja makan.


"Hemm...enggak nyangka masakan kakak enak juga." Diana yang menyantap makanan buatan Bintang berkomentar.


"Siapa dulu yang masak. Kakak dirumah tiap malam masak sendiri kalau lapar. Jadi sudah sedikit bisa."


"Wah pas banget."

__ADS_1


"Pas apa nya?"


"Pas banget kayak calon suami idaman Diana. Harus bisa masak."


"Pasti ada nanti."


"Tapi mungkin enggak ada yang masakannya enak kayak kakak."


Setelah makan mereka kembali keruang tengah. Mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol berdua. Karena biasanya mereka juga jarang punya waktu seperti ini. Diana bercerita dengan begitu semangat. Dan Bintang menjadi pendengar yang baik tersenyum mendengarkan. Kadang mereka berdua akan tertawa bersama.


Suatu waktu Diana lelah bercerita tentang dirinya.


"Kak, gantian dong cerita tentang kakak." Diana mengeluh manja.


"Enggak ada yang menarik tentang pengalaman hidup kakak."


"Enggak apa-apa Diana mau dengerin."


Setelah berulang kali dipaksa oleh Diana akhirnya Bintang menuruti keinginan gadis itu. Diana merebahkan dirinya di sofa dan mendengarkan cerita Bintang. Dia terlihat begitu antusias seperti menantikannya.


"Ayo kak buruan cerita."


"Sabar."


"Diana udah enggak sabar pengen denger. Biar Diana tau kayak mana sebenarnya seorang kak Bintang menjalani hidupnya."


Kemudian Bintang mulai menceritakan sebagian tentang dirinya. Ketika tanpa sadar Bintang terfokus dalam ceritanya. Bintang melihat mata Diana telah tertutup.


"Din, kamu tidur?"


"..."


Tidak ada tanggapan dari gadis itu.


'Sepertinya dia tertidur karena kelelahan.'


Bintang meregangkan otot ditubuhnya yang telah kaku. Tanpa sadar Bintang juga merasa lelah dan mengantuk. Bintang pun merebahkan dirinya disofa berseberangan dengan Diana. Dia memejamkan kedua matanya dan tertidur.


Sekitar pukul 5 sore, ibu Diana baru kembali ke rumah. Dia melihat montor ninja berwarna merah terparkir di halaman rumahnya. Dia tau montor ini milik siapa. Siapa lagi selain pria yang selalu menjemput anak gadisnya itu.


Dia membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.


"Diana..."


Tidak ada jawaban sama sekali. Yang terdengar hanyalah suara televisi di ruang tengah. Ibu Diana berjalan keruang tengah. Dilihatnya putri tercintanya itu kini tertidur di sofa. Dan berseberangan dengannya seorang pria juga tertidur di sofa.


Mungkin jika itu adalah pria lain dirinya akan langsung marah besar. Namun karena dia kenal pemuda ini begitu baik, dia tidak merasa khawatir sedikit pun. Dia kenal pemuda tersebut yang telah melindungi putrinya selama ini sebagai seorang kakak. Siapa lagi jika bukan Bintang.


Saat dirinya memandang kembali putrinya, ada sedikit sorot kesedihan di matanya.


Bagaimana mungkin dia tidak tau kalau putrinya ini menyukai pria itu. Sayangnya sepertinya pria itu hanya menganggap putrinya sebagai seorang adik.


"Din, bangun dah sore." Ibu Diana membangunkan putrinya.


"Ibu dah pulang?" Diana akhirnya terbangun. Namun kedua matanya masih belum merasa segar.


"Iya baru aja. Bangunin kak Bintang, ini dah sore. Orang tuanya pasti nyariin."


Diana berjalan ke arah Bintang. Dia duduk di sofa itu.


"Kak bangun..." Diana membangunkannya.


"Ah, jam berapa ini?" Tanya pemuda itu.


"Sudah jam 5. Ibu juga sudah pulang. Kalau kakak mau pulang enggak apa-apa. Mau nginep juga boleh. Iya kan buk?" Diana bertanya kepada ibunya.


"Eh.." Bintang langsung bangun terkejut. "Kakak pulang aja sudah sore ini. Belum mandi juga."


"Iya deh. Lain kali main lagi kesini ya kak."

__ADS_1


"Iya.."


Setelah berpamitan Bintang pun pulang kerumahnya.


__ADS_2