Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu

Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu
Rindu Yang Begitu Dalam


__ADS_3

Setelah sampai dirumah nya Bintang langsung pergi mandi dan merebahkan diri dikasur kamar nya.


“Memang lebih nyaman kasur dirumah.” Bintang menghirup udara dalam-dalam.


Karena merasa begitu lelah Bintang tertidur. Ketika terbangun dia langsung menyalakan ponsel nya yang berada di atas meja. Sekarang menunjukan pukul 7 malam.


Dia kaget melihat seratus pesan masuk dari Bulan. Sebenarnya isi pesannya hampir sama yaitu gadis itu merindukan dirinya. Mau bagaimana lagi kemarin seharian dia tidak mendapatkan jaringan dan pagi tadi ponselnya mati.


‘Lebih baik gue telepon.’


Bintang menelepon gadis itu. Selang beberapa detik panggilannya langsung terhubung.


“Halo..”


“…”


Tidak ada tanggapan dari Bulan.


“Maaf apa ini dengan mbak Bulan?”


“Emm..”


‘Dia pasti marah.’ Bintang tersenyum pahit.


“Jadi begini mbak Bulan. Kami mendapatkan laporan dari klien bahwa ada seseorang yang merindukannya. Dan saya sebagai pihak perantara dititip kan pesan bahwa dia juga rindu…”


Terdengar suara tawa gadis itu.


“Kakak kemana aja sih dari kemarin enggak ada kabar?” Suara gadis itu mulai serak.


Bintang merasakan masam dihidungnya. Dia tau gadis itu menangis. Dirinya juga tidak bisa menahan diri melihatnya.


“Maaf Bulan. Kemarin harusnya kakak dah pulang, tapi kita mampir ke pantai pangandaran dulu nginap disana semalam. Kemarin kakak enggak ada jaringan. Dan tadi pagi ponsel kakak mati.”


“Huh, alasan aja. Bilang aja di pantai lagi senang-senang sama cewek makanya enggak ada waktu buat hubungin Bulan. Uhh pasti senengnya bisa berduan sama cewek di pantai. Mainan air berdua kejar-kejaran.” Bulan mendengus kesal.


“Tapi kakak beneran enggak bohong.”


“Sudahlah Bulan enggak mau dengar apa-apa.”


“Yakin? Katanya tadi ada yang rindu. Kalau gitu ya udah ku matikan aja.”


“Eh jangan.”


“Kenapa?”


“Dasar kakak enggak peka.”


“Kata-kata mu kejam sekali.” Bintang langsung merasa kehilangan semangat.


“Jangan bilang kakak enggak bawain Bulan apa-apa.”


“Ada kok aman aja. Kakak enggak mungkin lupa.”


“Emmm…”


Suasana menjadi hening. Tidak ada yang berbicara.


“Kak..” Terdengar suara gadis itu. Bintang bisa mendengar isak tangis gadis itu.


“Kenapa?” Tanya ku begitu lembut.


“Rindu..”


“Rindu siapa?”


“Iya rindu...”


“Iya kamu lagi rindu siapa?”


“Iya rindu pokoknya.”


“Iya itu makannya kamu sekarang lagi rindu siapa?”


“Sudah ku bilangin kalau Bulan tu lagi rindu.” Terdengar suara kesal Bulan yang merengek.

__ADS_1


“…”


“Enggak rindu sama aku?”


“Emm…iya aku rindu kau.” Terdengar suara lirih gadis itu.


“Aku juga rindu kau.”


“Benar kah?”


“Iya benar.”


“Benarkah itu?”


“Sangat benar.”


“Sungguh?”


“Iya sungguh benar. Rindu ku lebih dalam dari rindu mu…”


“Bohong…” Terdengar suara Bulan berteriak.


“Aku enggak bohong.”


“Itu memang sebuah kebohongan. Sudah pasti kalau rindu nya Bulan ke kakak lebih dalam. Lebih dalam dari laut mana pun. Dan lebih luas dari samudera.”


“Pfft…”


“Loh kok malah ketawa sih. Ngejek Bulan ya?”


“Enggak kok. Cuma kalau kayak gitu berarti kamu yang salah.”


“Kenapa memangnya?”


“Karena rindu ku itu lebih dalam dari dari inti bumi. Dan lebih luas dari galaksi bima sakti.”


“Bohong.” Terdengar suara gadis itu terkejut.


“Kan enggak mau mengakui kalau kalah.”


“Kok bisa lebih dalam punya kakak dari pada punya Bulan?”


“Pffft...Puitis banget sih kak.” Bulan tertawa mendengar nya.


“Tunggu lah sebentar lagi. Kau pasti akan menjadi milik ku.”


“Dan kakak juga akan menjadi milik Bulan.”


Bintang tersenyum mendengarnya.


“Tapi tetap aja Bulan kesal enggak dapat kabar dari kemarin. Dan sekarang jadi nya Bulan nahan rindu.”


“Mau berangkat sekolah sama kakak besok?”


“Mau mau... Kalau gitu jemput Bulan jam 7 pagi. Jangan kesiangan. Jangan sampai kita telat pokok nya.” Bulan menjawab dengan penuh semangat.


“Oke. Tunggu aja besok aku datang ke rumah jemput.”


“Kak Bintang mau dibikinin bekal apa?”


“Bulan yang bikin kan?”


“Iya lah.”


“Bisa masak memang nya?”


“Bisa lah. Pasti kalau enggak bisa mau ngejek Bulan kan?”


“Enggak kok.”


“Atau berarti nanti kakak jauhin Bulan karena enggak bisa masak. Pasti mikirnya cewek kalau enggak bisa masak terus kayak mana bikin kan makanan suami nya.”


“Hei kenapa malah jadi ngomongin suami istri.” Bintang langsung menegurnya.


“Loh memang nya kenapa? Kan nanti kita bakalan jadi suami istri.” Jawab Bulan dengan polosnya.

__ADS_1


“Kamu kayak nya sudah begitu optimis sama aku.” Kata Bintang menggoda.


“Enggak yakin sih sebenarnya. Apalagi Bulan enggak tau hubungan kita sekarang ini bisa disebut apa.”


“Sabar. Suatu saat nanti aku akan menjadi milik mu.”


“Nah tu kakak juga optimis sama mau sama Bulan.”


“Iya. Aku mencintai mu Bulan.”


“Ehh…” Terdengar suara terkejut gadis itu.


“Kenapa?”


“Emm…enggak apa-apa. Cuma kaget aja. Apa ini tanda nya kakak nembak Bulan?”


“Enggak.”


“Heh..terus ini apa nama nya?”


“Ini nama nya mengungkapkan perasaan.”


“Kalau gitu perasaan Bulan ke kakak juga sama. Bulan cinta kak Bintang.”


“Terima kasih.”


“Terima kasih buat apa?”


“Terima kasih karena sudah mau mencintai diriku ini apa ada nya.”


“Kalau Bulan mah belum mau ngucapin terima kasih buat kakak.”


“Terus kapan itu?”


“Bulan mau nyimpan ucapan terima kasih itu buat nanti kalau kak Bintang dah jadikan Bulan sebagai milik kakak. Dan juga sebagai wanita paling bahagia di bumi ini.”


“Kalau gitu kakak cuma bisa bilang sabar ke Bulan buat nunggu hari itu tiba.”


“Bulan menantikannya.”


Bintang tersenyum begitu bahagia. Bahkan itu adalah senyum paling lebar yang pernah di buat nya.


“Oke karena sudah selesai sekarang adalah waktunya Bulan tanya-tanya ke kakak.”


“Aku merasakan firasat buruk.”


“Enggak susah-susah kok pertanyaan nya.” Jawab gadis itu.


“Baiklah tanya aja.”


“Kalau gitu kita mulai…”


“Kakak masih jomblo kan?”


“Kakak enggak ada diam-diam nahan perasaan ke cewek lain kan?”


“Kakak disana enggak ada godain cewek kan?”


“Kakak enggak lirik-lirik cewek kan?”


“Kakak enggak save nomer cewek baru kan?”


“Selama di pantai pangandaran kakak ngapain aja?”


“Pasti jalan berduaan sama cewek kan?”


“Kakak enggak berenang berduan sama cewek kan?”


“Kakak enggak ada ngerasain cinlok disana kan?”


“…”


Disaat itu yang ada difikiran Bintang hanyalah ingin mematikan ponselnya dan pergi tidur.


“Apa kakak harus menjawab semuanya?”

__ADS_1


“Wajib banget.”


Bintang hanya bisa tersenyum pahit mendengar nya.


__ADS_2