
Keesokan harinya setelah kami selesai mandi dan sarapan akhirnya kami bisa pulang ke Bandung. Karena lelah akhirnya kami semua tertidur tidak terkecuali Bintang dan Diana. Namun kali ini berbeda, bukan Diana yang tertidur lebih dahulu. Namun justru Bintang yang tertidur.
Diana mencari kesempatan ketika semua orang sedang tertidur. Dia merebahkan kepala Bintang di pangkuan nya. Dia mengusap rambut dan pipi pemuda itu.
“Kau bahkan terlihat tampan saat tertidur. Aku jadi ingin mencium mu.” Diana tertawa kecil.
“Tapi apakah boleh? Apakah nanti kak Bintang marah? Tapi kan pada tidur semua jadi enggak ada yang tau.” Diana memandang kursi disekelilingnya.
Setelah dia memastikan bahwa situasi aman terkendali. Dia menatap kembali wajah pemuda di pangkuannya itu. Hanya membayangkan bahwa dia akan menciumnya saja sudah membuat wajah Diana memerah padam. Dia merasa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
“Kau tau kak, selama ini aku selalu berusaha untuk bisa menjadi sedekat ini dengan mu. Semenjak kejadian itu kau selalu ada di fikiran ku. Yang ku ingin kan hanya selalu mendengar tawa mu. Aku hanya selalu ingin melihat mu bisa tersenyum. Aku bahkan selalu berfikiran egois terhadap mu dengan semua keinginan ku. Aku meminta mu memanggil nama ku. Aku selalu bersikap manja terhadap mu. Dan kau tidak menolaknya. Aku bahkan merasa seperti kau menyukai aku yang manja. Namun aku ingin kau memandang ku sebagai seorang gadis. Bukan sebagai anak kecil yang manja. Bukan sebagai adik.”
“Aku…aku selalu…aku selalu mencintai mu selama ini kak. Aku hanya ingin kau juga membalas perasaan ku ini.”
Diana mendekatkan wajah nya ke wajah pemuda itu. Dia mencium bibir pemuda itu.
Diana mengangkat wajah nya lagi dan duduk seperti biasa. Namun wajah nya telah menjadi begitu merah. Bahkan mata nya sudah berkaca-kaca. Seakan air mata bisa tumpah kapan saja. Namun itu bukan air mata kesedihan. Justru itu adalah air mata bahagia.
Dia bahagia bisa sedekat ini dengan pria yang dicintainya. Bahkan mungkin dia telah mencuri ciuman pertama pemuda itu.
‘Tunggu…apakah kak Bintang pernah berciuman dengan gadis lain selain aku?’
Wajah Diana langsung terlihat kesal.
“Lupakan lah. Yang penting sekarang aku bisa menikmati waktu bersama nya.” Diana menggelengkan kepalanya dan menyakinkan dirinya sendiri.
Diana menggenggam tangan pemuda itu dan ikut tertidur seperti yang lainnya.
Namun Diana tidak menyadari bahwa ada satu orang yang belum tertidur. Dan orang itu juga memperhatikan semua tindakan Diana.
Mereka semua terbangun ketika supir membangunkan mereka bahwa perjalanan yang panjang telah berakhir. Kini mereka berada di area parkiran sekolah. Setelah menurun kan barang bawaan dan berterima kasih kepada supir mereka berpisah. Ada yang langsung pulang kerumah ada juga yang masih berada di area sekolah seperti Diana dan Bintang.
Mereka berdua justru mampir ke kantin sekolah.
“Kak kantin mana mungkin buka hari libur gini.”
“Suruh buka lah.”
“Ihh kak kita malah nyusahin penjaga kantinnya.”
“Diana tenang aja. Semua sudah aman terkendali.” Bintang tersenyum.
“Yaudah deh Diana mah ngikut kakak aja.” Diana akhirnya juga hanya bisa menuruti keinginan seniornya itu. Karena Diana tidak membawa kendaraan. Dia akan pulang bersama Bintang.
“Kalau kamu enggak ikut kakak, nanti kamu pulang nya jalan kaki.” Bintang tertawa.
__ADS_1
Diana yang kesal langsung menggigit lengan Bintang.
“Aaahhh….”
Sepanjang koridor kelas hanya terdengar suara jeritan menyakitkan itu.
Bintang dan Diana kini duduk dikursi kantin sekolah. Bintang memasang wajah kesal dan terus mengusap lengannya yang digigit oleh Diana. Sedangkan gadis itu justru terlihat senang melihat bekas gigitannya. Seolah itu adalah sebuah karya seni berharga yang telah diciptakannya.
“Mau pesan apa mas Bintang?” Seorang ibu paruh baya yang merupakan penjaga kantin bertanya.
“Es teh nya dua buk sama bakso.”
Tidak lama kemudian ibu penjaga kantin mengantarkan pesanan mereka.
“Buk kan ini hari libur. Kok buka kantin nya?” Diana bertanya dengan rasa ingin tahu.
“Mas Bintang tadi pagi nelepon kata nya nanti suruh buka aja kantin nya soal nya dia rindu bakso buatan ibu.”
“Jangan mau buk kalau dipaksa sama orang ini.” Diana menunjuk kearah Bintang.
“Ah enggak apa-apa. Mas Bintang memang dah sering minta kantin nya tetap dibuka walau hari libur. Biasa nya dia ngajak teman-teman nya rame. Jadi nya barang jualan ibu cepat habis.”
Diana kini memandang pria didepannya dengan pandangan tidak percaya. Namun justru Bintang tidak memperhatikan Diana sama sekali. Dia memakan bakso tanpa memperhatikan ekspresi Diana.
“Ya udah kalau gitu dimakan bakso nya. Ibu mau ke dalam dulu.” Ibu penjaga kantin meninggalkan Diana dan Bintang berdua.
“Enggak juga kok.” Diana memandang ke pemuda di hadapan nya yang kini terus menikmati bakso nya.
‘Mungkin Cuma kak Bintang aja yang bisa bikin kantin sekolah buka dihari libur.’
Tanpa memikirkan nya lebih jauh Diana mulai menyantap bakso nya.
“Hah, kalau perut dah kenyang rasanya ngantuk sekali.” Bintang mengusap perut nya.
“Pulang nya mau mampir dulu istirahat dirumah Diana?”
“Enggak.”
“Ada Ice cream lo dikulkas.”
“Enggak.”
“Diana buatin jus.”
“Enggak.”
__ADS_1
“Diana masakin deh nanti.”
“Enggak mau.”
“Kenapa nolak terus sih?”
“Aku butuh mandi.”
“Mandi dirumah Dia-….”
“Enggak mau.”
“Diana ditolak lagi.” Diana langsung terlihat murung.
“Memang nya Diana enggak capek?”
“Ah benar juga. Mending Diana aja yang istirahat di rumah nya ka-..”
“Tidak akan.”
“Hah, kalau gitu lain kali ajalah Diana yang main sendiri kerumah kakak.”
“Kamu memang gadis yang tidak pernah menyerah.”
“Hehehe…” Diana tertawa. “Ceritain ke Diana dong gimana kakak bisa bikin kantin buka di hari libur?”
“Sebenar nya itu pas hari ulang tahun nya salah satu teman kakak waktu kita pada kelas dua. Kita minta dia traktiran makan. Terus dia bilang cuma mau neraktir makan di kantin sekolah. Berhubung kita nya dah pada lapar yah kita bawa dia ke sekolah. Terus kakak yang ngomong ke penjaga kantin minta dibuka kantin nya. Karena kakak dah kenal sama ibu penjaga kantin dari kelas satu, jadi nya enak aja dapat ijin nya.”
“Hemm…Jadi seperti itu.”
“Karena makanan dikantin sekolah lebih murah jadi kalau kita pada lapar atau ada yang ulang tahun pasti datang nya kesini nih. Teman-teman kakak dah kesini tadi pagi. Kakak suruh pulang aja enggak usah nungguin kakak. Takut nya nanti adik kecil ku ini digodain sama mereka.” Bintang menatap Diana dengan wajah serius.
“Apaan sih serius betul kak.” Diana tertawa melihat nya. “Lagian selama ada kakak didekat Diana mereka pasti fikir dua kali berani macam-macam.”
“Tetap aja aku enggak suka liat kamu digodain sama mereka.”
“Emm…perhatian nya sama Diana.” Diana menopang dagu nya dengan kedua tangan nya tersenyum dan menatap wajah pemuda di depan nya.
“Hei jangan liat aku dengan wajah seperti itu.”
“Kakak malu?”
“Enggak.” Bintang memalingkan wajah nya.
“Kan ketahuan.”
__ADS_1
Diana tertawa melihat tingkah laku Bintang