Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu

Bintang & Bulan : Takdir Membawa Mu
Hari Pertama Sekolah


__ADS_3

Bandung, 02 Agustus 2018.


Hari ini mungkin bisa dibilang sebagai hari pertama untuk anak baru belajar di masa SMA mereka. Seingat Bintang dulu awal masuk SMA adalah hal yang memiliki kesan mendalam baginya.


Dia baru saja sampai di parkiran sekolah. Dia memarkirkan motornya dengan rapi. Kemudian langsung menuju ke kelasnya. Banyak murid baru yang menyapanya. Namun itu berlaku hanya untuk murid perempuan. Murid laki-laki justru berusaha menghindarinya.


'Ya bodo amat lah.' Batin Bintang.


Sesampainya Bintang di kelas dia langsung duduk di bangku yang mana kini sudah terisi seseorang di sampingnya; Hamdan. Teman sebangkunya dari awal masuk SMA sampai sekarang. Dan dia juga sahabat Bintang.


"Gimana kegiatannya kemarin?" Hamdan memulai pembicaraan.


"Aman aja. Ya walaupun ada sedikit kendala."


"Kalau bosnya dah turun tangan ya pasti lancar lah. Ngomong-ngomong gimana? Dah dapat incaran anak baru belum?" Tanya Hamdan menggoda Bintang.


"Hemm...biasa aja."


"Ada yang cantik gak tapi?"


"Ada sih yang cantik." Jawab Bintang sambil memikirkan wajah Wulan.


"Langsung sikat lah. Enggak mungkin gak ada yang tertarik sama lo. Udah juara kelas, pinter organisasi. Jabatannya tinggi lagi."


"Kita gak boleh terlalu percaya sama wanita. Bisa-bisa malah kita yang dipermainkan." Bintang merebahkan kepalanya di atas meja.


"Sikap lo yang kayak gitu tuh yang bikin banyak cewek takut sama lo."


"Biarin aja. Anggap aja buat penangkal biar enggak ada yang berani sama gue."


"Walaupun lo bilang kayak gitu. Buktinya masih ada aja cewek yang pengen dapetin lo."


"Itu mah mungkin matanya kelilipan." Jawab Bintang setengah bercanda.


"Hei jangan tidur ini masih pagi. Bentar lagi kan upacara."


"Justru itu gue harus ngumpulin tenaga. Lo kan tahu, yang jadi petugas upacara nanti dari anak OSIS. Gue bagian jadi pemimpin upacara nanti."


"Kalau gitu tunjukkan sedikit semangat di wajah lo itu. Yang benar saja, lo mau jadi pemimpin upacara dengan wajah lesu seperti itu? Yang ada lo malah merusak kharisma lo. Nanti fans lo pada pergi loh."


"Bodo amat lah."


Bel sekolah pun berbunyi. Menandakan untuk waktunya upacara. Semua siswa-siswi beramai-ramai menuju ke lapangan upacara.


Bintang langsung berjalan menuju posisinya.


Upacara bisa dibilang lancar. Cuaca pagi itu juga tidak terlalu panas. Dan seperti biasa setiap awal pelajaran baru kepala sekolah memberikan sambutan untuk murid baru.


Setelah upacara selesai, Bintang tidak langsung kembali ke kelas. Ia memutuskan untuk berkunjung ke UKS. Sebagai anggota PMR, dan salah satu anggota senior maka ia memilki sedikit kewajiban untuk melihat kondisi murid yang pingsan saat upacara dan dibawa ke UKS.

__ADS_1


Setelah selesai mengunjungi UKS, Bintang berjalan menuju kelasnya yang bisa dibilang cukup jauh berada di lantai 3. Sebagai salah satu sekolah favorit di Bandung, sekolah ini memiliki ukuran tanah yang cukup luas. Banyak sekelompok murid yang berpapasan dengannya akan selalu memberikan jalan dan menyapanya. Baginya sekolah itu sudah seperti telapak tangannya. Dia tau setiap sudut sekolah itu dan ia juga tahu siswa-siswi di sana.


Sangat jarang yang berani berjalan di koridor sekolah sendirian sepertinya. Karena biasanya mereka yang lebih senior akan mencegat murid-murid entah untuk memalak duit, menggoda murid gadis, maupun membuly mereka.


Tentu tidak ada yang berfikiran bodoh untuk berani mencegat dirinya.


Bintang berjalan menuju kelasnya, kelas 12 IPA 3. SMA Garuda hanya memiliki jurusan IPA dan IPS.


Setelah sampai di kelas Bintang hanya duduk dan bersenda gurau dengan teman-temannya yang lain sembari menunggu guru masuk. Sebenarnya banyak guru yang bilang kalau kelas ini rusuhnya benar-benar kelewatan. Jika dibandingkan dengan anak IPS, maka kelas ini tidak ada bedanya.


"Kami ini anak IPA namun jiwa kami anak IPS."


Bintang hanya mengikuti alur. Kadang ia juga tertawa melihat tingkah laku teman sekelasnya. Menurutnya tidak semua kelas memiliki sensasi seperti ini.


Banyak guru yang menyarankan Bintang untuk pindah ke kelas yang lebih tenang. Namun Bintang selalu menolak tawaran tersebut. Ia merasa cukup nyaman dengan kelasnya yang sekarang. Merka sudah hampir tiga tahun bersama, belajar bersama, di bawah atap yang sama, dan duduk di satu kelas yang sama pula. Menimbulkan kesan persaudaraan yang kuat di antara mereka.


Bintang juga teringat ketika Pak Ali, guru kesiswaan, mengajar di kelasnya juga meminta Bintang untuk pindah kelas.


Bagaimana bisa seorang wakil ketua OSIS dan murid terpelajar berada di kelas seperti ini? Pak Ali bertanya dengan nada tidak percaya.


"Jangan menilai sesuatu hanya dari sudut pandang Bapak saja. Cobalah melihat dari sudut pandang lain." Itulah jawaban Bintang waktu itu, seketika ia disoraki oleh teman-teman sekelasnya.


Karena ini masih hari pertama sekolah, jadi pelajaran pertama hanyalah sekedar perkenalan untuk semester baru.


Bel istirahat berbunyi menandakan jam pelajaran telah selesai. Bintang sudah ada janji dengan anggota pramuka yang lain untuk menyimpan barang-barang ke gudang.


Dalam perjalanannya menuju gudang, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Wulan. Gadis itu tersenyum melihat Bintang dan menyapanya. Bintang hanya membalas tersenyum.


Sepulang sekolah itu Bintang mendapatkan notification dari Instragram. Ada yang mengirimi Bintang pesan, lalu ia membuka pesan itu. Ada tiga orang yang mengiriminya pesan. Dan kebetulan isi pesan mereka sama.


'Kak, hari ini Wulan ulang tahun.'


Bintang tahu bahwa mereka bertiga adalah teman dekatnya Wulan. Bintang segera meminta nomor si Wulan agar bisa mengucapkan langsung lewat telepon.


Malam itu Bintang menelpon Wulan.


"Halo...Ini siapa ya." Tanya gadis itu.


"Tebaklah kalau lo tahu."


"Eh? Kak Bintang ya?" Tanyanya dengan kaget.


"Tau dari mana kalau gue Kak Bintang?" Kini Bintang yang kembali bertanya..


"Aku yakin ini Kak Bintang. Enggak mungkin aku salah. Aku sudah hafal banget sama suara Kakak."


"Hahaha...jadi seperti itu." Bintang tertawa mendengar jawaban gadis itu.


"Jadi kenapa, Kak, kok nelpon?"

__ADS_1


"Oh itu gue ingat kalau tadi siang ada yang kasih kode gue buat hubungin dia."


"Hehehe..." Dia tertawa malu.


"Eh tapi Kakak dapat nomor ku dari mana?"


"Dari teman mu. Kamu juga aneh."


"Loh aneh kenapa?"


"Iya aneh nyuruh aku hubungin kamu tapi enggak mau ngasih nomor. Jadinya aku yang berjuang duluan buat dapatin nomor kamu."


"Enggak apa-apa aku senang kok tau kalau Kak Bintang udah berjuang buat aku."


"..."


Bintang langsung terdiam seribu bahasa. Setelah hening sejenak, ia menyampaikan apa yang membuatnya ingin menelpon gadis itu.


"Wulan..."


"Iya, Kak."


"Selamat ulang tahun..."


"Kakak kok tahu?"


"Di kasih tau teman mu juga."


"Ah iya makasih ya, Kak, udah ngucapin."


"Iya sama-sama."


Setelah berbincang sejenak kami memutuskan untuk mengakhiri panggilan itu.


Saat itu yang ada difikiran Bintang hanyalah nama Wulan. Bintang teringat wajahnya, suaranya, dan rambut panjang sepinggang yang selalu berhasil membuat Bintang terbayang-bayang akan sosok Wulan.


Tunggu..


Apa ini?..


Apakah Bintang jatuh cinta (lagi)?


Tidak. Bintang tidak boleh jatuh cinta untuk kedua kalinya. Bintang masih ingat sekali bagaimana rasa sakit itu.


Tapi jikalau memang Bintang menyukainya, Bintang bisa mencoba mengujinya terlebih dahulu. Lets see, apakah dia wanita yang bisa dipercaya atau justru malah sebaliknya.


Lalu apa hubungan Wulan dengan Arga yang sebenarnya?


Wulan bilang mereka adik kakak. Tapi mereka beda agama. Dan juga mereka terlihat dekat sekali. Setiap berangkat atau pun pulang sekolah mereka selalu bersama. Tunggu. Ada yang aneh di sini. Tidak mungkin mereka hanya sekedar adik kakak.

__ADS_1


Bintang ingat bahwa Arga sudah berpacaran dengan gadis seangkatannya.


Jika tidak salah nama gadis itu adalah Bulan.


__ADS_2