
Di sebuah kamar mewah yang ada di sebuah penginapan paling sosialita di Bosnia, tangan piawai itu, mulai menyusun hal-hal yang sudah mereka bawa dari Francia untuk menyambut malam ini
Alat-alat rias terbaik, gaun-gaun super indah, sepatu-sepatu yang sangat mewah, perhiasan terbaik di antara yang terbaik, tiara yang fantastis, dan sarung tangan dengan birsiran terbaiknya, sudah berjajar rapih di atas sebuah ranjang. Siap untuk di pilih.
Jari telunjuk Francesca mulai menunjuki pilihan-pilihannya yang langsung di angguki pelayannya. Setelah pilihan di dapatkan, dengan gestur yang sudah siap untuk memulai, pemilik tangan piawai itu bertanya dengan sopan.
"Rambut anda nanti ingin di tatap seperti apa, Your Majesty?"
"Buat aku secantik mungkin Susane"
Susane hanya tersenyum mendengar ucapan Francesca. Dirinya cukup terhibur saat untuk pertama kalinya, nonanya, Ratu mereka itu, meminta untuk mendandani dirinya secantik mungkin. Padahal, dengan hanya di pasangkan gaun berbahan karung gandum sekalipun, nonanya akan tetap bisa terlihat cantik. Jenis kecantikan tajam yang selalu membuat orang-orang bergindik karna merasa dingin terpesona.
"Baik Your Majesty, mari saya pasang gaun anda"
--000--
Summer menatap pantulan dirinya di depan cermin. Malam ini, adalah malam paling buruk yang pernah dirinya rasakan setelah malam kedatangannya ke Bosnia.
Dengan gaun super mewah dan indah yang sudah membalut tubuhnya, dengan tatanan rambut yang di buat seindah mungkin, dengan riasan wajah yang di poles secantik mungkin. Amarah dan kebencian di dalam dada Summer tidak bisa tertutupi dengan baik.
Karna malam ini, adalah malam pertunangannya dengan Pangeran paling menjijikkan yang pernah Summer kenal.
"Your Highness.. anda cantik sekali"
Summer lagi-lagi mengabaikan apapun bentuk pujian dan apapun bentuk pertanyaan yang di tujukan padanya, seperti biasa.
Hingga suara kerukan pintu, membuat Summer melirik ke arah pintu. Dirinya akan menjalankan semua ini dengan baik, tanpa perlawanan, karna mustahil untuk dirinya melawan. Akan membuang tenaga jika dirinya menolak, terlebih bisa saja dirinya di sakiti oleh setan-setan Bosnia.
"His Highness sudah tiba, Your Highness"
Dengan sangat enggan dan malas, Summer mulai bangkit dari kursinya. Dengan langkah anggun yang menutupi langkah bencinya, Summer menuju ke depan pintu. Dan di sana, salah satu setan Bosnia sudah menunggunya.
Kedua bola mata biru jernih Regan menatap Summer dengan lekat. Semua penampilan dan setiap lekuk yang di miliki Summer tidak terlewatkan dalam tatapannya, yang membuat senyum puas Regan terbit.
"Selamat malam manis"
__ADS_1
Bulu kuduk Summer langsung bergindik mendengar suara Regan yang seperti sedang merayu seorang pelacur di bar. Arah pandangnya hanya membalas tatapan Regan dengan tatapan dingin. Tapi, lagi-lagi Regan kembali tersenyum.
Karna tidak juga mendapatkan jawaban, sambil tersenyum Regan berdehem beberapa kali, dan langsung memberikan sikutnya.
"Ayo.. semua sudah menunggu kita sayang"
Rasanya, isi perut Summer ingin keluar dari lambungnya saat Regan lagi-lagi berucap seperti sedang merayu seorang pelacur di bar. Sayang-sayang pantatmu!
Dengan menguatkan dirinya, Summer mulai menggamit sikut Regan. Dirinya akan mengikuti permainan apa yang setan-setan ini inginkan tapi, tiba-tiba setitik rasa hangat bersarang di dalam dada Summer saat membayangkan jika kakak-kakaknya akan datang
Datang? Tentu saja kan.... Summer tidak perlu menerka-nerka apakah Bosnia akan mengundang Francia atau tidak, karna jelas jawabannya adalah 'Pasti'. Bosnia pasti memiliki agenda yang entah apa, dan jika dirinya yang di gunakan, berarti itu berbungan dengan kakak-kakaknya. Ohh tidak... lebih tepatnya dengan si pewaris tahta.
--000--
Setelah melewati perjalanan selama beberapa jam. Di dalam sebuah kereta kuda mewah dengan lambang dua ular berkepala dua, sepasang kaki kokoh akhirnya keluar saat pintu kereta sudah di bukakan Jeremny.
Ferdinand, dengan raut wajah dingin. Menatap istana megah di depannya. Istana yang bahkan lebih jauh lebih megah dari istana Rembrantd, tapi tidak kalah megah dari istana Royal yang kosong milik Vancia.
Dengan cepat, Tomy membantu seorang penumpang lain yang sudah bersama Ferdinand melewati perjalanan. Seorang penumpang yang sekarang memiliki peran paling penting di Francia.
"Mereka sudah sekenyang ini, tapi masih juga ingin makan"
Suara gumanan dingin yang syarat akan rasa benci Francesca sangat terdengar jelas di indra pendengaran semua kesatria dan Ferdinand.
Benar... Bosnia bukanlah kerajaan kecil dan miskin. Bosnia termasuk salah satu kerajaan terbesar di Eropan. Tapi tentu saja, kerajaan itu sekarang sudah menjadi kerajaan paling terbesar dengan menggandeng tiga kerjaan lain.
"Ayo Frans"
Ferdinand langsung melingkarkan tangannya yang langsung membuat Francesca menggamit siku kembarannya.
Mereka mulai melangkah ke depan pintu istana yang sudah terbuka. Terbuka untuk menyambut para tamu yang sudah di undang, termasuk mereka.
Raut wajah datar, sorot mata dingin, dan cara berjalan yang sangat menunjukkan siapa mereka, memebuat para penjaga di depan pintu langsung menatap Francesca tanpa bisa berkedip. Dan perlakuan lancang itu, membuat Ferdinand langsung bersuara dingin
"Jaga mata kalian sialan! Umumkan Her Majesty Francesca Francia"
__ADS_1
Suara geraman dingin yang terdengar, terlebih setelah mendengar siapa perempuan super cantik itu, membuat pengawal pintu tersentak dan langsung menunduk sopan. Meski mata mereka sangat enggan untuk melepas pemandangan indah di depan mereka, tapi mereka cukup tahu diri untuk segera menunduk sopan
"Maaf Your Majesty Ratu Francesca dan..."
Seorang pengawal lain manatap Ferdinand dengan takut-takut untuk memeperjelas siapa pria yang berani menggandeng Ratu muda super cantik itu. Meski sebenarnya, mereka sudah bisa menebak-nebak siapa pria tampan yang sangat terlihat mirip dengan Francesca.
"His Highness Pangeran Ferdinand Francia"
Solar dengan cepat bersuara untuk memecah keheningan karna Ferdinand yang tampan enggan untuk menjawab. Karna sepertinya, dari raut wajah Ferdinand, dirinya sudah sangat ingin mencungkil setiap mata lancang yang berani meletakkan pandangannya pada Francesca, kembarannya, separuh jiwannya yang bisa Ferdinand rasakan jika sudah mulai terganggu pada mata-mata sialan yang tidak bisa mengalihkan pandangan.
"HER MAJESTY RATU FRANCESCA DAN HIS HIGHNESS PANGERAN FERDINAND TIBA!!"
Pengumuman pemberitahuaan kerajaan yang baru saja berhasil di serang dengan kemenangan Bosnia itu, membuat siapapun yang miliki kepala langsung menoleh. Menoleh untuk menatap dan menilai setiap sudut penampilan Ratu dan Pangeran Francia kembar itu.
Dengan dagu terangkat tinggi, dengan langkah yang munjukkan semua kehormatan mereka. Francesca yang di gandeng Ferdinand terus melangkah masuk tanpa memperdulikan semua kepala yang sudah saling mendekat, dan semua kipas Ladies yang mulai terbuka. Para ton sudah mulai melakukan kebiasaan mereka, memuaskan mulut dan telinga mereka.
Arah pandang dua kembar itu, hanya terus menatap depan. Kedua bola mata abu-abu tajam yang melambangkan pewaris tahta Francia, mulai bergetar dan membara. Kedua bola mata sehijau daun indah khas milik keturunan penguasa Albany dan Ross, mulai mengkilap penuh dengan bara api membara.
Di sana. Di depan mereka, di atas undakan tangga, di atas kursi tahta. Raja Feroca langsung berdiri sambil tersenyum culas menatap kedatangan mereka. Sebelah tangannya mulai bergerak memainkan wine merah yang tinggal separuh dan mulai beranjak dari kursi kebesarannya.
Dengan langkah yang menunjukkan gestur penuh dengan kuasa penyambutannya, Raja Feroca mulai menapaki tangga undakan.
Kedua tangan Ferdinand mengepal dengan kedua tangan Francesca yang langsung mencengkam lengan Ferdinand. Mereka dengan sekuat jiwa dan raga menahan diri untuk tidak segera meludahi wajah Raja Feroca yang sudah ada si depan mereka.
"Well well well... Lihatlah... siapa yang datang ini!!"
Suara penyambutan berlebihan tapi jelas beraroma hinaan. Membuat keadaan hening dengan tangan-tangan para tamu yang mencoba menutupi mulut-mulut mereka yang sedang--- tertawa? tersenyum? menghina? Who cares!! Ferdinand dan Francesca tidak peduli! Terlebih, karna di samping tangga undakan mereka sudah bisa melihat apa yang menjadi alasan utama mereka datang.
Summer, dengan di gandeng seorang pria, sudah menatap Francesca dan Ferdinand dengan raut wajah kesengsaraan yang penuh dengan tatapan kesedihan. Hingga kedua mata Summer bergetar hampir menumpahkan air matanya.
Seumur hidup mereka! Selama mereka hidup dengan memperhatikan adik mereka! Tidak pernah sekalipun Putri kesayangan Francia itu menunjukkan tatapan dan wajah penuh kesakitan penderitaan yang seperti sudah tertangkap arah pandang membara Ferdinand dan Francesca sekarang.
Adik mereka, Summer adik kesayangan mereka, Her Highness kesayangan Francia. Sudah berhasil membangkitkan kemarahan dan kebencian yang dengan sangat kuat, sudah coba di tahan kakak-kakaknya dari semenjak mereka menginjakkan kaki di Bosnia.
\=\=\=💚💚💚💚
__ADS_1
Jangan lupa like, komennya di sebar-sebar semua....