Bloody Crown

Bloody Crown
BC 29


__ADS_3

Untuk pertama kalinya dalam sejarah mencatat. Jika ada tamu yang bisa membuat seorang penguasa Francia menunggu hingga melewati waktu setengah jam tanpa alasan yang mengancam.


Dengan langkah pongah. Para tamu yang sudah membuat raut wajah Francesca mengalahkan suhu dingin kutub es, akhirnya muncul juga.


Ryes dan Regan yang tampak sudah segar masuk ke dalam ruang makan dengan raut wajah tanpa dosa dan senyum bajingan yang tercetak di bibir mereka.


"Maaf Your Majesty, apa kami membuat anda menunggu lama?"


Ryes bertanya dengan santai dan tanpa dosa. Membuat Summer yang juga ada di meja makan hanya berani melirik mereka yang mulai duduk di kursi. Summer terlalu takut untuk hanya sekedar melirik raut wajah seperti apa yang sudah tercetak di wajah Francesca sekarang.


Dan benar saja. Pertanyaan yang di ajukan Ryes tidak akan mendapatkan jawaban dari bibir Francesca yang sudah mengatup rapat. Mengatup sangat rapat hingga bibir ranum dari gadis paling cantik di Francia itu, hanya membentuk garis melintang lurus.


Merasakan suasana yang jadi menggelikan untuk Regan, membuatnya melirik Francesca sejenak. Melirik Francesca yang sudah mulai memasang napkin-nya, tanpa sedikitpun memberikan guratan di raut wajahnya. Dingin dan sangat datar, benar-benar datar hingga Regan harus cepat-cepat mengalihkan pandangannya agar tidak terbahak.


Sedangkan Ryes, dengan tangan yang sudah meletakkan napkin di atas kedua pahanya. Hanya diam dengan kedua sudut bibir yang berkedut hebat ingin tertawa.


Di meja makan panjang salah satu ruang makan istana Rembrantd yang biasa di pakai untuk menjamu tamu di sana, hanya di isi oleh empat orang. Dengan Francesca yang duduk di kursi pemimpin, Regan di sebelah kanannya, Summer di sebelah kirinya, dan Ryes di sebelah kanan Regan.


Dalam kesunyian dan suasana dingin, mereka mulai memakan hidangan pembuka mereka.


Di setiap sendokan makanan yang di masukkan Ryes ke dalam mulutnya, arah pandangnya tidak bisa di ajak berkompromi dan di tahan. Kedua bola mata sebiru samudranya diam-diam terus hinggap dan selalu berakhir pada gerak gerik cantik Francesca yang terus makan tanpa memperdulikan pada apapun.


Sedangkan Regan. Dengan terang-terangan terus menatap gadis di depannya. Menatap Summer yang makan dengan gerakan anggun tanpa tahu, jika Summer sedang menahan diri agar tidak melempar piringnya ke wajah Regan agar tunangannya itu berhenti menatapnya.


Bermenit-menit terus terlewati, hingga hidangan penutup akhirnya selesai mereka santap.


Tangan Francesca memilih gelas air putih yang berjajar rata dengan gelar berisi cairan merah wine di depan mejanya.


Gerakan Francesca ikut membuat semua orang bergerak untuk meraih gelas mereka. Summer yang ikut memilih air putihnya, dan dua orang tamunya yang lebih memilih minuman untuk menghangatkan mereka.


"Bagaimana perjalanan kalian?"


Summer hampir tersedak air yang baru melewati tenggorokkannya saat tiba-tiba suara Francesca mengisi suara di ruangan. Dirinya melirik dua pria di depannya yang terus menunjukkan raut wajah santai. Summer menunggu Regan sebagai pemilik status lebih tinggi di antara mereka bertiga untuk menjawab tapi,


"Cukup melelahkan Your Majesty. Tapi juga cukup sebanding dengan sambutan yang di berikan Francia untuk menyambut kedatangan kami"


Sindiran! Jawaban dengan nada sopan yang di berikan Ryes adalah sebuah sindiran santai yang membuat Summer langsung kembali melirik Francesca dengan sedikit takut-takut.


"Baguslah jika begitu. Kalian memang sudah seharusnya di sambut dengan hangat"


Satu alis Ryes menukik tinggi, arah pandangnya menatap Francesca dengan lekat


"Yaa.. 'Pengawal' yang menyambut kami sangat ramah dan hangat"


Sekali lagi, ucapan Ryes membuat Summer melirik Francesca dengan sedikit takut. Tapi ternyata, raut wajah Francesca yang sudah mulai sedikit kehilangan suhu kutubnya itu, menarik separuh bibirnya.


"Memang sudah seharusnya tamu Bosnia kami harus di sambut seperti itu"


Regan hanya diam sambil melirik Francesca dengan tatapan menajam walaupun raut wajahnya terus tampak santai dan menyebalkan. Sedangkan Ryes ikut menatap Francesca dengan separuh bibirnya yang sudah tertarik ke atas.


Keadaan yang mulai terasa sengit, membuat Summer lagi-lagi meraih gelasnya. Meneguk isi gelas yang tanpa dirinya sadari, jika itu gelas wine


Jelas ini adalah sebuah penghinaan terang-terangan yang Francesca lancarkan. Bagaimana bisa seorang Putra Mahkota dan seorang anggota istana lain Bosnia hanya di sambut di depan pintu oleh seorang pengawal?


Seharusnya, menurut aturan tatakrama tertulis di atas kertas. Mereka setidaknya harus di sambut oleh seorang keluarga calon besan mereka. Tapi inilah yang di berikan Francesca.... seorang pengawal.


"Baiklah.. Selamat menikmati Francia para gentleman"


Setelah berucap dan tanpa ingin berbasa basi lagi. Francesca yang muak langsung berdiri dari kursinya dengan semua orang yang langsung mengikuti.


Ryes melirik Regan yang sudah meliriknya, lalu sama-sama menatap punggung Francesca yang mulai menghilang dari pintu ruang makan.


"Kau akan kemana?"


Regan bertanya saat melihat langkah Ryes yang mulai menuju pintu keluar


Ryes menjawab pertanyaan Regan dengan hanya mengkat tangannya. Tangannya yang sedang memegang sebuah kotak cerutu.


Melihat Ryes yang sudah melangkah, dengan cepat Summer langsung mengambil langkahnya untuk kabur. Dirinya tidak ingin bersama dan masih berlama-lama bersama Regan. Tapi,


"Temani aku jalan-jalan"


Langkah Summer terhenti, arah pandangnya menatap sebelah lengannya yang sudah berada di tangan Regan.


"Ini sudah malam. Besok saja"


"Nope! aku ingin melihat-lihat"


"Ta-"


"Ayo.. cukup sambutan saja yang tidak sopan. Apa kau juga akan mengabaikan tamu sayang?"

__ADS_1


Kedua mata Summer melirik sekitar sejenak. Dirinya harus mencari cara agar bisa menolak dengan cara yang tetap sopan


Dengan raut wajah yang sudah di ubahnya menjadi memelas dramatis, Summer menatap Regan


"Aku lelah... benar-benar lelah dan ingin tidur Regan"


Satu alis Regan menukik. Arah pandangnya menatap Summer penuh selidik. Tunangan kecilnya itu benar-benar sangat pintar memasang wajah drama minta di kasihani, selalu.


Akhirnya, karna merasa semua mata para pelayan dan kesatria yang ada di sana sudah menatapnya. Regan sebagai seorang tunangan 'yang pengertian' melepaskan cekalan tangannya dan tersenyum menyebalkan


"Baiklah sayang... besok saja temani aku berkeliling.." Sebelah sudut bibir Regan tertarik ke atas. "Berkeliling Francia"


Sial!


Summer mengumpat dalam hatinya. Benar-benar Regan sialan! Jika sudah bergini, kepala Summer hanya bisa mengangguk tidak rela dan sangat terpaksa.


Dengan bibir yang berkedut ingin menyeringai, Regan dengan sangat cepat bergerak. Sangat cepat hingga Summer hanya bisa melotot saat sebuah bibir lembab langsung mendarat di sebelah pipinya.


"Selamat istirahat sayang"


Tangan Summer langsung mengusapi kasar sebelah pipinya dengan wajah kesal dan menatap sengit punggung Regan yang sudah meninggalkannya.


"Sialan!!"


"Your Highness..."


Pelayan pribadi Summer yang ada di sana, langsung mengingatkann nonanya yang baru saja habis mengumpat dengan cara kasar ala preman pasar.


Summer menoleh pada pelayannya dengan tatapan kesal dan wajah cemberut


"Dia lancang Popi! kau kan lihat sendiri!"


Pelayan Summer, Popi. Yang sedang Summer mintai pengertian ternyata tetap tidak terpengaruh, sedikitpun tidak terpengaruh.


Sambil menggelengkan kepalanya dengan tegas, Popi berucap sopan


"Dia tunangan anda dan seorang Putra Mahkota, Your Highness"


"Ck! kau menyebalkan Popi!"


Summer langsung melengos pergi dengan wajah cemberut. Popi dan semua orang yang di sana yang hanya bisa tersenyum geli.


Edward yang sedang berdiri di sudut tersudut di balik tembok pembatas antara ruang makan dan dapur, ikut melangkah meninggalkan posisinya dengan cara yang sangat terlatih


Dengan cerutu yang terus terselip di jari-jari tangannya. Ryes yang sudah hampir satu jam menikmati tembakaunya, akhinya mendengar langkah kaki sangat pelan yang di tunggunya.


"Dari mana kalian?"


"Mengukur Rembrantd Rai..."


Bunyi pemantik yang di hidupkan membuat kepala Ryes menoleh pada dua orang lain yang ikut di perjalanan mereka, Benji dan Basco.


"Apa kalian bisa masuk?"


Kepala dua orang kembar teman gilannya itu langsung menggeleng.


"Istana ini lebih kecil dari Helsingr, tapi sangat ketat. Mereka bukan orang-orang biasa Rai"


Basco menjawab yakin. Beji yang baru menghembuskan asap tembakau dari mulutnya ikut berucap


"Seperti yang kau katakan. Para kesatria yang memakai lambang stempel Raja di sebelah lengan kanan mereka sangat berbahaya. Ingin yang tua dan yang muda, mereka sangat terlatih dan berbahaya. Aku tidak berani terlalu jauh"


Arah pandang Ryes kembali menatap ke depan sambil kembali menikmati angin malam yang menerpa tubuhnya yang sedang duduk bangku taman.


Jika Benji dan Basco mengatakan jika mereka berbahaya, berarti mereka lebih berbahaya lagi untuk ukuran kata berbahaya. Kesatria milik Raja atau yang biasa di sebut sebagai kesatria emas, atau yang juga memiliki nama lain para anjing Raja generasi lama dan baru adalah masalah jika mereka tidak berhati-hati.


"Tapi Rai. Kenapa grandma tua itu belum juga muncul? Apa dia belum sampai?"


"Dia sudah sampai terlebih dahulu"


Basco dan Benji langsung saling menatap.


"Dari mana kau tahu?"


Sambil menegakkan kakinya, Ryes yang tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Benji mulai melangkah masuk ke dalam pintu.


Ryes tidak perlu menjelaskan bagaimana dirinya bisa tahu jika Delana sudah sampai terlebih dahulu. Karna, tanpa perlu melihat atau mendengarpun, bukti kosongnya satu kursi di meja makan tadi, pasti berhubungan dengan si 'grandma'.


Langkah Ryes terus menuju masuk ke dalam istana. Dirinya dengan santai berjalan-jalan melewati semua koridor seolah sudah sangat mengenal semua tempat di sana. Padahal, Ryes hanya menggunakan penilaiannya pada setiap tempat dan keadaan agar bisa menuju tempat yang ingin di datanginya.


Dan benar.. saat sudah menaiki tangga yang beralas karpet merah. Semua lukisan di dinding, perbotan mewah di sudut-sudut jalan, membuatnya menyeringai

__ADS_1


Karna langkahnya pasti benar. Langkah yang di pilihnya pasti sudah menuju tempat di mana kamar-kamar utama berada.


Sekarang tinggal memilih kamar utama paling utama di sana. Dengan para pengawal yang semakin banyak berjaga, Ryes menggunakan isi kepala dan instingnya untuk menemukan sebuah kamar yang menjadi tujuannya.


Arah pandangnya menangkap ada dua kamar yang di jaga penjaga di depannya. Jika dua kamar bersebelahan itu di jaga, berarti itu kamar dua orang sangat penting. Dan jika melihat dua kamar bersebelahan berarti, di dalam kamar itu ada pintu penghubung kan? yang juga berarti jika pemilik kamar adalah pasangan suami istri.


Tetott!! salah... Bukan itu kamar yang menjadi di tujuanya. Karna itu Ryes langsung memutar langkahnya ke koridor lain.


Dengan mengabaikan tatapan penuh selidik dan wajah-wajah setiap pengawal dan pelayan yang menatapnya, dengan santai Ryes terus mencari.


Hingga, sebuah kamar besar yang di jaga dua pengawal yang memberi jarak cukup jauh dari sana membuat sebelah bibir Ryes tertarik ke atas.


Kamar yang di jaga ketat tapi tetap di beri jarak? Well... itulah tujuannya.


"Apa anda membutuhkan sesuatu, Your Grace?"


Kepala Ryes mengangguk singkat


"Aku ingin bertemu Your Majesty"


Seorang pengawal yang bertanya, langsung menoleh pada temannya yang lain, seorang temannya yang juga menjadi menjaga pintu. Lalu kembali menatap Ryes dengan tatapan enggan dan tidak bersahabat.


"Maaf Your Grace. Ini sudah malam"


Singkat, padat, dan jelas. Pengertian jelas jika mereka tidak bisa menerima Ryes karna ini sudah larut malam, seorang pria, dan seorang musuh.


Ucapan pengawal itu membuat kepala Ryes kembali mengangguk dengan tidak ingin mengerti


"Aku di minta kemari"


"Her Majesty yang meminta seorang pria datang ke kamarnya pada malam hari?"


Sindiran dan pertanyaan yang kali ini jelas menunjukkan aroma penuh kecurigaan dari seorang pengawal m, membuat Ryes tanpa ragu menganggukan kepalanya lagi.


"Jika tidak percaya katakan saja kedatanganku. Kita buktikan bersama"


Tanpa keraguan dan dengan raut wajah penuh dengan kepercayaan diri, Ryes langsung saja menantang para penjaga kamar Francesca.


Para penjaga kembali saling menatap singkat. Hingga seorang penjaga itu mulai mendekat pada kamar pintu kamar Francesca


Saat langkah pengawal itu sudah di depan pintu Francesca, kepalanya kembali menoleh pada Ryes


"Jika ini hanya bualan, kami akan membuat larangan keras pada anda. Anda tidak akan bisa melewati lagi garis batas tangga kamar-kamar utama, Your Grace"


Wow!


Ryes bersorak dalam hatinya. Karna cukup takjub dengan ketangkasan dan juga.. kelancangan penjaga kamar Francesca. Sepertinya, belum ada yang menyadari jika ada orang lain yang bisa mengontrol orang-orang di sana. Dan pertanyaannya adalah, apakah Francesca menyadari itu? Atau ini memang peraturan dari Francesca?


Tapi Ryes ragu jika pertanyaan yang kedua adalah jawaban dari rasa kecuriganya yang mulai naik ke permukaan


"Hhmm ya... silahkan"


TOK TOK TOK


"Your Majesty. Ini His Grance Bosnia"


Suara ketukan pintu dan penjaga yang menyebutkan kedatangan seseorang. Membuat Francesca menaikkan arah pandangya dari perkamen ke depan pintu.


Kedua alisnya mengerut dalam, dengan berbagai pikiran yang merasuk ke dalam isi kepala Francesca. Kenapa pria itu datang? telebih.. apa yang di katakannya hingga bisa menggerakkan para penjaga pintu agar berani mengabarkan tamu pria yang datang pada malam hari ke kamarnya?


Setelah menimang beberapa saat, baiklah... kita dengar dan lihat sendiri saja apa yang pria itu inginkan.


"Masuklah..."


Ijin dari Francesca membuat Ryes menatap semua penjaga dengan tatapan mencela.


Setelah pintu di bukakan, Ryes dengan santai langsung melenggang masuk, yang membuat dua orang penjaga pintu Francesca menatapnya dengan sengit.


Aroma manis buah persik dan sayup-sayup sensual aroma bunga jasmin membuat rahang Ryes mengetat. Sial! ini aroma Francesca!


Ryes menggigit pipi dalamnya. Sial! wajar saja jika seisi kamar itu memiliki aroma pemiliknya Ryes! Well.... siapa yang ingin kau umpati Ryes? kau sendiri yang bodoh.


Ryes merutuki dirinya sendiri sambil menatap Francesca yang tampak sangat tenang mengguratkan tinta ke kertas di atas meja kerjanya


Francesca yang sedang duduk di kursi kerjanya, terlihat sangat serius dengan isi mejanya. Tampak tidak berniat pada seseorang yang sudah masuk dan mulai gusar sambil merutuki dirinya sendiri.


Bunyi pintu yang di tutup membuat suara Francesca terdengar


"Ada hal penting apa Duke Hasting?"


\=\=\=💚💚💚💚

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya semua...


__ADS_2