Bloody Crown

Bloody Crown
BC 38


__ADS_3

Apa yang di takutkan George terjadi. Sebuah kejadian besar benar-benar terjadi malam ini. Dan entah untuk yang sudah keberapa kalinya, Edward kembali merasa sangat merinding pada pria tua yang sudah duduk di depannya. Duduk di kursi samping Henry, sambil menggaruki meja kayu untuk menunggu kedatangan Francesca.


Intuisi George yang sangat terkenal akurat bukanlah isapan jempol biasa, dan malam ini, Henry juga ikut merinding saat dirinya juga menyadari itu.


Sebelumnya, Henry selalu bertanya-tanya tentang. Apa alasan George menyarankan untuk membuat pesta tanpa perlu membuatnya di dalam undangan resmi untuk para tamu festival. Apa alasannya? kenapa? dan malam ini... semua terbuka.


Jika saja mereka membuat tulisan akan di adakannya pesta topeng, pasti Regan yang juga bisa mengetahui itu akan menyerang tempat lain atau hal lain sebelum dirinya kabur membawa Summer sore hari tadi. Tempat dan hal yang bisa membuat kekacauan mengerikan untuk wajah Francia di pandangan kerajaan lain.


Akan jatuh banyak korban bangsawan kerajaan lain, atau yang paling fatal adalah jatuhnya korban keluarga kerajaan lain yang menjadi tamu undangan yang sudah berlayar untuk pulang. Adalah kekacahan fatal lain yang bisa terjadi untuk Francia.


Meski keadaan sekarang tidak bisa di bilang baik, tapi setidaknya wajah Francia malam ini masih bisa selamat setelah mendapatkan laporan nama-nama seluruh korban yang dengan cepat berhasil di identifikasi Ferdinand dan langsung mengirimkannya ke istana secepat yang mereka mampu.


Nafas panjang Henry berhembus, lalu berguman lirih.


"Untung saja aku tidak jadi naik tahta"


George mendelik ke arah Henry dari ekor matanya sambil berucap sinis


"Kau tidak akan pernah naik tahta, Hen"


"Thanks God... Puji-pujian untuk Tuhan di surga. Tuhan sangat baik padaku"


Gumanan menyebalkan Henry membuat George kembali mendelik sinis padanya. Putra keduanya itu masih saja bisa bercanda di keadaan segenting seperti sekarang.


George membuang nafas panjang. Apa salahnya hingga dirinya mempunyai dua putra aneh Tuhan? Jika putra pertamanya adalah seorang pria yang kelewat santai dan penuh akal bulus di mulutnya yang tertutup rapat. Lalu putra keduanya ini adalah pria patuh yang sering mengacaukan suasana hati.


"Ayah, hari ini kau kembali membuatku bangga dan kagum karna lahir dari darahmu" Henry menoleh pada George sambil tersenyum lebar hingga bibirnya seperti akan robek. "Untung saja kau dulu selingkuh dan aku bisa lahir untuk membantu kerajaan ini, ayah"


Edward dan Jeremmy yang ada di belakang kursi-kursi meja panjang ruang kerja Francesca langsung menatap belakang kepala Henry dengan mata membola. Crab! bisa-bisanya Henry mengatakan hal keramat itu tanpa beban. Dan tanpa mereka sadari, ucapan itu membuat perasaan George menjadi rusak parah seolah di ingatkan pada dosa-dosanya yang tadi sempat dia lupakan meski hanya sejenak


Sedangkan George langsung mengangkat tangannya dan tanpa menahan diri, langsung menarik sebelah telinga Henry


"Sakit ayah!! sakitt!!" Henry mencoba menarik kepalanya tapi itu malah membuat jari George semakin mengerat dan menyakitkan untuk telinga Henry. "Ampun ayah... sakit..."


Teriakan Henry tidak juga berhenti hingga pintu akhirnya terbuka. Pintu yang di buka membuat George menarik tangannya kembali, dan langsung berdiri karna kedatangan Francesca


"Duduklah gapa, uncle" Francesca berucap sambil mendaratkan bokongnya pada kursi yang sudah di tarik Tomy. Lalu kembali berucap "Isi meja ini Tom"


Dengan cepat Tomy mengangguk paham dan langsung menuju keluar untuk meminta pelayan membuatkan teh dan kudapan.


Setelah terjadi keheningan hingga akhirnya pelayan datang dan meja sudah di isi teh serta sedikit kudapan, Francesca yang terlihat hanya memakai gaun santai dan mantel tebal dengan rambut tergerai yang masih sedikit basah langsung membuka suara.


"Aku baru saja menemui Ana"


Henry mengangguk seolah memang sudah paham. Sedangkan George meletakkan cangkirnya sambil menatap Francesca dan berucap dengan tidak formal. Karna sapaan awal Francesca pada mereka tadi, cukup menjelaskan jika Francesca ingin membuka obrolan dan bertukar pikiran secara santai. Cukup sudah semua ketegangan yang sudah terjadi, dan mereka harus tenang agar isi kepala dan perasaan mereka bisa bekerja dengan benar.


Kepala George mengangguk dan bertanya dengan suara yang tenang


"Ada apa memangnya Frans?"


"Ana mengandung"


Gerakan spontan Henry membuat Jeremmy langsung menghindar dengan sangat cepat. Karna Henry yang baru akan meneguk tehnya langsung menyemburkan isi mulutnya ke arah belakang. Sangat tidak sopan!


Henry yang juga menyadari kelakukan tidak sopan dan buruknya, cepat-cepat menatap Francesca.

__ADS_1


"Sorry sweetheart. Aku terkejut"


Dengan santai dan seolah sudah terbiasa, Francesca mengangguk singkat. Lalu berucap dengan datar


"Sebenarnya, aku sudah mengetahui kabar gembira ini tidak lama setelah Ana mengetahui ini. Tadinya Ana yang ingin mengatakan sendiri saat dia sudah kembali dan saat kita sedang berkumpul santai. Tapi keadaan membuatku mewakili kabar mengembirakan ini untuknya. Untuk dirinya yang tidak akan kita bawa dalam pemikiran berat"


Henry dan George, serta ketiga pria di belakang kursi langsung mengangguk setuju. Benar... Anastasia sebaiknya tidak di bawa dalam perputaran meja panas lain. Cukup Trancia yang akan menjadi tanggung jawabnya nanti, jika memang Francesca ingin Anastasia meneruskan pelajaran untuk pembangkang bangsawan istana Trancia.


"Apa Ana akan meneruskan urusan Trancia?"


George bertanya dengan wajahnya yang sudah bersinar terang. Kedua matanya tidak kalah bersinar seolah menjadi lampu pijar yang menerangi wajah datar Francesca. Sepertinya, pria tua bangka itu sangat berbahagia karna akan menjadi great great grandpa.


"Belum gapa. Aku akan mengalihkan ini pada Marquess Stevan terlebih dahulu. Jika keadaan sudah cukup baik, aku baru akan kembali mengirim Ana kesana. Agar kita bisa memantau keadaan Ana di sana tanpa teralihkan. Bagaimana gapa?" Francesca menoleh pada Henry. "Uncle?"


"Itu bagus Frans"


Jawaban Geoerge langsung di angguki Henry. Tanda jika dirinya juga setuju.


Merasa jika satu hal sudah selesai, Francesca kembali berucap. Dan masuk pada inti pertemuan mereka.


Gerak gerik dan gestur serta raut wajah Francesca yang sudah tampak serius, membuat Henry langsung menegakkan kedua bahunya dengan gestur yang sudah serius. George ikut menarik kedua bahunya sambil meletakkan cangkir tehnya.


"Apa yang paling kita takutkan terjadi. Bosnia di bawa tangan 'dia' akan berubah"


Ucapan datar dengan raut wajah serius George membuat Henry mengangguk. Francesca menimpali, dan langsung melirik Jeremmy


"Kirim surat ke parlement untuk mengirim kembali tamu-tamu Bosnia 'rencana kita', Jer. Kita harus berhati-hati mejaga emosi Raja baru Bosnia"


Benar... malam ini mereka sudah mendapatkan ultimatum dan juga ancaman keras dari Regan, bahkan saat tangan Regan belum menebas kepala Raja Feroca. Dan jika mereka tidak menjaga emosi jenis manusia seperti itu dengan hati-hati maka, manusia yang sepertinya sekarang sudah menyandang gelar rantai tertinggi di kekuasaan Bosnia itu bisa saja melakukan hal lain. Hal-hal yang tidak ingin mereka bayangkan.


"Saya akan langsung mengatakan pada Carl, Your Majesty"


Kepala Francesca mengangguk singkat, arah pandangnya kembali fokus menatap Henry dan George


"Seperti laporan yang di dapatkan Gregory, jika Odessa adalah sarang pendukung 'dia'. Serta sekarang hampir separuh dari Bosnia dan mungkin akan lebih banyak lagi, akan memutar haluan pada dia. Meski ini terlihat menguntungkan dan baik untuknya tapi, kenyataan ini pasti tidak akan cukup untuk menahan kekuasaan yang orang itu rebut. Cepat atau lambat, pemberontakan dan penyerangan untuknya akan terjadi. Dalam skala yang besar atau kecil, akan tetap menganggu kedamaiannya"


Henry dan George mengangguk paham. Francesca menyesap tehnya untuk menenangkan pikiran dan perasaannya yang berkecamuk. Berharap dengan meneguk teh, air berwana itu bisa memberikan sedikit kelegaan untuknya agar bisa kembali berucap dengan yakin.


Dan setelah cairan berwarna kembali tangan Francesca letakkan di atas meja, suaranya kembali meneruskan.


"Setelah sempat aku pikirkan selama berhari-hari, setelah kita mendapatkan kenyataan tentang para pendukung, aku sudah mengambil keputusan agar kita mengambil bagian. Bagian di tengah-tengah para pendukung"


Alis Henry berkerut hebat, arah pandangnya menatap Francesca dengan lekat dan penuh pemikiran. Sedangakan George mulai menggaruki meja sambil menatap asap yang melayang ada di atas cangkirnya. Bibir tuanya berucap


"Aliansi?"


Kepala Francesca mengangguk yakin


"Dari awal, dari penyerangan awal yang berakhir dengan mereka yang membawa Summer. Ini pasti adalah tujuan utama rencana dia. Inilah alasan kenapa saat itu dia tidak langsung menahlukkan Francia dan hanya membawa Summer. Karna dia...." Tangan Francesca mengeratkan cengkamannya pada cangkir teh. "Dia ingin mendapat dukungan kuat. Akan sangat merugikan jika dia menahlukkan Francia. Karna kita yang di tikam hingga hancur tidak akan pernah sudi untuk menjadi pendukungnya. Dan nama Francia yang sudah kalah juga pasti tidak akan mentereng meski di tekan untuk mendukung. Dia harus menyimpan nama kejayaan Francia agar berguna untuknya"


Wajah Henry yang serius menjadi menegang. Sama halnya dengan semua pria di belakang kursi. Mereka cukup terkejut dengan ucapan Francesca.


Kenapa tidak terpikirkan oleh mereka, bahkan setelah semua kejadian ini?


Dan kenapa mereka tidak berpikir setelah Raja Fredrick di tahlukkan, Bosnia langsung pergi dan hanya membawa Summer? Mereka hanya melukai jantung Francia dan tidak membunuhnya langsung. Padahal kekuatan mereka lebih dari cukup untuk memborbardir seluruh sudut Francia. Terlebih... mereka sepertinya melupakan satu fakta jelas, jika penyerangan yang terjadi dulu, di bawah pimpinan orang itu, dia, Regan...

__ADS_1


Ternyata, inilah agenda intinya. Agenda untuk memuluskan rencana Regan yang ternyata hanya tinggal menunggu waktu untuk di lancarkan. Rencana untuk menyerang Feroca dan merebut tahta, bahkan persiapan untuk meraup pendukung setelah dia berhasil menyerang mendiang Raja Bosnia.


Pria cerdas yang mengerikan.


"Dia akan menjadi Raja yang sangat berbahaya"


Gumanan George membuat Francesca mengangguk


"Iya gapa" Helaan nafas panjang Francesca berhembus. Raut wajahnya tampak mengeras meski tatapannya terlihat datar. "Karna itu, yang bisa kita lakukan sekarang hanya mengikuti keinginannya. Jika kita tidak ingin mendapatkan kerugian lebih banyak dan lebih parah lagi-" Francesca menutup kedua matanya sejenak. Lalu kembali berucap. "Walaupun keputusan ini akan menggores ego dan harga diri kita, kita hanya bisa menjadi jinak padanya "


Tentu saja. Ego dan harga diri mereka akan tercabik jika Francia memilih berdiri berdampingan untuk orang yang sudah membunuh Raja Fredrick dan Ratu Victoria. Tapi, apa gunanya jika mereka melawan?


Sekarang, melawan dan tidak mengikuti permainan Regan hanya akan menimbulkan banyak kerugian. Dan yang paling terfatal adalah, kehancuran Francia.


Francesca mengingat dengan baik ucapan Ryes yang tadi sempat dirinya ucapkan pada Francesca. Meski tadinya Francesca tidak terlalu memikirkan ucapan Ryes, tapi setelah di pikirkan ulang dengan baik, dirinya memang harus mengambil keputusan bijak.


Mengorbankan ego dan dendam untuk sementara waktu ini adalah keputusan yang paling bijak. Menjaga perasaan Raja baru Bosnia dengan mengorbankan harga diri mereka sekarang adalah keputusan paling baik, jika mereka tidak ingin banyak kehilangan lagi. Terlebih, Summer sekarang masih ada di genggamannya.


Setelah terjadi keheningan beberapa saat karna semua orang sedang sibuk dengan pemikiran masing-masing, Henry yang sedari tadi menjadi penyimak kembali bersuara


"Jadi apa yang akan kita lakukan, Fans?"


Kedua tangan Francesca terkepal kuat. Arah pandangnya menatap meja kerja yang dulu biasa ayahnya pakai untuk bekerja. Meja kerja yang menjadi tempat di mulainya segala keputusan untuk membuat kesejahteraan Francia.


"Aku akan datang ke Bosnia dan melamar langsung"


Alis Henry kembali mengerut hebat. Arah pandangnya menatap Francesca dengan ragu dan bingung. Sedangkan George mengangguk singkat lalu berucap


"Kau akan memaksa?"


"Iya. Aku akan memaksa dan juga akan menilai sendiri seperti apa Raja baru Bosnia"


Datang langsung untuk melamar Ryes akan menjadi sebuah lamaran yang akan sulit di tolak Ryes, meski Ryes sendiri sudah menolak Francesca secara langsung. Tapi, karna situasi sekarang sudah berubah, dan si pemegang tahta bukan orang yang sama, Francesca juga akan merubah segala rencana


"Apa Duke Hasting ada di pihak 'dia'?"


Pertanyaan Henry membuat kepala Francesca menggeleng ragu, lalu berucap ragu


"Tidak tahu uncle. Aku tidak tahu dan belum bisa melihat jelas apa yang di pikirkan pria itu. Tapi untuk sementara, aku bisa menyimpulkan jika posiai Duke Hasting berada di tengah-tengah jembatan penghubung. Penghubung antara jembatan jalan untuk menuju ke Putra Mahkota asli, Raja baru, dan bisa juga Putri Delana" Francesca menatap Henry dengan tegas. "Duke Hasting, adalah penghubung yang tinggal memilih jalan mana yang akan di pilihnya. Dan aku-" Kedua bola mata Francesca yang sudah mengkilap tajam bergerak pada Henry dan George. "Aku akan merebut si pemilik jalan ke segala arah itu. Kita harus mendapatkan Duke Hasting"


"Dia buka pria yang bisa di ikat dalam komitmen dan tanggung jawab. Aku melihatnya adalah seorang pria yang sedang berkerja karna sesuatu Frans"


Ucapan George membuat satu alis Francesca nenukik. Henry yang tadinya sibuk menatap meja langsung menoleh pada ayahnya.


"Apa maksutnya ayah?"


Dengan acuh, George mengedipkan kedua bahunya. Tangannya meraih cangkir sambil berucap


"Hanya penilaian dan perasaanku. Bukti belum ada, dan tanda-tandapun tidak tercium"


Dan perkataan santai pria tua bangka itu, langsung membuat isi kepala Francesca berpikir hebat.


Apa maksutnya George?


\=\=\=❤❤❤❤

__ADS_1


Jangan lupa like, dan komennya yang banyak yaa semua...


__ADS_2