Bloody Crown

Bloody Crown
BC 09


__ADS_3

"Alfon, apa surat kita sudah tiba?"


"Seharusnya sudah Your Majesty"


"Hhmm.. ini pasti menarik"


Setelah berucap, suara tawa menggelegar langsung mengisi suara di dalam ruangan itu. Pria yang sedang duduk di kursi meja kerjanya itu, tampak sangat girang dan bahagia karena memiliki mainan baru.


"Tapi sepertinya, anak-anak itu tidak bisa kita remehkan, Your Majesty"


Sambil mengguncang-guncang gelas anggurnya, Raja Feroca mengangguk singkat sambil menyeringai


"Tentu saja. Kau lihat saja bagaimana licinnya ayah mereka dan ibu cantik mereka yang licik itu. Mereka pasti bukan anak-anak biasa"


Alfon mengangguk sambil menuangkan kembali anggun ke gelas Raja Feroca.


"Lalu apa rencana anda selanjutnya Your Majesty?"


Raja Feroca hanya menyeringai sambil kembali menyesap isi gelasnya.


--000--


Sudah berhari-hari bahkan hampir berminggu-minggu Summer berdiam diri di kamarnya. Di pagi hari yang masih terbilang cukup gelap hari ini, dengan gaun mewah yang sudah di sediakan di dalam lemari kamarnya yang entah milik siapa, dan dengan bantuan beberapa orang pelayan yang tidak ingin di kenalnya, Summer baru saja selesai dengan tatanan rambutnya.


Dengan anggun dan beraut wajah dingin, Summer melangkah bergitu saja menuju pintu keluar


"Biarkan saya yang membuka pintunya, Your Highness"


Tapi, Summer yang tiba-tiba menjadi tuli tidak pernah ingin mendengarkan suara apapun semenjak kedatangannya di Bosnia, tetap membuka pintu tanpa ingin menunggu seorang pelayan yang sudah berusaha berlari secepat mungkin untuk membukakan pintu. Dua orang pelayan lain di sana, langsung melepaskan apapun yang sedang mereka rapikan saat melihat langkah Summer yang langsung berlalu bergitu saja keluar pintu.


"Anda ingin kemana Your Highness?"


Mulut Summer tetap bungkam, dengan kakinya yang terus melangkah. Merasa tidak ada jawaban, seorang pelayan lagi kembali bertanya


"Your Highness, apa anda ingin duduk di taman?"


Keheningan kembali terjadi saat Summer tetap bungkam sangat enggan untuk bersura. Dan kembali, seorang pelayan lain bergiliran bertanya


"Your Highness.. Apakah anda membutuhkan sesuatu? anda ingin berjalan-jalan di istana?"


Sudah Summer katakan, jika dirinya sudah menjadi tuli saat tubuhnya berada di Bosnia. Dan tentu pertanyaan apapun yang di ucapkan para pelayan atau siapapun, tidak akan masuk ke telingannya. Bahkan jika dirinya bisa mendengarpun, dirinya tidak akan berniat membuka mulutnya bergitu saja.


Langkah Summer tetap bergerak, melangkah dan terus melangkah berputar-putar tanpa arah. Sebenarnya, dirinya memang tidak memiliki arah dan tujuan. Summer hanya ingin mengukur dan melihat-lihat semua sudut istana, atau mungkin cela jalan keluar di istana?


Enatalah... hanya Summer yang tahu.

__ADS_1


Hingga langkahnya harus terhenti saat melihat pemandangan mengejutkan di depannya. Di samping intal kuda, di semak-semak padang rumput yang sudah menguning. Sesosok punggung seorang pria sedang menghimpit tubuh seorang wanita di dinding kayu instal kuda dengan pinggul yang terus bergerak meliuk dengan cepat.


Perut kosong Summer hampir memuntahkan lambungnya saat semakin lama, suara desa**n dan erangan semakin kuat.


Tiga orang pelayan yang terus mengikuti dan mencoba membuat percakapan pada Summer semakin gencar mengeluarkan suara. Suara-suara yang bertujuan agar Summer segera pergi dan segera menutup mata sucinya dari totonan tidak bermoral di depannya.


Dengan lambung yang terus bergejolak ingin keluar dari mulutnya, Summer terus melangkah dengan anggun. Dengan raut wajah datar, dagu terangkat tinggi, dan dengan kembali menulikan telingannya, Summer melewati bergitu saja dua orang manusia yang tidak jauh berbeda seperti anjing kawin itu.


Suara langkah kaki, dan sosok Summer bersama para pelayan yang akhirnya bisa di lihat wanita yang sedang menikmati hujaman itu, langsung membuatnya tersentak.


"Your Highness!! Ada orang!!"


Pria yang tadinya sedang menikmati waktu di penghujung puasnya, juga langsung ikut tersentak. Saat akhirnya, arah pandangnya bisa melihat punggung para pelayan dan Summer.


"Sialan!!"


Pria itu mengumpat dan dengan cepat menarik diri, memasukkan miliknya ke dalam celana, dan langsung berlalu begitu saja meninggalkan wanita yang menjadi lawannya. Wanita berpakaian pelayan, dengan separuh bajunnya yang sudah turun hingga ke pinggang.


"Putri Summer!"


Bola mata Summer sedikit bergerak ke ekor matanya saat suara yang sekarang sudah di tandainya itu, meneriakan namanya.


Para pelayan yang tidak menyerah mengikuti langkah Summer dari belakang, langsung berhenti melangkah saat melihat dan mendapatkan perintah 'pergi' dari orang paling di hormati nomer dua di Bosnia.


Summer dengan tuli, buta, dan bisu tidak peduli pada suara langkah-langkah yang sudah menjadi hening. Hanya ada satu langkah yang mengikutinya, dan langkah itu membuat Summer mulai terbakar amarah hingga kedua tangannya mengepal.


Dengan terus berjalan cepat dan anggun, Summer hanya diam. Bahkan saat tiba-tiba pria tadi sudah muncul dan berjalan ke sebelahnya, Summer tetap bisu dan tuli.


Merasa tidak mendapatkan jawaban dan bahkan tidak mendapatkan sedikitpun respon, pria itu kembali berucap.


"Aku dengar, kau memang sudah menjadi bisu dan tuli sekarang?" Pria itu tersenyum culas. Dan dengan gerakan cepat, langsung menarik lengan Summer hingga Summer tersentak dan hampir jatuh masuk ke dalam dekapan pria itu. Pria itu menyeringai, sambil menatap wajah datar Summer dari dekat. Menatap sepasang bola mata abu-abu Summer yang sekarang sudah membara penuh amarah dan dendam. "Kau boleh bisu dan tuli pada siapapun, tapi tidak pada calon tunanganmu ini"


Summer menarik diri sekuat tenaganya, berusaha menjuhkan dan melepaskan dirinya dari cengkaman tangan kotor pria itu.


Melihat tanda-tanda penolakan keras Summer, pria itu langsung melepaskan tangannya yang membuat tubuh Summer langsung terjengkal ke atas tanah.


Sialan! Summer mengusap bokong dan pingganganya saat rasa nyeri menyapannya. Arah pandangnya terangkat, menatap pria yang dengan santainya hanya menatap ketidak anggunan Summer.


Pria itu tersenyum geli sambil mengulurkan tangannya. Tangannya yang hanya di sia-siakan Summer. Karna Summer lebih memilih bangkit sendiri meski dengan sedikit kesusahan.


Melihat penolakan nyata itu, tangan itu terkepal dan kembali tertarik ke sisi tubuhnya. Dengan senyum gelinya yang sudah pudar, bibirnya berucap santai.


"Keras kepala"


Tangan Summer terus membersihkan sisi-sisi gaunnya yang sedikit kotor karna tanah, sambil kembali menulikan telinganya.

__ADS_1


Setelah merasa gaunnya kembali bersih, Summer kembali akan melangkah dan memutar tubuhnya tapi,


Lagi-lagi lengannya di cekal oleh tangan penuh kotoran tidak bermoral itu.


Kepala Summer menoleh. Menatap wajah pria brengsek itu, bibir ranumnya berdesis tajam


"Lepas"


"Ohh... kau bisa bicara ternyata"


Sambil menguatkan cekalannya, pria itu tertawa. Tawa yang membuat Summer menatapnya dengan sengit.


"Apa yang anda inginkan Pangeran Regan?"


Mendengar Summer yang akhirnya menyebut namanya, pria itu, Regan. Dengan perlahan melepas cekalannya sambil tersenyum


"Tidak ada, hanya ingin menemanimu jalan-jalan?"


Merasa tidak ada lagi yang mencekal langkahnya, Summer kembali berbalik dan langsung melangkah. Mulutnya kembali mengatup dengan rahang mengeras. Dia sangat benci pria itu, Regan!


Regan dengan bibir yang masih tersenyum mengikuti langkah Summer yang entah ingin kemana. Dirinya menjadi sangat penasaran dengan si bungsu anak Raja Fredrick itu. Entah kenapa, tapi sepertinya Rega akan punyai mainan menyenangkan.


--000--


Di sisi lain, Anastasia menatap nyalang semua gentlemen yang datang terlambat menghadiri undangannya. Dirinya yang mempunyai wajah lembut dan senyum lembut itu sudah kehilangan kelembutannya saat seseorang yang di kenalnya, datang paling terlambat dan memasang seringai yang sangat di ingatnya.


"Selamat siang, Your Highness. Long time no see...."


Dengan tangan yang sudah terkepal kuat, Anastasia bangkit dari kursinya. Kakinya yang bangkit berdiri membuat semua wajah menatapnya dengan penuh tanya.


"Ya.. Long time no see Sean. Apa kau terlambat karna habis membersihkan makam ayah angkat dan ibumu?"


Ucapan mengejutkan Anastasia membuat seringai Sean lenyap seketika. Kedua matanya menatap Anastasia dengan tajam penuh selidik. Seolah Sean benar-benar tidak mengenali wanita di depannya. Wanita yang dari dirinya kecil, selalu menjadi sasaran penyiksaan Sean. Dengan kembali menenangkan diri, Sean kembali berucap.


"Ayahmu dan aunty-mu Ana"


Separut bibir Anastasia tertarik ke atas, kedua bola mata sebiru langit cerahnya mengkilap, tangannya yang terkepal semakin menguat


"Hhmm... Raja gagal dan simpanannya maksutmu? Raja tidak beeguna dan pelacur yang menusuk ibuku agar bisa merangkat ke atas tahta?"


Melihat wajah Sean yang langsung mengetat karna ucapannya, terlebih karna suara-suara bisikan yang mulai terdengar. Anastasia dengan anggun kembali ke kursinya dengan mengabaikan pria yang masih berdiri mematung dengan raut wajah yang siap untuk meledak karna amarah.


Anastasia dengan tenang duduk sambil meraba-raba tumpukan perkement di depan mejanya. Hingga merasa jika tatapan membunuh yang di tujukan untuknya belum juga berhenti, Anastasia kembali berucap


"Sepertinya, Marquess Sean akan mengikuti rapat kita dengan posisi berdiri. Baiklah... jika begitu kita mulai"

__ADS_1


\=\=\=💛💛💛💛


Jangan lupa like, komennya di sebar-sebar...


__ADS_2