Bloody Crown

Bloody Crown
BC 30


__ADS_3

"Ada hal penting apa Duke Hasting?"


Langsung di tembak dengan pertanyaan di saat Ryes baru akan membuka mulut untuk berbasa basi memberikan salam. Membuat Ryes jadi semakin gusar.


Ryes menatap Francesca dengan lekat. Arah pandangnya benar-benar tidak bisa di ajak berkrompomi dan di atur. Karna arah pandangnya, benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangan dari Francesca.


"Saya ingin memberikan jawaban atas lamaran anda yang kemarin-kemarin"


"Dan?"


Sial! Kenapa Francesca terlalu santai!


Pertanyaan Francesca yang di ucapkannya tanpa sedikitpun mengubah arah pandangnya pada kertas-kertas di meja, membuat Ryes berdehem beberapa kali


"Maafkan saya sebelumnya. Saya bukannya tidak tertarik atas pinangan anda, sungguh Your Majesty. Saya cukup senang dengan pinangan anda. Tapi, anda bisa mendapatkan pendamping yang lebih baik dari saya. Terlebih saya memang tidak mempunyai sedikitpun pikiran untuk berakhir di sebuah pernikahan"


Merasakan hembusan angin yang berhembus kencang dari jendela terbuka di kamar Francesca, membuat Ryes melirik jendela yang ada di sisi kanan meja kerja Francesca.


Sama halnya dengan Francesca yang jadi melepaskan tinta dan kertasnya. Rasa dingin membuatnya jadi menatap Ryes


"Kau menolakku?"


"Bukan, saya hanya menolak pernikahan. Buka anda, Your Majesty"


Satu alis Ryes terangkat saat Francesca berdiri dari kursinya dan melangkah menuju ke jendela yang terbuka.


Dengan anggun, Francesca menuju ke jendela dan mengabaikan penampilannya. Gaun tidur yang tipis, rambut tergerai bebas, gerakan lambat yang anggun. Entah dirinya sadari atau tidak, tapi Francesca seolah sedang mencoba membangunkan singa kelaparan.


Belum cukup sampai di sana, Francesca dengan santai berdiri memunggungi jendela yang terbuka. Hingga saat angin kembali berhembus, membuat rambut pekat tergerainya berterbangan dengan indah. Kulit pucat berkilaunya semakin jelas di terpa sinar bulan purnama sempurna. Lekuk tubuhnya yang hanya di bungkus kain satin sangat tipis benar-benar mencetak jelas setiap jengkal tubuh sempurna siap petiknya.


Terlihat segar, terlihat manis, dan sangat menggiurkan hingga membuat mulut Ryes berair. Sangat memancing mulut Ryes untuk segera mencecap segala rasa sudut matang di tubuh Francesca.


Ryes meneguk ludahnya dengan susah payah. Rasa laparnya sudah mulai bangkit. Arah pandangnya menatap wajah Francesca yang sudah menatapnya dengan lekat, menantang.


"Apa maksutmu... kau menginginkanku tapi tidak ingin menerima ikatan dari ku, Duke Hasting?"


Arah pandang Ryes terus menatap Francesca yang sudah berbalik untuk menutup jendela. Gaun tidur tipis berwana pastel yang sedang di kenakan Francesca mencetak nyata dua bongkahan bulat bokong matang buah persik yang menggoda untuk di nikmati.


Ryes mencoba melonggarkan kerah bajunya yang sudah longgar karna rasa mencekik tiba-tiba menyerang nafasnya.


Setelah jendela tertutup, Francesca kembali berbalik. Dengan gaun tipis yang mencetak setiap lekuk tubuh dan kedua dada yang tidak di sanggah apapun, tanpa dalaman. Tangan Francesca terlipat di depan dadanya. Menyanggah kedua dadanya yang sudah mencetak nyata dua pucuk miliknya yang jadi menguncup karna terpaan angin dingin


Brengsekk!!! Sialan!!


Sambil mengumpat di dalam hatinya, bibir Ryes menyeringai banjingan. Apa-apaan ini?


"Apa anda mencoba menggoda saya? jika iya... anda berhasil Your Majesty. Tapi saya tidak akan melakukan pernikahan dengan siapapun"


Satu alis Francesca menukik. Sebelah tangannya terangkat menyibak rambutnya dengan sebelah tangan yang tetap menyanggah bongkahan dada menantangnya.


Lagi-lagi, demi Tuhan! Ryes meneguk ludahnya dengan susah payah dan semakin gelisah di tempatnya berdiri.


Kemana kontrol luar biasa dirimu Ryes? gadis di depanmu hanya berdiri dengan pakaian cukup tipis tanpa dalaman tapi kenapa sekujur tubuhmu sudah berteriak ingin menerkamnya?


"Menggoda? siapa? kau?" Francesca menarik separuh sudut bibirnya. "Untuk apa?"


Kaki Francesca bergerak sangat pelan. Melangkah menuju kembali ke mejanya yang sama dengan mendekatkan jaraknya pada Ryes. Arah pandangnya tidak melepas sedikitpun tatapan pada Ryes.


Dengan gerakan yang luar biasa anggun tapi menggoda, langkah Francesca berhenti, berdiri di depan mejanya. Bokongnya menempel di pinggiran meja dengan kedua tangan yang kembali terlipat di depan dadanya.


Lidah Francesca sedikit keluar untuk membasahi bibirnya. Membuat bibir ranumnya mengkilap segar


"Tawaranku jelas sebuah pernikahan. Untuk apa aku menggodamu?"


Dengan seringai bajingan yang kembali tercetak di bibirnya, dengan arah pandang lapar yang terang-terangan tergambar di kedua mata berkabutnya, Ryes melangkah maju. Mendekat pada Francesca, hingga jarak mereka semakin dekat.


Punggung Ryes sedikit membungkuk saat jarak mereka hanya berjarak sebatas beberapa jengkal jari. Bibirnya berbisik di sebelah telinga Francesca


"Jika anda butuh. Saya bisa menyenangkan anda, tanpa..." Ryes menarik kepalanya dan mensejajarkan wajah mereka hingga berhadap-hadapan sangat dekat. "Tanpa pernikahan tentu saja"


Dengan sangat lekat dan sama-sama saling mengunci mangsa. Kedua mata sebiru samudara berkabut Ryes menatap lekat kedua mata abu-abu mengkilap tangguh Francesca.


Ryes tersentak saat kerah bajunnya, langsung tertarik ke depan. Hingga wajah mereka sangat dekat, benar-benar dekat. Hingga hanya hidung mereka yang membatasi jarak yang sudah saling menerpa rasa hangat di wajah mereka.


"Ryes...."


Sekujur tubuh Ryes merinding seketika. Kedua bola matanya semakin berkabut dengan kedua tangan yang sudah terkepal kuat. Sekuat nyawa Ryes menahan dirinya untuk tidak mendorong tubuh Francesca ke atas meja dan langsung melahapnya. Untuk memuaskan dahaga yang mulai sangat menyiksanya

__ADS_1


Melihat tubuh Ryes yang menegang tapi tetap dalam kontrol yang luas biasa, separuh senyum Francesca kembali terbit. Bibirnya berbisik lirih


"Sejujurnya, aku tidak merasa jika kau kekurangan untuk menjadi pendamping ku. Kau pria sempurna untuk menjadi orang pertama yang berdiri di belakangku saat aku memakai mahkotaku. Tapi-" Tangan Francesca tiba-tiba mencengkam kuat dagu Ryes dengan sebelah tangan yang terus menarik kerah baju. "Aku bukan perempuan binal yang akan melayanimu di ranjang tanpa ikatan. Apa lagi memintamu untuk melayaniku"


Tangan Francesca mendorong wajah dan tubuh Ryes. Yang membuat tubuh Ryes jadi sedikit terhuyun kebelakang.


Dengan kaki yang sudah berdiri, dengan kedua bahu yang sudah menegak, dengan dagu yang sudah terangkat tinggi. Tangan Francesca bertaut di perut dan berucap penuh dengan kekuasaannya


"Aku... Ratu Francesca Francia, Duke Hasting. Jaga lisan dan tingkahmu. Jika kau bukan keluarga pemilik istana Bosnia, aku pasti sudah memotong kepalamu sekarang juga!" Arah pandang Francesca menajam, rahangnya mengetat. "Jangan sembarangan padaku. Aku bisa mendapatkan pria manapun yang aku inginkan. Ada ribuan pria yang bersedia meletakkan wajahnya di punggung kakiku dan menggantikan pilihan salahku padamu"


Francesca langsung melengos untuk kembali duduk di kursinya. Setelah duduk di kursi, arah pandang Francesca menatap Ryes dengan tajam


"Keluar"


Dengan dada berdebar hebat, dengan seluruh darahnya yang berdesir panas, dengan jiwa buasnya yang sudah terbakar. Seringai bajingan Ryes semakin lebar.


Tanpa gerstur kesopanan, Ryes terus membalas tatapan tajam Francesca.


Mereka masih saling menatap dan saling menjerat dalam tatapan mereka. Hingga yang kalah, akhirnya mengalah karna benteng petahanan gairahnya sudah berada di ujung tanduk.


"Selamat malam, Your Majesty"


Setelah Ryes keluar dan menutup pintu. Kedua tangan Francesca langsung mengusapi lengannya yang merinding hebat.


Pria itu... laki-laku itu... dia sangat berbahaya. Francesca tidak ingin membayangkan sudah berapa banyak para gadis dan wanita yang bertekuk lutut menyerah pada tatapan kedua bola mata sebiru samudra lembut tapi menenggelamkan milik Ryes.


Sedangkan Ryes yang sudah melangakah di koridor, mulai terkekeh sendian di tengah-tengah langkahnya.


Rasanya sangat tergelitik saat dirinya tidak bisa menahlukkan kedua bola mata abu-abu mengkilap tangguh Francesca. Rasanya sangat menyebalkan ketika Ryes harus menelan gairahnya dalam keadaan on fire yang entah harus bagaimana harus di redamnya.


"Sial!!"


Edward dari balik tembok ikut memutar langkahnya sebelum dirinya berada semakin dekat dengan langkah Ryes. Terlalu berbahaya mendekati seorang pria yang terbiasa di medan perang seperti Ryes. Insting pria itu pasti sangat perasa seperti anjing.


---000---


Malam ini, Ferdinand yang baru saja selesai menjemput dan mencarikan penginapan untuk seseorang, sedang menikmati pemandangan malam hari di sebuah penginapan ibu kota.


Dirinya cukup lelah setelah seharian menemani seseorang yang baru tiba di Francia, dan langsung harus berkeliling untuk memuaskan dahaga berbelanja orang itu.


Delana. Wanita yang di layani Ferdinand sebaik mungkin itu semakin menjadi dan membuat Ferdinand harus banyak menumpuk kesabaran.


Lagi-lagi Ferdinand memutar bola matanya dengan malas saat Solar terus memberikan peringatan sinisnya.


"Ingin berapa ribu kali lagi kau akan mengingatkanku Sol? Aku juga pilih-pilih jika ingin meniduri seorang wanita! sialan!"


Solar yang juga sedang ikut menikmati pemandangan ibu kota malam hari langsung menoleh pada Ferdinand. Menatap Ferdinand dengan tatapan sinis yang tidak di tahan-tahannya.


"Berarti. Jika dia seorang gadis, cantik, dan mempunyai hal yang menarik, anda akan menidurinya? anda tidak masalah jika menidurinya? anda akan bersedia dengan suka rela menidurinya?"


Merasa mulai kesal. Tangan Ferdinand terangkat dan langsung melayang ke kepala Solar


Plaakk!!


"Aku punya istri berdebah! aku sangat mencintai istiku! Hati-hati mulutmu berucap sialan!"


Sambil mengusapi kepalanya, Solar mencebik tidak suka


"Dulu juga anda punya istri dan tetap memasukkan kekasih anda ke dalam pernikahan kalian. Anda juga menghamilinya"


"Aku menghamilinya sebelum kami menikah sialan! aku juga tidak tahu jika akan begitu kejadiannya!" Ferdinand membuang nafas panjang karna tiba-tiba rasa sesak menyusup di dalam dadanya. Mulutnya kembali berucap dengan lirih. "Jangan membahas itu lagi. Kau membuatku takut Solar"


Akhirnya, Solar bungkam. Dirinya tidak akan membahas lagi masa lalu itu, karna tidak perlu di ceritakan lagi bagaimana dulu terpuruknya Ferdinand yang tenggelam dalam rasa bersalah. Dan Solarlah, seseorang yang selalu menjadi orang paling banyak menghabiskan waktunya untuk menghibur dan memberikan semangat untuk Ferdinand yang dulu sempat kehilangan semangat dan gairah untuk melanjutkan kehidupannya tanpa Anastasia.


"Maaf Your Highness. Saya hanya ingin mengingatkan anda. Karna jika Her Highness Putri Anastasia kembali terluka, saya akan berhenti menjadi tangan kanan anda dan tidak akan sudi melihat anda lagi"


Ferdinand mendengus kasar.


"Aku tidak peduli padamu"


Benar.. mana peduli Ferdinand pada Solar jika harus membandingkan dirinya yang bisa saja kehilangan Anastasia lagi. Membayangkannya saja, jantung Ferdinand mulai berdetak nyeri.


Keheningan terjadi beberapa saat. Solar larut dalam pemikirannya. Dan Ferdinand juga larut dalam pemikirannya. Hingga akhirnya Ferdinand kembali berucap


"Apa aku harus menjelaskan semua ini pada Ana, Sol? Setiap kali melakukan ini tanpa sepengetahuan Ana. Aku merasa sangat takut"


Dari ekor matanya, Solar melirik Ferdinand sejenak lalu menjawab

__ADS_1


"Seperti yang Her Majesty katakan, jika sebaiknya Her Highness jangan di beritahu. Lebih baik seperti ini dari pada memberi tahu Her Highness dan membuat beban pikirannya bertambah" Solar kembali melirik Ferdinand sejenak lalu kembali berucap. "Coba saja keadaan di balik. Bayangkan jika istri anda yang menjadi anda, dan anda mengetahui itu. Pasti-"


"Ok cukup! Kau jadi membuatku kesal Sol. Membayangkan Ana harus menggoda pria lain membuat darahku mendidih"


Kedua mata Solar berputar dengan jengah.


"Naahh.. itu maksut Her Majesty, Your Highness..." Tangan Solar menepuk-nepuk sebelah bahu Ferdinand dengan sok akrab. "Jadi cepatlah selesaikan rencana kalian agar anda bisa kembali ke atas ranjang yang panas secepatnya"


Ferdinand yang tadinya ingin marah karna tangan Solar yang sudah lancang menyentuhnya, jadi tersenyum girang karna membayangkan ranjang mereka. Ranjang panasnya bersama Anstasia


Solar yang melihat senyum Ferdinand lengsung menarik nafas dalam untuk menyiapkan diri


Dan benar saja... Setelah Solar selesai menarik nafas dalamnya. Suara senandung sumbang Ferdinand mulai melantun tidak indah di telinganya.


--000--


Di Trancia, siang ini Anastasia sudah siap untuk kembali ke Francia. Meski pekerjaannya di Trancia belum sepenuhnya selesai karna harus menunggu siapa yang akan menyerahkan diri padanya, tapi Anastasia memilih mengikuti surat yang di kirim Francesca. Jika dirinya, harus datang saat festival dan menyerahkan sementara urusan di sana pada Stevan dan Lucas.


"Apa tidak masalah jika kita melakukan perjalanan nanti malam, Your Highness?"


Dengan hati girang bahagia. Untuk yang kesekian kalinya kepala Anastasia menggeleng yakin. Dan untuk yang kesekian kalinya, Anastasia menjawab pertanyaan Ruth


"Aku baik-baik saja Ruth. Francia dan Trancia tidak jauh berbeda dengan jarak antara Yorksire dan ibu kota jika kita melewati jalan di belakang gunung. Seperti biasa"


Akhirnya, Ruth hanya bisa membuang nafas pasrah. Dirinya sangat khawatir jika harus melakukan perjalanan yang di mulai pada malam hari, terlebih dengan keadaan Anastasia yang sedang mengandung di usia muda


Melihat raut wajah Ruth yang masih tampak tidak rela. Anastasia melangkah mendekati Ruth. Meraih sebelah tangan Ruth dan langsung meletakkan tangan hangat itu ke perutnya.


Ruth tersentak


"Your Highness...?"


Senyum di bibir Anastasia kembali terbit, lalu berucap lembut.


"Dia merindukan papanya. Dan aku juga"


Kekehan yang penuh dengan binar bahagia Anastasia hanya bisa membuat Ruth menyerah. Well... memang apa lagi yang bisa Ruth katakan jika sudah begini.


"Baiklah Your Highness... saya akan menjaga anda sebaik mungkin"


Kepala Anastasia mengangguk.


--000--


Dengan sebelah tangan yang terus memutar-mutar cangkir tehnya. Francesca menatap tamu keduanya malam ini.


Tamu? Apakah gadis di depannya itu bisa di sebut tamu?


"Dia sangat sulit di baca Frans. Aku merasa dia sedang menyimpan sesuatu yang sangat besar"


Francesca menaikkan arah pandangnya pada gadis di depannya


"Tentu Sum. Mereka Bosnia. Sejarah mereka sudah membuktikan jika di sana adalah sarang srigala"


Summer mengangguk setuju. Lalu menimpali ucapan Francesca


"Regan. Entah kenapa aku selalu merasa takut padanya. Bahkan aku merasa jauh lebih takut padanya dari pada Raja Feroca"


Tangan Francesca meletakkan kembali cangkir tehnya, dan kembali menatap adiknya.


"Aku juga. Bukan hanya karna kita tahu jika dia yang menyerang papa dan mama. Tapi juga karna sesuatu yang selalu mengganjal setiap kali melihat wajah menyebalkannya"


Kepala Summer kembali mengangguk setuju. Lalu menatap asap yang keluar dari isi cangkirnya


"Apa yang harus ku lakukan Frans?"


Kepala Summer kembali terangkat untuk menatap kakaknya dengan lekat. Francesca ikut menatap adiknya dengan lekat, lalu berucap


"Tahan segalanya Sum. Ingatlah jika kau hanya harus hidup. Hanya itu...." Tangan Francesca menggenggam sebelah tangan Summer dan menatap adiknya dengan tatapan tegas. "Kita. Adalah putri Raja Fredrick yang tangguh dan tidak mengenal kata kalah"


Kedua bola mata abu-abu berbias warna kehijauan Francesca mengkilap tajam menatap kedua bola mata abu-abu berbias gelap milik Summer.


Tangan Summer mengeratkan genggaman tangan mereka dan mengangguk paham.


"Iya, Frans"


\=\=\=💜💜💜💜

__ADS_1


Jagan lupa like dan komennya


__ADS_2