
Semilir Angin pertengahan musim panas kembali menerbangkan rambut pekat Francesca yang hari ini memang tidak di tatanya dengan serapih mungkin. Sesekali rambutnya menutupi kedua matanya, dan sesekali rambutnya menutupi seluruh wajahnya.
Ferdinand yang terus melihat itu akhinrya merasa gemas dan menggeser kursinya ke belakang kursi Francesca.
Dari ekor matanya, Francesca melirik saat tangan kembarannya itu mulai mengumpulkan rambutnya kebelakang. Dengan arah pandang dan tubuh yang hanya terus menghadap ke luar jendala ruang kerja ayahnya, mereka dalam diam terus menikmati pemikiran masing-masing.
Dengan jari-jarinya, tangan Ferdinand mulai menyisir rambut kembarannya. Hingga saat merasa sudah rapih, tangannya dengan sedikit kaku mulai membuat lilitan dan jalinan rambut Francesca. Ferdinand sedikit banyak masih mengingat cara mengepang rambut yang dulu sering di ajarkan Diana saat mereka masih kecil. Mengajarinya untuk mengepang rambut kembarannya saat mereka belum tumbuh dewasa di Yorksire. Pekerjaan yang dulu sangat di sukai Ferdinand selain berpedang
"Dinand"
"Hm?"
"Kenapa mereka bisa menemukan tempat penyimpanan uang pribadi kita?"
Dengan tangan yang terus bergerak kaku. Arah pandang Ferdinand melirik ke depan, ke arah jendela sambil menjawab
"Mungkin itu bukan Bosnia"
Ucapan Ferdinand membuat Francesca langsung berpikir keras. Mencoba mengingat dan memikirkan semua hal
"Apa karna ini kau mulai selalu mencurigai semua orang, dan kemarin-kemarin selalu memintaku untuk tidak mengatakan semua rencana kita pada banyak orang?"
Jemari-jemari Ferdinand yang bergerak kaku, terus berusaha membuat kepangan serapih mungkin di rambut kakaknya
"Entahlah Frans, aku hanya menebak-nebak. Dan tidak ada salahnya jika kita berwaspada penuh"
Kepala Francesca mengangguk paham. Lalu keheningan kembali menyelimuti isi ruangan itu, hingga Ferdinand kembali berucap
"Apa kau menemukan sesuatu?"
Pertanyaan Ferdinand membuat Francesca jadi mengingat sesuatu. Dan dengan cepat kepalanya menoleh tapi, dengan cepat juga tangan Ferdinand menahan kepala Francesca sambil berguman
"Belum selesai. Tunggu dulu"
Akhirnya Francesca dengan pasrah membiarkan adiknya untuk meneruskan apapun yang ingin di lakukan Ferdinand pada rambutnya.
Bermenit menit terus terlewati dengan tangan Ferdinand yang terus mengepang rambut Francesca. Tangan dan jarinya dengan kaku terus bergerak melilit, menjalin, lalu melepaskan kembali semua lilitan rambut saat dirinya merasa tidak puas. Hingga puluhan menit akhirnya terlewati, dan helaan nafas panjang akhirnya Ferdinand berhembus. Helaan nafas puas Ferdinand
"Selesai"
Dengan cepat Francesca lengsung berdiri saat tangan Ferdinand sudah melepas rambutnya. Langkah Francesca menuju ke kabinet, dan membuka sebuah kota surat kecil spesial di sana. Setelah apa yang di carinya sudah ada di tangannya, Francesca kembali menuju Ferdinand.
Dengan terus memperharikan gerak gerik kembarannya. Dengan cepat tangan Ferdinand terangkat untuk langsung meraih sebuah kertas yang sudah di sodorkan Francesca padanya. Kertas yang baru saja di ambil Francesca dari kotak di kabinet.
Dalam diam, Ferdinand mulai menatap kertas putih yang separuh penuh berisi tumpahan tinta. Tidak ada yang spesial, hingga Francesca berucap
"Lihat kertas itu dari bawah"
__ADS_1
Dengan bingung, Ferdinand mengangkat kertas itu ke depan jendela sambil menerawang ke sinar matahari. Dan saat itulah, sesuatu bisa tampak lebih jelas terlihat
"Barack?"
Kepala Francesca mengangguk. Benar, di sana ada tulisan berhuruf BARACK yang sudah kering. Lalu entah sengaja atau bagaimana, ketas itu terkena tinta hingga kertas berbahan kayu minyak tebal itu menutupi tulisan di sana. Bantuan sinar matahari yang membuat kertas menerawanglah, yang membuat Francesca akhirnya bisa melihat tulisan itu. Meski samar dan sulit di baca jika tidak di cermati dengan baik
"Aku menemukan itu di meja kerja kamar papa, sebelum mereka membersihkan kamar"
Raut wajah Ferdinand tampak berpikir keras. Tangannya terus terangkat ke atas dengan arah pandangnya yang terus menatap kertas.
TOK TOK TOK
"Your Majesty, ini Susane"
Suara ketukan pintu dan suara pelayan Francesca yang terdengar, membuat Ferdinand dengan cepat langsung memberikan kembali kertas itu pada Francesca dan langsung segera berdiri dari kursinya.
Saat sudah berdiri di depan pintu, Ferdinand menunggu sejenak hingga Francesca selesai menyimpan kembali kertas tadi ke tempat semula. Lalu langsung membukakan pintu yang sebenarnya tidak perlu dirinya lakukan
"Kenapa Sane?"
Ferdinand langsung bertanya saat wajah Susane sudah bisa di lihatnya. Dengan sopan Susane menjawab sambil menyerahkan beberapa tumpukan amplop.
"Ini dari kesatria Tomy, Your Highness. Kesatria Tomy mengatakan jika ini harus langsung sampai di tangan Her Majesty atau anda, Your Highness"
Tangan Ferdinand langsung menyambar apa yang sudah di sodorkan Susane dengan sopan padanya sambil berucap
"Apa ada lagi?"
"Kesatria Tomy mengatakan jika hari ini kiriman pengawal dan kesatria terbaik yang di kirim mulai tiba. Dan kesatria Tomy serta yang lain mungkin akan di kamp kesatria hingga tengah malam, Your Highness"
Kepala Ferdinand mengangguk paham.
"Baiklah Susane"
"Kalau begitu saya permisi, Your Highness"
Tanpa menjawab, Ferdinand langsung menutup pintu sambil melihat amplop-amplop di tangannya. Francesca ikut menatap amplop-amplop di tangan Ferdinand sambil bersuara
"Dari mana?"
"Ana, uncle Arthur, dan satu lagi tidak bernama"
Kedua alis Francesca terangkat saat Ferdinand menyebutkan amplop terakhir.
Dengan penasaran, Ferdinand mulai membuka surat dari Arthur sambil menempelkan pinggulnya dengan santai ke meja kerja yang sudah kembali di tempati Francesca. Keheningan kembali mengisi ruangan, hingga Ferdinand selesai membaca dirinya dan langsung memberitahukan isi surat
"Mereka sudah bisa menemukan dua belas titik besar perdagangan Bosnia, dan besok mereka akan mulai menuju ke sana"
__ADS_1
Francesca mengangguk paham, lalu kembali menunggu Ferdinand membaca surat kedua, surat dari istri Ferdinand
Dengan bibir yang mulai tersenyum, Ferdinand tampak sangat meresapi isi surat, hingga membuat Francesca mulai jengah karna terlalu lama. Sebenarnya, Ferdinand ingin membaca surat hingga berapa kali?
"Ana sudah tiba, dan besok akan memulainya"
Satu alis Francesca menukik. Dengan lamanya Ferdinand membaca surat, apa hanya itu isinya?
"Benar hanya itu Dinand?"
Senyum semeringah Ferdinand terbit. Dan raut wajah berbinar Ferdinand itu, membuat Francesca jadi menyesali pertanyaannya sediri.
"Dia mengatakan untukmu. Tolong jaga aku, dan perhatikan aku yang manja ini. Ana juga menitipkan aku padamu. Ohh.. dan ju-"
"Surat ketiga"
Bibir Ferdinand mencebik tidak suka
"Belum selesai Frances! Istriku juga mengatakan agar kau selalu menjaga kesehatan dan jangan terlalu banyak pikiran. Dia mengatakan jika serahkan saja semua urusan Trancia padanya. Dia sangat mengkhawatirkan kita"
Bibir Francesca menipis dengan hatinya yang mulai menghangat.
"Lalu?"
Sambil memutar bola matanya dengan malas, Ferdinand berucap
"Lalu-lalu apa lagi! Sudah selesai! isinya sudah tidak ada lagi. Ck! lalu-lalu apa itu lalu-lalu... Hah! si lalu..."
Helaan nafas panjang Francesca berhembus saat mendengar mulut menyebalkan Ferdinand. Rasanya Francesca ingin sekali menjejalkan surat itu ke dalam mulut kembaran brengseknya.
Mulut Ferdinand terus bercicit sambil mulai membuka surat ketiga. Hingga baru pada bait pertama surat, mulut Ferdinand bungkam dengan rahangnya yang menegang
"Brengsek!"
Umpatan dan perubahan raut wajah Ferdinand membuat satu alis Francesca menukik
"Kenapa?"
Entah karna apa, tapi Francesca yakin jika apa yang sedang di baca Ferdinand sekarang, adalah sesuatu yang buruk, bahkan sangat buruk. Karna mereka yang selalu bisa berbagi perasaan apapun itu, sudah sama-sama merasakan amarah yang tidak bisa di maafkan lagi.
Tangan Francesca dengan cepat menyambar surat dari tangan Ferdinand saat melihat Ferdinand yang hanya terdiam siap meledak.
Dan tidak perlu menunggu waktu lama,
Brakkkk!!!
"Aku akan memotong leher mereka!!!!"
__ADS_1
\=\=\=💚💚💚💚
Jangan lupa like dan komennya di sebar yaaa.....