Bloody Crown

Bloody Crown
BC 22


__ADS_3

Pagi ini, Susane dan para pelayan lain sedang sibuk mengangkuti semua barang-barang yang sudah tersusun rapih. Seperti yang sudah di jadwalkan, karna hari ini mereka akan kembali ke Francia.


Francesca kembali menyesap tehnya sambil menikmati terpaan sejuk angin pagi di Bosnia. Sedangkan kembarannya, sedang sibuk membolak balik buku yang berisi tentang banyak contoh poem cinta.


Sesekali, dari ekor matanya Francesca melirik Ferdinand yang berdecak kesal. Lalu sesekali, ketenangannya terganggu saat Ferdinand berjalan bolak balik di depan arah pandangnya.


Hingga Francesca yang mulai muak akhirnya bersuara.


"Kau sangat mengganggu"


"Ck! sudah ku katakan jika ini bukan gayaku Frans. Menulis poem? ah sial! Aku tidak mengerti"


Tangan Francesca meletakkan cangkirnya sambil membuang nafas panjang. Kembarannya itu memang tolol!


"Pilih saja secara asal. Kenapa kau harus memikirkannya dengan sangat spesial? Hm?"


Pertanyaan yang mengandung aroma sindiram dengan tatapan penuh selidik Francesca membuat Ferdinand memutar bola matanya dengan malas.


"Jangan mulai Frans. Pemikiranmu membuatku jijik"


Satu alisa Francesca menukik dengan tetap menatap Ferdinand penuh selidik.


"Apa sekarang kita sudah berbagi pikiran juga?"


Nafas panjang Ferdinand berhembus. Dirinya benar-benar sedang tidak ingin menyambut pancingan adu mulut dari Francesca.


Tangan ferdinand terangkat, dan melemparkan buku di tangannya ke meja Francesca


Brakk!


"Pilihkan kalau bergitu. Pilihkan yang benar dan jangan terlalu berlebihan apa lagi terlalu menggelikan"


Alis Francesca mengerut dalam. Arah pandang penuh selidiknya sudah berubah menjadi tatapan tajam.


"Kau memerintahku Pangeran Ferdinand?"


Dan sekali lagi, Ferdinand memutar bola matanya dengan malas.


"Maaf Your Majesty-" Tangan Ferdinand kembali mengangkat buku, lalu meletakkan buku dengan pelan, dengan sangat dramatis. Suaranya kembali berucap dengan tidak kalah sopan dramatis "Maaf mengganggu waktu sejuk pagi hari anda. Dengan 'penuh kelancangan', saya ingin anda memilihkan poem yang cocok untuk saya selipkan di surat yang akan saya kirimkan para wanita tua itu"


Merasa semakin kesal, Francesca langsung melempar buku itu pada Ferdinand yang dengan sigap langsung menangkapnya.


"Hup! hati-hati Your Majesty. Ini buku Susane"


Francesca mengabaikan wajah dan suara menyebalkan Ferdinand. Dirinya langsung menatap ke luar jendela, lalu berucap


"I don’t talk.


My lips part and air pushes out,


but the sound must not fit,


because my thoughts are so big.


So I don’t try to talk.


My thoughts must be too good for


words, for the air, for my lips.


But they are just right for paper.


My thoughts flow on paper.


They are just big enough.


So I don’t talk;


I compose,


I write,


I dream"


"Aahhh!! itu bagus. Tunggu, aku ambil kertas dan tintaku dulu... tunggu!"


Francesca hanya bisa mendengus kasar sambil meraih buku bersampul warna pink yang sempat di genggam olah kedua tangan kasar dan kekar Ferdinand. Jari jemarinya mulai memilih halaman yang sudah di temukannya di daftar isi.


"Apa tadi? ulangi Frans"


Dengan malas, Francesca meletakkan buku ke atas meja sambil menatap Ferdinand.


"Ini"


Ferdinand yang paham langsung menyambar buku. Lalu mulai membaca isinya dengan suara kuat dan nada mengalun seperti sedang membaca poem, padahal itu hanya pemikirannya. Karna cara membaca Ferdinand, hanya membuat perut Francesca tergelitik geli. Sial! kenapa dirinya dulu bisa berbagi rahim bersama pria konyol dan tolol seperti Ferdinand.


Dan pemikiran itu, membuat Francesca menatap Ferdinand yang mulai mengucapkan bait terakhir, lalu menutupnya.


"By Rebecca"


Setelah berucap, Ferdinand mulai mengambil posisi menulisnya. Dengan mata yang mencontek buku dan tangan yang menulis, mulut Ferdinand berguman.


"Aku tahu kau mencintaiku Frans. Aku juga mencintaimu kakak"


Bibir Francesca tertarik tipis sambil terus menatap Ferdinand.


"Aku akan mengorbankan apapun untuk Francia"


"Dan kebahagiaanmu"


Meski Francesca tidak bisa memuntahkan ucapan terakhirnya, tapi hati Ferdinand sangat bisa merasakan apa yang sedang di rasakan kakaknya. Bibirnya dengan lirih dan pelan berucap

__ADS_1


"Aku seorang pria Frans"


"Aku tahu. Aku sudah sering mendengar jenis pria seperti apa kau dulu"


Ucapan Francesca, akhirnya membuat Ferdinand tergelitik. Lalu tanpa mengubah arah pandangnya yang masih mencontek buku, mulutnya berucap dengan nada yang sudah berubah.


"Apapun statusmu. Kau adalah perempuan yang paling ku sayangi di muka bumi ini"


Satu alis Francesca menukik


"Dan, Ana?"


"Ck! itu lain lagi. Ana adalah hidupku dan masa depanku. Dan kau, adalah bagian diriku"


Akhirnya, Francesca terkekeh pelan sambil menatap Ferdinand dengan geli


"Kau manis sekali Dinand"


"Uhh!!!" Kali ini Ferdinand menatap Francesca dengan wajah meringis menahan jijik. "Jangan katakan itu. Jika bukan Ana yang mengatakannya isi perutku jadi ingin keluar"


TOK TOK TOK


"Your Majesty, semua sudah siap"


Ketukan pintu dan suara yang terdengar membuat percakapan mereka terhenti. Hingga Francesca menjawab


"Iya Solar. Masuklah"


Pintu di buka, dan Solar langsung muncul sambil menunduk sopan. Tidak lama suara Ferdinand terdengar.


"Sol, kirim ini ke castle Winna dengan aman"


Raut wajah biasa Solar langsung berubah menjadi raut wajah tidak bersahabat. Sambil meraih amplop surat yang di sodorkan Ferdinand, Solar menatap Ferdinand dengan sinis.


"Ya.. Your Highness"


"Ck! jangan menunjukkan wajah dan tatapn itu sialan! kau membuatku seperti pria buruk yang terang terangan sedang berselingkuh!"


Sambil memasukkan amlop ke dalam saku mantelnya, Solar berguman. Gumanan kuat yang masih bisa di dengar semua orang di sana.


"Memangnya tidak? jelas-jelas anda selingkuh. Ck!"


"Hei! kau-"


"Sudah jangan mulai. Kita sebaiknya keluar"


Ferdinand akhirnya hanya bisa mengatupkan mulutnya yang hendak protes. Lalu berjalan mengukuti Francesca sambil menatap Solar dengan kesal.


Dengan sengaja, Ferdinand berjalan dan menabrakan sebelah bahunya pada Solar yang masih menatapnya dengan sinis.


--000--


Thomas menyambut beberapa pasang tamunya yang hari ini, sudah kembali berdatangan. Dengan wajah ramah dan senyum penuh penyambutan, Thomas langsung membawa para tamunya untuk masuk ke castle Ross.


Jumlah tamu yang datang, tamu-tamu yang ternyata berjumlah melebihi perhitungan awal mereka membuat Albert melirik Lincont.


Lincont yang paham lirikan itu langsung mengangguk dan pergi. Karna dirinya harus menambah pengawasan dan juga informasi tentang tamu-tamu bangsawan dari Bosnia yang mungkin ada dan muncul di luar dari informasi.


Langkah Lincont membuat ketiga uncle Victoria saling melirik. Dalam tatapan mereka, ada banyak rencana dan pertanyaam yang sudah saling mereka lemparkan.


*


*


Sudah tiga hari keadaan pagi Anastasia di Trancia belum juga membaik. Bahkan sekarang, Anastasia tidak bisa menelan makannya karna rasa mual yang terus menerus menyerang lambungnya tanpa ampun.


Ruth dengan sabar terus membantu memberikan sedikit kenyamanan untuk Anastasia yang lagi, kembali mual dan muntah-muntah. Dirinya juga sering kali ikut melakukan apa yang di lakukan Anastasia. Menarik nafas dalam dari hidung, lalu membuangnya secara perlahan dari mulut.


Beberapa menit Anastasia terus melakukan tekhnik relaksasi yang sudah di ajarkan dokter padanya, hingga saat merasa perutnya mulai cukup tenang, Anastasia mulai bangkit berdiri dari lantai kamar mandi.


Dengan sigap, Ruth membantu Anastasia untuk keluar dari kamar mandi sambil berucap.


"Apa saya harus memanggil dokter lagi, Your Highness?"


Dengan cepat, Anastasia menjawab sambil mendaratkan bokongnya ke pinggir ranjang


"Tidak perlu Ruth. Aku baik-baik saja"


Anatasia bercap lembut dan lemas sambil memegangi perutnya. Lalu senyum haru tercetak di bibirnya. Membuat Ruth ikut tersenyum haru sambil menatap Anastasia dengan tatapan berbinar bahagia.


"Sebentar lagi, istana Rembrantd akan penuh dengan tangisan bayi yang mengemaskan Your Highness"


Kepala Anastasia mengangguk dengan tangannya yang terus membelai perutnya sendiri.


"A-aku... aku sangat bahagia Ruth. Tuhan sangat baik padaku"


"Tentu saja Your Highness!! Oh ya ampun! Segala puji-pujian untuk Tuhan di surga! Saya sendiri jadi tidak bisa tidur kemarin setelah mendengar ucapan dokter itu"


Dengan senyum bahagia yang terus tercetak di bibirnya, sebelah tangan Anastasia meraih tangan Ruth lalu menatapnya dengan lembut.


"Terimakasih Ruth"


Ucapan Anastasia itu, langsung membuat Ruth tersentak dengan kepala menggeleng kuat sambil berucap


"Your Highness. Anda tidak boleh-"


"Tidak apa-apa Ruth. Aku benar-benar sangat ingin mengatakan itu padamu. Ini akan menjadi rahasia kita jika aku mengucapkan kata terimakasih padamu" Satu mata Anastasia mengedip pada Ruth. "Ok?"


Dan gerak gerik serta ucapan Anastasia membuat Ruth terkekeh sambil mengangguk


"Baik Your Highness. Tapi tidak ada lain kali, ini yang terakhir-" Ruth ikut mengedipkan satu matanya. "Ok?"

__ADS_1


Dan kekehan mereka, langsung saling bersaut-sautan. Hingga Anastasia kembali berucap


"Tolong tetap rahasiakan dulu kabar ini Ruth. Aku ingin memberikan kabar ini sendiri pada His Highness dan Her Majesty. Terlebih aku tidak ingin mereka menjadi berlebihan khawatir lalu menganggu semua rencanaku di sini"


Benar... Anastasia harus menyembunyikan dulu kabar kehamilannya untuk sementara waktu. Karna jika kabar ini sampai di telinga Francesca terlebih Ferdinand, dua kembar itu pasti akan memintanya untuk kembali.


Lagi pula, Anastasia juga harus sangat berhati-hati selama di Trancia. Karna manusia-manusia racun di sana bisa saja mencelakai dirinya terlebih kandungannya. Tidak! Tidak lagi! Anatasia bisa gila jika dirinya kembali kehilangan janinya karna kebodohan dirinya lagi.


Ruth akhirnya membuat nafas panjang lalu mengangguk pasrah.


"Baiklah Your Highness. Tapi anda harus tetap patuh pada perintah dan saran dokter. Tolong jangan banyak pikiran lagi"


Kepala Anastasia mengangguk paham sambil tersenyum. Sebenarnya, dirinya cukup khawatir dengan kabar kehamilannya ini. Anastasia hanya merasa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk berbadan dua.


Di tengah-tengah kemelut kesibukan yang terjadi dan juga dengan semua duka yang sedang menyelimuti mereka, Anastasia jadi berpikir. Apakah kehamilannya yang datang tanpa terduga sekarang benar-benar tidak masalah? Bukan dirinya tidak bahagia, hanya saja sekarang ini dirinya sedang tidak bisa menjaga nyawa lain di tubuhnya dengan semua pekerjaan dan dendam di hatinya.


TOK TOK TOK


"Your Highness"


Suara Lucas di depan pintu membuat Ruth langsung menatap Anastasia. Meminta pesetujannya. Anatasia yang di tanya dari tatapan Ruth mengangguk


"Suruh saja dia masuk Ruth"


"Baik Your Highness"


Pintu di buka, dan Lucas langsung masuk dengan sopan. Arah pandangnya menatap wajah Anastasia lekat-lekat. Mencoba menilai keadaan istri Ferdinand yang sudah selama tiga hari ini menunda rapat karna masalah demam yang di akibatkan kelelahan.


Senyum lembut Anastasia terbit saat menyadari Lukas yang sedang menilainya.


"Aku baik-baik saja Luc. Aku sudah lebih baik"


Tersadar dari sikap lancangnya, Lucas langsung menundukkan kepala dengan penuh kesopanan


"Maaf Your Highness"


"Tidak masalah. Ada apa Luc?"


Lucas kembali mengangkat kepalanya dan berucap


"Pagi tadi, Her Majesty dan His Highness sudah tiba di Francia. Dan kabar dari kapten Edward, jika tuan George akan datang ke istana"


"Ohh benarkan? George ke istana?"


Senyum geli yang langsung tercetak di bibir Anastasia, membuat Ruth dan Lucas jadi ikut tersenyum geli.


"Yaa... sepertinya, tuan George sangat merindukan istana"


Lucas berucap dengan nada yang penuh dengan ejekan. Dan kata-katanya berhasil membuat semua orang terkekeh geli.


Di sela-sela kekehan gelinya, Anastasia berucap


"Istana pasti akan ramai"


--000--


Dari kereta kuda yang sedang di tempatinya, kedua mata abu-abu tua George menatap seluruh keadaan ibu kota Francia. Dirinya sangat sibuk tersenyum saat melihat keadaan dan perubahan yang terjadi di sebagaian kecil daerah di Francia itu, hingga terus mengabaikan Edward yang masih bercicit kesal karna harus menemaninya berkeliling ibu kota.


"Lebih dari seetengah abad lalu, aku sering mendengar cerita dari mendiang Raja David ayahku, jika Francia suatu hari akan menjadi kerajaan yang besar. Dan kata-kata itu selalu menjadi motivasi dan cambuk untukku selama memimpin tahta" Bibir tersenyum George tiba-tiba langsung mencebik kesal dan kembali berucap. "Tapi si Fredrick sialan itu yang merebut semua nama besar sejarah impiannku. Sialan! bahkan hanya dia keturunan Raja yang tahu di mana letak tambang berlian Albany!"


Edward mendengus kasar sambil menatap pria tua bangka di depannya dengan malas. Pria tua bangka yang selama perjalanan mereka berputar-putar di ibu kota itu, hanya selalu saja sibuk bercerita. Mendongeng seperti nenek tua yang terus mengingat masa lalu.


"Kau memang tidak berguna George. Keberhasilanmu hanya satu-" Ucapan Edward membuat George langsung menatapnya dengan wajah tidak terima. Tapi Edward tidak peduli dan kembali meneruskan ucapannya. "Kau hanya melakukan satu keberhasilan. Menikahkan anak sialanmu itu dengan Arathorn"


"Ck! kau memang menyebalkan Ed! Aku ini Raja baik yang di cintai rakyat!"


Edward memutar bola matanya dengan malas.


"Kau 'mantan' Raja penipu. Tahu dirilah Geogre. Kau itu sudah mati. Semoga secepatnya menjadi kenyataan, amin"


George mendengus kasar sambil menjulurkan dengan kuat kakinya pada kaki Edward tapi, dengan cepat kaki Edward langsung menghindari serangan George.


Edward melirik ke arah jendela sejenak, lalu tersenyum jahat.


"Itu dia.... tempat yang paling kau rindukan George. Tempat sejuta ceritamu bermula"


Ucapan Edward membuat George kembali menatap jendela, lalu umpatan langsung meluncur dari mulutnya.


"Aahh sial! Aku sangat benci pada gerbang itu!"


Kekehan geli langsung meluncur dari mulut Edward. Saat merasakan jika kereta kuda mereka berhenti, kepala Edward langsung keluar dari jendela saat kereta kuda sederhana mereka di tahan penjaga gerbang.


Melihat wajah Edward yang muncul dari jendela kereta kuda, para penjaga dengan sopan langsung menunduk sopan dan berucap.


"Selamat sore kapt"


Edward menjawab hanya dengan mengangguk singkat.


Dan anggukan itu langsung membuat penjaga berteriak untuk segera membukakan gerbang.


Setelah kereta kuda mereka kembali bergerak, Edward menatap George yang sedang memakai tudung mantelnya.


"Aahh... aroma istana Rembrantd memang sangat menyejukkan"


Nada dramatis menyebalkan Edward membuat George kembali mendengus kasar


"Menyejukkan pantatmu. Aku bahkan sudah bisa mencium aroma masalah dari sini"


\=\=\=❤❤❤❤


Jangan lupa like dan komennya....

__ADS_1


__ADS_2