Bloody Crown

Bloody Crown
BC 34


__ADS_3

Langit di penghujung musim panas sudah padam. Di langit pekat tepat pada akhir musim panas, langit hitam tampak di penuhi awan.


Bulan bersembunyi, bintang tidak menampakkan diri, indahnya langit malam tidak bisa di lihat kedua bola mata abu-abu mereka yang pernah, dan sedang memakai makota tahtanya.


Bola mata Francesca bergeser kembali untuk menatap pantulan dirinya di depan cermin. Sekali lagi, Francesca menatap kepalanya yang memakai mahkota seorang Ratu pewaris tahta Francia, mahkota kekuasaan yang terus membuat dadanya terasa nyeri.


"Your Majesty"


Kepala Francesca mengangguk singkat, lalu mulai memutar langkahnya untuk menuju ke pintu keluar kamarnya.


Dengan langkah elegan, dagu terangkat tinggi, tangan yang bertaut anggun di depan perutnya, Francesca telah siap. Siap untuk melakukan yang harus di lakukannya sebagai pewaris tahta yang akan mengorbankan apapun demi kerajaannya. Apapun.


Di sepanjang lantai, karpet merah sudah membentang. Di setiap sudut, bunga-bunga dan perabotan indah sudah di susun dan di tata seindah mungkin.


Langkah Francesca yang di ikuti dua pelayannya, terus melangkah melewati semua susunan indah itu untuk menuju koridor ballrom


Para pelayan yang sibuk berlalu lalang untuk memenuhi kebutuhan pesta malam ini, terus membungkuk dalam ketika Francia melewati mereka.


Para pengawal yang terus selalu siaga menjaga tiap-tiap bagian Rembrantd, terus menunduk dalam saat Ratu mereka melewati tiap-tiap bagian koridor.


Hingga langkah Francesca, sampai pada aula utama Francia yang sudah di penuhi keramaian musik orkestra.


"HER MAJESTY RATU FRANCESCA TIBA!!"


Seluruh isi aula utama yang sudah di penuhi para tamu undangan, mulai kembali hening. Tamu-tamu undangan yang memakai gaun terbaik mereka dengan wajah-wajah yang sudah di tutupi topeng, mulai memberikan seluruh perhatian mereka pada Francesca




Dengan kaki yang belum kembali bergerak, Francesca menatap sekitarnya. Beberapa tamu bangsawan Francia yang bisa di lihatnya, dengan sopan langsung melepas topeng mereka sambil menunduk dalam. Memberikan gestur kesopanan mutlak untuk Ratu mereka.


Tangan Francesca terulur. Yang membuat Susane langsung memberikan topeng milik Francesca.



Dengan gerakan sangat anggun, Francesca menempelkan topengnya. Menegakkan kedua bahunya dengan dagu yang kembali terangkat tinggi.


Separuh wajah cantiknya yang sudah di tutupi topeng yang pegangnya, membuat seluruh bangswan Francia kembali memakai topeng-topeng mereka




Dan semua mulut rakyatnya, langsung meneriakan keagungan Ratu mereka.


"LONG LIVE THE QUEEN! LONG LIVE THE QUEEN! LONG LIVE THE QUEEN!"


Kepala Francesca mengangguk singkat. Yang membuat para gentleman kembali menegakkan kepala mereka, yang membuat para ladies langsung kembali meluruskan lutut mereka.


Dengan tangan yang terus menutupi separuh wajah cantiknya, si pemakai mahkota mulai melangkah ke depan undakan tangga kursi tahta.


Seluruh perhatian yang masih terus di miliki si pemilik rantai utama status di Francia, membuat Francesca langsung membuka suaranya.


"Terimakasih atas kehadiran kalian pada malam hari ini. Baik itu kehadiran para rakyatku Francia, dan juga para tamuku yang sudah datang dari jauh untuk singgah ke rumah kami-" Kepala Francesca bergerak, menatap seluruh tamu undangan dengan menilai dan mencari-cari orang yang di kenalnya. Hingga dahi Francesca sedikit mengeryit saat sesuatu terasa tidak lengkap. "Baiklah.. selamat menikmati pesta malam ini"


Dengan cepat Francesca mengakhiri pidato basa basi busuknya. Dirinya dengan cepat memutus seluruh perhatian untuknya.


"Tom"


Tomy dengan cepat mendekat pada Francesca


"Iya Your Majesty"


"Putri Anastasia bersama George?"


Kepala Tomy mengangguk yakin


"Iya Your Majesty"


Dengan mulai memutar langkahnya untuk menuju ke undakan tangga, Francesca kembali berucap. Ucapan yang di katakan Francesca dengan nada tajam


"Cari dan pastikan, di mana Pangeran Regan dan Putri Summer berada sekarang. Sekarang Tom!"


Menyadari jika mungkin sesuatu terjadi, Tomy langsung mengangguk


"Baik Your Majesty"


Dengan sangat cepat Tomy segera pergi dari sana. Meninggalkan Francesca yang akan di jaga dan di layani oleh Carl.


Saat sudah duduk di kursi tahtanya, Francesca menatap sekitar dari matanya yang di sampul dengan topeng.


Hingga pertanyaan kembali meluncur dari mulutnya


"Pangeran Ferdinand dan Putri Delana?"


Carl sedikit mencondongkan kepalanya dengan sopan, agar bisa berbisik di keadaan aula yang mulai kembali di penuhi suara musik orkestra


"Mereka baru saja keluar, Your Majesty"


Kepala Francesca mengangguk paham dan kembali menatap sekitar. Saat arah pandangnya terus mengedar, tanpa di perhitungkannya, kedua bola mata sebiru samudra yang di bingkai topeng, langsung mengunci arah pandang Francesca.


Meski wajah itu tertutupi, meski topeng yang di kenakannya sangat mengganggu. Tapi, wajah tampan dan iris indah pria itu, langsung bisa di kenali Francesca.


Ryes. Pria yang sedang memakai topeng untuk menutupi separuh wajahnya, terus menatap ke bola mata abu-abu yang sekarang sudah terus membalas tatapannya.


Sebelah tangannya masih terus memegang gelas, dengan wajah yang terus mengarah pada kursi tahta


Beberapa ladies yang ada di sekitarnya, yang dengan penuh minat menemaninya, langsung mengikuti kemana kenapa Ryes tertuju.


"Your Grace"


Suara seseorang yang di kenal Ryes. Kali ini, berhasil mengalihkan pandangan Ryes pada Francesca.


Kepala Ryes dengan cepat langsung menoleh. Tanpa sadar, bibirnya langsung menggumankan nama wanita itu


"Kathrine?"


Wanita yang sekarang sudah menjadi perhatian para ladies di sekitar Ryes tersenyum dari balik topengnya.


"Anda mengenali saya?"


Kedua mata Ryes mengejap-ngejap. Wajahnya terus tertuju pada wanita itu. Wanita yang sangat Ryes kenal, Kathrine.


"Apa yang anda lakukan di sini, lady?"

__ADS_1


Wanita itu kembali tersenyum, lalu berucap pelan setelah sebelumnya melirik para ladies yang berada di sekitar Ryes.


"Ingin menghirup udara di luar, Your Grace?"


Ryes sangat mengerti maksut ucapan Kathrine. Dirinya juga sangat ingin ke tempat yang lebih sepi dan hanya menjadi tempat untuk mereka berdua, tapi


"Suami anda di mana?"


Dengan anggun, Kathrine membuka kipasnya lalu berucap tanpa beban


"Di Alpend, Your Grace"


"Anda datang sendiri?"


Kepala Kathrine mengangguk singkat sambil kembali tersenyum.


"Saya hanya bersama para pelayan dan penjaga"


Dan obrolan basa basi mereka yang semakin terus berlanjut itu, bisa di tangkap jelas oleh Francesca.


Dari ekor matanya, Francesca melirik Gregory.


"Siapa dia Gory?"


Dahi Gregory mengeryit. Kenapa Francesca sangat ingin tahu?


"Lady Kathrine Gilbert, Your Majesty. Dia-" Gregory melirik ke arah Ryes dan Kathrine yang semakin intens membunuh jarak berdiri mereka. "Mantan kekasih His Grace Hasting. Satu-satunya wanita yang pernah menjadi kekasih nyata His Grace"


Satu alis Francesca menukik dengan arah pandang yang kembali menatap ke arah Ryes dan Kathrine. Lalu, saat Ryes memutar lehernya dan arah pandang mereka kembali bertemu, Francesca memberikan senyum tipisnya.


Senyum tidak tulus tapi tetap bisa mengunci arah pandang Ryes hingga kedua iris sebiru samudranya, hanya bisa menatap Francesca


Carl yang terus mengamati percakapan dalam diam misterius antara Ryes dan Francesca, menarik sebelah bibirnya, lalu berbisik pelan.


"Sepertinya anda harus bergerak cepat Your Majesty"


"Kenapa?"


"Suaminya yang tua sudah sakit-sakitan dan mungkin sebentar lagi, dia akan menjadi janda..." Carl sedikit mencondongkan tubuhnya dan kembali berbisik. "Dan yang saya ingat. Jika dulu, His Grace Hasting dan lady kathrine pernah hampir bertunangan"


Kepala Francesca mengangguk paham. Francesca sangat paham apa yang sebenarnya ingin di katakan Carl padanya.


Dari balik kipasnya. Wanita yang sedang menjadi topik pembicaraan, sudah melirik ke arah seseorang. Seseorang yang membuatnya bisa ada di pesta itu terlebih, yang membuatnya bisa bertemu lagi dengan pria yang masih mengisi seluruh seluruh hatinya.


"Lady Kathrine?"


Seorang ladies yang berada di sekitarnya, akhirnya menegur Kathrine yang tampak sibuk terdiam sambil menatap arah barat aula. Kathrine yang di tegur dan sudah kehilangan perhatian Ryes tersenyum tanpa beban.


"Saya hanya melihat-lihat topeng para tamu, lady"


Mulut Kathrine berdusta sambil melirik Ryes yang terus menatap ke arah kursi tahta. Bahkan Ryes hanya memberikan punggungnya pada Kathrine.


Senyum tanpa beban Kathrine berubah menjadi senyum kecut. Dirinya akhirnya bisa melihat, kenapa dia bisa di kirim ke dalam pesta itu, alasan apa yang membuatnya harus berada di sana


--000--


"Aku ingin menghirup udara di luar George"


George yang tampak terus membisu dan membeku setelah membaca sesuatu, hanya bisa mengangguk singkat


Anastasia terkekeh pelan. Apa maksut George? Apa itu pribahasa? Tapi Anastasia si anak patuh itu tetap mengangguk singkat tanpa memperdulikan maksut George


"Iya George, aku hanya sebentar lalu akan kembali ke kamar. Menunggu Ferdinand untuk memberi kejutan"


Kepala George menganggu singkat tanpa bisa memberikan senyum hangatnya.


Setelah Anastasia keluar dan pintu tertutup. Tidak lama pintu langsung terbuka dan menampilkan wajah Edward.


Edward langsung mendekat pada George yang dengan duduk di kursi meja sambil menatap kertas di depannya dengan pandangan getir


"George?"


Sambil meremas pelan kertas di tangannya, George menatap Edward


"Apa reaksinya?"


Sambil menarik kursi untuk bokongnya, Edward mengedipkan bahu dengan acuh.


"Dia tidak terpengaruh sedikitpun. Sepertinya masa lalu tidak akan menjadi perusak. Apa kau puas George?"


Dengan perasaan hati gusar yang di tutup-tutupinya, kepala George mengangguk.


"Aku tidak ingin Francesca bersama pria yang masih menyimpan masa lalu. Aku harus memastikan jika pernikahan mereka nanti, tidak akan ada cerita-cerita masa lalu sang suami"


Well.... Edward setuju dengan ini. Karna sejarah rahasia mencatat, jika para pria Castalarox selalu memiliki kemelut dengan wanita masa lalu mereka. Termasuk pria tua bangka di depannya itu.


"Tapi jika aku melihat mereka tadi, lady Kathrine sepertinya masih menyimpan harapan untuk Duke itu. Cara menatap dan gerak geriknya tidak bisa berbohong"


"Tenang saja. Pria yang punya track record bajingan pasti akan memilih masa depan bersama perempuan bersih. Tinggal bagaimana Francesca akan memaksanya untuk terus terbakar"


Meski Edward hanya sedikit paham tentang ucapan George, tapi kepalanya mengangguk seolah-olah mengerti seluruh maksut dan rencana yang ada di dalam kepala Raja pensiun itu.


Edward yang tampak percaya diri dan yakin itu, tidak bisa menangkap perasaan gusar yang coba di sembunyikan George.


"Ed.."


"Iya?"


Dengan jari yang sudah menggaruki meja kayu. George manatap langit-langit kamarnya.


"Aku harap. Saat hujan turun semuannya akan baik-baik saja"


Kedua alis Edward mengerut dalam. Dan mulai menatap wajah George dengan penuh selidik. Hingga Edward bisa melihat itu, raut wajah George yang sedang menahan sesuatu.


--000--


Di sisi lain. Ferdinand masih bercengkrama santai dengan Delana di belakang taman istana.


Mereka hanya berdua duduk di bangku panjang belakang istana dengan di iringi lantunan sayup-sayup suara musik orkestra yang berasal dari aula.


Hingga akhirnya, Ferdinand mulai memasang wajah seriusnya


"Ana..."


Delana yang tadinya sedang terkekeh anggun karna ceritanya sendiri, langsung menoleh

__ADS_1


"Iya, Will?"


"Apa kau menyukaiku?"


Pertanyaan tiba-tiba Ferdinand, membuat Delana dengan cepat menatapnya


"Tentu saja"


"Kalau begitu, nikahi aku"


Meski cukup terkejut dengan ucapan Ferdinand, tapi Delana tetap terlihat tenang. Bibirnya tersenyum tipis sambil kembali menatap ke arah depan.


"Apa ini rencanamu untuk mendekatiku?"


Tanpa keraguan, Ferdinand mengangguk dan menjawab dengan yakin


"Tentu. Apa lagi alasan yang bisa membuatku menjadi seperti ini?" Ferdinand menjedah lalu meraih sebelah tangan Delana tanpa mengubah arah pandangnya yang menatap depan. "Nikahi aku Ana"


Senyum di bibir Delan berubah menjadi senyum kecut


"Kau memiliki istri. Bagaimana bisa aku-"


"Jadilah Ratu"


Tubuh Delana menegang. Kepalanya langsung menoleh pada Ferdinand


"Will?"


Tapi Ferdinand tidak menunjukkan wajah yang sedang bercanda. Raut wajah dan sorot matanya menatap Delana dengan tegas dan penuh harapan.


"Jika kau menjadi Ratu. Kau bisa menarikku dan melepaskanku dari belenggu pernikahanku"


Kedua mata mata Delana bergetar. Ferdinand tahu itu. Getaran rasa ragu, takut, tapi juga menunjukkan kewaspadaan.


Hingga nafas panjang Delana behembus panjang dan kembali memalingkan wajahnya. tapi,


Dengan cepat tangan Ferdinand menaham wajah Delana. Menangkut wajahnya dengan sebelah tangan, dan sebelah tangan lagi yang terus menggenggam tangan Delana.


Raut wajah gugup dan malu-malu Delana sangat bisa di baca Ferdinand. Dan Ferdinand, belum selesai untuk membuat Delana semakin gugup dan malu-malu


"Aku sangat menyukaimu Ana. Aku sangat menyukaimu dari saat pertemuan pertama kita. Kecantikanmu sangat membuatku tertarik, bahkan sekarang semakin membuatku serasa mabuk"


"Will-"


"Ssttt...." Ibu jari Ferdinand menahan bibir Delana yang akan berucap. Mengusap pelan bagian bawah dan atas, lalu mendekatkan bibirnya di depan bibir Delana yang sudah bergetar di bawah mantra Ferdinand. "Aku sangat menginginkan dan selalu menginginkanmu Ana. Aku sangat ingin memilikimu. "Bibir Ferdinand semakin mendekat dan akhirnya, berakhir di pipi Delana. Pada Delana yang sudah meleleh lemas. Kedua mata Ferdinand menatap lurus ke arah depan sambil berucap dengan seluruh isi hatinya. "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu Ana. Aku selalu merindukanmu"


Arah pandang yang terus di tatap Ferdinand tersenyum sambil membalas ucapan Ferdinand tanpa suara


"I miss u too"


Bibir Ferildinand tersenyum dan langsung meraih tubuh Delana ke dalam dekapannya. Arah pandangnya terus menatap ke arah depan dengan kedua mata berbinar penuh cinta.


Bibirnya bergerak tanpa suara.


"Sayang, Welcome home..."


Anastasia tersenyum dan langsung memutar langkahnya. Kepergian Anastasia yang terlihat tanpa beban dan penuh pengertian membuat Ferdinand tanpa sadar mengeratkan pelukannya pada tubuh Delana. Tubuh yang di jadikannya penyalur rasa bangga dan bahagia pada cintanya, pada istrinya Anastasia yang sangat sempurna dan sangat pengertian untuknya.


"Will..."


Panggilan itu akhirnya membuat kewarasan Ferdinand kembali, dengan perlahan Ferdinand melepaskan pelukan mereka.


Tubuh Delana yang hanya bisa terdiam lemas di bawah mantra penuh buaian manis Ferdinand, menatap Ferdinand dengan lekat.


"Menginaplah di tempatku Will"


Isi perut Ferdinand begejolak ingin keluar. Tapi bibirnya dengan terlatih tetap bisa tersenyum menawan.


Tangan Ferdinand terangkat. Jari-jarinya menyentuh rahang dan berjalan turun di atas dada tumpah Delana. Bibirnya yang terus tersenyum menawan berucap berat


"Aku ingin memilikimu seutuhnya Ana. Percayalah. Sekarang juga aku sangat ingin melewati malam dingin ini bersamamu"


Kedua mata Delana sudah terpejam menikmati sentuhan panas satu jari Ferdinand. Bibir bergetarnya semakin bergetar dan berucap lirih


"K-ku mohon... menginaplah di tempatku"


Sebelah sudut bibir Ferdinad terangkat tinggi. Lalu berucap semakin berat dan menggoda.


"Kau menginginkanku?"


"Iya"


"Sekarang?"


"Iya Will! Please..."


My God! wanita di depannya ini sangat haus belaian! menjijikkan!


"Kalau begitu lalukan sesuatu agar aku-" Bibir Ferdinand mendekat pada telinga Delana dan berbisik sensual. "Bisa memilikimu di pagi, siang, dan malam hari. Di atas ranjangmu tanpa terbelenggu"


Setelah berucap, bibir Ferdinand mengecup telingat Delana. Tubuh Delana berdesir hebat hingga menggelinjang.


Tapi, secara tiba-tiba dirinya kehilangan semua kehangatan itu.


Karna Ferdinand langsung menarik semua sentuhannya. Dan dengan cepat kaki Ferdinand juga sudah berdiri.


Dahi Delana mengeryit


"Will..."


Ferinand tidak menjawab lagi dan langsung melangkah pergi.


"Will!!"


Persetan Delana! Persetan! Ferdinand sudah tidak sanggup berada di dekatnya. Dirinya benar-benar ingin bertemu seseorang yang sangat di rindukannya.


Delana yang tidak mengerti isi hati dan isi kepala tersimpan Ferdinand, hanya bisa menatap punggung lebar Ferdinand yang sudah semakin menjauh.


Tangannya terangkat memegangi sebelah dadanya yang masih bergegup gila.


"Kau licik sekali seperti ayahmu. Tapi aku benar-benar jatuh untukmu Ferdinand"


\=\=\=❤❤❤❤


Jangan luka like dan komennya

__ADS_1


__ADS_2